Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sukses. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 September 2012

Wali Kota Termuda Dunia Terinspirasi Soekarno

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Bashaer Othman menjadi satu-satunya Wali Kota termuda dunia. Di usianya yang masih 15 tahun, pelajar yang masih duduk di kelas 1 SMA Palestina ini sudah diberi jabatan publik sebagai Walikota Allar, Tulkarm, Tepi Barat, Palestina.
Bashaer diberi kesempatan mempimpin Kota Allar selama dua bulan, di bawah bimbingan Sufian Shadid, Wali Kota Allar sebenarnya, setelah ia terpilih dalam program pemberdayaan kaum muda Pemerintah Palestina.
Tentu unik sebuah kota dipimpin oleh perempuan yang masih berusia dibawah 17 tahun. Apalagi Bashaer harus memikul sejumlah tanggung jawab berat mengatasi semua hal terkait Kota Allar, termasuk mengawasi karyawan dan menandatangani semua dokumen resmi, kecuali dokumen keuangan.
Bertempat di kantor Kedutaan Besar Palestina untuk Indonesia di Jl Pangeran Diponegoro, Jakarta, Rabu (12/9) siang, Tribun mendapat kesempatan mewawancarai perempuan jelita ini dengan nuansa santai namun obrolan serius.
Basher menerima Tribun dengan senyuman manis. Sapaan dengan menggunakan bahasa Arab makin menambah keakraban. Di sela-sela obrolan Bashaer bahkan sempat bercanda bertanya-tanya tentang merk handphone yang Tribun pakai. Apa saja pengalaman Basheer menjadi walikota termuda dunia.
Berikut petikan wawancaranya:
Selamat siang, selamat datang di Indonesia. Bisakah Anda bercerita bagaimana Anda jadi walikota di usia
Anda yang masih muda?
Selamat siang juga senang bisa berada di Indonesia. Pada awalnya saya mengikuti program pemerintah Palestina untuk pemberdayaan kaum muda. Saya lalu bersaing dengan ribuan anak muda yang mengikuti seleksi program tersebut, walikota seperti saya dipilih tidak melalui proses pemilihan umum yang dilakukan masyarakat tapi dipilih oleh walikota sebenarnya berdasarkan atas kompetensi atau kemampuan dalam berbagai hal.
Apa pertimbangan terbesar Anda terpilih?
Saya dinilai memiliki kemampuan individual diantaranya wawasan tentang kenegaraan, politik, sosial, ekonomi. Saya juga memiliki kemampuan leadership. Sebelum ini saya telah memimpin sebuah organisasi kepemudaan di sekolah. Saya juga punya visi dan misi yang jelas untuk kemajuan rakyat Palestina.
Anda sudah menjabat dua bulan, apa yang Anda lakukan selama periode itu?
Saya berusaha memecahkan berbagai masalah rakyat, salah satunya adalah ketersediaan lapangan pekerjaan. Beberapa waktu lalu saya keliling ke beberapa negara luar dan sepulang dari sana saya mengajak para investor serta meyakinkan mereka agar mau berinvestasi di Palestina. Hasilnya lumayan, ada tiga proyek yang saya dapatkan dan saya pikir itu akan membuka lapangan kerja baru.
Ceritakan masalah tersulit yang Anda hadapi selama jadi walikota?
Melayani rakyat Palestina terutama dalam masalah hukum. Sebenarnya mereka sudah tahu hukum tapi biasanya mereka tidak puas jika tidak langsung bertanya kepada walikota, jadi saya harus sabar melayani mereka. Kesultian yang saya alami adalah bisa memuaskan seluruh rakyat, juga saat membuat rakyat menjalani ketentuan Dewan Kota. Beruntungnya saya punya kemampuan komunikasi yang bagus sehingga bisa mudah menjawab pertanyaan dari mereka.
Palestina identik dengan daerah konflik, tidakkah Anda takut dengan keselamatan jiwa Anda?
Daerah Tepi Barat yang saya pimpin relatif aman, tidak ada kontak senjata disana. Pertumbuhan ekonominya juga bagus, penghasilan rakyatnya di atas rata-rata. Jadi saya tidak pernah merasa takut untuk memimpin, ini semua untuk kemaslahatan umat.
Apa yang Anda pikirkan tentang konflik dengan Israel?
Saya datang kesini tidak untuk membahas konflik dengan Israel, itu sudah ada bagiannya tersendiri. Saya hanya ingin menjadi inspirasi generasi muda Palestina bahwa konflik bisa melahirkan pemimpin- pemimpin handal. Saya ingin pemuda Palestina punya sikap dan membangun peradaban mereka.
Apa perubahan yang Anda rasakan dalam diri Anda setelah menjadi walikota?
Tentu ada yang berubah dari kepribadian saya. Sekarang, saya lebih memikirkan kepentingan umat.
Bisakan Anda ceritakan kehidupan keluarga Anda?
Saya lahir dalam keluarga yang hangat, saya hidup dengan Ayah, Ibu dan lima orang saudara, saya anak keempat. Kami hidup dalam satu rumah dan kakak-kakak saya masih belajar di perguruan tinggi. Saat jadi walikota saya mendapat dukungan penuh dari keluarga, mereka sangat mensupport karier politik yang sedang saya jalani. Kami hidup dalam keluarga yang harmonis dan bahagia.
Apa reaksi kawan-kawan Anda setelah jadi Wali Kota?
Mereka sangat apresiatif dan mendukung, kami tetap berhubungan bahkan mereka sering memberikan masukan dan berkomunikasi dengan saya melalui internet. Kami chating setiap hari dan berdiskusi banyak hal untuk kemajuan Palestina.
Apakah Anda punya pacar?
Tidak, Islam tidak memperbolehkan hubungan laki-laki dan perempuan tanpa status pernikahan apapun bentuk hubungan itu. Dan generasi muda Islam tidak seharusnya memikirkan hal itu. Generasi muda Islam harus cerdas membangun peradaban dan kemajuan bangsanya. Terus terang saya tidak punya akun facebook sebab kadang itu mengganggu aktifitas saya dalam berpikir tapi saya tetap mengikuti perkembangan global lewat internet.
Bagaimana Anda melihat masa depan pemuda Palestina?
Saya optimistis kami punya masa depan lebih bagus. Saat ini memang ada banyak pemuda Palestina yang berusaha keluar ke negara lain misalnya ke Saudi Arabia, Mesir atau negara Timur Tengah lainnya untuk mencari pekerjaan dan mencari wilayah aman. Tapi mereka semua punya komitmen besar untuk tetap jadi warga negara Palestina, artinya mereka akan kembali lagi. Kami juga meyakini bahwa Palestina suatu saat akan merdeka dan berdaulat.
Di Indonesia sering ada demonstrasi dukungan terhadap Palestina biasanya memakai tagline "Save Palestina". Apa tanggapan Anda?
Saya sangat mengapresiasi perhatian Indonesia terhadap negara kami. Indonesia adalah saudara setia kami sejak tempo dulu. Saya pribadi sangat terinspirasi dengan Ahmad Soekarno (Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno). Sebab beliau adalah tokoh yang pertama kali bersuara Palestina adalah negara berdaulat tanpa peduli dengan negara lain yang tidak mengakui kami.
Apakah Indonesia terkenal di negara Anda?
Iya terutama dengan tokoh Ahmad Soekarno Soekarnp), kami memanggil Ahmad Soekarno sebab orang Palestina mengenalnya dengan nama itu. Indonesia juga negara muslim terbesar dunia, dukungan dan suara dari Indonesia sangat memberi kami kepercayaan diri. Kami mendapatkan energi lebih ketika Indonesia bersuara lantang dan membela Palestina.
Apa pesan terakhir Anda untuk pemuda Indonesia?
Pemuda Indonesia harus terus maju kedepan. Maju Palestina!Maju Indonesia
Sumber Berita :  http://www.tribunnews.com/2012/09/12/wali-kota-termuda-dunia-terinspirasi-soekarno

Selasa, 10 Juli 2012

Regina Juara Baru Indonesian Idol

JAKARTA -- Seperti diprediksi sejumlah kalangan, Regina Ivanova akhirnya berhasil menyandang predikat Indonesia Idol 2012. Regina menyisihkan Kamasean Mathews atau Sean di Grand Finals Indonesian Idol 2012 Econvention Ancol, Minggu (8/7) dini hari.

"Indonesia memilih, selamat Regina kamu Indonesian Idol 2012," kata Daniel Mananta Host Indonesian Idol saat mengumumkan pemenang Indonesian Idol 2012.

Perolehan voting antara Regina dan Sean sangat ketat. Setiap hari bahkan hampir setiap jam, hasil voting selalu saling susul menyusul. "Perolehan voting sangat dekat antara keduanya," jelas Daniel.

Malam Grand Finals Indonesian Idol 2012 berlangsung sangat meriah. Selain menjadi ajang reunian 12 finalis Indonesian Idol, malam grand finals juga diisi penampilan band legendaris.

Di antaranya Kidnap, Gigi, dan Peterpan. Khusus Peterpan, posisi Ariel diganti Sean dan Regina secara bergantian. Regina menyanyikan lagu "Langit Tak Mendengar" sementara Sean membawakan lagu "Cobalah Mengerti".

Malam Grand Finals juga disaksikan oleh CEO MNC Group, Hary Tanoesedibjo. Hadir pula Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Irman Gusman. (abu/jpnn)
Sumber Berita : http://www.jpnn.com/read/2012/07/08/133147/Regina-Juara-Baru-Indonesian-Idol-

Minggu, 04 Maret 2012

Galaila Karen Agustiawan Obsesi Pertamina Berkelas Dunia

Sudah dua tahun lebih, Ir. Galaila Karen Agustiawan, mendapat amanah sebagai Direktur Utama PT Pertamina  (Persero). Dialah  perempuan  pertama yang   menempati   posisi  puncak   di    Pertamina
sepanjang 51  tahun  sejarah perusahaan itu. Banyak ide brilian yang dia torehkan pada perusahaan milik BUMN tersebut. Di   antaranya,  program transformasi Pertamina yang berfokus pada pengelolaan bisnis yang lebih efisien, gerak   strategis   di     bidang   eksplorasi   dan   produksi, memastikan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat.
Perempuan  kelahiran  Bandung, 19   Oktober  1958   ini adalah  lulusan Sarjana Teknik Fisika, Institut  Teknologi Bandung  (ITB)   angkatan  1978. Ketika  dilantik  pada  5
Februari 2009  lalu, Ikatan alumni ITB  melalui websitenya berharap PT  Pertamina (Persero) di  bawah kepemimpinan Karen, dapat membawa kemajuan bagi bangsa dan negara, khususnya komitmen Pertamina untuk bertransformasi menjadi perusahaan migas kelas dunia.
Perjalanan   karir   Karen   cukup   panjang.   Sebelum di   Pertamina, Karen telah  lama berkarier  di   Mobil  Oil Indonesia (1984-1996). Ia pindah ke CGG Petrosystem selama setahun  sebelum pindah  lagi  ke  perusahaan  konsultan Landmark Concurrent Solusi Indonesia. Tahun 2002-2006 ia bergabung dengan Halliburton Indonesia. Dari pengalaman berpindah-pindah   tempat  kerja,  Karen  memetik satu hal, memberikan yang terbaik. Sempat muncul kekha- watiran dari teman-temannya, Karen akan berubah setelah di Pertamina.
Bagi Karen, Pertamina   adalah tantangan, dan ia  menyukai  tantangan.  Menurutnya,  tantangan memicu ide   di   otak keluar dan itu membuatnya hidup.   ”Dulu,  menjadi   Direktur   Hulu   banyak tantangan.  Tetapi  kalau  saya  melihat  posisi  itu sekarang, sudah tidak  menantang. Saya sekarang memimpin tujuh  anak  perusahaan,  itu  berat, tetapi menantang,” katanya. Tantangan lain soal maskulinitas.  Diketahaui  di   perusahaan  migas  memang sangat kuat maskulinitasnya.“Saat saya masuk, banyak yang mempertanyakan, bisa apa cewek ini.”Jawabannya? ”Banyak yang mengakui, she  did bring something.”
Karen juga mencermati adanya perubahan cara berpikir di  sektor hulu. Dulu orang masuk Pertamina lebih untuk keamanan kerja, masuk Pertamina untuk menghidupi keluarga. ”Sekarang harus diubah menjadi I’m proud to  be Pertamina family,” ujarnya.
Dia menambahkan, bahwa dirinya masih terobsesi menjadikan Pertamina terdepan, minimal sama dengan Petronas, perusahaan minyak Malaysia. Sulitnya membuat Pertamina menjadi berkelas dunia? ”Ini soal keseimbangan, we  can not see  our selves as  a full  private corporate karena ini   kan perusahaan  pelat merah yang mengemban tugas negara,” jawabnya. Karen menjelaskan bila Petronas perusahaan minyak Malaysia yang dulunya justru berguru dengan Pertamina bisa berkembang pesat, ia yakin tempat yang dipimpinnya  sekarang  akan  menuai sukses serupa. “Memang bukan tugas mudah, Pertamina notabene sebagai perusahaan  plat  merah  yang  mengemban tugas  negara melaksanakan dua tugas yaitu sisi   korporat  yang harus meraih untuk maka harus menggejot sisi  hulunya. Lalu sisi hilir yang begitu banyak terbentang aspek sosial yang harus dihadapi, misalnya memastikan bagaimana agar pengadaan elpiji dan  BBM.   Namun  saya  percaya  ke  duanya  harus memiliki asas keseimbangan.”
Penyuka musik klasik Bethoven ini  mengatakan Pertamina haruslah mampu menerapkan good corporate gover- nance yang bisa dan  tidak  meniadakan segala bentuk intervensi yang merugikan negara tanpa tolerir dan pandang  bulu. “Banyak  yang bilang  menduduki  kursi Pertamina panas. Tetapi insyaalllah dengan sikap be your self  yang saya yakini melakukan tugas dan kerja terbaik, saya akan mampu mendinginkan kursi yang selalu dicap panas tadi,” tuturnya  tergelak sambil menyeruput gelas cappuccinonya.
Diapun menceritakan sejak kecil sikap kemandirian, disiplin dan bekerja keras merupakan hasil didikan orang tuanya.  Kendati  ayahnya  hidup  berkecukupan  diakui Karen tidak pernah mendapatkan sesuatu dengan mudah, selalu ada kerja keras.“Sikap ini juga yang akan saya bawa untuk mengubah Pertamina.” Kemudian diakuinya sejak kecil terbiasa hidup berpindah-pindah lantaran mengikuti tugas ayahnya. Ketika sekolah dasar ia pernah tinggal di Srilangka dan India. Menikmati hidup di  negeri orang Karen selalu menyukai berkunjung ke tempat-tempat kebudayaan dan bersejarah. “Mungkin kepekaan empati saya terasah lantaran  saya selalu menyukai kebudayaan dan kehidupan tradisional yang selalu saya cari setiap mengunjungi sebuah tempat atau negara manapun.”
Karen memandang Pertamina di  satu sisi  sebagai korporat,  maka  untung  harus  diraih.  Sisi  hulu  pun digenjot. Namun, di  sisi  hilir, banyak aspek sosial yang harus dihadapi. Misalnya, bagaimana memastikan agar BBM dan elpiji tersedia dan gampang diakses.
Sumber Berita : http://new.uai.ac.id/enterprise/2012/01/12/galaila-karen-agustiawan-obsesi-pertamina-berkelas-dunia/

Kamis, 26 Januari 2012

Sule Tukang Jagung Yang Jadi Miliarder

Entis Sutisna alias Sule semakin hari semakin gemerlap. Dia menjadi salah satu pelawak termahal dengan penghasilan Rp 1 miliar setiap bulannya. Padahal, beberapa tahun lalu ayah tiga anak ini hanya sebagai penjual jagung rebus keliling kampung, pedagang ayam goreng dan kebaya.

Karier pria kelahiran Cimahi, 15 November 1976, ini mulai bersinar setelah sukses memenangi lomba Audisi Pelawak TPI (API) bersama grup lawak SOS. Hanya setahun setelah itu, nama Sule mulai diperhitungkan.

Namanya terus melambung ke jajaran pelawak papan atas yang penghasilannya melebihi pelawak papan atas lain seperti Komeng. Penghasilannya lebih dari Rp 1 miliar sebulan didapat dari beberapa stasiun televisi, antara lain, hasil dari acara Opera Van Java di Trans7 dan Awass Ada Sule di Global TV.

Sule yang pernah dibimbing pelawak senior Kang Ibing ini sudah memiliki bakat melawak sejak kelas 3 SD. Kala itu Sule kecil sering tampil di acara Agustusan. Ayah dari Rizki (12), Putri (8), dan Rizwan (2) ini selain melawak juga dikenal pintar menyanyi dan pandai membanyol atau melucu. Alumnus STSI Bandung ini juga memiliki kekhasan dalam penampilan, yakni rambutnya yang panjang berwarna pirang sehingga bisa melengkapi karakternya.

Kini Sule sudah menjadi miliarder dengan hartanya berupa lima rumah di Bandung dan Jakarta, dua mobil, serta dua sepeda motor. Baru-baru ini, Sule mengaku bersyukur karena Tuhan telah memberi jalan.

Siapa sangka, kata dia, dulu saat baru menikahi Lina (32) pada tahun 1997 dia tinggal di rumah kontrakan petak.

Penghasilannya dari melawak hanya Rp 20.000 sehari sehingga, agar dapurnya bisa tetap ngebul, Sule nyambi berdagang ayam goreng dan berjualan kebaya.

Masa-masa sulit bagi Sule tinggal kenangan. Kini pelawak yang serba bisa ini sudah menjadi miliarder. Opera Van Java adalah salah satu acara yang menghasilkan banyak uang bagi Sule. Dari acara ini, sekali tampil Sule memperoleh penghasilan Rp 50 juta atau naik dibanding sebelumnya yang Rp 20 juta-Rp 40 juta.

Pemilik rambut gondrong dan pirang ini terkenal dengan gaya khasnya, yakni kalau mendengar musik jaipongan langsung dengan reflek joget sehingga sering mengundang orang tertawa. Rupanya gaya khasnya itu lalu menjadi tambahan karakter Sule.

Nekat ke Jakarta beberapa waktu lalu, Sule mengaku bercita-cita menjadi pembawa acara berita televisi sehingga nekat pindah dari Jawa Barat ke Jakarta. Berbekal keahlian menari, dia mencoba mengadu nasib di Ibu Kota. Alumnus STSI Bandung ini kemudian berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya di Jakarta.

Kesempatan mengikuti Audisi Pelawak Indonesia (API) di TPI bersama Ogi Suwarna dan Obin Wahyudin adalah jalan pintas menuju sukses Sule. Tidak sampai setahun setelah menjuarai Superstar Show, sebuah acara duet selebriti di Indosiar, karier Sule pun terus menanjak.

Namanya pun masuk dalam jajaran pelawak papan atas. Tahun 2009 dan 2010 adalah tahun-tahun keemasan bagi Sule. Kini Sule sudah layak disejajarkan dengan Tukul Arwana, Komeng, Eko Patrio, Parto, ataupun Olga Syahputra yang sempat dinobatkan sebagai Lima Pelawak Termahal Indonesia.

Seperti Komeng, Sule mempunyai kemampuan spontanitas lelucon yang tergolong sangat responsif, cepat, kreatif, dan bagus. Dalam tampilan di panggung juga punya kemampuan blocking yang lumayan. Sule termasuk salah satu pelawak yang punya karakter melucu yang kuat dan unik.

Bakat melawak Sule ini berasal dari ayahnya yang penjual bakso keliling. Ayahnya selalu membanyol dan membuat para pembeli baksonya tertawa. Akan tetapi, Sule mengawali naik panggung bukan dengan lawakan, melainkan sebagai pemain musik. Meski sudah sangat terkenal, Sule masih memendam cita-cita untuk go international walau tak pandai bahasa Inggris.

Kendati telah bergelimang harta, ternyata tak semua artis hidup bermewah-mewah dan mengaku ingin tetap hidup sederhana. Suzuki APV masih menjadi kendaraannya setiap hari akan shooting.

Kini Sule pun sudah memiliki bisnis di Bandung berupa salon, warnet, toko pakaian, ponsel, dan studio musik. Pria pencetus ucapan "prikitiw" itu tetap betah menempati tempat tinggalnya terdahulu, sebuah kamar kos di kawasan Jakarta Selatan.

Sebagai seorang pelawak, Sule memang tak ada matinya. la selalu bercanda dan tertawa lepas saat berada di lokasi shooting dan sering mengagetkan banyak orang dengan ulahnya yang konyol untuk menghibur. Sule tetap ingat saudaranya dan membagi-bagi rezeki juga untuk adik-adiknya. Sule merupakan anak kedua dari empat bersaudara. (drisye)
Sumber Berita : http://infotemplatez.blogspot.com/2010/07/sule-tukang-jagung-yang-jadi-miliarder.html

Rabu, 02 November 2011

Siswa Berprestasi Dari SMA Negeri 1 Slawi

Riski Alvin Maulana, siswa kelas X 2 SMAN 1 Slawi mengharumkan nama Kabupaten Tegal, dengan karya lukisnya yang berjudul Jendela Masa Depan. Karya lukis yang mengandung makna akibat ulah manusia bumi menjadi gersang dan air tanah semakin menipis, berhasil lolos penilaian dan berhak mengikuti tim event kompetisi seni lukis remaja Nasional Tahun 2011 di Jakarta belum lama.  Bagaimana ceritanya?
LAPORAN: M. GHONY
LOMBA sendiri bakal digelar pada 11 dan 12 Nopember mendatang. Karya Riski merupakan salah satu dari 15 karya siswa SMAN 1 Slawi yang lolos. Hal itu dikatakan Guru seni rupa SMAN 1 Slawi, Sahdan Pasaka SPd, kepada Radar, Rabu (2/11).
Dikatakan Sahdan Pataka, kompetisi yang digelar oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia (YSRI) Jakarta, sebagai bentuk peningkatan kreatifitas remaja dibidang seni rupa. Hasil seleksi awal, karya Riski Alvin Maulan dianggap memenuhi syarat untuk mengikuti penilaian lanjutan ditingkat Nasional. Untuk itu, sesuai tanggal yang ditentukan dirinya bersama Riski akan ke Jakarta, untuk mengikuti penilaian sekaligus mengikuti lomba lukis lainnya. "Untuk lomba di Jakarta tema dari panitia secara spontan," ucapnya.
Disisi lain, Riski Alvin Maulana menceritakan jika dirinya menyukai melukis sejak SD. Bahkan beberapa kali mengikuti lomba tingkat daerah. Hobi dan kreatifitasnya dibidang seni rupa, tidak pupus seiring perkembangan tingkat sekolah ayang digelutinya. Bahkan setiap dirinya mengalami kejenuhan usai sekolah, segera dituangkan dengan melukis dirumahnya dan itu bisa membuat pikirannya menjadi segar kembali.  "Saya menyenangi semua lukisan, namun jenis yang paling disukai lukisan realis khususnya pemandangan alam," kata Riski Alvin Maulana.
Menurut Alvin, anak ke 3 dari 5 bersaudara pasangan pasangan Rahadi dan Aminah warga Desa Lebaksiu Kidul Kecamatan Lebaksiu, melukis juga bisa menenangkan dirinya. Bahkan saat melukis, sering muncul ide cerdas yang segera dituangkan dalam bentuk karya lukisnya. Seperti karya lukisnya yang berjudul Jendela Masa Depan, dirinya melukis mengawali atas kondisi masyarakat dan keadaan alam yang semakin rusak struktur alam serta air tanah didalamnya. Dari sinilah, menurutnya dirinya ingin menuangkan dalam bentuk lukisan dan jadilah karya lukis itu.
Masih kata Riski Alvin Maulan, dirinya bakal berangkat ke Jakarta bersama guru seni rupanya. Di Jakarta, selain mengikuti penilaian tahap dua atas karya lukisnya yang diikutkan dalam kompetisi tingkat nasional, juga mengikuti seminar. Bahkan dirinya merencanakan mengikuti lomba lukis dengan tema spontanitas juga melihat pendirian sebuah galeri lukis disana. Menyinggung makna dan harapan atas tuangan cat pada kanvas yang merupakan hobinya, Riski Alvin Mualana hanya berucap pendek. "Kami ingin karya sya dilihat dari pikiran dan hati, karena didalamnya ada pesan moral," ucapnya.
Semoga karya dan keinginan untuk menuangkan karya bisa mencapai harapan dan tujuan apalagi yang berkaitan dengan kelestarian alam. Dirinya hanya berharap semoga karyanya berhasil dan mendapat nilai yang diharapkan sehingga bisa mengharumkan nama daerah. (*)     
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Jumat, 09 September 2011

Dengan Becak Sekolahkan Anak Hingga Jadi Dokter

Liputan6.com, Sleman: Seperti biasa, setiap pagi, Suyatno selalu mengayuh becaknya di antara keramaian jalan di Kota Yogyakarta. Profesi ini sudah ditekuni warga Terban, Yogyakarta, itu sejak 1975 silam untuk menyambung hidup sehari-hari. Sementara istri Suyatno, Saniyem, membantu menambah penghasilan keluarga dengan menjadi pemulung barang-barang bekas di rumah sakit.
Namun, Selasa (8/9) pagi, Suyatno tak mangkal di depan sebuah hotel untuk mencari penumpang seperti biasanya. Sebab, bapak empat anak ini mendapat undangan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menghadiri sebuah pertemuan dengan orangtua mahasiswa di kampus tersebut.
Dengan mengayuhkan becaknya, Suyatno datang ke kampus UGM. Kehadirannya langsung disambut pihak penyelenggara dengan memintanya duduk di kursi barisan depan. Dirinya diminta maju dan menceritakan pengalaman mengkuliahkan anaknya di UGM yang kini sudah menjadi dokter.
Saat ini, Suyatno mengaku sudah bisa tersenyum lega dan menjalani hari tuanya dengan tenang karena anak-anaknya sudah bisa mandiri. Si bungsu, Agung Bhaktiar, kini tengah menjalani program magang di Rumah Sakit Umum Daerah Kulonprogo setelah menyandang gelar dokter dari UGM.(BOG)
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/

Sabtu, 20 Agustus 2011

Kisah Anak Tukang Tambal Ban Ikut Jamuan Makan

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI - Apa rasanya jadi seorang anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka pada upacara 17 Agustus di Istana Merdeka? Jelas sebuah pengalaman membanggakan. Dan itulah yang dirasakan duta Provinsi Jambi, Mariati Uli Sitompul, siswi SMA Titian Teras.
Mimpi itu jadi kenyataan. Mimpi mengikuti upacara bendera di Istana Kemerdekaan tak melulu milik mereka yang berasal dari gedongan. Mariati pun memiliki mimpi itu dan ternyata, anak seorang tukang tambal ban ini mampu meraih mimpinya tersebut.
Rasa bangga pun tak hanya dirasakan Mariati. Sang ayah, Sudung Sitompul mengaku sangat bangga dengan putrinya itu. Bahkan saking bahagianya, Sudung rela ke Jakarta dengan merogoh kocek sendiri. Ini demi memberi semangat agar anaknya makin percaya diri.
Kini, tugas mengibarkan dan menurunkan bendera dalam upacara HUT ke-66 Kemerdekaan RI di Istana Kemerdekaan yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sudah usai. Namun kegiatan Mariati masih sibuk. Usai mengikuti jamuan makan malam di Istana Kepresidenan, dia masih memiliki segudang agenda. 
Sudung pun tidak bisa leluasa bertemu Mariati. Menurutnya,Mariati masih berada dalam pengawasan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Sudung mengaku hanya bisa menemui Mariati sekitar lima menit pada Rabu (17/8) sore selepas Parade Senja atau upacara penurunan bendera.
Sudung mengatakan setelah menjalankan tugas, Mariati mendapat jamuan makan malam di Istana Kepresidenan. Selain itu, Sudung juga mengatakan Mariati mendapat undangan jamuan makan dari banyak instansi dan pejabat negara satu di antaranya bersama Menpora Andi Mallarangeng. "Kita dapat dua undangan untuk besok, tapi di Cibubur," ujar Sudung.
Sebagai orangtua, Sudung mengaku bangga akan capaian anaknya mewakili Provinsi Jambi di tingkat nasional, terlebih menjadi anggota Paskibraka. Selain bangga, Sudung juga mengaku bahagia.
Bagi Sudung prestasi Mariati merupakan sebuah berkah langsung dari Tuhan Yang Maha Esa. Ia memandang prestasi Mariati sebagai berkah lantaran status sosial ekonomi dirasa tidak layak dan cukup untuk mengantar Mariati meraih satu posisi dalam Paskibraka.
Sudung mengatakan, diri dan keluarganya tidaklah masuk kategori keluarga kaya. Sudung mengatakan,  penghasilannya sangatlah pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Sudung mengaku hanya menjadi tukang tambal ban untuk mencukupi kebutuhannya.
Walau hanya bekerja sebagai tukang tambal ban, Sudung mengaku ikhlas dan siap mendukung perkembangan anak-anaknya. Sudung pun mengatakan untuk memenuhi undangan Presiden ke Jakarta dan mendukung anaknya, ia rela merogoh kocek sendiri untuk biaya ke Jakarta.
"Tidak ada akomodasi atau tiket dari pemerintah, semua uang pribadi," ujar Sudung.
Agar bekal perjalanannya cukup, Sudung pun mengaku menumpang tinggal di rumah keluarganya yang ada di Jakarta
"Saya sudah tahu. Kita berharap agar jadwal pelantikan bisa ditentukan"
http://id.berita.yahoo.com/kisah-anak-tukang-tambal-ban-ikut-jamuan-makan-222042076.html

Minggu, 05 Juni 2011

Ilmuwan Temukan Cara Membaca Pikiran Manusia

PARA ilmuwan menemukan cara untuk memantau bentuk kata-kata dalam otak manusia. Hal ini menuntun pada suatu saat nanti mereka yang lumpuh  bisa bicara.
Seperti dikutip dari Dailymail, para peneliti menemukan  cara untuk nyambung dengan rangkaian otak terdalam dalam rangka mengetahui pembentukan kata - kata.

Dengan menggunakan elektroda, mereka menemukan wilayah dari otak yang terlibat dalam penciptaan sekitar 40 suara yang membentuk bahasa Inggris.
Mereka mendapati setiap  suara itu memiliki sinyal tersendiri yang mungkin bisa dibaca  program komputer.
Penelitian membaca pikiran itu dilakukan oleh sebuah tim dari pusat inovasi di Neuroscience dan technology Universitas Washington.

Penelitian itu dipimpin Eric Leuthardt dan mereka meneliti empat orang yang menderita epilepsi parah yang masing- masing memiliki 64 implant elektroda di kepalanya.
Awalnya penelitian itu untuk mencoba menemukan sebab dari epilepsi, tetapi Leuthardt juga memantau wilayah dari otak ketika pembicaraan di bentuk.

‘’Saya tak mengatakan bahwa saya dapat secara penuh membaca pikiran orang. Tetapi saya kini punya bukti bahwa hal itu mungkin,”  kata Leuthardt.
Selama penelitiannya, ia juga menemukan bahwa otak menghasilkan sinyal ketika orang baru berpikir mengenai suara yang akan dikeluarkan.
Penelitian itu telah di publikasikan dalam Jurnal Neural Engineering.
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 6 Juni 2011

Jumat, 27 Mei 2011

Dua Siswi SMP Ciptakan Energi Listrik Dari Labu

ANGAN Nurina Khansa Vasthi dan Talitha Helga Safira terlihat terampil merangkai irisan beberapa buah labu. Setiap potongan disambung secara berseri dengan lempengan tembaga. Setelah diukur dengan multitester, jarum penunjuk pun bergerak.

”Angka menunjukkan 4,2 volt DC, berarti ada arus listrik dari buah labu yang dihubungkan dengan lempengan tembaga,” ujar Nurina disambut tepuk tangan.

Siswi kelas VII dan VIII SMP Islam Nasima Semarang itu kemudian memasang tiga buah light emitting diode (LED) atau lampu elektronik kecil. Lagi-lagi, lampu kecil itu menyala.

Tepuk tangan riuh pun menggema dari peserta yang hadir dalam acara Wisata Energi dan Presentasi Kompetisi Alternatif Sahabat Lingkungan yang diselenggarakan oleh PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Semarang, Kamis (26/5).

Kedua siswi yang juga kakak beradik itu mengaku, uji coba pemanfaatan buah labu sebagai energi alternatif ditemukan tidak sengaja. Pasalnya, undangan untuk menjadi peserta kompetisi dari PT Indonesia Power yang diterima sangat mendadak.

Konversi Energi

Mereka pun akhirnya memetik buah labu yang ada di belakang rumahnya di Jl Kumudasmoro Selatan VII No 4 RT 4 RW 5 Kelurahan Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat yang saat itu sedang berbuah lebat.

”Ketika iseng kami sambung-sambungkan, ternyata mengandung energi listrik. Lalu kami usulkan kepada guru untuk dapat tampil dalam kompetisi. Alhamdulillah, bisa ikut lima besar final dan dinyatakan sebagai peserta terbaik,” ujar Nurina, kemarin.

Tak hanya kedua siswi itu, SMP Islam Nasima juga menampilkan konversi energi cahaya matahari menjadi energi listrik menggunakan Transistor 2N3055 serta listrik tenaga surya dalam oksida tembaga.

Sementara siswa SMP 32 Semarang juga tak kalah menarik dengan memanfaatkan belimbing wuluh sebagai pembangkit tenaga listrik. Sementara, siswa SMP Karangturi menampilkan pemanfaatan limbah cair dari Pasar Kobong, Rejomulyo sebagai energi alternatif biogas. Ketua Panitia kegiatan Darmawan Hendro mengatakan, selain sebagai pentingnya Good Corporate Governance (GSG) sebagai upaya memaksimalkan nilai perusahaan di mata pemegang saham dan pihak yang berkepentingan (stakeholders), acara yang digelar juga sebagai bentuk corporate social responsibility (CSR) perusahaan terhadap lingkungan sekitar.

”Kita mengajak untuk pemanfaatan energi yang ramah lingkungan, kalau selama ini kita pakai fosil, harganya semakin tinggi dan bukan sebagai energi yang terbarukan. Siswa SMP di Kota Semarang ini kita ajak untuk berinovasi, dan yang terbaik nanti kita usulkan untuk dipatenkan,” paparnya, kemarin.

Dewan juri yang terdiri dari Dosen Elektro Undip DR Ir Joko Indarto MT dan Ahli Madya Kimia dan Lingkungan PT Indonesia Power Endang Sri Wahyuni itu menetapkan Pembangkit Listrik Tenaga Labu ciptaan Nurina Khansa Vasthi dan Talitha Helga Safira sebagai peserta terbaik dan berhak mendapatkan tropy, piagam, serta uang tunai Rp 1,5 juta.
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 27 Mei 2011

Rabu, 04 Mei 2011

Ni Wayan Mertayani : Gadis Pemulung Juara Foto

Kisah perjalanan hidup seorang gadis pemulung asal Bali bernama Ni Wayan Mertayani (16) yang menjuarai lomba foto internasional dari Museum Anne Frank, Belanda, dibukukan.

Pande Komang Suryanita, penulis buku berjudul "Potret Terindah dari Bali" itu saat dihubungi di Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, Rabu, mengatakan buku itu diterbitkan Kaifa (grup Penerbit Mizan) pada awal Februari ini.

Materi buku mengungkapkan sisi kehidupan gadis yang biasa dipanggil dengan Ni Wayan atau Sepi itu.

Penulis menguraikan secara detil bagaimana alur kehidupan Sepi yang begitu memilukan. Bermula dari kehilangan ayah dan rumah tinggal, Sepi bersama ibu dan adiknya, pindah ke sebuah gubuk di tepi Pantai Amed, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur.

Di gubuk itu, Sepi menjalani hidup sebagai penjual makanan dan sesekali memulung barang bekas setelah pulang sekolah untuk dapat membantu ekonomi keluarga, terlebih ibunya dalam kondisi sakit-sakitan.

Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan turis asal Belanda bernama Dolly yang meminjami kamera untuk belajar memotret.

Hasil "jepretan" Sepi kemudian didaftarkan oleh Dolly pada lomba foto internasional yang diadakan Yayasan Anne Frank di Belanda, dengan tema "Apa Harapan Terbesarmu".

Tak disangka, foto Sepi yang berobjek ayam yang sedang bertengger di pohon singkong karet berhasil menjadi pemenang dan mengalahkan 200 peserta lain dari berbagai negara.

Menurut Pande Komang Suryanita, objek foto Sepi berupa ayam, merupakan representasi diri Sepi.

Bila hujan ia kehujanan begitu juga kala panas menyengat karena kondisi gubuk yang ditempatinya begitu memprihatinkan.

"Namun, cerita hidup Sepi bukan bermaksud mencari simpati dari pembaca tentang nasib kurang beruntung yang dialaminya. Justru, kisah itu kami angkat menjadi buku, dengan harapan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia agar tidak pernah menyerah dalam menjalani hidup," ujar Suryanita.

Kisah hidup Sepi, lanjut Suryanita, terbukti amat inspiratif karena dalam kondisi hidup serba kekurangan, Sepi tak pernah berhenti berupaya agar roda hidupnya bergulir menjadi lebih baik.

Tak berbeda dengan kisah hidup Anne Frank, yakni seorang gadis Yahudi yang bertahun-tahun hidup dalam persembunyian untuk menyelamatkan diri dari tentara Nazi, yang menjadi tokoh idola bagi Sepi.

Dalam persembunyian, Anne menulis dalam buku harian tentang cita-cita yang ingin diraihnya kalau keadaan sudah aman.

Buku "Potret Terindah dari Bali" sekaligus ingin mengungkapkan bahwa mimpi atau cita-cita dapat menjadi kekuatan seorang anak agar dapat menjalani hidup, sesulit apapun, kata Suryanita.

"Seperti halnya yang dialami Sepi. Mimpi dan cita-citanya menjadi jurnalis, membuatnya tak pernah putus asa. Hidupnya yang sulit,bukan membuatnya tak bisa berkelit," ujar penulis yang menetap di Denpasar itu.
[rimanews.com]