Tampilkan postingan dengan label Pesona Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesona Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juli 2011

Gereja Blenduk

Wisatanesia.com-Gereja Blenduk (kadang-kadang dieja Gereja Blendug dan seringkali dilafazkan sebagai mBlendhug) adalah Gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun oleh masyarakat Belanda yang tinggal di kota itu pada 1753, dengan bentuk heksagonal (persegi delapan). Gereja ini sesungguhnya bernama Gereja GPIB Immanuel, di Jl. Letjend. Suprapto 32,Semarang,Jawa Tengah.Gereja Blenduk adalah Gedung Jiwasraya yang terletak di sebelah Selatan, kantor Kerta Niaga di sebelah Barat, ruang terbuka bekas Parade Plein di sebelah Timurnya,atau Lokasi bangunan ini frontal terhadap Jl. Suari yang dahulu bernama Kerk straat.
Kubahnya besar, dilapisi perunggu, dan di dalamnya terdapat sebuah orgel Barok. Arsitektur di dalamnya dibuat berdasarkan salib Yunani.

Gereja ini direnovasi pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A. de Wilde, yang menambahkan kedua menara di depan gedung gereja ini. Nama Blenduk adalah julukan dari masyarakat setempat yang berarti kubah. Gereja ini hingga sekarang masih dipergunakan setiap hari Minggu. Di sekitar gereja ini juga terdapat sejumlah bangunan lain dari masa kolonial Belanda.Wisata Indonesia Surga Dunia.

Senin, 04 Juli 2011

Lakon Santri Suci Dipentaskan

MASYARAKAT Tegal dan sekitarnya mulai bisa menyaksikan pementasan wayang secara langsung, mulai Jumat (1/7) malam di halaman depan Radio Sebayu FM.
Bagi yang tidak sempat datang, dapat mendengarkan pementasan yang disiarkan on air (langusng) hingga dini hari. Ki Barep tampil membawakan wayang golek dengan lakon ‘Santri Suci’ menyambut baik digelarnya pementasan wayang, yang akan rutin dilakukan setiap 2 bulan sekali. Menurutnya, pementasan wayang secara langsung dan disiarkan melalui radio, merupakan bagian dari pengangkatan kembali budaya lokal yang makin terpinggirkan.
“Tidak bisa dipungkiri, selama ini masyarakat bertanya-tanya kapan digelarnya pementasan wayang kulit maupun golek. Pertanyaan itu sangat miris, karena budaya lokal terus tergerus dengan masuknya berbagai budaya asing, padahal tidak semuanya cocok dengan kultur masyarakat Tegal.”
Menurutnya, pementasan yang akan dilakukan secara rutin menjadi kesempatan bagi para dalang, untuk membawakan lakon yang akan diangkat. Di sisi lain, masyarakat terutama generasi muda diharapkan lebih menggandrungi wayang sebagai salah satu budaya sendiri.
“Dengan demikian, regenerasi yang selama ini terkesan mandek, dapat kembali berjalan. Hal itu sangat penting, sebab generasi tua tidak selamanya akan eksis dan membutuhkan kehadiran generasi muda, yang peduli terhadap budaya sendiri. Apalagi dalam setiap pementasan wayang, selalu diselipkan berbagai ajakan serta pesan moral, yang sarat dengan makna kehidupan dan kondisi saat ini,” ucap Ki Barep.
Lebih lanjut dia mengungkapkan, pementasan tersebut diharapkan jadi momentum bangkitnya kembali wayang, sebagai salah satu budaya yang patut dibanggakan serta dipertahankan, dan terus dikembangkan njadi aset. Jangan sampai terjadi keributan saat budaya lokal diakui negara lain. Karena masyarakatnya sendiri kurang peduli terhadap budaya.
“Peran serta pemerintah dan semua elemen masyarakat, juga sangat diperlukan guna mendukung dan mempertahankan, agar setiap budaya yang ada bisa tumbuh dan berkembang di negerinya sendiri. Ini adalah awal yang baik. Sehingga masyarakat kembali menggandrungi wayang sebagai salah satu budaya leluhur yang harus dilestarikan.” (gun)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/3 Juli 2011

Minggu, 26 Juni 2011

Terpesona Sendratari Richard Gere Lupa Istri

AKTOR Hollywood Richard Gere terkagum-kagum saat melihat pentas Sendratari Mahakarya Borobudur (The Masterpiece of Borobudur Ballet) di panggung terbuka Aksobya, pelataran timur Candi Borobudur, Minggu (26/6) malam.

Bintang film Pretty Woman itu duduk di barisan depan bersama sang istri, Carey Lowell, serta putra tunggalnya, Homer James Jigme Gere (10). Gere yang mengenakan kemeja biru muda tak beranjak selama pentas berlangsung.

Sesekali, dia mengeluarkan kamera kecil untuk mengabadikan aksi panggung para penari. Sebuah vas bunga yang dianggap mengganggu pemandangan, ia ambil dan pindahkan ke bawah kursi.

Bahkan ketika Carey Lowell mengajaknya bicara, Gere hanya menjawab seperlunya sambil matanya tetap menatap ke arah panggung. Dia seperti ”lupa” sedang bersama sang istri. Gere seakan enggan kehilangan momen sedetik pun.

Kekaguman serupa terlihat dari ekspresi ratusan penonton yang memadati 600 kursi yang tersedia. Pun demikian dengan artis Titi DJ dan bos Republik Cinta Management (RCM) Ahmad Dhani yang duduk bersebelahan dengan Mulan Jameela. Mereka berulang kali mengumbar senyum dan bertepuk tangan.

Mahakarya Borobudur merupakan kisah Gunadharma yang ditugaskan Raja Smaratungga untuk memperbaiki kehidupan manusia yang kacau balau. Ia kemudian membuat bangunan suci berbentuk batu berundak. Secara garis besar relief dalam Candi Borobudur memaparkan tiga ajaran hidup, yakni kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu.

Tingkat kamadhatu (kaki candi) menggambarkan perilaku manusia yang masih terikat oleh nafsu duniawi. Rupadathu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, sedangkan arupadathu merupakan alam atas atau dunia tanpa rupa, yaitu tempat para dewa.

Seusai pentas, Gere naik ke atas panggung untuk mengucapkan salam kepada para penari. Ia mengeliling panggung dan memberi hormat kepada para penari dan pengrawit (penabuh gamelan). Aksi spontan Gere itu mengundang ratusan penonton ikut naik ke atas panggung. Gere mengumbar senyum dan mengucapkan terima kasih karena telah disuguhi tarian yang luar biasa.

Sebelumnya, Gere dan rombongan sampai di Candi Borobudur sekitar pukul 17.35. Setengah jam kemudian dia menggelar wawancara dengan wartawan. Peraih Golden Globe Award melalui film Chicago tersebut mengatakan bahwa kedatangannya ke Candi Borobudur untuk mengenal lebih dekat candi yang dibangun Dinasti Syailendra itu.

“Saya sudah lama menantikan untuk bisa berkunjung ke Borobudur. Saya ke Indonesia sekitar 25 tahun lalu. Waktu itu saya hanya ke Bali. Ini kunjungan pertama saya ke Jawa,î ujarnya.

Saat ditanya kesannya terhadap Candi Borobudur, aktor bernama lengkap Richard Tiffany Gere itu mengaku sangat kagum. Dia juga akan bermeditasi di atas candi. Pada Senin sekitar pukul 04.00 Gere akan melakukan prosesi peace walk (jalan perdamaian) dengan berjalan mengitari candi sebanyak tiga kali. Ia pun senang dengan sambutan hangat yang diterimanya selama berada di Indonesia.

Napak Tilas

Bagi dia, kunjungannya ke Borobudur memiliki makna spiritual. Ini tak terlepas dari agama yang dianutnya, Buddha. Gere seolah ingin menapak tilas perjalanan Atisha, mahaguru Buddha asal Bengali, saat menimba ilmu ke Nusantara sekitar 1.000 tahun lalu. 

Pada tahun 1011, Atisha berkunjung ke Kerajaan Sriwijaya dan Borobudur. Selama 12 tahun, ia belajar tentang Buddha di Sumatera dan Candi Borobudur. Ilmu yang didapat Atisha kemudian disebarkan ke Tibet. Kini ajaran Atisha masih diterapkan banyak aliran Buddha di Tibet. Gere merupakan salah satu pengikutnya. Ia menganggap Atisha sebagai mahaguru.

ìAtisha merupakan pendeta yang membawa gelombang Buddha ke Tibet. Gere datang ke Candi Borobudur karena terinspirasi perayaan seribu tahun kedatangan Atisha,î jelas Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Purnomo Siswo Prasetyo.

Menurut Purnomo, setelah bermeditasi, melakukan peace walk, dan menikmati terbitnya matahari dari atas candi, Senin pagi Richard Gere akan menanam pohon bodhi. Sekitar pukul 08.00, Gere akan mengunjungi Candi Mendut dan Candi Pawon dengan mengendarai gajah wisata. Ia juga direncanakan berjalan-jalan di desa-desa wisata sekitar Candi Borobudur.

Kedatangan Richard Gere ke Magelang merupakan prakarsa Menbudpar Jero Wacik untuk mempromosikan pariwisata Indonesia ke dunia internasional. “Ini sekaligus membuktikan bahwa Borobudur aman dikunjungi. Semoga ini akan menarik wisatawan asing lainnya,” kata Purnomo.

Ia menambahkan, akan memberikan pelayanan terbaik bagi tamu dari Negeri Paman Sam itu agar Gere dan rombongannya memiliki kesan mendalam tentang Borobudur. “Siapa tahu dia mau jadi duta parwisata kita,” kata dia.

Disebutkannya, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko menargetkan 440.000 wisatawan asing berkunjung ke Candi Borobudur pada tahun 2011. Purnomo yakin target itu akan terpenuhi, apalagi banjir lahar dingin Merapi sudah mereda. Selain itu, Jembatan Prumpung sudah diresmikan sehingga transportasi wisatawan tidak terganggu. (MH Habib Shaleh, Tuhu Prihantoro-59)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/27 Juni 2011

Rabu, 15 Juni 2011

Misteri Tari Ronggeng

Misteri Tari Ronggeng

Di postingan perdana ini, saya akan coba sedikit mengulik salah satu kebudayaan yang ada di Indonesia tepatnya berasal dari daerah Jawa Barat, ya...tari ronggeng, suatu tarian yang sangat terkenal dan masih menyimpan banyak misteri.

Asal-usul
Berasal dari jawa barat, ada tarian khas yang bernama tari ronggeng. Tari ronggeng ini secara umum merupakan sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utamanya adalah seorang perempuan yang dilengkapi dengan sebuah selendang. Fungsi selendang, selain untuk kelengkapan dalam menari, juga dapat digunakan untuk “menggaet” lawan (biasanya laki-laki) untuk menari bersama dengan cara mengalungkan ke lehernya.
Ada beberapa versi tentang asal usul tari ronggeng salah satunya cerita berikut ini hanya jalan ceritanya yang berbeda. Dalam versi ini perkawinan antara Dewi Siti Samboja dan Raden Anggalarang, putra Prabu Haur Kuning dari Kerajaan Galuh, tidak direstui oleh ayahnya. Untuk itu, pasangan suami-isteri tersebut mendirikan kerajaan di Pananjung, yaitu daerah yang kini merupakan Cagar Alam Pananjung di objek wisata pangandaran. Suatu saat kerajaan tersebut diserang oleh para perompak yang dipimpin oleh Kalasamudra, sehingga terjadi pertempuran. Namun, karena pertempuran tidak seimbang, akhirnya Raden Anggalarang gugur. Akan tetapi, istrinya, Dewi Siti Samboja, berhasil menyelamatkan diri.dan mengembara. Dalam pengembaraannya yang penuh dengan penderitaan, sang Dewi akhirnya menerima wangsit agar namanya diganti menjadi Dewi Rengganis dan menyamar sebagai ronggeng. Di tengah kepedihan hatinya yang tidak terperikan karena ditinggal suaminya, Dewi Rengganis berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Tanpa terasa, gunung-gunung telah didaki dan lembah-lembah dituruni. Namun, di matanya masih terbayang bagaimana orang yang dijadikan tumpuan hidupnya telah dibunuh para perompak dan kemudian mayatnya diarak lalu dibuang ke Samudera Hindia.
Singkat cerita, pergelaran ronggeng akhirnya sampai di tempat Kalasamudra dan Dewi Samboja dapat membalas kematian suaminya dengan membunuh Kalasamudra ketika sedang menari bersama.
Mungkin awal kemistisan tarian ini dari sini, saat tari ronggeng digunakan untuk membalas dendam sehingga seolah-olah tarian ini berbau mistis dan kematian (serem ya-aphro)

Berbau Mistis
Tak dapat dipungkiri tarian ini memiliki hal-hal mistis yang sangat kuat. Banyak yang beranggapan, bahwa penari ronggeng disetir oleh arwah-arwah penasaran yang menyusup ke dalam jiwa penari tersebut sehingga sering jahil kepada penontonnya.
Tarian ini selain sebagai sarana pertunjukan juga dimainkan saat ada upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan atau penerimaan tamu. Mengingat fungsinya yang demikian, maka sebelum pertunjukan dimulai, diadakan sesajen untuk persembahan kepada para leluhur dan roh-roh yang ada di sekitar tempat digelarnya tarian, agar pertunjukan berjalan dengan lancar. Bentuk sesajennya terdiri atas kue-kue kering tujuh macam dan tujuh warna, pisang emas, sebuah cermin, sisir, dan sering pula ditemukan rokok sebagai pelengkap sesaji.

Bangbung Hideung
Menulis tentang misteri ronggeng ini, saya teringat akan kisah nyata yang pernah saya dengar di salah satu radio, bangbung hideung merupakan salah satu tembang yang digunakan dalam pentas ronggeng, konon lagu ini jika diputar akan memanggil makhluk gaib sehingga dapat menarik lawan jenis agar ikut menari dengan penari ronggeng.
Singkat cerita, dulu ada seorang wanita yang berprofesi sebagai hantu ronggeng, dapat dikatakan ia bersekutu dengan jin agar ia dapat terlihat cantik dan seksi, setiap malam selasa ia akan mandi di sebuah bak kecil sementara (menurut keponakannya sendiri yang pernah liat-aphro) di sekelilingnya ada makhluk gaib yang sedang bermain gamelan dan seorang wanita menggunakan topeng yang menari-nari dengan gerakan yang menakutkan diiringi lagu bangbung hideung ini.

Yah, ini hanyalah sedikit misteri yang ada dari kebudayaan-kebudayaan di tanah air kita, didapat dari leluhur-leluhur kita yang sampai saat ini masih di lestarikan, memang sudah seharusnyalah kita melestarikan kebudayaan tanah air, tapi jangan sampai kita menjual keimanan yang kita miliki, dan selalu dekatkan diri anda dengan Tuhan... :)
Sumber Berita : http://mistery-ous-aphrodite.blogspot.com/