Tampilkan postingan dengan label Pesona Slawi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesona Slawi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2011

Cacaban Dalam Sudut Camera

Melihat keindahan Obyek Wisata Waduk Cacaban di Kabupaten Tegal adalah kenikmatan tersendiri. Apalagi bila yang datang itu seorang Fotograper Profesional, dirinya tidak akan membiarkan keindahan cacaban itu lewat begitu saja. Bidikan demi bidikan dengan sudut pandang seni menghasilkan berbagai macam foto seni yang indah. Salah satu dari sekian bidikan foto yang indah dari  seorang Fotograper Profesioanal Kota Slawi  dikirim ke Slawi AyuCyberNews dan dutampilkan pada hari ini : Rabu, 7 September 2011

.

Selasa, 09 Agustus 2011

Melihat Dari Dekat Aktifitas Kolam Pancing RM Taman-Bunga

Selama Bulan Ramadan Menjadi Ajang Nagbuburit Pemancing  Spesifikasi hoby atau kesukaan seseorang tidaklah sama. Penyuka mancing (mancing mania), akan mencari tempat untuk memancing yang ideal, apalagi disaat bulan puasa seperti saat ini. Penghobi mancing bakal memanfaatkan waktu luang sambil menunggu berbuka puasa dengan mancing. Bagaimana kisahnya?
LAPORAN: MUHAMMAD GHONI
 PARA penghobi mancing di wilayah Bojong dan Bumijawa, juga melakukan hal yang sama. Di Bulan suci Ramadan 1432 H kali ini, mereka sudah memiliki arena mancing yang cukup strategis dan banyak diminati pemancing. Bahkan tidak hanya pemancing dari Bojong dan Bumijawa saja, melainkan dari pemancing luar wilayah.
 Adalah Rumah Makan Taman Bunga, yang terletak di tepi jalur jalan dari Bojong menuju arah Bumijawa, berada disebelah kiri jalan jika dari Bojong. RM itu milik Fahruri, warga Bumijawa yang sengaja mengemas RM-nya, dengan sarana pendukung kolam pancing. Kita itu ternyata berhasil, dimana setiap harinya di bulan puasa 1432 H ini, hampir puluhan pemancing menikmati mincing dikolam pancing RM-nya.  “Selain menjadi hiburan kami juga menguntungkan,” kata pemilik RM Taman Bunga, Fahruri, kepada Radar.
 Dikatakan Fahruri, setiap pemancing bisa memancing disalah satu kolam ikan miliknya yang dijadikan lahan mancing termasuk untuk lomba mancing pada kurun tertentu. Saat ini ada empat kolam pancing yang dimiliki RM Taman Bunga. Setiap pemancing dikenakan Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu untuk bisa mincing di kolam pancing itu.
 Menurut dia, dari uang pemancing tersebut, sebetulnya untuk membeli setengah KG ikan untuk disebar ke kolam pancing yang bakal dipancing oleh pemancing sendiri. Untuk setengah kilogram ikan Lele dan Bawal seharga Rp 10 ribu dan Ikan Emas atau ikan campuran pemancing dikenakan Rp 15 ribu.  “Setelah membayar mereka bebas memancing dan ikan yang didapat bisa dibawa pulang atau dibakarkan di RM-nya secara gratis,” terang Fahruri.  
 LOMBA MANCING
 Selain kolam ikan, RM-nya sebagai ajang ngabuburit memancing oleh mancing mania daerah setempat di bulan Ramadan. Hampir setiap bulan sekali, pihaknya juga menyelenggarakan lomba memancing bekerjasama dengan sejumlah sponsor. Untuk peserta yang rutin kami gelar lombanya, selain dari Bojong dan Bumijawa, juga dari wilayah lain di Kabupaten Tegal, Kota Tegal, Kabupaten Brebes dan Pemalang.
 Lomba sendiri, selain sebagai penyalur hoby bagi pemancing, sekaligus sebagai uji kesabaran bagi peserta. Dari sejumlah lomba yang digelarnya, hampir semua pemacing meras puas dan ingin agar lomba serupa sering digelar.  “Bagi kami selama ada pihak yang bersedia bekerja sama dalam melaksanakan lomba memancing pasti kami gelar dengan hadiah yang cukup menarik,” terang Fahruri.
 Sementara menilik sesuai nama RM Taman Bunga, tetapi yang dikenal pemancingannya, dijelaskan oleh dia, niatan awal memang membangun RM dengan dilengkapi Taman Bunga. Namun sebagai upaya pendukung dibangunlah tempat memancing sebagai sarana hiburan. Namun kenyataannya, sampai saat ini malah kolam pemancingan yang banyak diburu pemancing.  “Termasuk di bulan ramadan 1432 H ini, kolam pancing kami selalu diburu pemancing untuk ajang ngabuburit, jelang buka puasa,” pungkas Fahruri. (*)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Minggu, 07 Agustus 2011

Tahu Aci Tegal Menembus Batas

PERANTAU  yang kangen dengan kampung halaman, biasanya mencari makanan khas dari daerahnya. Dan, bagi penggemar tahu aci Tegal tak perlu repot memesan ke daerah asal. Sebab, pemasaran cemilan itu kini mulai merambah kota-kota besar, seperti Semarang, Bandung, dan Jakarta. 

Ya, makanan berbahan dasar tahu kuning dan tepung tapioka tersebut tak hanya dijual dengan gerobak di pinggir jalan, tetapi masuk mal. Bahkan, pemasarannya juga dilakukan melalui internet.
Kasi Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tegal, Fani Dwiat Mohamad mengatakan, perkembangan penjualan tahu aci cukup pesat. Hal itu terlihat dengan banyaknya penjual tahu aci, di Tegal saja jumlahnya mencapai sekitar 1.000 pedagang. Mereka terdiri dari pedagang besar, sedang, dan kecil.

Untuk pedagang besar, rata-rata penjualannya mencapai 2. 000 tahu aci per hari, sedangkan pedagang sedang sekitar 1. 200 tahu aci per hari, pedagang kecil hanya ratusan tahu saja.
”Selain di Tegal, beberapa penjualan tahu aci mulai keluar daerah, seperti Semarang, Jakarta, dan Bandung. Mereka membuka kiosnya di mal atau swalayan,” jelasnya. 

Dia mengatakan, meski merk dagangannya terkenal, namun hingga kini belum ada yang menerapkan sistem waralaba. Mereka lebih memilih membuka cabang yang dikelola oleh anak ataupun saudaranya.
”Tahu aci itu tahu biasa. Tapi yang membuat rasanya jadi luar biasa adalah adonan tepung yang ditempel pada tahu tersebut,”  kata Banito (63) pedagang tahu aci di Jalan Kolonel Sugiono, Kota Tegal.

Penggorengan

Dia mengatakan, proses pembuatannya sederhana. Tahu dibelah menjadi dua. Sisi bekas potongannya ditempeli aci yang terbuat dari tepung tapioka bertabur potongan daun kucai. ”Bumbu untuk adonan aci itu terdiri dari bawang putih, lada, garam, penyedap rasa, dan daun kucai,” ujarnya.
Menurutnya, proses penggorengan tahu aci hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit. Jika terlalu lama justru tidak baik, acinya menjadi keras dan tahunya gosong.  ”Tahu aci juga dikenal dengan sebutan tahu slawi. Tapi warga Slawi jarang yang memproduksinya,” ungkapnya.

Tahu  itu berbeda dengan produksi dari daerah lain. Sebab, dibuat di sentra pembuatan tahu di wilayah Kecamatan Adiweran, Kabupaten Tegal. Selain itu, produsen yang cukup besar adalah Tiga Roda milik Tju An Tin, di Desa Pekiringan, Kecamatan Talang.  Produsen besar lainnya adalah Nata Jaya.
Banito mengungkapkan, salah satu toko yang terkenal menjajakan cemilan itu adalah Tahu Murni Putra Nata Jaya di Jalan AR Hakim, sebelah selatan Plaza Marina, Alun-alun Tegal.

Merek lainnya adalah Tahu Murni di Jalan Raya Adiwerna, Banjaran, Tahu Randu Alas Slawi Kulon, Tahu Subur di dekat pertigaan Sentral Banjaran.  ”Jumlah produksi tahu aci dalam satu hari bisa mencapai ribuan buah,” jelasnya. 
Harga tahu aci setiap pedagang berbeda-beda, berkisar antara Rp 500-Rp 800 per buah. Pedagang kaki lima biasanya menjual Rp 600  per tahu, sedangkan tahu aci dengan merek terkenal bisa mencapai Rp 800 per buah.

Pengelola toko tahu aci Nata Jaya, cabang Jalan Raya Dampyak, Kabupaten Tegal, Siti Julikha mengatakan, usahanya dari tahun ke tahun terus berkembang pesat. Perusahaan itu memiliki beberapa cabang  di Kota dan Kabupaten Tegal. Tak hanya itu, Nata Jaya juga membuka cabang di Kota Bandung yang dikelola oleh putri pemilik Nata Jaya, Ibu Messih.
”Di Bandung, tahu aci dijual di swalayan dan mal. Sedangkan bahan bakunya tetap didatangkan dari Tegal. Hal itu dilakukan agar cita rasanya tetap sama dengan yang di Tegal, sebagai asal makanan tersebut,” jelasnya. 

Dia mengatakan, pedagang tidak hanya menjual tahu siap santap, mereka juga melayani penjualan dalam bentuk mentah, atau belum digoreng. Selain itu, mereka juga menjual tahu plethok.  ”Yakni tahu yang salah satu permukannya dibalut aci, kemudian digoreng kering.”

Dia mengatakan, pembeli yang datang ke tokonya berasal dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Solo, dan Jawa Timur.  ”Banyak yang membeli jajanan tersebut untuk dijadikan oleh-oleh,” jelasnya. 
Gurihnya berjualan tahu aci itu dipastikan akan dirasakan para pedagang pada Lebaran mendatang. Sebab, biasanya pusat penjualan oleh-oleh khas Tegal itu diserbu pemudik yang akan kembali setelah pulang kampung.  (71)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/07/155257/

Tahu Aci Tegal : Tahan hingga Seminggu

Tahu aci dari Tegal makin lama kian disukai. Hal itu terlihat dengan menjamurnya pedagang kaki lima penjual makanan itu yang tersebar  di Kabupaten/ Kota Tegal. 

Selain itu, jumlah permintaan cemilan tersebut dari tahun ke tahun meningkat. Ningsih atau We Pung (45), pembuat tahu aci di Toko Tahu Murni mengungkapkan, pada awal mulai usaha hanya mampu menjual maksimal 500 tahu per hari.  ”Kala itu harganya berkisar antara Rp 25- Rp 50 per buah,” kata wanita yang menggeluti usaha pembuatan tahu aci selama 25 tahun itu.

Usaha yang dikelolanya terus berkembang. Saat ini, rata-rata Toko Murni mampu menjual mencapai 2.000 tahu per hari.
Dia mengatakan, selain dijual dalam keadaan sudah digoreng, tahu tersebut juga dijual dalam keadaan mentah atau belum digoreng.

Harga tahu aci goreng dan mentah sama, yaitu antara Rp 600- Rp 800 per buah. ”Salah satu keunggulan tahu aci mentah, yaitu bisa bertahan hingga satu minggu jika dimasukkan dalam lemari es. Dengan demikian, bisa digoerng sewaktu-waktu,” terangnya.  (Joko Widodo-71)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/07/155258/

Minggu, 17 Juli 2011

Warung Tegal Sebuah Fenomena Urbanisasi

Warung Tegal (selanjutnya saya singkat Warteg) adalah salah satu tipe warung makan yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia, terutama melekat di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah. Harga yang murah dan penyajian yang sederhana merupakan ciri khas yang menjadi faktor utama mengapa warteg lebih melekat di kalangan masyarakat tersebut. Sepiring nasi penuh, sepotong daging ayam, dan kuah sayur, misalnya, dapat kita bayar hanya dengan harga Rp. 4000,-. Jika dibandingkan dengan restoran Padang, harga menu makan di warteg jauh lebih murah. Warteg boleh jadi sudah menjamah berbagai daerah. Tidak sedikit para pemilik warung ini yang sukses.Mungkin Bisa jadi Warteg di sebut Warteg Warung Makan Murah Masakan Berkualitas
Penyajian di warteg begitu sederhana, yaitu dengan menata makanan secara prasmanan, sehingga kita dapat mengambil sendiri pilihan hidangan; ada juga model memilih menu hidangan dengan cara diambilkan oleh pelayan (bisa ibu Sri lihat dalam lampiran foto). Adapun hidangan yang disajikan di warteg bervariasi dan sederhana, terdiri dari: sayur-sayuran (seperti sayur tahu, sayur kacang merah, dan soto), lauk pauk (tempe, tahu, perkedel, goreng-gorengan, goreng ayam, goreng ikan, remis, dan jeroan ayam), urab dan sebagainya. Makanan yang disajikan di warteg didominasi oleh hidangan Jawa. Maklum saja, yang mempunyai usaha warteg adalah orang-orang Tegal yang merantau di kota-kota besar, terutama di kawasan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, Bandung; Semarang, Solo, dan beberapa daerah lain.

Tegal sendiri adalah salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang terletak di wilayah Pantura (Pantai Utara) dengan kota Slawi sebagai ibukota kabupatennya. Uniknya, di wilayah Tegal sendiri –menurut penuturan pengusaha warteg—, sulit menemukan warteg. Hanya ada beberapa warung di jalan utama. Itu saja tidak sesemarak di luar daerah Tegal. Warteg cukup potensial di luar daerah. Pasalnya, warteg bisa tumbuh dan berkembang ketika berada di lingkungan atau di kawasan industri di kota-kota besar. Apakah mungkin di wilayah Tegal sendiri dibentuk sentra warteg? Kemungkinan itu tampaknya kecil. Hal ini disebabkan karena kebanyakan warga Tegal bukan pendatang. Jadi, kalaupun mendirikan usaha warteg, kemungkinan untuk laris sangatlah kecil.
Meski demikian, tidak ada sumber yang pasti, bagaimana bermulanya usaha warteg ini di daerah-daerah yang saya sebutkan di atas. Namun, diperkirakan eksistensi warteg mulai berkembang pada kurun tahun 1970-an ketika arus urbanisasi besar-besaran mulai terjadi di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Pendorong utamanya, jelas, bahwa orang-orang Tegal yang merantau memandang kota-kota besar, seperti Jakarta dan sekitarnya merupakan lahan bisnis yang menjanjikan. Mereka pun menamakan warung nasi-nya dengan nama “warung Tegal”, karena memang dimiliki oleh orang-orang Tegal. Hampir seluruh usaha rumah makan tersebut di wilayah manapun diberi label “warteg”. Ini bukan bisnis franchise, tapi istilah warteg itu sendiri memang betul-betul sudah menjadi brand image atau dengan kata lain sudah menjadi istilah yang merakyat di mata masyarakat Indonesia sampai saat ini. Tidak perlu aturan untuk meminta izin jika mendirikan rumah makan dengan nama “warteg”, karena siapapun dapat dan boleh memakai label “warteg” tersebut untuk menjalankan usahanya. Sehingga dengan “warteg” ini pula, hubungan kaum perantauan dari Tegal ini dapat terjalin dengan baik sebagai sesama pengusaha seprofesi. Oleh karena itu, para pengusaha warteg ini pun mempunyai inisiatif untuk mendirikan perhimpunan kowarteg (Koperasi warung Tegal) yang bertujuan untuk menjalin kerjasama dan membantu anggota-nya melalui wadah koperasi tersebut.

Banyaknya pendatang dari daerah ke Jakarta tentu menjadi alasan utama mengapa warteg makin bertambah jumlahnya dan makin kuat eksistensinya. Dalam arti, banyak dari mereka yang bekerja di wilayah Jakarta dan sekitarnya sebagai buruh bangunan, buruh pabrik, tukang becak, sopir bus, dan profesi blue collar lainnya yang umumnya berpenghasilan rendah. Penghasilan yang rendah dan keberadaan warteg sudah pasti dihubungkan dengan kemampuan finansial untuk mencari biaya makan yang murah. Maklum saja, biaya hidup di kota-kota besar begitu tinggi. Sehingga dengan kondisi demikian, warteg menjadi solusi tersendiri bagi kaum ekonomi menengah ke bawah untuk menikmati makan yang murah meriah.
Selain itu, target konsumen mereka adalah para mahasiswa daerah yang indekos. Tidak heran kalau di daerah kampus, warteg dapat dicari dengan mudah. Ketika saya masih berkuliah di Bandung, warteg memang menjadi tempat makan yang selalu penuh dengan mahasiswa, terutama ketika jam makan siang. Kiriman uang dari orangtua yang terbatas menjadi alasan utama, mengapa para mahasiswa memilih warteg.
Warga Tegal memang lebih suka menjadi wira swasta, sebagian besar membuka usaha warteg yang tergabung dalam perhimpunan Kowarteg (Koperasi Warung Tegal). Jika melihat sekilas usaha warung nasi yang dilakoni kaum perantauan dari Tegal ini, mungkin tidak pernah terlintas di benak kita, bagaimana kehidupan mereka di kampung halamannya. Saya malah pernah berpikiran, bahwa mereka yang mengais rizki di daerah lain mungkin adalah orang yang kehidupannya susah di kampung, sehingga dengan membuka usaha warteg ini setidaknya mereka dapat menafkahi mereka dan keluarganya di kampung halaman.
Ternyata pikiran saya itu meleset. Bukan hanya sekedar untuk menafkahi keluarga mereka, namun kesuksesan mereka ternyata layak diacungi jempol. Meski rata-rata berpendidikan rendah, kekayaan mereka di tanah rantau sebagai pedagang warteg tidak boleh dianggap remeh. Setiap pulang kampung, umumnya pada saat hari raya Lebaran, para pengusaha warteg ini tak pernah lupa menyumbangkan uangnya, untuk membangun dusun atau desa masing-masing. Suasana ramai pun tampak di rumah-rumah mewah (menurut ukuran warga Tegal, karena bertembok dan bertingkat) milik pengusaha warteg yang sukses di Jakarta.
Bahkan, keramaian itu sebenarnya sudah tampak dua hari sebelum Lebaran. Sebab, beberapa hari menjelang Lebaran warga yang sukses membagi-bagikan sembako (sembilan kebutuhan bahan pokok) dan uang kepada warga tidak mampu. Para pengusaha itu pun membuka pintu lebar-lebar pada saat Lebaran tiba. Selama masa masa mudik itulah ekonomi Kabupaten Tegal menjadi lebih semarak dan perputaran ekonomi menjadi lebih dinamis
Setelah mengantongi uang banyak dari bisnis warteg, banyak dari mereka yang membangun rumah besar di desanya. Meski demikian, rumah itu hanya dihuni kalau mereka pulang, ya itu tadi, saat Lebaran. Kalau hari-hari biasa banyak yang tanpa penghuni.
Itu sekilas rekaman kisah yang saya peroleh, baik dari pengalaman mengobrol dengan pemilik warteg ketika masih kuliah dulu; maupun informasi yang pernah saya baca dari media massa yang mengulas tentang bisnis warteg. Mereka memang memiliki jiwa yang ulet, kreatif, dan mandiri, sehingga dapat meraih kesuksesan seperti yang sudah saya kisahkan tadi. Bahkan, Pemerintah Daerah Tegal pernah mempunyai rencana untuk mengutip Rp. 1000,- kepada tiap-tiap pengusaha warteg yang tersebar ribuan jumlahnya di luar kota. Kalau program ini dilaksanakan, jutaan rupiah tiap bulannya dapat mengucur ke kantong pemerintah daerah Tegal untuk membangun desa-desa terpencil. Hal itu menjadi sebuah ukuran begitu pentingnya peranan pengusaha warteg ini.
Makanan Khas
Mengenai makanan khas yang ada di warteg, kalau menurut saya, tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang istimewa ini maksudnya karena sudah begitu umum dikenal oleh khalayak masyarakat. Variasi menu hidangan yang tersedia di warteg, memang didominasi oleh cita rasa makanan Jawa Tengah-an yang mempunyai ciri khas santan di beberapa hidangan berkuahnya, namun tidak bercita rasa pedas, seperti halnya hidangan asal Sumatera.
Tapi, kalau berbicara makanan khas Tegal, walau agak menyimpang sedikit dari warteg, saya ingin menyampaikan beberapa jenisnya. Tegal memiliki beberapa jenis “koleksi” kuliner berupa makanan dan minuman khas. Misalnya: teh poci yaitu teh diseduh dalam poci tanah liat kecil dan diminum dengan gula batu, sehingga ada istilah teh poci “wasgitel” kepanjangan dari kata: wangi, panas, sepet, legi, lan (lan dalam bahasa Indonesia berarti kental). Tegal hingga saat ini dikenal sebagai sentra penghasil teh. Teh dijarangi pada poci tanah (teh poci) kemudian dituang ke dalam cangkir dengan pemanis gula batu. Teh dalam cangkir tidak diaduk, sehingga rasa manis ditemukan pada saat isi teh dalam cangkir hampir habis. Hal ini menyebabkan cangkir terus dituangi. Selain teh poci, juga ada aneka jenis makanan seperti yang terdapat dalam buku resep masakan Jawa Tengah berikut ini:
• Sate Tegal (sate kambing muda khas Tegal dengan bumbu sambal kecap), dan sate bebek majir;
• Kupat atau ketupat glabed, kupat blengong (kupat glabed dengan daging blengong. Blengong yaitu keturunan hasil perkawinan bebek dan angsa), dan kupat bongko (ketupat dengan sayur tempe yang telah diasamkan);
• Nasi ponggol, dan nasi bogana (nasi megono),
• Sauto (soto ayam atau babat khas Tegal dengan bumbu tauco dan tauge), dan tahu plethok.
• Mendoan, yaitu tempe goreng yang dilapis tepung dengan bumbu. digoreng tidak kering. Biasanya sebagai teman minum teh poci, dihidangkan dengan sambal.
• Sega Lengko – nasi lengko: adalah nasi dengan bahan pelengkap seperti tempe, tahu yang diiris dadu, toge, dan sambal kacang serta kerupuk.
• Tahu aci: Tahu dengan tepung aci (kanji atau sagu) kemudian digoreng.
• Kemronyos, yaitu sate khas Tegal
• Pilus: makanan kecil (snack) dari tepung terigu.
Memang, makanan yang saya sebutkan di atas tidak semua identik dengan hidangan warteg, namun kadang ada warteg yang menyediakan hidangan istimewa, seperti Soto Tegal dengan memesannya terlebih dahulu. Paling yang mudah dihidangkan dan selalu tersedia adalah tempe mendoan. Adapun jenis makanan khas Tegal bisa ditemukan di rumah makan Jawa Tengah, karena pada dasarnya jenis makanan Tegal –seperti halnya Cirebon— merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari koleksi kuliner Jawa Tengah.

Sumber berita : http://blogs.unpad.ac.id/cheffadly/?p=6

Jumat, 08 Juli 2011

Loko Antik PG Pangka

PANGKA – PG Pangka, perusahaan (pabrik) penghasil gula pasir berlokasi di desa Pangkah Kec. Pangkah, satu-satunya pabrik gula pasir yang masih eksis di Kabupaten Tegal, dahulu ada beberapa pabrik gula pasir seperti di Kemanglen, Dukuhwringin, Pagongan, Kemantran, Ujungrusi dan Balapulang, notabene adalah peninggalan Belanda. PG Pangka didirikan pada jaman kolonial Belanda pada tahun 1832 oleh pemiliknya “NV MIJTOT EXPLOITATIE DERT SUIKER FABRIKEN, dikelola oleh NV KOSY dan SUCIER yang bekedudukan di Surakarta. Pada waktu pendiriaanya ribuan tenaga kerja pribumi dikerahkan dengan sistem kerja paksa oleh pemerintah kolonial Belanda. Berdasarkan UU Nomor 86 Tahun 1958, PG Pangka telah diambil oleh Pemerintah Republik Indonesia atau istilah popular pada saat itu “di Nasionalisasi”
Hal menarik hingga kini tentang operasionalisasi PG Pangka adalah transpotasi tebu masih menggunakan rel kereta, dibangun lebih 150 tahun yang lalu dengan lokomotif kuno bermesin uap maupun diesel, terbuat pada kisaran tahun 1915. Dijamannya, penggunaan kontruksi rel kereta dan lokomotif uap merupakan rekayasa teknologi canggih. Masih beroperasinya lokomotif kuno mengundang minat wisatawan asing yang umumnya dari eropa berkunjung ke PG Pangka. Selain tertarik dengan lokomotif tua yang masih berfungsi, mereka juga kagum pada pengolahan gula yang masih menggunakan teknologi era 1800-an, sesuatu yang langka untuk ukuran perusahaan eropa saat ini. Berkunjung ke PG Pangka adalah belajar sejarah dengan nyata, bukan dari buku atau film dokumenter. Bahkan diantara wisatawan mencoba lokomotif uap sampai berulang-ulang, bangga rasanya masih bisa menggunakan hasil karya kakek-kakek saya. Demikian pengakuannya. Anak cucu pendiri dan pengelola pabrik era kolonial Belanda juga banyak berkunjung, mereka senang bisa bernostalgia dimana orang tua dan kakeknya dulu pernah tinggal, berkunjung ke pabrik dan jalan-jalan diperkebunan tebu, sambil membayangkan kakek-kakek mereka dulu bekerja.
Fenomena yang dapat dikembangkan menjadi wisata eksklusif, bila umumnya berkunjung ke museum hanya melihat barang-barang saksi sejarah, maka melihat PG Pangka adalah bicara pada sejarah peradaban manusia yang terus berkata-kata. Atas inisiatif Laksono Hujianto, maka dicetuskan suatu ide obyek wisata dalam jingle “Loco Antik”, suatu paket wisata bernuansa langka sebagai media edukasi dan rekreasi. Loco Antik merupakan ikon representasi dari loco yang terbuat pada tahun 1927. Ditarik lokomotif tua, digunakan dalam perjalanan wisata rekreasi melihat pemandangan perkebunan tebu dengan jarak ± 10 Km. Kapasitas loko antik terdiri dari 3 gerbong kereta dengan kapasitas 75 untuk orang dewasa, sedang untuk anak-anak bisa memuat sampai 100 anak. Ada dua jalur yang ditawarkan : 1. Jalur arah Barat Laut, melintasi perkampungan dan perkebunan tebu ; 2. Jalur Timur Laut, melintasi perkebunan tebu sambil menikmati keindahan pegunungan Waduk Cacaban. Wisata loco antik ditunjang dengan kegiatan : 1. Kunjungan lebih dekat tentang proses pembuatan gula pasir dari tebu. Kegiatan ini hanya bisa disaksikan pada musim giling yaitu periode Mei sampai dengan Oktober ; 2. Presentasi deskriptif tentang sejarah PG Pangka dan tata cara baku menanam tebu; 3. Acara ekslusif yang dinantikan pengunjung, bahkan wisatawan mancanegara adalah ritual “Temanten Tebu”, acara yang dilaksanakan hanya sekali dalam setahun, tepatnya pada selamatan pesta giling (April-Mei). Ritual yang mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan sang penguasa alam. Simbol penganten tebu, diambil dari tebu milik petani dan milik PG Pangka. Satu simbol persatuan antara petani dan PG dalam menyongsong panen raya dan giling. Konon sinar wajah temanten dapat mencerminkan berhasil atau tidak dalam pasca panen, tidak percaya ? buktikan.
Obyek lain yang cukup menarik adalah “Misteri Rumah Besaran”, rumah berlantai dua tempat manajer dan perwira Belanda sebagai pembesar pada saat itu mengadakan pertemuan membahas permasalahan perusahaan dan keamanan. Bangunan langka ini sering digunakan untuk sebagai objek fotografer bahkan pernah untuk lokasi syuting film. Sekarang rumah ini ditempati oleh Administratur PG Pangka, dilantai atas ada satu ruangan yang tidak sembarangan orang bisa masuk, konon ada benda-benda keramat peninggalan Tuan Halbossh, Sosok misteri yang selalu melekat selama PG Pangka masih ada. Banyak sudah wisatawan mancanegara dan domestik berkunjung, tidak kecuali pelajar dari TK sampai mahasiswa untuk studi sejarah peradaban teknologi pengolahan gula pasir, dari proses tanam sampai produksi. Suatu pembelajaran dalam menghargai etape peradaban anak bangsa. Tidak salah memang, jika “Loco Antik” merupakan salah satu alternatif sebagai media rekreasi dan edukasi.
Sumber Berita : http://kilurahsemar.wordpress.com/category/tegal/

Teh Poci Tradisi Dan Persahabatan

Tegal adalah sebuah kata dari bahasa Jawa yang arti harafiahnya adalah “ladang”.Teh Poci yaitu teh diseduh dalam poci (cerek kecil) dari tanah liat dan ditambah dengan gula batu dan diminum panas-panas, minuman ini sangat disukai oleh masyarakat Tegal, Slawi, Pemalang, Brebes dan sekitarnya.

Ada istilah teh poci “WASGITEL” singkatan dari wangi, panas, sepet, legi, lan (dan) kentel (kental), yang artinya teh panas, manis, wangi beraroma bunga melati dan berwarna hitam pekat/kental.Teh Poci biasanya menggunakan teh (hijau) melati yang mengeluarkan aroma yang khas, dan biasa disajikan dipagi atau sore / malam hari dengan ditemani makanan kecil. Poci yang digunakan untuk menyeduh teh poci biasanya bagian dalam pocinya tidak pernah dicuci tetapi cukup dibuang sisa tehnya saja. Hal ini dipercaya masyarakat Tegal kerak sisa teh tadi akan menambah cita rasa dan aroma teh poci menjadi semakin enak.Di luar daerah Tegal teh poci dapat dijumpai di warteg (Warung Tegal). Perangkat minum teh poci yang asli adalah poci (cerek kecil) dan cangkir dari tanah liat.

Hidangan minuman ini disajikan dengan gula batu dan lebih pas diminum selagi masih hangat agak panas. Gula batu (disebut juga Rock Sugar) adalah gula yang dibuat dari gula pasir, yang dikristalkan, melalui bantuan air yang dipanaskan.Biasanya ditambahkan ke dalam teh, harum dan manis rasanya.Bahan dan alat yang diperlukan untuk membuat gula batu antara lain panci , gula pasir , benang (kapas atau wol) , penyangga benang , dan Jar (tempat yang terbuat dari kaca).

Cara umum membuat gula batu yaitu:Tuangkan air ke dalam panci dan panaskan air hingga mendidih. Kecilkan pemanas, sedikit demi sedikit tambahkan gula, sambil diaduk perlahan-lahan. Matikan pemanas. Sambil diaduk, tambahkan lagi gula, sampai terlihat butiran-butiran gula yang tidak dapat larut dalam air . Biarkan hingga dingin. Air panas dapat melarutkan jauh lebih banyak gula, dibandingkan dengan air dingin) , (Hati-hati ! , air gula panas dapat menyebabkan luka bakar yang parah). Setelah dingin, tuangkan ke dalam Jar . Ikatkan benang itu pada penyangga benang, kemudian taruh di atas Jar, sementara benang-nya tercelup (jangan menyentuh dasar atau pinggir Jar). Tunggu hingga kristal gula, mulai kelihatan terbentuk. Semakin luas permukaan Jar, semakin cepat gula mendingin, dan semakin cepat kristal gula terbentuk). Pada benang, akan terlihat kristal gula yang terbentuk dan sedang bertumbuh. Setelah mencapai ukuran seberapa besar kristal gula yang diinginkan, angkat benang, dan keringkan kristal itu.

Kebiasaaan minum teh poci atau moci telah menjadi tradisi bagi orang Tegal, ini disebabkan pertumbuhan pabrik-pabrik teh di Tegal pada tahun 1930-an yang menyebabkan timbulnya tradisi itu. Minum teh menjadi gencar sejak zaman kolonial hingga kini dan sudah menjadi budaya lokal.
Sumber Berita : http://kilurahsemar.wordpress.com/category/tegal/

Desa Kendal Serut Sentra Kerajinan Anyaman Bambu Kabupaten Tegal

PANGKAH – Kendal Serut Pusat Kerajinan anyaman Bambu Kabupaten Tegal, Terletak 1km Di sebelah timur kota Slawi yang sebagian besar warganya merupakan pengrajin anyaman bamboo. Walaupun kerajinan bambu saat ini mulai tersisih dari kerajinan bahan lain, namun keberadaanya masih tetap eksis. Terbukti masih banyak masayarakat yang menggunakan barang-barang hasil dari kerajinan bambu. Salah satu sentra kerajinan bambu di Kabupaten Tegal terletak di Desa Kendal Serut Kecamatan Pangkah.
Beberapa hasil kerajinan bambu yang masih dibuat oleh Warga Desa Kendal Serut antara lain kipas, tempat nasi, hiasan dinding, atap dan keranjang bambu. Aktifitas ini mampu menyerap tenaga kerja di desa yang terletak di Pinggiran Sungai Gung ini. Bahkan, beberapa warga menggantungkan kehidupannya di kerajianan ini.

Sumber Berita : http://kilurahsemar.wordpress.com/category/tegal/

Pengembangan Konsep Wisata Alternatif Kabupaten Tegal

MENGINGAT kawasan sekitar Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal sangat menarik. Jalan raya yang merupakan jalur utama Te gal- Pur wokerto, dari Desa Karanganyar di perbatasan Kota Tegal hingga Banjaran, Adiwerna tiap hari tidak pernah diam. Selalu menunjukkan aktivitasnya. Dalam sebuah lagu tegalan digambarkan, ” akeh wesi pating telalang nang dalanan, krompyang!” (banyak besi malang-melintang di pingir jalan, krompyang!). Itulah kawasan yang dikenal sebagai sentra industri kecil dan kerajinan.
Mulai kerajinan gerabah, kayu, sampai kerajinan logam. Produksinya antara lain perkakas rumah tangga, seperti; pompa air (dragon), dandang, panci, wajan, kompor, dan cetakan kue. Suku cadang mesin, seperti; baud, dinamo, filter, knalpot motor dan mobil. Juga kerajinan perhiasan dari emas atau perak. Sifat kreatif dan inovatif masyarakatnya itulah membuat Tegal dijuluki ”Jepangnya” Indonesia. Semua aktivitas produksi merupakan industri rumahan ( home industry ). Tampak kondisi sangat kontras dibandingkan kecamatan lain yang merupakan daerah pertanian.
Di dsaerah pertanian, lazimnya yang numpuk di rumah-rumah penduduk, terutama pada musim panen adalah gabah, jagung, kacang, atau singkong. Namun, di Kecamatan Dukuhturi, Talang, dan Adiwerna numpuk adalah hasil kerajinan. Sudah hal biasa kalau baud yang menggunung di ruang rumah penduduk.
Bukan hanya menarik, tetapi menggelitik. Tegal dengan bahasa ngapak-ngapaknya dapat ”dijual” lewat dunia hiburan. Lihat saja nama Cici Tegal, lagu berlogat tegalan, ”Okelah Kalau Begitu.” Semua tergantung bagaimana mengemasnya. Bahasa ngapakngapak yang biasa jadi bahan olokolokan bisa diubah menjadi sesuatu yang laku jual.
Terkait bahasa juga, menarik juga apa yang ada di Jakarta ternyata di Tegal ada. Kalau di Jakarta terdapat daerah bernama Tanah Tinggi, di Kecamatan Adiwerna, tidak jauh dari lokasi makam Amangkurat I ada desa bernama Desa Lemah Duwur. Di Jakarta ada bilangan Jembatan Merah, dari arah makam Amangkurat I, menyebrang jalan raya Tegal-Purwokerto menyusur jalan Projo Sumarto II, sekitar 300 meter ada Brug Abang.
Menurut sejarah kata, brug berasal dari bahasa Belanda yang berarti Jembatan. Abang adalah bahasa Jawa yang berarti merah. Brug Abang adalah benar-benar jembatan seperti jembatan pada umumnya, tetapi bukan berarti berwarna merah, hanya sebutannya saja. Di kalangan masyarakat Tegal Brug Abang cukup dikenal.
Brug Abang adalah jembatan yang melintas di sungai Gung. Terlepas dari asal-usul sebutan Brug Abang, kondisinya memang menarik. Karena di samping jembatan terdapat bendungan, berfungsi untuk membagi arus air sebagai arigasi. Di sekitar lokasi bendungan oleh masyaarakat sekitar dijadikan tempat bermain sebagaimana layaknya tempat rekreasi didukung banyaknya pedagang.
Setelah dibangun jembatan di sebelahnya, sekarang Brug Abang MENGINGAT kawasan sekitar Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal sangat menarik. Jalan raya yang merupakan jalur utama Te gal- Pur wokerto, dari Desa Karanganyar di perbatasan Kota Tegal hingga Banjaran, Adiwerna tiap hari tidak pernah diam. Selalu menunjukkan aktivitasnya.
Dalam sebuah lagu tegalan digambarkan, ” akeh wesi pating telalang nang dalanan, krompyang!” (banyak besi malang-melintang di pingir jalan, krompyang!). Itulah kawasan yang dikenal sebagai sentra industri kecil dan kerajinan.
Mulai kerajinan gerabah, kayu, sampai kerajinan logam. Produksinya antara lain perkakas rumah tangga, seperti; pompa air (dragon), dandang, panci, wajan, kompor, dan cetakan kue. Suku cadang mesin, seperti; baud, dinamo, filter, knalpot motor dan mobil. Juga kerajinan perhiasan dari emas atau perak. Sifat kreatif dan inovatif masyarakatnya itulah membuat Tegal dijuluki ”Jepangnya” Indonesia.
Semua aktivitas produksi merupakan industri rumahan ( home industry ). Tampak kondisi sangat kontras dibandingkan kecamatan lain yang merupakan daerah pertanian. Di dsaerah pertanian, lazimnya yang numpuk di rumah-rumah penduduk, terutama pada musim panen adalah gabah, jagung, kacang, atau singkong. Namun, di Kecamatan Dukuhturi, Talang, dan Adiwerna numpuk adalah hasil kerajinan. Sudah hal biasa kalau baud yang menggunung di ruang rumah penduduk.
Bukan hanya menarik, tetapi menggelitik. Tegal dengan bahasa ngapak-ngapaknya dapat ”dijual” lewat dunia hiburan. Lihat saja nama Cici Tegal, lagu berlogat tegalan, ”Okelah Kalau Begitu.” Semua tergantung bagaimana mengemasnya. Bahasa ngapakngapak yang biasa jadi bahan olokolokan bisa diubah menjadi sesuatu yang laku jual.
Terkait bahasa juga, menarik juga apa yang ada di Jakarta ternyata di Tegal ada. Kalau di Jakarta terdapat daerah bernama Tanah Tinggi, di Kecamatan Adiwerna, tidak jauh dari lokasi makam Amangkurat I ada desa bernama Desa Lemah Duwur. Di Jakarta ada bilangan Jembatan Merah, dari arah makam Amangkurat I, menyebrang jalan raya Tegal-Purwokerto menyusur jalan Projo Sumarto II, sekitar 300 meter ada Brug Abang.
Menurut sejarah kata, brug berasal dari bahasa Belanda yang berarti Jembatan. Abang adalah bahasa Jawa yang berarti merah. Brug Abang adalah benar-benar jembatan seperti jembatan pada umumnya, tetapi bukan berarti berwarna merah, hanya sebutannya saja. Di kalangan masyarakat Tegal Brug Abang cukup dikenal.
Brug Abang adalah jembatan yang melintas di sungai Gung. Terlepas dari asal-usul sebutan Brug Abang, kondisinya memang menarik. Karena di samping jembatan terdapat bendungan, berfungsi untuk membagi arus air sebagai arigasi. Di sekitar lokasi bendungan oleh masyaarakat sekitar dijadikan tempat bermain sebagaimana layaknya tempat rekreasi didukung banyaknya pedagang.
Setelah dibangun jembatan di sebelahnya, sekarang Brug Abangdua lajur. Semula Brug Abang lama lebarnya hanya empat meter. Sedangkan jembatan baru dengan kontruksi baja, lebarnya dua kali dari jembatan lama dimaksudkan untuk menggantikan jembatan lama karena sempit, kurang memadahi. Adanya jembatan baru, jembatan lama tidak dibongkar, menambah unik dan indah, namun tetap disebut Brug Abang, bukan Brug Kembar, misalnya.
Masih di ruas Jalan Projo Sumarto II, sekitar dua kilometer adri Brug Abang sampai di sanggar seni Paguyupan Seni Satria Laras Ragam Pergelaran Dalang Ki Enthus Susmono di Desa Bengle, Kecamatan Talang. Sebagai aspek seni melengkapi aspek yang sudah ada, yaitu aspek sejarah dan industri kerajinan, kesemuanya berbasis tradisi. Desa Bengle juga merupakan sentra batik bercorak pesisir, dengan ciri cerah.
Kawasan potensial
Dengan perpaduan berbagai aspek, di kawasan Kecamatan Dukuhturi, Talang, dan Kecamatan Adiwerna berpotensi untuk dikembangkan menjadi daerah wisata atau penelitian yang bersifat mendorong kreativitas dan inovatif. Sayangnya, pihak pemerintah sendiri daerah kurang inovatif. Berupaya memberdayakannya untuk ditawarkan kepada pihak lain, kalangan akademik, dunia industri atau daerah lain.
Di samping itu, kebanyakan orang masih berpandangan bahwa yang namanya wisata yaitu segala sesuatu yang bersifat “kesenangan” atau hedonis. Sehingga wisata dikonotasikan pada kondisi alam yang indah, tempat belanja, dan hiburan.
Padahal, rekreasi bukan semata kebutuhan bersifat hiburan. Bukan hanya memenuhi kebutuhan hati (perasaan), tetapi juga merangsang otak untuk berfikir, yang bersifat menginspirasi dan memotivasi. Wisata bukan terbatas berdasar objeknya seperti wisata alam. Sehingga mendorong eksploitasi dearah pegunungan, pantai, atau wisata belanja, bermunculannya mal. Padahal, tak sedikit akibat eksploitasi alam menjadikan kerusakan yang ujungnya memicu bencana. Eksploitasi kawasan Puncak di hulu dan Ancol di hilir membuat Jakarta langganan banjir dapat dijadikan pelajaran.
Perlu dikembangkan wisata menurut spesifikasi minat dan bakat yang dapat memicu inovasi dan kreativitas manusia. Misalkan, dirintis wisata seni, wisata edukasi atau riset dan wisata rohani. Merintis wisata semacam itu bukanlah mimpi, sebab seorang pengarang terkenal, Gol A Gong telah memberi contoh mengembangkan wisata seni di Serang, Banten. Jenis wisata dimana yang dianggap serius dibikin menyenangkan, tetapi menumbuhkan daya inovasi dan kreativitas. Untuk merintis model wisata seperti itu, kawasan Tegal Arum sangat potensial.
Di tengah bangsa terus terpuruk, sangat penting merubah paradigma pariwisata. Dari bersenang-senang tetapi mengabaikan aspek substantif bagi manusia, menjadi wisata yang memanusiakan manusia. Yaitu, model wisata yang bukan menawarkan keindahan alam yang semu dan memicu eksploitasi alam serta menimbulkan efek domino, melainkan menawarkan sebuah model wisata yang membangkitkan etos kerja.
Sehingga dalam jangka panjang terwujud bangsa yang berjiwa intrepreneur namun tetap berbudaya

Sumber Berita : http://kilurahsemar.wordpress.com/category/tegal/

Jatinegara Wisata Pertanian Kabupaten Tegal

















Pengembangan sektor pariwisata di Kabupaten Tegal memiliki prospek yang bagus dan dapat diandalkan untuk mendukung keberhasilan pembangunan di berbagai sektor. Salah satu daerah wisata yang memberi kontribusi terhadap pendapatan daerah melalui retribusinya adalah Kawasan Obyek Wisata Guci. Kawasan ini terletak di antara Desa Guci Kecamatan Bumijawa dan Desa Rembul Kecamatan Bojong
peningkatan, pembenahan dan perbaikan permintaan wisata, sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke kawasan tersebut dan kebutuhan wisatawan dapat terpenuhi (misalnya: kualitas, keunikan dan keragaman Obyek Daya Tarik Wisata, sarana dan prasarana penunjang, serta aksesibilitas dan pencapaian yang mudah). Perbaikan permintaan wisata juga dilakukan melalui promosi kepada khalayak yang lebih luas secara bersamaan atau terpadu, selain itu juga perlu adanya promosi melalui atraksi tambahan mingguan dalam mengatasi turunnya pengunjung.
Perluasan dan pengembangan obyek wisata disekitar Guci akan menjadikan minat bagi dayatarik pariwisata kabupaten tegal , wisata pertanian (agro wisata) dengan konsep seperti taman buah Mekarsari Jonggol dan wisata bunga, sayur dan buah Cihideung Lembang Bandung, dan adanya penginapan alternatif model homestay dengan menawarkan nuansa alami pedesaan dengan tarif yang kompetitif. Wilayah Kecamatan Jatinegara adalah daerah pengembangan yang sangat strategis untuk pengembangan minat wisata alternative dan pengembangan wisata pertanian (agro wisata).
Dengan kekayaan alam Kecamatan Jatinegara Sebagai Pemasok Buah buahan untuk kabupaten Tegal komoditi buah unggulan Kecamatan Jatinegara Durian dan Manggis dapat dijjadikan mascot pengembangan wisata pertanian ( Agro wisata) Jatinegara, karena manggis dan durian adalah buah yang diminati dan banyak di tanam masyarakat Kecamatan Jatinegara selain buah buahan lain yang dikembangkan diwilayah Jatinegara, pengembangan fasilitas pendukung pariwisata diwilayah pengembangan wisata alternative merupakan daya dukung pengembangan wisata di kabupaten tegal dengan upaya pengembangan Program PERTIWI (Pertanian, Industri dan Wisata) dan menjadikan Kabupaten Tegal sebagai Kabupaten Tujuan wisata.
 Sumber Berita : http://kilurahsemar.wordpress.com/category/tegal/



Kamis, 02 Juni 2011

Stasiun Slawi

Stasiun Slawi (SLW) merupakan stasiun kereta api yang terletak di Jl. Kemiri No. 74, Pakembaran, Slawi, Tegal. Stasiun yang terletak pada ketinggian +38 m dpl ini merupakan stasiun paling utara yang masih aktif di Daerah Operasi 5 Purwokerto. Stasiun ini terakhir direnovasi pada tanggal 17 Maret 1999.
Stasiun ini memiliki 3 jalur aktif dan 1 sepur buntu. Sejak tanggal 22 Januari 2005, persinyalan di stasiun ini telah diganti dari manual menjadi elektrik. Pergantian persinyalan itu diresmikan oleh Menhub RI Hatta Rajasa. Stasiun Slawi merupakan stasiun pertama di Indonesia yang menggunakan sinyal elektrik buatan dalam negeri. Sistem Interlocking, sinyal tersebut, dirancang oleh Lembaga Elektronika Nasional.
Sumber Berita : http://id.wikipedia.org

Sekilas Tentang Kota Slawi

Sekilas Tentang Kota Slawi

Kota Slawi :

Slawi adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah Indonesia, selain itu Slawi juga merupakan Ibu Kota Kabupaten Tegal. Slawi berbatasan dengan Kecamatan Adiwerna di utara, Kecamatan Pangkah di timur, Kecamatan Lebaksiu di selatan dan Kecamatan Dukuh Waru di sebelah barat.
Slawi terkenal dengan produksi Teh dan budaya moci ( Minum Teh Poci ). Meskipun terkenal dengan teh, Slawi bukan merupakan dataran tinggi dengan hawa dingin dengan banyak kebun teh. Slawi merupakan daerah yang dekat dengan Pantura sehingga suhunya cenderung panas dengan kontur tanah yang landai tidak berbukit-bukit.
Tempat - Tempat menarik :


Alun - Alun Slawi





Alun - alun Kota Slawi, berupa taman dengan air mancur yang sangat besar, berlokasi di depan halaman pendopo Kabupaten Tegal. Suasana di alun - alun Slawi sangat ramai, apa lagi pada malam hari terutama pada malam minggu. Banyak sekali pedagang - pedagang yang mangkal / berjualan di sekitar alun - alun, beraneka ragam makanan ada di sini dan yang tidak pernah ketinggalan yaitu munuman khas kota Slawi Teh Poci, kalau orang Slawi bilangnya sih Moci.

Monumen Perjuangan GBN ( Procot )

                                                               


Terletak di Jl. Ahmad Yani tepatnya didepan Masjid Agung Slawi :

Monumen ini merupakan monument bersejarah pada masa Pemberontakan Darul Islam / Tentara Islam Indonesia ( DI / TII ). Gerakan DI / TII juga menyerang jawa tengah, Aceh dan Sulawesi Selatan. Gerakan Di / TII di Jawa Tengah yang di pimpin oleh Amir Fatah di bagian utara, yang bergerak di daerah Tegal, Brebes dan Pekalongan. Setelah bergabung dengan kartosuwiryo, Amir Fatah diangkat menjadi Komandan Angkatan Jawa Tengah. Dengan Pangkat Mayor Jenderal Tentara Islam Indonesia, untuk menghancurkan gerakan ini. Pada bulan januari 1950 di bentuk Komando Gerakan Banteng Negara ( GBN ) dibawah Letkol Sarbini.

Pusat Perdagangan Ruko Slawi

     

Ruko Slawi merupakan salah satu pusat perdagangan di kota slawi, dulunya Ruko ini hanyalah sebuah pasar yang akhirnya di pindahkan di daerah Trayeman dan di bangunlah pusat perdagangan ini yang letaknya di pusat kota slawi.

Mutiara Cahaya ( Supermarket Pertama Di Slawi )


 Mutiara Cahaya 1                                  Mutiara Cahaya 2


Mutiara cahaya 1 merupakan salah satu Supermarket pertama kali di kota slawi, terletak di depan pusat perdagangan kota slawi ( RUKO ), begitu pula dengan Mutiara Cahaya 2 yang letaknya persis di samping Mutiara Cahaya 1.


Tambun ( Pertigaan Taman Bunga )
Tambun ( Taman Bunga ) adalah pertiga'an di kota slawi, tepatnya di Depan SMA N1 SLAWI.
Pertiga'an ini merupakan tiga arah menuju ke Timur, Barat dan Selatan,jika ke Timur menuju kecamatan  Pangkah, Barat menuju kecamatan Dukuh Waru dan jika ke Selatan menuju kecamatan Lebaksiu.

Banyak Orang bertanya ..... apasih kebiasa'an orang Slawi...?
Nah... salah satu kebiasa'an orang Slawi adalah Moci, dan ini sudah menjadi tradisi / kebiasa'an orang Slawi sejak dulu. Moci adalah minuman sederhana asal Slawi ini memang khas baik rasa maupun penyajiannya. Tehnya diseduh dalam poci dari tanah liat dan diberi pemanis berupa gula batu. Saat dihirup kala cuaca dingin seperti ini hmm... rasa teh poci yang wangi, panas, sepet, legi, lan (dan) kentel ini makin nikmat saja!

Kini penggemar teh asal Slawi, Jawa Tengah ini bisa dibilang tak sedikit. Jika dulu orang tidak begitu mengenal teh poci, kini teh poci banyak dijual di warung, rumah makan, hingga restoran terutama yang menyajikan menu Jawa. Apa sih yang membuat teh yang satu ini istimewa?

Teh poci memang berbeda dengan teh lainnya. Pertama - tama dari soal penyajiannya sendiri yaitu menggunakan poci khusus yang terbuat dari tanah liat. Begitu pula dengan cangkirnya yang juga terbuat dari tanah liat, sehingga teh poci umumnya disajikan dalam wadah nampan yang berisi poci dan dua buah gelas. Kesemuanya terbuat dari tanah liat.

Untuk teh poci ini menggunakan jenis teh hitam yang beraroma harum dengan rasa sepet - sepet yang enak di lidah. Sehingga muncullah istilah 'teh poci wasgitel' yaitu wangi, panas, sepet, legi, lan ( dan ), kentel ( kental ). Kemudian daun teh diseduh dengan air panas seperti teh tubruk sehingga kental.

Sebagai pemanis tidak disediakan gula pasir melainkan gula batu yang biasanya sudah ditaruh dalam cangkir. Semakin lama pemakaian poci ini biasanya rasa teh akan semakin nikma, apa lagi kalau ada pasangannya yaitu mendoan ( tempe goreng yang di beri adonan tepung dan di goreng setengah matang ) dengan sambal kecap.

Untuk minum teh dengan poci tanah ada tata caranya : 

  - jika poci tanah masih baru harus di rebus dulu dengan air teh selama beberapa hari, atau isi poci dengan teh dan air mendidih biarkan seharian besoknya ganti lagi dengan yang baru, pokoknya sampai bau tanahnya hilang.
 - Dan cara mengaduknya juga, bila memakai gula pasir jangan pernah pada tuangan pertama gulanya mencair semua, usahakan bertahap mengaduknya karena pasti akan berkali-kali menuangkan teh ke dalam cangkir. 
 - Makanya paling nikmat kalo memakai GULA BATU, karena rasa manisnya awet dan lebih gimana gitu…. pokoknya top lah! Satu lagi, yang terpenting bila kita memakai poci tanah jangan ganti-ganti merk teh, jadi harus setia dengan satu merk. Karena ini akan mempengaruhi rasa tehnya .


Makanan Khas Kota Slawi :

Moci - Budaya minum teh sebagai teman ngobrol, biasanya dilakukan beramai-ramai. Teh dijarangi pada poci tanah ( teh poci ). kemudian dituang ke dalam cangkir dengan pemanis. gula batu. Teh dalam cangkir tidak diaduk. sehingga rasa manis ditemukan pada saat isi teh dalam cangkir hampir habis. Hal ini menyebabkan cangkir terus dituangi.



Mendoan - Tempe goreng dilapis tepung dengan bumbu. digoreng setengah matang. Biasanya sebagai teman minum teh Poci, dihidangkan dengan kecap dicampur cabe rawit. Mendoan juga didapati di daerah Banyumas.


 Sega Lengko - Nasi lengko adalah nasi dengan bahan pelengkap seperti tempe, tahu yang diiris dadu, toge, kol mentah, dan sambal kacang beserta kerupuk.


Tahu Aci - Tahu kuning yang dipotong setengah dengan arah potongan diagonal kemudia bekas potongan yang diagonal tersebut diberi adonan tepung sagu ( aci dalam bahasa Slawi ) kemudian digoreng.


Rujak Teplak - rujak teplak bahan dasarnya sangat sederhana yaitu sayur mayur seperti kangkung, daun pepaya, mentimun, pare, kol, tauge..atau dapat ditambahkan sayuran sesuai selera. yang khas adalah sambalnya karena sambalnya dibuat dari singkong yang telah dihaluskan trus dicampur dengan adonan cabe.


  Tahu Pletok - tahu pletok itu sama dengan tahu aci, lalu dimana letak perbedaannya? Disinilah letak perbedaannya. Jika tahu aci terbuat dari tahu kuning, maka tahu pletok terbuat dari tahu kulit yang berwarna coklat. Biasanya tahu coklat ini berbentuk segitiga. Untuk membuat tahu pletok, tahu kulit tersebut dibelah menjadi dua tetapi tidak sampai terbelah. Dibiarkan menjadi bentuk kotak persegi panjang. Kemudian, diatasnya di olesi dengan adonan aci kemudian digoreng sampai garing dan renyah. Inilah yang membedakannya dengan tahu aci. Jika adonan tahu aci itu kenyal, maka untuk tahu pletok justru dibiarkan garing dan gurih.



Krupuk Antor Glopot - krupuk antor ini juga merupakan salah satu cemilan khas slawi,krupuk ini sangat enak dan bumbunya sangat banyak,oleh karenanya orang - orang menamainya krupuk antor glopot.


Dan masih banyak lagi yang lainnya, seperti dodol glempang ( jenang ), gemblong kocar kacir, kacang asin bogares, pilus ( makanan kecil / snack dari tepung trigu ), martabak lebaksiu, nasi ponggol dll.


Inilah sekilas tentang kota slawi - tegal 
Jika anda sekalian penasaran dan ingin merasakan makanan - makanan khas kota slawi, Silahkan anda mampir sejenak bila melewati kota Tegal. 
Sumber Berita : http://tbrajamusti.blogspot.com

Guci Indah

Guci Indah adalah Objek wisata yang memiliki luas 210 ha, terletak di kaki Gunung Slamet bagian utara dengan ketinggian kurang lebih 1.050 meter. Dari kota Slawi berjarak ± 30 km sedangkan dari kota Tegal berjarak tempuh sekitar 40 km ke arah selatan.
Air yang mengalir dari pancuran-pancuran di obyek wisata ini dipercaya bisa menyembuhkan penyakit seperti rematik, koreng serta penyakit kulit lainnya, khususnya Pemandian Pancuran 13 yang memang memiliki pancuran berjumlah tigabelas buah serta pancuran 7.
Ada sekitar 10 air terjun yang terdapat di daerah Guci. Di bagian atas pemandian umum pancuran 13, terdapat air terjun dengan air dingin bernama Air Terjun Jedor. Dinamai begitu karena dulu tempat di sekitar air terjun setinggi 15 meter itu adalah milik seorang Lurah yang bernama Lurah Jedor. Untuk berkeliling di sekitar obyek wisata dapat dilakukan dengan menyewa kuda dengan tarif sewa yang relatif murah.
Objek wisata ini biasanya ramai dikunjungi pada malam Jumat Kliwon. Banyak orang yang ngalap berkah. Konon, kalau mandi pada jam dua belas malam dengan memohon sesuatu, permohonan apapun akan dikabulkan. Kepercayaan ini sudah turun-temurun.
Sahibul hikayat, air panas Guci adalah air yang diberikan Walisongo kepada orang yang mereka utus untuk menyiarkan agama Islam ke Jawa Tengah bagian barat di sekitar Tegal. Karena air itu ditempatkan di sebuah guci (poci), dan berkhasiat mendatangkan berkat, masyarakat menyebut lokasi pemberian air itu dengan nama Guci. Tapi karena air pemberian wali itu sangat terbatas, pada malam Jumat Kliwon, salah seorang sunan menancapkan tongkat saktinya ke tanah. Atas izin Tuhan, mengalirlah air panas tanpa belerang yang penuh rahmat ini.
Fasilitas yang tersedia antara lain penginapan (kelas Melati sampai berbintang), wisata hutan (wana wisata), kolam renang air panas, lapangan tennis, lapangan sepak bola, dan bumi perkemahan.

[sunting] Sejarah Desa Guci

Pada zaman dulu sekitar tahun 1767 tersebutlah seorang bangsawan dari Keraton Demak Bintoro. Bernama Raden ARYO WIRYO merasa jenuh dengan keadaan, dengan kehidupan keraton yang seringkali terjadi konflik perang saudara dan persaingan perebutan tahta di antara sesama saudara dalam lingkup keraton, keadaan itu membuat R.Aryo Wiryo merasa jenuh dan berniat meninggalkan keraton.
Sehingga pada suatu saat beliau berangkat meninggalkan keraton dengan mengajak istrinya yang kemudian dikenal dengan Ny.Tumbu, selang beberapa tahun kemudian beliau sempat mengabdi di Kraton Mataram pada zaman kejayaan Sultan Agung Hanyorokusumo kemudian beliau sempat pula ditugaskan oleh Sultan Agung untuk berangkat ke Cirebon pada masa itu.
Kemudian beliau kembali mengembara dengan sehingga pada suatu saat menginjakkan kaki dilereng Gunung Slamet sebelah utara dan beliau menetap didaerah tersebut yang kemudian adalah sebagai orang pertama yang membuka lahan perkampungan ditempat itu sampai banyak orang berdatangan kedaerah itu untuk berguru kepada R.Aryo Wiryo dan akhirnya menetap didaerah tersebut sehingga kemudian R.Aryo Wiryo memeberi nama tempat itu “ Kampung Keputihan “, (daerah yang masih asli tak terjamah peradaban agama selain Islam).
Suatu saat datanglah pengembara dari Pesantren Gunungjati yakni santri Syech Syarif Hidayatulloh. Sunan Gunungjati bernama Kayi Elang Sutajaya bermaksud menyebarkan agama Islam dan kemudian R.Aryo Wiryo dan pengikutnya berkenan mendalami ajaran agama islam untuk lebih memantapkan keimanan para pengikutnya.
Pada saat itu kampung keputihan sedang dilanda wabah PAGEBLUG seperti banyak tanah longsor dan penyakit gatal – gatal (gudigen, bahasa setempat)sehinggan Kyai Elang Sutajaya mengajak R.Aryo Wiryo dan warganya untuk munajat kepada Alllah SWT dengan Ritual yang sekarang dikenal dengan RUWAT BUMI dengan menyembelih kambing Kendit dan menyajikan hasil bumi seperti Pala Pendem dan syur mayur yang akan disedekahkan kepada fakir miskin dan acara ritual tersebut terjadi pada bulan Asyuro atau bualan Mukharom dan turun temurun sampai sekarang.
Pada saat munajat atau dalam adapt sekarang adalah tasyakuran Tahlilan dan Manaqib kala itu kanjeng Sunan Gunungjati berkenan hadir secara ghoib dan memeberikan sebuah GUCI Sakti yang sudah diasama dengan do’a kanjeng Sunan agar supaya penduduk Kampung Keputihan yang terjangkit wabah gatal segera meminum air guci tersebut dan pojok – pojok Kampung Keputihan agar di percikkan air Guci tersebut untuk menghilangkan kerusakan akibat bencana alam sehingga pada saat R.Aryo Wiryo berkeliling bersama Kyai Elang Sutajaya beliau menemukan sumber mata air panas dibawah sebuah Gua yang sekarang terkenal dengan nama PANCURAN 13.
Adapun Guci Sakti tersebut ditempatkan disebuah dukuh tempat R.Aryo Wiryo biasa semedi, daerah tersebut sekarang dikenal dengan nama Telaga Ada di dukuh Engang Desa Guci, sehingga karena kekeramatan guci tersebut maka Kampung Keputihan dapat pulih kembali, bebas dari Pageblug. Untuk mengabadikan peristiwa tersebut maka Kampung Keputihan diubah namanya menajadi Desa Guci. Adapun Guci Sakti tersebut sekarang ada di Museum Nasional setelah pada zaman Adipati Cokroningrat dari Brebes memindahkannya dari Desa Guci ke pendopo Kadipaten Brebes kala itu, sebab Desa Guci zaman dahulu adalah bagian dari Kabupaten Brebes.
Untuk lebih membaur dengan warga, R. Aryo Wiryo menggunakan nama samaran yaitu Kyai Ageng Klitik atau untuk lebih akrab dengan sebutan Kyai Klitik sampai sekarang penyamaran tersebut mengandung maksud sebab keturunan darah biru atau bangsawan dari kraton banyak yang diburu penjajah Belanda dan tentunya untuk lebih merakyat dan tidak ada perbedaan golongan dengan orang kebanyakan. Beliau menggunakan nama samaran tersebut sampai sekarang tidak diketahui maksud dan asal muasal makna yang sesungguhnya, beliau juga menemukan Tuk atau mata air panas lain yang sekarang terkenal dengan PEMANDIAN KESEPUHAN dan PENGASIHAN yang berkasiat untuk sababiyah berbagai penyakit kulit dan tulang dan sarana mengabulkan khajat tertentu bagi yang meyakininya. Konon kabarnya Pemandian tersebut adalah tempat untuk penjamasan atau memandikan Keris Kyai Klitik agar pamornya menjadi Sepuh sehingga tempat itu dinamakan Kesepuah dan tempat untuk memandikan pusaka – pusaka lain yang berpamor welas asih, sehingga tempat tersebut dinamakan Pengasihan. Tempat tersebut sekarang dipergunakan untuk pemandian umum yang didatangi pengunjung dari berbagai tempat.
Setelah Desa Guci semakin ramai maka datanglah seorang pengembara bernama Mbah SEGEONG dan bertapa di dalam Gua, yang sekarang terkenal dengan Gua SEGEONG terletak di sebelah selatan Pos I retribusi sekitar 350 m jaraknya. Pada saat Kyai Elang Sutajaya siar agama islam beliau sering melakukan semedi diatas sebuah bukit dan disekitar tempat itu banyak terdapat hewan badak ( warak, dalam bahasa jawa ) dan hewan – hewan tersebut bertempat didaerah itu maka Kyai Elang Sutajaya menyebutnya dengan Kandang Warak yang sekarang nama tersebut digunakan sebagai nama sebuah dukuh disebelah timur Desa Guci yaitu dukuh Pekandangan.
Adapun sejarah Desa Guci menjadi Obyek Wisata adalah bermula setelah ditemukannya sumber tersebut dan diteliti tidak mengandung racun maka pada tahun 1974 pemandian umum dibuka untuk dikunjungi dengan fasilitas yang masih alami dan belum dibuat seperti sekarang ini, wisatawan masih mandidibawah gua sumber mata air panas dan konon tempat itu juga merupakan daerah kekuasaan dayang Nyai Roro Kidul yang bertugas diwilayah sungai sebelah utara gunung slamet atau lebih dikenal Kali Gung, sejarah mengatakan dinamakan Kali Gung sebab bersinggungan dengan mata air yang Agung yakni aliran mata air panas yang melimpah sepanjang tahun, Dayang Nyai roro Kidul bernama Nyai Rantensari yang berwujud sesungguhnya adalah Naga dan di Pancuran 13 tersebut dibuat Patung Naga untuk mengingatkan akan daya mistis yang ada dikawasan Obyek yang inti di OW Guci.
Dikawasan tersebut juga terdapat Pohon Beringin dan Pohon Karet yang sudah ratusan tahun yang konon ditanam oleh keturunan Kyai Klitik yang bernama Eyang Sudi Reja dan Mbah Abdurahim pada tahun 1918. Dengan maksud agar dearah tersebut kuat dan tidak longsor dan rindang. Sampai sekarang Desa Guci dan Dukuh Pekandangan Desa Rembul merupakan desa yang ketempatan Obyak Wisata yang masih menyimapan misteri kegaibanya sebab merupakan poeninggalan para wali terdahulu penyebar agama islam, dan masih banyak tempat – tempat yang menyimpan sejarah seperti petilasan Kyai Mustofa dan makamnya di Pekaringan berjarak 5 KM dari Desa Guci, Kayi Mustofa adalah seorang ulama keturunan kanjeng Sunan Gunungjati yang siar Islam kemudian bertapa di Desa Guci pada zaman cucu Kyai Klitik.
Ulama inilah yang memberi nama air terjun disebelah atas Pemandian Pancuran 13 yaitu Curug Serwiti sebab banyak muncul burung serwiti dan diatas curug itu ada lagi sebuah curug yang indah bernama Curug Jedor yang tidak pernah diketahui asal muasal nama tersebut.
Demikian sejarah singkat Desa dan Obyek Wisata GUCI yang dimiliki oleh dua kecamatan yaitu Kecamatan Bumijawa dan Kecamatan Bojong. Data ini bersumber dari penuturan Leluhur dan Babad tanah jawa dari keturunan Raden Fatah.Sumber Berita : http://id.wikipedia.org

 

Membumikan Slawi


Keberadaan Kota Slawi, Kabupaten Tegal masih berada bayang-bayang Kota (Madya) Tegal. Bagi masyarakat Slawi sering berbolak-balik mempersepsikan Kota dan Kabupaten Tegal. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Kota Slawi merupakan daerah satelit Kota Tegal.

Kondisi yang telah berlangsung lama ini tentu tidak srategis bagi Kota Slawi untuk mewujudkan jadi kota mandiri. Perlu ada upaya terencana kota sebagai Entry Point kemandirian kota. Kota Slawi sejak Tahun 1984 (Bapeda 2000) ditetapkan menjadi Ibu Kota Kabupaten Tegal. Sebelumnya Ibu Kota Kabupaten Tegal berada di wilayah Kota (Madya) Tegal. Sejarah Kabupaten Tegal dimulai sejak hijrahnya Ki Gede Sebayu dari Keraton Pajang (Solo) pada akhir abad XV.

Sebayu yang masih keturunan Brawijaya V Raja pertama Majapahit melalui garis Adipati Batara Kathong (Ponorogo) dan Adipati Tepoes Roempeot (Purbalingga), pada Rabu Kliwon tanggal 18 Mei 1601 Masehi atau 1 Robiulawal 1010 H, bertepatan dengan 1523 Saka menjadi Juru Demung (setingkat Tumenggung/Bupati) Kadipaten (Kabupaten) Tegal (AM. Harsono 1995).

Perjanjian Giyanti 1755 membagi kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta, pada masa Bupati Tegal dijabat oleh Bupati Reksonegara III (1746-1776) hingga tahun 1901 Kabupaten Tegal beralih status menjadi wilayah setingkat karesidenan meliputi Kabupaten Tegal, Brebes dan Pemalang.  Setelah Tahun 1901 status Tegal menjadi Kabupaten kembali. Kemudian Tahun 1928 meningkat kembali menjadi karesidenan, namun Tahun 1942 menjadi kabupaten kembali. Sejak Tahun 1950 wilayah Kabupatan Tegal dibagi dua menjadi Kota Madya Tegal dan Kabupaten Tegal.

Persilangan posisi Slawi (Kabupaten Tegal) dan Kota Tegal dapat di telusuri dari perjalanan histories Tegal. Ki Gede Sebayu dan pengikutnya ketika diangkat menjadi Kabupaten Tegal berkedudukan di Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Artefak ini masih bisa dilacak, mesti jumlahnya terbatas termakan usia. Peninggalan yang masih utuh adalah masjid Wali Kasepuhan Kalisoka (terdapat makam Pangeran Purbaya, Putra Panembahan Senopati yang menjadi Menantu Ki Gede Sebayu).

Setelah Ki Gede Sebayu wafat digantikan putranya, Pangeran Honggowono dan masih berkedudukan di Kalisoka. Sepeninggal Honggowono digantikan oleh anaknya dengan gelar Reksonegara I yang akhirnya digantikan oleh Temenggung Martoloyo, yang bukan dari trah Ki Gede Sebayu. Martoloyo merupakan pejabat yang dikirim oleh  Sultan Agung dari Mataram. Sejak kepemimpinan Martoloyo apakah dinasti Sebayu berakhir?.

Sultan Agung bukan tanpa alasan mengangkat Martoloyo menjadi Adipati Tegal, saat itu situasi politik Mataram sedang memanas, Mataram sedang berkonfrontasi dengan Belanda di Batavia, dan kebetulan anak Reksonegara I perempuan, yaitu Nyai Ronggeh yang kawin dengan Pangeran Nalajaya (Prumpung) dari Palembang.

Kadipaten Tegal berpindah dari Kalisoka ke Tegal yang dekat dengan pesisir dimana saat itu mulai dibangunya pelabuhan di wilayah Mataram paling barat. Saat itu Kadipaten/Kabupaten Tegal di sebut sebagai “Gerbang Mataram” karena merupakan akses pintu paling barat dari wilayah kasunanan Cirebon.

Perpindahan kraton di Tegal sampai kini relatif sangat sedikit peninggalan-peninggalan yang dapat di telusuri, konon tempatnya berada di Kelurahan Kraton lingkungan sekolahan PIUS Kota Tegal, meskipun sangat sulit menemukan puing-puing peninggalan Kraton Kadipaten Tegal. Sejak saat itu  wilayah Kota Tegal mulai membangun identitas kota dengan kemaritimannya.
Sesaat setelah ditetapkan menjadi ibukota Kabupaten Tegal, Slawi berupaya keras mematut diri, memposisikan sebagai ibukota kabupaten yang representatif. Sejumlah fasilitas umum dan public yang perlu dimiliki sebuah ibukota kabupaten telah ada di Slawi.

Sebut saja terminal, pasar, masjid agung, alun-alun, kantor kabupaten, hingga penjara. Namun pemenuhan kebutuhan kota saja tidak cukup. Karena hingga kini Slawi belum secara utuh menjadi identitas dan pusat (center) kebudayaan Kabupaten Tegal.

Sebagian public masih meragukan keberadaan Slawi sebagai representasi kabupaten. Slawi yang merupakan ibukota kabupaten ternyata masih belum mengakar dalam sanubari public sebagai identitas yang mewakili.

Warga Kabupaten Tegal masih suka menyebut dirinya sebagai “Orang Margasari” bagi yang bermukim di wilayah selatan atau “Orang Mejasem” bagi warga yang tinggal di perbatasan dengan Kota Tegal atau orang “ Orang Suradadi “ untuk mereka yang hidup di jalur pantura.

Secara relatif hanya warga yang berdomisili di wilayah agraris seperti Bojong dan Bumijawa yang mengidentifikasi sebagai orang “Orang Slawi “. Atau dengan kata lain “Orang Kabupaten Tegal”.
Bagi masyarakat Kabupaten Tegal yang bermukim di wilayah pesisir utara, identitas Slawi yang berada pada persilangan poros agraris maritim-metropolis belum cukup untuk mengidenfikasi diri mereka yang memiliki kecenderungan utama maritim.

Kecenderungan kemaritiman masyarakat pesisir ini lebih dapat diakomodasi Kota Tegal, yang secara kelembagaan pemerintahan maupun kebudayaan telah membangun identitas maritimnya melalui slogan Kota Bahari.

Kecenderungan identitas ini juga diakomondasi oleh satuan pemerintahan untuk membagi wilayah administratif berbasis kebudayaan. Seperti keberadaan Kepolisian Resort Kota (Polresta) Tegal dan Kepolisian Resort (Polres) Slawi. Kepolisian termasuk institusi pemerintah yang pertama–tama mengakomodasi pembagian wilayah kota dan Kabupaten Tegal, jauh sebelum Slawi ditetapkan sebagai ibukota kabupaten dan bupati berkantor di Slawi.

Polresta dan Polres Slawi telah ada sejak sebelum 1986, meski pembagian wilayah administratif tugas masing–masing institusi tidak secara mutlak dibedakan menurut garis batas wilayah kabupaten dan kota.

Kepolisian sektor (Polsek) Dukuhturi dan Kramat yang termasuk wilayah Kabupaten Tegal. Dukuhturi cenderung memiliki karakteristik perkotaan, sedang Kramat yang memiliki garis pantai cenderung memiliki karakteristik pesisir. Setelah Slawi secara definitif menjadi ibukota, kedua polsek ini turut mengikuti perubahan yang ada.

Identitas Slawi 
Kabupaten Tegal telah 24 tahun memiliki ibukota sendiri. Periode dua dekade bukan waktu yang singkat. Namun pencapaian yang telah diperoleh juga belum cukup memuaskan.
Bayang–bayang Kota Tegal secara sederhana lahir karena kesamaan nama daerah. Kondisi yang relatif sama, juga dialami kabupaten dan kota yang memiliki pertautan histories, sehingga memiliki nama yang sama.

Sebut saja Kabupaten dan Kota Pekalongan, Semarang, Magelang, Bandung atau Tanggerang. Purwodadi sebagai ibukota Grobogan, Purwokerto sebagai pusat pemerintahan Banyumas dapat dijadikan contoh kasus ini. Dalam kasus ini, ibukota kabupaten justru menjadi identitas secara keseluruhan.

Secara sederhana, secara efektif untuk membangun identitas Slawi (Kabupaten Tegal) adalah dengan mengubah nama daerah. Menggunakan nama yang berada dengan Kota Tegal, kabupaten dapat membangun identitas seiring dengan perubahan nama daerah yang pilih.
Namun mengubah nama daerah bukan persoalan sederhana. Nama daerah didalamnya telah melekat identitas, harga diri dan perjalanan sejarah yang panjang. Walaupun bukan berarti ada daerah yang mengubah namanya.

Seperti Ujungpandang menjadi Makasar, Irian Jaya menjadi Papua, Aceh menjadi Nangroe Aceh Darussalam, atau Muangthai manjadi Thailand dan Campa menjadi Kamboja.
Brebes dan Pemalang, meski pernah berada dalam kekuasaan Tegal ketika menjadi karesidenan telah menjadi kota mandiri, salah satunya karena perbedaan nama dengan Tegal. Sehingga Brebes dan Pemalang dapat dengan mudah menyesuaikan diri ketika kemudian statusnya secara definitif setara dengan daerah induk (Tegal).

Sukoharjo, misalnya merupakan contoh yang baik. Untuk menjelaskan bahwa perbedaan nama daerah akan melahirkan identitas dan kemudian kemandirian kota. Posisi dan karakteristik Sukoharjo dan Solo boleh dibilang linier dengan posisi dan karakteristik Slawi dan Kota Tegal.
Dari sisi letak geografis, Sukoharjo berada 13 km dari Solo, hampir sama Slawi yang dapat ditempuh hanya dalam waktu 20 menit perjalanan kedaraan bermotor. Namun berbeda dengan Slawi, Sukoharjo telah mampu menjadi kota mandiri, yang salah satunya karena perbedaan nama daerah dan identitas kota dengan kota induknya.

Bila perubahan nama belum memungkinkan, setidaknya untuk saat ini, yang harus dilakukan untuk membangun identitas Slawi adalah membangun kesadaran identitas-komunitas. Perlu dibangun kesepahaman untuk menjadi Slawi sebagai episentrum kebudayaan Slawi.

Dalam membangun kolektifitas yang efektif dapat ditempuh dengan dua cara, yakni menciptakan musuh bersama atau menciptakan tujuan bersama. Idiom Slawi harus konstruktif menjadi “kebutuhan bersama”, dengan melupakan ego komunitas kebudayaan.

Disamping itu, Slawi juga harus menempatkan diri sebagai persilangan poros kebudayaan pesisiran dan agrarian untuk mengakomodasi masyarakat di wilayah utara dan selatan.

Jika Slawi disepakati sebagai identitas Kabupaten Tegal, maka identitas pesisiran dan agrarian melebur menjadi identitas yang boleh disebut “mina tani”. Secara kelembagaan, Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT) dapat mengambil inisiatif untuk memulai langkah ini.

Keberadaan Gedoeng Rakyat di Slawi menjadi momentum untuk membangun identitas Slawi. Respo aktif juga diharapkan disambut oleh komunitas–komunitas kebudayaan yang ada, semisal komunitas kebudayaan di Kalisoka (Keluarga Sebayu), Bojong (Agraris Sentri), Margasari (Agaris–Feudal–Jawa), Suradadi (Pesisiran), Mejasem (Kosmopolit – Intelektual) atau Talang (Kosmopolit-Santri).
Setelah identitas dibangun, mewujudkan kota mandiri merupakan langkah selanjutnya. Slawi harus mewujudkan dirinya menjadi kota mandiri. Kemandirian Slawi dapat ditengarai dari pemenuhan kebutuhan warganya akan kebutuhan subsistensi dasar, hingga kebutuhan akan fasilitas public. Slawi harus mampu menyediakan warganya, tanpa harus warganya mendapat di daerah lain.

Soal kemandirian rasanya Kota Slawi tidak kurang dibanding daerah lain, walaupun mungkin tampilannya berbeda. Untuk memenuhi kebutuhan pokok misalnya, telah ada pasar Trayeman untuk sayur-mayur dan pusat perbelanjaan (ruko) Slawi untuk fashion, elektronik dan kebutuhan sejenis.
Kebutuhan yang telah dipenuhi ini tentu tidak menjadi Slawi harus membangun mall atau supermarket untuk memenuhi kebutuhan warganya. Dalam hal pemenuhan kebutuhan pokok dengan bentuk yang lain. Identitas kemandirian niscaya menjadi Slawi sebagai representasi Kabupaten Tegal. Yakin usaha sampai (Ki Jadug)
Sumber Berita : http://tintamerahmajalah.blogspot.com