Selasa, 14 Juni 2011

Parade Gerhana 2011

PADA Kamis dini hari, 16 Juni 2011 mendatang, sebuah peristiwa menakjubkan akan berlangsung di langit malam. Sejak pukul 00:25 WIB hingga pukul 05:59 WIB, Bulan yang sedang berada dalam fase purnama secara perlahan-lahan akan mengalami pemblokiran cahaya matahari yang jatuh ke permukaannya untuk sementara seiring peristiwa gerhana bulan total (GBT).

Secara kasat mata, GBT akan berlangsung antara pukul 01:23 WIB hingga 05:01 WIB, yakni pada saat kontak terhadap bayangan inti (umbra) berlangsung. Totalitas, yakni saat bulan gelap total, akan terjadi selama 50 menit sejak pukul 02:47 WIB dengan puncak gerhana pada pukul 03:12 WIB.

GBT bisa disaksikan dari Australia, Asia, Afrika, Eropa dan sebagian Amerika (Amerika Selatan). Namun seluruh tahap gerhana hanya bisa disaksikan dari Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika Timur, Afrika Selatan dan Afrika Tengah. Kita di Indonesia tergolong beruntung sebab GBT ini tetap bisa disaksikan, meskipun bulan sedang bersiapñsiap terbenam ke peraduannya. Tahapñtahap gerhana yang secara kasat mata bisa disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia adalah dari awal hingga puncak gerhana. Namun akhir gerhana secara kasat mata hanya bisa disaksikan dari Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan sebagian Kepulauan Nusa Tenggara, sedangkan bagi wilayah yang lain, gerhana sudah dinyatakan berakhir karena bulan sudah terbenam di bawah ufuk barat.

Dengan demikian, karena seluruh wilayah Indonesia bisa menyaksikan gerhana meskipun ada yang tidak komplit tahapnya, maka ketentuan mengenai shalat gerhana bulan bagi umat Islam di Indonesia pun berlaku.
GBT ini merupakan bagian dari fenomena langka yang dinamakan parade gerhana 2011. Dinamakan parade gerhana, sebab dalam tempo 29 hari berturutñturut terjadi gerhana matahari parsial 2 Juni 2011, disusul GBT dua minggu kemudian dan dipungkasi oleh gerhana matahari parsial lainnya pada 1 Juli 2011.

Dari tiga gerhana tersebut, hanya GBT yang bisa disaksikan dari Indonesia, sedangkan kedua gerhana lainnya berlangsung di sekitar kawasan lingkar kutub. Gerhana matahari parsial (GMP) 2 Juni 2011 hanya bisa disaksikan di sekitar lingkar kutub utara meliputi sebagian Rusia, sebagian China, sebagian Jepang, Korea, Alaska dan sebagian Kanada. GMP ini berawal pada pukul 02:25 WIB dan berakhir pada pukul 06:07 WIB dengan puncak pada pukul 04:16 WIB yang hanya bisa disaksikan di pantai Laut Barents (Rusia utara) di mana persentase cakram matahari yang tertutupi bundaran bulan mencapai 60 %.

Sementara gerhana matahari parsial, 1 Juli 2011 hanya bisa disaksikan di sekitar lingkar kutub selatan dan tak ada satu pun daratan yang terkena bayangan gerhana GMP, berawal pada pukul 14:54 WIB dan berakhir pada pukul 16:23 WIB dengan puncak pada pukul 15:38 WIB yang hanya bisa disaksikan di tengahñtengah Samudera Hindia dekat Antartika, di mana persentase cakram matahari yang tertutupi bundaran bulan hanya 10 %.

Satu Garis Lurus

Secara astronomis, gerhana terjadi kala bulan berada di salah satu titik node (titik potong orbitnya dengan ekliptika/bidang edar bumi mengelilingi matahari) dan pada saat yang sama matahari pun melintasi salah satu titik node tersebut. Konfigurasi demikian membuat matahari, bulan dan bumi terletak pada satu garis lurus yang disebut garis syzygy. Maka pancaran sinar matahari terhalangi bumi ataupun bulan, sehingga membentuk dua jenis bayangan, yakni bayangan inti (umbra) dan bayangan tambahan (penumbra).

Diameter matahari 400 kali lebih besar dibanding bulan, namun jaraknya pun 400 kali lebih jauh dibanding bulan. Maka, ’’diameter tampak’’ dari matahari dan bulan saat dilihat dari permukaan bumi adalah sama persis. Karena itu, bila Bulan berada di antara bumi dan matahari, bulan mampu memblokir cahaya matahari, sehingga terjadilah gerhana matahari. Sebaliknya, ketika bumi ada di antara bulan dan matahari, giliran bumi yang memblokir, sehingga terjadilah gerhana bulan.

Gerhana matahari selalu terjadi pada saat konjungsi (ijtimaí atau bulan baru), sementara gerhana bulan juga selalu terjadi saat oposisi (istikbal atau bulan purnama). Disebabkan orbit bulan tidaklah sejajar ekliptika melainkan miring dengan inklinasi 5 derajat, maka tidak setiap bulan purnama terjadi gerhana bulan dan tidak setiap ijtimaí terjadi gerhana matahari. Dalam setahun masehi, maksimum hanya bisa terjadi tujuh gerhana dengan ratañrata empat sampai lima gerhana per tahun. Tahun 2011 merupakan perkecualian karena bakal terjadi enam gerhana (empat GMP dan dua GBT), jumlah terbanyak sepanjang sebelas tahun terakhir.

Tatkala bulan menempati titik node yang diikuti terjadinya gerhana matahari, maka normalnya dalam 14 hari berikutnya, bulan akan menempati titik node lainnya yang diikuti terjadinya gerhana bulan. Demikian pula sebaliknya, sehingga peristiwa gerhana matahari akan selalu diikuti dengan gerhana bulan.

Perkecualian pada parade gerhana, di mana bulan menempati titik node tiga kali berturutñturut. Parade gerhana tidak terjadi setiap tahun. Terakhir kali fenomena ini terjadi pada 2009, dan baru akan terulang kembali 2013 mendatang.

Gerhana telah mengiringi manusia sepanjang sejarah peradabannya, meski baru sejak 600 SM manusia berhasil mengembangkan teknik matematika yang memungkinkan prakiraan gerhana secara sederhana. Teknik ini terus dikembangkan hingga mencapai bentuknya sekarang dengan akurasi teramat tinggi.

Ada banyak nilai penting gerhana bagi manusia. Dalam ilmu falak, gerhana merupakan penjaga waktu (time keeping) yang ideal bagi sistem kalender hijriah, terutama untuk mengecek waktu terjadinya ijtimaí sekaligus mengonfirmasi peristiwañperistiwa sejarah di masa silam. Sebagai contoh, Ibrahim, putra Nabi Muhammad SAW wafat di Madinah bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari dan menjadi dasar munculnya ketetapan shalat gerhana. Kini kita mengetahui bahwa pada Senin 27 Januari 632 M pukul 07:33ñ10:16 di Madinah memang berlangsung GMP yang ciriñcirinya sesuai dengan sejumlah teks hadis yang menerangkan peristiwa tersebut.

Gerhana Bulan

Mengamati gerhana bulan secara teknis lebih mudah dibanding gerhana matahari, karena dengan intensitas cahaya bulan purnama yang hanya 0,001 % cahaya matahari, maka bulan purnama tidak menyilaukan mata. Terkecuali jika dilihat dengan teleskop. Dengan demikian, tidak diperlukan filter khusus untuk melindungi mata, khususnya terhadap sengatan sinar nirtampak, seperti sinar ultraviolet yang merusak.

Dalam GBT 16 Juni 2011, posisi bulan berada di langit sebelah barat daya dengan ketinggian yang terus menurun seiring berlangsungnya tahapan gerhana. Dengan demikian, kita yang hendak mengamati gerhana harus menempati lokasi dengan pandangan terbuka ke langit barat daya. Mengingat gerhana berlangsung setelah tengah malam, alangkah baiknya bila kita menyempatkan beristirahat dulu sebelum memulai pengamatan pada jam 01:23 WIB. Hal yang sama pun seyogianya diperhatikan oleh takmir masjid, khususnya yang hendak menyelenggarakan shalat gerhana bulan. Lebih baik bila shalat gerhana dilaksanakan menjelang shalat Subuh sebagai bagian dari efektivitas waktu tanpa menghilangkan kekhusukan beribadah.

Secara nasional, pengamatan GBT 16 Juni 2011 akan berlangsung di Surakarta bersamaan dengan peresmian Planetarium AsñSalam, Pabelan. Di tingkat Jawa Tengah, sejauh ini pengamatan GBT akan dilaksanakan oleh IAIN Walisongo Semarang dan FKIF (Forum Kajian Ilmu Falak) Gombong (Kebumen). Pengamatan terakhir ini unik karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebuah observasi gerhana berlangsung di kompleks rumah sakit, dalam hal ini RS PKU Muhammadiyah Gombong. (24).

Oleh Muh Maírufin Sudibyo
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 13 Juni 2011

Selamatkan Lingkungan atau Musnah Bersama

BENCANA alam telah menjadi hal biasa di Republik ini. Hampir tidak ada sejengkal daerah yang dapat lepas dari keganasan alam Indonesia. Mulai dari banjir, tanah longsor, angin ribut, gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus, silih berganti menerjang bumi Indonesia.

Alam ini tampaknya ingin menyampaikan sesuatu. Alam Indonesia sudah rusak, yang diakibatkan oleh ulah manusia. Mereka serakah, ingin kaya dari alam, tetapi tidak memperhatikan keseimbangan makrokosmos.
Ketidakseimbangan makrokosmos ini menunjukkan tidak adanya sinergi antara manusia dan alam. Alam dieksploitasi sumber dayanya tanpa memedulikan kelestariannya.

Maka dari itu, sudah saatnya seluruh elemen bangsa Indonesia merenung dan berpikir. Bahwasanya manusia butuh bumi. Bumi sebagai tempat manusia hidup. Bumi sebagai tempat manusia meneruskan keterunannya.
Akan tetapi, apa yang terjadi, manusia ternyata belum mampu bersinergi dengan alam. Alam seringkali dieksploitasi tanpa memedulikan keseimbangan makrokosmos bumi. Hal ini mengakibatkan alam hancur. Alam tidak mampu menyerap air hujan dan mengakibatkan banjir.

Agenda Besar

Guna menyelamatkan alam dari kehancuran, diperlukan sebuah agenda besar penyelamatan lingkungan. Menurut Emil Salim (1996), bisa dilakukan dengan beberapa tindakan.

Pertama, penyelamatan air dari eksploitasi berlebihan dan  pencemaran yang terus meningkat tajam. Air adalah salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Air kadang dapat memberi manfaat bagi manusia. Akan tetapi, suatu saat dapat memberikan mudarat (kerugian) bagi manusia.

Air sudah saatnya dihemat untuk hari depan. Yaitu dengan, mematikan kran ketika sudah tidak dipakai lagi. Lebih dari itu, hasil limbah buangan pabrik sudah saatnya diolah agar tidak menimbulkan pencemaran. Semakin banyak limbah pabrik mencemari air, maka manusia akan diserang berbagai jenis penyakit. Dan pada akhirnya tidak ada lagi air bersih yang layak bagi kehidupan.

Pemerintah juga mempunyai peran penting dalam menjaga  agar air bersih tidak habis. Ambil contoh, membatasi eksploitasi air untuk industri besar (privatisasi air dan sumber daya mineral) dan menghukum bagi pengusaha yang tidak mampu mengolah limbahnya dengan baik.

Kedua, mencegah merosotnya kualitas tanah dan hutan akibat tekanan penduduk dan eksploitasi besar-besaran untuk  pembangunan. Menurunya kualitas tanah dapat diakibatkan tidak adanya tumbuhan di atasnya. Tumbuhan dapat menjaga kesuburan tanah. Ketika tanah tandus dan tidak mampu menahan curah hujan, maka banjir menjadi ancaman nyata manusia.
Demikian pula dengan pembalakan liar, yang mengakibatkan hutan gundul. Padahal hutan adalah paru-paru dunia. Ketika paru-paru dunia rusak, maka udara akan semakin panas, yang berakibat mencairnya es di Kutub Utara, Kutub Selatan, dan di puncak-puncak gunung, yang pada akhirnya banyak daratan di muka bumi akan tenggelam. Hal ini tentunya merugikan manusia, karena tidak dapat hidup atau bertempat tinggal. Dan pada akhirnya manusia akan mati.

Ketiga, memulihkan keanekaragaman hayati akibat rusaknya habitat  lingkungan hidup berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Rusaknya hutan tentunya akan berakibat pada rusaknya tatanan makhluk yang lain. Hewan akan mati karena tidak tersedianya cadangan makanan. Ketika banyak hewan mati, maka akan mengakibatkan tidak seimbangannya makrokosmos alam.

Keempat, perubahan iklim akibat pencemaran yang luar biasa. Menurut Global Forum on Ecology and Poverty, dunia kita berada di tepi kehancuran lantaran ulah manusia. Sumber-sumber alam dijarah kelewat batas. Diperkirakan pada setiap detiknya sekitar 200 ton karbon dioksida (CO2) dilepas ke atmosfer dan 750 topsoil musnah. Sementara itu, diperkirakan sekitar 47.000 hektare hutan dibabat, 16.000 hektare tanah digunduli, dan antara 100 hingga 300 spesies mati setiap hari.

Kelima, meningkatnya kota-kota yang berpenduduk banyak. Urbanisasi yang tak terkendali mengakibatkan penuhnya kota dan lengangnya desa. Banyaknya penduduk kota akan mengakibatkan persoalan sosial baru. Tidak hanya meningkatnya kriminalitas, tetapi juga persoalan lingkungan.

Pertumbuhan penduduk yang terlalu cepat berimplikasi pada ketersediaan lahan untuk menopang tuntutan kesejahteraan hidup. Lahan yang tersedia bersifat tetap dan tidak bisa bertambah sehingga menambah beban lingkungan hidup. Daya dukung alam ternyata semakin tidak seimbang dengan laju tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup penduduk. Atas dasar inilah, eksploitasi sistematis terhadap lingkungan secara terus menerus dilakukan dengan berbagai cara dan dalih (Surna T Djajadiningrat dan S Budhisantoso (peny), 1997).

Pada akhirnya, bumi kita hanya satu. Jika kita tidak mampu menahan hasrat merusak bumi dengan jalan melestarikannya, maka kepunahan akan mengancam masa depan umat manusia. Selamatkan lingkungan sekarang atau musnah bersama. (24)

—Ismangoen Notosapoetro, Ketua Dewan Pembina Yayasan Obor Tani, Semarang, dan penerima Sahwali Award dari Indonesia Environmental Management Information Center (IEMIC), 1992.
Sumber Berita : Suara Merdeka, 14 Juni 2011

Pemkab Gelar Penyuluhan Siswa

PENYAKIT HIV/AIDS memang sangat membahayakan manusia dan belum diketemukan obatnya. Oleh karenanya Pemkab Tegal mencoba mengambil langkah untuk memberikan penyuluhan peran serta masyarakat dalam penanggulangan penyakit tersebut. Termasuk memberikan penyuluhan terhadap siswa-siswi di sekolah, agar memahamai tentang bahaya HIV/AIDS sejak dini.
Seperti yang dilakukan di SMAN 2 Slawi, Senin (13/6) kemarin. Sebanyak 75 siswa kelas 10, mengikuti kegiatan penyuluhan yang dilakukan Pemkab Tegal. Kegiatan itu menghadirkan narasumber dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tegal, Dinas Kesehatan, serta Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Tegal.
Dalam dialog tersebut, ada beberapa pertanyaan yang mucul seperti tentang gejala dan ciri-ciri seseorang yang terkena penyakit tersebut.
Ketua Panitia Penyelenggara, Suspriyati, yang juga sebagai Kepala Bagian Kesra Setda Kabupaten Tegal, mengatakan, kegiatan penyuluhan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan komitmen peran serta masyarakat dan pemerintah dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS.
“Untuk tingkat pelajar, diharapkan dengan penyuluhan ini dapat menambah pemahaman siswa SLTA di Kabupaten Tegal tentang bahaya HIV/AIDS, dan memberikan pemahaman tentang reproduksi remaja,” katanya.
Hadir pada kesempatan itu, Wakil Bupati Tegal HM Hery Soelistiyawan SH MHum yang membuka acara tersebut. Dalam sambutanya, diaa mengungkapkan rasa keperihatinan yang dalam terhadap generasi muda. Keprihatinan ini disebabkan dari perilaku masyarakat, terutama perilaku para generasi muda. Hal ini hendaknya dapat mendorong untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan secara dini, apalagi terhadap penyakit HIV/AIDS.
“Pencegahan dan penanggulangan IMS (Infeksi Menular Seksual, red) HIV/AIDS menjadi sangat penting. Mengingat, penyebaran penyakit ini bisa menular kepada siapa saja,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, HIV/AIDS ini sudah masuk ke berbagai lapisan masyarakat. Sebagain besar  penderitanya adalah kelompok usia muda. Hal ini harus menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat serta organisasi kemasyarakatan, untuk senantiasa peduli akan pencegahan dan penanggulangannya.
“Salah satu upayanya adalah dengan memberikan pengertian tentang cara pencegahan dan penanggulangan penyakit ini,” ujarnya.
Dia mengajak seluruh komponen dan anggota masyarakat untuk dapat mencegah dan menanggulangi penyakit. Dia juga berharap budaya perilaku hidup yang sehat dan aman untuk ditanamkan sejak dini, baik oleh diri sendiri, para guru di sekolah, dan setiap orang tua ditengah-tengah kehidupan keluarga.
“Mari kita cegah dan tanggulangi penyakit HIV/AIDS dengan eprilaku hidup sehat dan aman secara lahir batin, dengan penuh kesadaran dan motivasi demi kesejahteraan dan hari depan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara,” pungkasnya. (fat)
Sumber Berita : Radar Tegal, 13 Juni 2011

Tuhan Allah senang melihat anak muda yang cerdas dan perkasa, Namun DIA lebih senang melihat orang tua yang bijaksana, saleh dan taat padaNya

Rendaman Jerami Resep Shampo Tradisional

Ekstraksi jerami padi dan pinang menjadi salah satu resep tradisional  membuat shampo bagi wanita di Kerinci dalam memelihara rambut panjang yang indah dan sehat.

“Resep saya hingga rambut bisa panjang setumit seperti sekarang ini sangat sederhana, saya hanya mengikuti apa yang diceritakan nenek dan ibu saya dulu yakni dengan menggunakan ekstraksi secara alami dari jerami padi dan pinang,” kata Afnirty (26), warga Kerinci dengan rambut panjang setumit, Sabtu. Rambut panjang yang indah, rapi, sehat dan kuat yang merupakan salah satu tradisi kaum hawa di Kerinci sedari zaman dahulu hingga menjadi indentitas atau ciri masyarakat setempat.
Memanjangkan rambut tentu saja bukanlah hal yang sulit, tapi agar membuatnya indah dilihat, rapi gampang disisir dan diatur, sehat dan kuat tidak rontok, adalah hal yang tidak bisa dibilang gampang.
Para wanita Kerinci pada zaman dulu kata nenek saya, telah memiliki cara sendiri yakni menggunakan jerami sebagai shampo. Maka saya terapkan.
Dia memaparkan cara membuat ekstraksi jerami tersebut. Menurut dia jerami padi cukup direndam di air bersih, lalu dicampur bubuk buah pinang.
Air rendaman itu dibiarkan bermalam-malam sampai bisa digunakan untuk menyampo rambut. Keramas dengan cara tradisional tersebut saya lakukan paling tidak sekali dalam dua minggu, yang jelas semakin sering dilakukan semakin bagus hasilnya. Karena itu rambut jadi gampang diatur, hitam mengkilat, dan tidak tidak rontok.
Gadis yang masih mahasiswi semester enam di STKIP Kerinci tersebut mengaku telah membiarkan rambutnya memanjang selama sembilan tahun semenjak dia berumur tujuh tahun atau kelas dua SD. Kini rambutnya yang ikal telah 150 cm menjuntai dari ujung kepala hingga ke tumitnya.
Afnitrti mengaku resep rahasia tradisional warisan neneknya dan para wanita Kerinci zaman dulu itu hingga kini masihlah sebatas resep tradisional, padahal itu adalah salah satu khasanah yang luar biasa dan layak diriset oleh para ahli rambut yang gencar mencari formula baru bagi perawatan rambut indah.
“Sampai saat ini belum ada riset ilmiah, kalau ada ilmuan yang berminat melakukan penelitian dan menjadi resep ekstraks jerami ini formula shampo modern kenapa tidak, tentu saja saya akan menyambut dengan baik, karena itu berarti akan mengangkat khasanah budaya kearifan lokal dari Kerinci yang telah terbukti ampuh, rambut saya sendiri ini yang jadi buktinya,” katanya.
Sumber Berita : http://kampungtki.com/

Mengintip Prestasi RSBI SMPN 1 Slawi

Setahun Raih Tiga Piala Bahasa InggrisPREDIKAT Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang kini disandang SMPN 1 Slawi memanglah bukan isapan jempol semata. Bisa dibayangkan, dalam setahun tiga trofi sekaligus mampu ditoreh anak dididiknya untuk mengharumkan nama Kabupaten tegal ditingkat Provinsi Jawa Tengah. Lalu ?
LAPORAN : Hermas Purwadi
DIANTARA prestasi yang telah diraih oleh peserta didik SMPN 1 Slawi dibawah nahkoda Slamet SPd MPd diantaranya Karya Terbaik tingkat Nasional tahun 2010 (Qutrotunnada, kelas 8.4) dibimbing oleh guru Agus Riyanto, Juara 2 Lomba Pidato MAPSI tingkat Nasional tahun 2010 (Maulida Fitria Z, kelas 8.7) dibimbing oleh Ustadz Shodiq Abdullah SAg, peraih medali perunggu National English Olympic tahun 2011 (Marsha Rizki Kumala Sari) dibimbing oleh Muflih Nurshiam SPd, Juara 2 lomba Debat Bahasa Inggris tingkat Provinsi Jawa Tengah (Marsha R, Deks Sazha Salsabil, dan Fania Rizki Ramadhani) dibimbing oleh Bunyamin, SPd MHum dan Subandi SPd, serta The Best Story Teller pada event English Marathon Competition 2011 (Nadya Pramesty Nugraheni) dibimbing oleh Bunyamin SPd MHum dan Amalia Rachmawati SPd.
Selebihnya anak didik RSBI SMPN 1 Slawi juga mampu menyabet Juara Harapan 3 lomba Story Telling pada FLS 2N 2011 tingkat Provinsi Jawa Tengah (Anindita Ratna Santoso) dibimbing oleh Bunyamin SPd MHum dan Amalia Rachmawati SPd, Juara I lomba tari tingkat eks Karesidenan Pekalongan tahun 2010 (Murti) dibimbing oleh Sunarti SPd, dan Juara umum GSAM 2011 tingkat Kabupaten Tegal yang digelar oleh SMAN 1 Slawi dibimbing oleh Suminto SAg dan Sintha Kusuma Dewi SPd.
Prestasi juga mampu ditoreh dengan menjadi Juara I dan II putri Ganas English Competition tahun 2011 tingkat kabupaten (Putri Rachma Asri dan Nadya Pramesty Nugraheni) dibimbing oleh Bunyamin SPd MHum, Juara I dan 3 LCC Pramuka Putra tahun 2011 tingkat Kabupaten Tegal (Fredy Prasetyo, Rinal Krisna), serta Juara 3 lomba Mafis (Matematika dan Fisika) tingkat eks Karesidenan Pekalongan dibimbing oleh Slamet Wakhyono dan Sefulloh SPd.
Kepala SMPN 1 Slawi juga mengatakan bahwa UN 2011 kali ini SMPN 1 Slawi kembali meraih peringkat I dari seluruh SMP swata dan negeri di Kabupaten Tegal. "Seluruh prestasi tersebut diraih berkat usaha keras dan kerjasama yang baik antara kepala sekolah, komite, dewan guru, siswa dan orang tua siswa itu sendiri. Tanpa adanya usaha keras dan kerja sama yang baik prestasi yang sangat membanggakan tersebut tidak mungkin akan bisa diraih," terangnya.
Pihak sekolah memang sudah menyiapkan peserta didiknya untuk mengikuti even-even lomba di tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi melalui program pengembangan diri di luar jam pelajaran seperti pengembangan diri musik, paduan suara, seni tari, karawitan, marching band, olimpiade matematika, olimpiade IPA, olimpiade IPS, story telling, speech contest, Pramuka, PMR, PKS, dan lainnya.
"SMPN 1 Slawi siap menjadi kebanggan masyarakat Kabupaten Tegal dan Provinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu, SMPN 1 Slawi harus segera berbenah diri. Apalagi SMPN 1 Slawi merupakan RSBI yang selalu menjadi incaran masyarakat kabupaten Tegal," ujarnya.
Dia juga menegaskan akan segera berbenah diri untuk menjadi Sekolah Bertaraf Internasional karena tidak lama lagi sekolah ini juga akan mendapatkan sertifikat ISO. Semoga cepat terwujud.
Sumber Berita : Radar Tegal 13 Juni 2011

RPH Disinyalir Disalahgunakan

SEJUMLAH Peternak sapi dan kerbau yang tergabung dalam Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Kabupaten Tegal, mendesak agar pemerintah menertibkan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) di Kabupaten Tegal. Hal ini karena selama ini RPH yang ada, tidak dijalankan sesuai fungsinya.
Ketua PPSKI Kabupaten Tegal, Kahar Mudakir, didampingi beberapa pengurus lainnya, mengatakan, sejumlah RPH di Kabupaten Tegal sekarang ini banyak yang tidak berjalan sesuai peruntukannya. Ada yang jalan, akan tetapi telah beralih fungsi menjadi kandang hewan milik peribadi. Padahal seharusnya hewan yang ada di RPH itu, hanya hewan yang akan dipotong.
“Lihat saja, RPH masa menjadi kandang sapi, bebek, kambing, dan lainnya. Kalau hewan itu akan dipotong, tidak jadi masalah. Tapi hewan yang ada, ternyata bukan dipotong, tapi diternakkan. Padahal harusnya misalkan sapi yang ada di situ, maksimal harus enam ekor. Selama ini ada 20-30 ekor,” katanya, kepada Radar, Senin (13/6).
Menurutnya, RPH ini disinyalir dimanfaatkan sebagai rumah tinggal bahkan menjadi kandang sentra peternakan. Padahal RPH itu merupakan sarana milik Pemkab yang harusnya bisa dimanfaatkan oleh semua peternak. Untuk itu, dia mendesak agar Pemkab melalui dinas terkait segera menertibkan dan mengembalikan RPH sesuai fungsinya. Kalau ini tidak dilakukan, maka PPSKI dengan seluruh peternak se-Kabupaten Tegal mengancam akan melakukan operasi pembersihan dan pembongkaran kandang di RPH yang selama ini disalahgunakan.
“PPSKI akan membentuk relawan guna melakukan pemantauan di semua RPH di Kabupaten Tegal. Kami juga akan melakukan pengawasan lalu lintas hewan di tiga titik perbatasan masuk wilayah Kabupaten Tegal. Hal ini dilakukan untuk menghindari berkembangnya penyakit antrax di Jawa Tengah yang bisa menular kepada manusia dan sangat mematikan,” ungkapnya.
Dia berharap agar Pemkab, pedagang daging, bakso, dan rumah makan, serta masyarakat untuk melakukan pengawasan terhadap lalu lintas hewan dan bahan asal hewan, demi menghindari pembelian hewan yang berasal dari daerah endemis antrax. Seperti, Kabupten Boyolali, Salatiga, Karanganyar, Surakarta, Klaten, Semarang, dan Pati.
Dikatakan Kahar, Pemkab Tegal harus berani meletakkan program-program di bidang peternakan sebagai salah satu prioritas pembangunan. Hal ini bukan saja untuk memacu pertumbuhan populasi dan kesejahteraan peternak, tetapi juga sebagai peran pemerintah dan masyarakat dalam mendukung tercapainya swasembada daging di tahun 2014.
“Empat langkah yang akan diambil oleh pemerintah mengenai kepastian tercukupinya pasokan sapi, stabilitas harga, penertiban rumah potong hewan, meningkatkan swasembada daging, hendaknya tidak hanya dijadikan slogan kosong tetapi wajib dilaksanakan,” tegasnya.
Melalui PPSKI, dirinya mengajak kepada para petani dan peternak untuk membulatkan tekad, agar menunjukan kemampuannya dan bisa mengembangkan dalam memenuhi kebutuhan nasional.
Sementara, Kabid Peternakan Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (DKPP) Pemkab Tegal Endang Indiyanti mengungkapkan, DKPP telah mengambil kebijakan terkait pernyataan PPSKI dengan mengeluarkan surat perintah untuk penertiban RPH. Dalam surat itu, RPH harus dikembalikan sesuai dengan fungsinya. “Untuk lebih jelasnya silahkan konfirmasi langsung ke UPTD RPH,” terangnya. (fat)
Sumber Berita : Radar Tegal, 13 Juni 2011