Minggu, 21 Agustus 2011

Puluhan Perahu Wisata Diperiksa Kelaikannya

KEDUNGBANTENG - Sedikitnya 28 perahu pengangkut wisatawan di OW Waduk Cacaban, Kedungbanteng, diperiksa kelaikannya guna mengantisipasi sesuatu hal yang tidak diinginkan saat liburan panjang tiba. Pemeriksaan tehnis secara manual ini, dilakukan oleh UPTD Pariwisata setempat dan satuan Reskrim Polsek Kedungbanteng, Sabtu (20/8) pagi.
Kepala UPTD Pariwisata OW Cacaban dan OW Purin, Widodo Triyono mengatakan, dari 28 perahu wisata yang diperiksanya, ada 3 perahu yang tidak laik beroperasi. Ketiga perahu itu, sudah rusak dan banyak tambalan di setiap sudutnya. Karena itu, pihaknya melarang keras kepada pemilik perahu, supaya tidak mengangkut para wisatawan saat liburan Idul Fitri 1432 mendatang. Khususnya wisatawan yang berkunjung di OW Cacaban. "Yang layak beroperasi, hanya 25 perahu," ucapnya.
Dijelaskannya, pemeriksaan itu meliputi kelengkapan perahu seperti jaket pelampung, ban, tali berukuran besar, bambu serta fisik perahu. Pemeriksaan tidak melibatkan instansi terkait yang dapat mendeteksi secara pasti tentang kelaikan perahu. Akan tetapi, dilakukan sebatas kemampuan dinasnya layaknya tahun-tahun sebelumnya. "Pemeriksaan berdasarkan pengalaman saja," katanya
Lebih jauh Widodo menyampaikan, nahkoda perahu di wilayah obyeknya, belum ada yang bersertifikasi. Padahal menurutnya, sertifikasi itu sangat penting sekali untuk para nahkoda. Tujuannya, untuk mengantisipasi munculnya nahkoda yang minim pengalaman atau nahkoda pemula.  "Sama sekali belum ada yang sertifikasi. Dan itu akan lebih aman, jika nahkoda disini, diberikan sertifikasi dari instansi terkait," ujarnya.
Dia menambahkan, guna memastikan keselamatan pengunjung disaat liburan tiba, pihaknya bakal menempatkan satu unit perahu karet di area Waduk Cacaban. Perahu karet tersebut akan dikendarai oleh tiga anggota Lanal Tegal yang berpatroli saat perahu wisatawan beroperasi. Disinyalir, pengunjung akan membludak, saat hari raya Idul Fitri sampai 10 hari kedepan. "Yang sudah-sudah seperti itu. Ramainya pas hari raya sampai syawalan," tutupnya. (yer)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Pesona Hong Kong Saat Tengah Malam

Oleh Christopher DeWolf

Berbelanja di pasar buah, memancing cumi-cumi di bawah sinar bulan, berburu hantu atau makan sepuasnya... inilah beberapa hal yang bisa kita lakukan di kota yang tak pernah tidur.


Mongkok paling asyik dinikmati di bawah lampu neon.

Hong Kong adalah salah satu kota yang tampak lebih hidup dan menarik di malam hari daripada saat siang hari. Meski begitu, aktivitas malam di kota ini lumayanmonoton: makan malam lalu pulang ke rumah dan tidur.

Tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, di bawah ini ada beberapa aktivitas alternatif yang bisa Anda lakukan di Hong Kong saat jam malam tiba.

1. Memancing cumi-cumi


Memancing cumi-cumi hanyalah “alasan” untuk berkumpul dengan teman, menyewa perahu dan menghabiskan malam dengan minum-minum, ngobrol dan menikmati laut yang damai di tengah malam.

Cumi-cumi dan sotong muncul pada malam hari. Dengan bumbu sedikit bawang putih dan kecap, binatang laut ini sudah terasa nikmat.

Alatnya sederhana saja, benang pancing dan kait. Celupkan di air, gerak-gerakkan sedikit untuk menirukan gerakan ikan yang bergerak, dan Anda pun bisa menangkap cumi-cumi kecil yang kemudian akan dimasakkan oleh “awak”' perahu.

Banyak perusahaan yang menyewakan perahu yang mampu menampung  hingga 30 orang. Lihat di www.thelist.com.hk dan hk.88db.com untuk detail lebih lanjut.


Pasar buah Yau Ma Tei.

2. Mengunjungi 'gwo laan'


Setiap malam, saat Pasar Malam Temple Street mulai berbenah, pasar buah induk Yau Mai Tei baru mulai buka.

Lebih dikenal sebagai gwo laan, pasar ini adalah kumpulan bangunan-bangunan tua berusia ratusan tahun yang terletak di sepanjang gang sempit dekat pojokan antara Waterloo Road dan Reclamation Street.

Meski baru buka mulai jam 10 malam, kesibukan pasar ini baru mencapai puncaknya pada jam 4 pagi, saat pedagang eceran mulai sibuk menawar barang ke pedagang pasar dan pekerja telanjang dada dan bertato mengangkut peti-peti apel dan leci.

Reputasi pasar ini memang tidak terlalu baik, tapi sebenarnya cukup aman buat turis untuk berkeliling. Asal jangan menyinggung orang lain.

3. Naik minibus merah ke Mongkok


Semua minibus merah akan menuju ke Mongkok, terutama saat subuh, ketika kawasan ini menjadi titik transfer ke berbagai rute di Hong Kong.

Ada banyak hal di Mongkok yang bisa Anda lihat lepas tengah malam: jajanan pinggir jalan, toko pakaian yang buka sampai malam, tempat bermain biliar, serta penjual DVD.

Cobalah semangkuk mi di Aberdeen Fishball and Noodles yang buka 24 jam (Tung Choi Street 139, +852 2787 6678) atau Sea View Congee Shop (Argyle Street 103, +852 2787 7330) sebelum mencari hiburan malam.


Pojokan Cheung Chau pada malam hari.

4. Keliling Cheung Chau


Cheung Chau bukanlah pulau yang sepi. Kalau di pulau-pulau lain seperti Peng Chau, Lamma dan Mui Wo tak ada kehidupan malam, di Cheung Chau ada pasar malam kecil yang buka mulai jam 10 malam. Anda bisa menemukan jajanan enak seperti sushi atau tong shui di sini.

Pantai di sini biasanya ramai saat akhir pekan. Walaupun ramai, Anda tetap bisa mencari ketenangan di Peak Road dengan pemandangan yang indah. Kapal feri akan kembali ke Central jam 11.45 malam dan 2.20 pagi.

5. Menonton layar tancap


Hong Kong memiliki warisan budaya sinema yang kaya, tapi sayangnya tidak banyak alternatif untuk melihat film-film nonkomersil atau selain box office. Dan lebih sedikit lagi pilihan untuk menonton layar tancap.

Pada 2007, Moonlight Movies yang merupakan bioskop terbuka di dermaga, tutup sampai waktu tak terbatas. Pemutaran film di luar ruang pun tinggal masa lalu.

Untungnya Rooftop Cinema menghidupkan lagi bioskop terbukanya dengan memasang beberapa film. Lihat rooftopcinema.hk untuk detail lebih lanjut.


Pantai bisa terlihat lebih indah di kegelapan.

6. Bersantai di pantai


Tampak polos pada siang hari, pantai akan tampak lebih menggoda di bawah temaram bulan, cocok untuk kencan romantis atau bersantai bersama teman.

Bawa tikar, beberapa lilin dan sebotol anggur -- dan pantai akan menjelma jadi tempat yang tepat untuk malam hangat musim panas.

Jika kebetulan berada di pantai yang sepi, seperti Lamma's Power Plant, Anda bisa menyalakan api unggun. Pastikan untuk memadamkan api sesudahnya dan angkut sampah saat berbenah.
Sumber Berita : http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/

Geliat Wisata Merapi Setelah Letusan

Oleh Olenka Priyadarsani

Letusan Gunung Merapi di akhir tahun 2010 menyisakan kesedihan mendalam, termasuk bagi sektor wisata. Tempat-tempat yang dulunya adalah objek wisata, seperti Kaliurang dan Kalikuning, sempat ditutup hingga beberapa bulan akibat abu vulkanik dan material lain yang disemburkan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia ini. Ditambah lagi penutupan bandara dan penetapan radius aman 20 km dari puncak Merapi.

Namun kini ketika letusan telah usai, geliat wisata Merapi makin menampakkan potensinya. Letusan yang awalnya dianggap hanya sebagai bencana, kini dapat menjadi ladang usaha bagi masyarakat setempat.


Desa yang terkena letusan Merapi pada akhir 2010 lalu. (Foto: AP/Slamet Riyadi)

Salah satu daerah yang menjadi pusat wisata gunung berapi (sering disebut volcano tour) adalah wilayah di sekitar desa Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. Nama desa ini menjadi terkenal karena merupakan desa tempat tinggal juru kunci Merapi, Maridjan, yang tewas terkena awan panas karena menolak meninggalkan desa.

Kinahrejo dapat dicapai dari Yogyakarta melalui Jalan Kaliurang. Ambillah jalan menuju ke Kalikuning dan terus ke atas. Di perjalanan Anda akan dapat menyaksikan sendiri batas antara pohon-pohon masih berdiri tegak dan hijau subur dan daerah yang habis tersapu awan panas. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan membuat kita makin menyadari kekuatan alam.

Tiket masuk daerah wisata Merapi tidak mahal. Untuk kendaraan roda empat beserta 2 penumpang hanya dipungut Rp 11.000. Parkir kendaraan bermotor pun sudah tersedia, dikelola oleh penduduk setempat.

Masyarakat setempat berusaha mencari penghasilan dengan membuka warung-warung di pinggir jalan. Beberapa warung menjual makanan khas setempat, misalnya salak pondoh dan jadah tempe. Ada pula yang menjual suvenir berupa kaus bergambar atau bertuliskan “Merapi”. Yang lain menyediakan makanan dan minuman ringan.

Dari tempat ini Anda dapat melihat dampak letusan Merapi berupa pepohonan yang meranggas, tanah yang masih bercampur dengan abu dan kerikil, serta gunung yang masih terlihat gagah. Anda dapat menyewa motor trail untuk mengantar Anda melihat lebih dekat.

Tempat lain di sekitar Merapi yang kini juga sering menjadi pusat perhatian adalah di sekitar Kali Jumoyo, Muntilan, Jawa Tengah. Di sini Anda dapat melihat batu-batu luar biasa besar yang dibawa oleh lahar dingin Merapi. Di sekitar Jumoyo kini banyak warung-warung berdiri untuk mengakomodasi wisatawan yang datang ke tempat tersebut.

Jalan Yogya-Magelang di sekitar Jumoyo pun biasanya padat. Di samping karena masih banyak perbaikan jembatan dan jalan di wilayah tersebut, orang juga cenderung melaju lambat untuk melihat atau mengambil gambar.

Tetapi, tidak lengkap rasanya bila Anda hanya menyaksikan lokasi bencana tanpa berkunjung ke Museum Merapi yang didirikan di Sleman. Di sini Anda dapat memperluas pengetahuan tentang gunung berapi.

Apabila Anda tidak sempat naik ke lereng Merapi, Anda dapat menyaksikan bukti keganasan Merapi di Kali Code, sungai yang membelah pusat kota Yogyakarta. Di lembah Kali Code yang terletak tak jauh dari Malioboro, material berupa pasir dan batu yang dibawa lahar dingin masih menumpuk. Banyak warga yang menyempatkan diri untuk berhenti dan mengambil gambar dari jembatan.

Bagaimanapun, pemandangan di lereng gunung lebih dramatis. Selain itu, bila Anda memiliki rejeki berlebih,  berikanlah sumbangan semampu Anda di posko-posko yang tersedia. Saat ini masih ada ribuan korban Merapi yang masih tinggal di hunian sementara (huntara). Dengan demikian, sambil berwisata Anda pun dapat membantu.
Sumber Berita : http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/

100 Abang Becak Terima Paket Sembako

SLAWI - Sebanyak 100 abang becak yang mangkal disekitar RS Umum Adella Slawi, terima bantuan paket sembako dari pemilik dan pengelola RS itu. Pemberian sembako, selain menjalin mitra dengan lingkungan, juga dalam rangka memperingati HUT RI ke 66 dan menghormati bulan suci ramadan. Disamping bhakti sosial pembagian sembako, tidak menutup kemungkinan, seiring perkembangan kemajuan RS Adella, juga merencanakan melakukan bhakti sosial lain kepada masyarakat yang membutuhkan.  “Setiap paket yang kami bagikan berupa, kaos, beras, gula dan teh, minyak sayur dan mie instan,” kata dr HM Abdul Djalil Mkes, selaku pengelola RS tersebut, kepada Radar.
Dikatakan Abdul Djalil, pembagian sembako dalam rangka bhakti sosial diatas, dilaksanakan Jumat (18/8). Sedang sasaran 100 tukang becak penerima paket sembako, yaitu setiap tukung becak yang setiap harinya mengkal di sekitar perempatan Langon Kudaile sampai Taman Bunga (Tambun) Pakembaran Slawi.
Menurut dia, selain meningkatkan kemitraan dan berbagi kebersamaan, kegiatan dimaksud, sebagai bentuk rasa syukur akan beraktifitasnya RS Umum Adella yang baru sekitar satu tahun itu, semoga bisa diterima semua pihak. Lingkungan sebagai salah satu fakotr dominan, juga harus diperhatikan agar bisa terjalin kebersamaan.  “Salah satu lingkungan selain masyarakat sekitar RS ini, juga abang becak,” ucap dr HM Abdul Djalil.
Disisi lain, Direktris PT Adella Ananda Mulya (AAM), dr Hajjah Ratna Trisiyani SpOG, selaku PT yang mengelola RS Adella mengatakan, kemitraan tersebut diharapkan bisa berlangsung secara rutin. Pihaknya juga merencanakan membagikan sembako tidak hanya saat ini saja, melainkan diwaktu yang lain tidak harus dalam momentum hari kemerdekaan maupun lebaran saja.
Sementara, sesuai dengan program PT AAM yang sudah direncanakan, pembagian sembako nantinya kepada seluruh masyarakat sekitar RS Adella. Jika saat ini sebatas abang becak, tidak menutup kemungkinan masyarakat sekitar juga bakal menerima paket sembako dilain kesempatan.  “Yang pasti itu sudah masuk dalam agenda kegiatan bhakti sosial RS Umum Adella kedepan,” pungkas dr Hajjah Ratna Trisiyani SpOG. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Mengapa Jalan jalan di Indonesia

Oleh Trinity

Kalau ada yang bertanya kepada saya, “Mengapa sih harus jalan-jalan di Indonesia?” maka jawaban saya adalah, “Mengapa tidak?” Ada banyak alasan mengapa kita harus jalan-jalan di Indonesia. Di bawah ini saya tuliskan beberapa.

Semoga artikel ini dapat membuat Anda sepakat dengan saya: berjalan-jalan di Indonesia adalah wajib hukumnya.


Seorang perempuan di desa Sukopuro, Probolinggo, Jawa Timur berjalan melewati Gunung Bromo. Foto: AP/Trisnadi

Segala ada


Apa jenis wisata yang Anda cari? Wisata laut, gunung, budaya, belanja, atau flora dan fauna? Semua ada di Indonesia. Laut kita sudah tidak perlu diragukan lagi. Dunia bawah laut Raja Ampat, Wakatobi, Komodo dan Bunaken sudah terkenal di seluruh dunia.

Jenis pasir pantai apa yang Anda cari? Indonesia punya pasir putih bersih sehalus tepung juga merah muda berbutir-butir. Bagi pecinta gunung, Indonesia adalah negara dengan gunung berapi paling banyak di dunia. Ada banyak taman nasional bagi penggemar flora dan fauna.

Dengan beragam suku, etnis, agama dan kepercayaan, Indonesia punya keragaman budaya. Jakarta, kota dengan pusat perbelanjaan terbanyak, cocok buat yang hobi belanja. Gedung tua yang bersejarah, ada juga.


Sendratari di Candi Badut, Malang. Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto

Ramah


Banyak orang mengatakan, orang Indonesia tidak lagi seramah dulu. Tetapi saya percaya bangsa Indonesia tetaplah salah satu bangsa dengan tingkat keramahan tertinggi di dunia. Bahkan di kota besar seperti Jakarta yang konon masyarakatnya individualis, orang Jakarta jauh lebih ramah dibandingkan negara lain. Kalau Anda tersesat di belantara kekusutan Jakarta, tidak perlu ragu bertanya. Pasti dibantu. Di negara lain? Belum tentu.


Pantai yang masih sepi dan belum terjamah turis ini terletak di Tanjung Setia, Lampung Barat, Lampung. Foto: Antara/Rosa Panggabean

Murah


Mahal/murah memang relatif. Jika Anda tinggal di Medan, misalnya, berjalan-jalan ke daerah Indonesia timur tentu lebih mahal dari negara tetangga. Tapi jangan lupa, ada harga ada rupa. Sering kali yang Anda bayar sebanding dengan yang didapat.

Melihat komodo, satu-satunya binatang purba yang tersisa, dan leyeh-leyeh di pantai berpasir merah muda jauh lebih asyik dan membanggakan ketimbang berfoto di depan menara kembar atau main di taman hiburan. Karya manusia tidak akan bisa mengalahkan karya agung ciptaan Tuhan, bukan?

Supaya murah, kunjungilah daerah yang dekat dengan tempat tinggal Anda, misalnya provinsi tetangga. Anda bisa juga memesan tiket promosi penerbangan murah dari  jauh-jauh hari.


Melihat lumba-lumba di laut lepas? Itu bisa Anda lakukan di Tanjung Kiluan, Lampung; Lovina, Bali; sampai di Raja Ampat, Papua. Foto: Antara/Rosa Panggabean

Lebih mudah


Yang dimaksud dengan mudah di sini bukanlah tentang menjangkau tujuan-tujuan wisata di Indonesia, melainkan soal bahasa dan budaya. Ke daerah mana pun Anda pergi di Indonesia, tentu Anda sudah dapat memperkirakan pantangan di daerah itu.

Makin terpencil suatu daerah, biasanya makin kuat adatnya. Pastinya Anda mampu mengira-ngira di mana Anda boleh memakai tank top, dan mana yang tidak. Karena kita masih sebangsa, bahasa tubuh maupun ekspresi lebih mudah dibaca sehingga kemungkinan salah paham dapat diperkecil.

Gengsi


Salah satu alasan orang Indonesia jalan-jalan ke luar negeri adalah karena gengsi. Padahal, kurang bergengsi apa kalau Anda sudah menjelajahi seluruh Indonesia? Sangat ironis jika orang Indonesia lebih sering jalan-jalan di negara lain tetapi tidak tahu betapa indahnya negeri sendiri. Masak orang asing lebih paham kecantikan negara kita? Gengsi, ah!


Berselancar dengan ombak setinggi ini bukan hanya Anda temukan di Bali, di Lampung pun bisa. Foto: Antara/Rosa Panggabean

Perbaikan kehidupan


Bila keadaan ekonomi Anda baik-baik saja dan merasa tidak peduli dengan kondisi ekonomi negara, sebaiknya Anda berpikir ulang. Kondisi ekonomi negara selalu mempengaruhi kondisi ekonomi penduduknya.

Dengan jalan-jalan di negeri sendiri, kita ikut memperbaiki kondisi ekonomi negara kita yang efeknya juga akan memperbaiki kehidupan kita. Mengapa bisa begitu?

Sebab, menghabiskan uang di negeri sendiri akan membuat uang tidak “kabur” ke luar negeri. Yah, ibaratnya uang dari kantong kanan pindah ke kantong kiri, nggak pindah ke kantong orang lain. Jika perekonomian bangsa membaik, kita juga yang untung, kan?
Sumber Berita : http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/

'Sunda Kecil' di Tapal Batas

ETNIS  Sunda tidak melulu mendiami Jawa Barat. Mereka juga tersebar hingga sekitar lembah Sungai Pemali, Brebes serta di wilayah barat Kabupaten Cilacap.
Dalam kehidupan sehari-hari, mereka lebih banyak menggunakan bahasa Sunda dibandingkan dengan bahasa Jawa. Di daerah tertentu, masyarakat menggunakan campuran kedua bahasa itu.
Realitas ini sangat unik. Mereka tetap merasa sebagai warga Jateng, tetapi tidak bisa memungkiri sebagai etnis Sunda. Di Cilacap, etnis Sunda mendiami di sekitar lima kecamatan, yakni Cimanggu, Karangpucung, Majenang, Wanareja, dan Dayeuhluhur.  Kecamatan terakhir ini, hampir seluruh warganya menggunakan bahasa Sunda, kecuali pendatang. Karena memang secara geografis lokasinya paling dekat dengan Jabar.
Permasalahan yang timbul, yakni ketika sistem pendidikan mewajibkan anak-anak Sunda untuk mempelajari bahasa Jawa sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah dasar. Kenyataan itu menjadi sebuah kontradiksi. Karena dalam kesehariannya, ’’Sunda Kecil’’ menggunakan bahasa Sunda, namun di sekolah justru diwajibkan mempelajari bahasa ibu suku saudaranya.
’’Susah. Apalagi kalau pelajaran menulis huruf Jawa, saya tidak bisa,’’ demikian pengakuan Riki, siswa kelas 5 SD Panulisan Timur 3, Kecamatan Dayeuhluhur.
Pengakuan itu juga diiyakan oleh dua teman sepermainannya, Bayu dan Noval. Dalam seminggu, mereka mendapatkan pelajaran bahasa Jawa satu jam pelajaran, selama 45 menit.  Kata-kata yang dipelajarinya pun dirasa asing. Apalagi dalam bahasa Jawa dikenal adanya kasta. ’’Biasanya Pak Guru menyampaikan pelajaran bahasa Jawa menggunakan bahasa Sunda,’’ aku Noval.
Kondisi tersebut juga yang menjadi keprihatinan sebagian masyarakat. Di satu sisi mereka tidak mampu menguasai bahasa Jawa dengan baik, di sisi lain anak-anak tidak mendapatkan pengetahuan tentang bahasa ibu yang digunakan.
Sekdes Matenggeng Arsim menyatakan, banyak anak tidak tahu bagaimana berbahasa Sunda dengan baik. Karena itu perlu diajarkan di sekolah agar bahasa Sunda sebagai bahasa ibu masyarakat setempat tidak mati.
Keprihatinan juga disampaikan masyarakat yang tergabung Aliansi Masyarakat Dayeuhluhur (AMD). Salah satu aktivisnya, Sindu Irawan Fredyansah mengungkapkan, saat ini hampir sebagian besar anak-anak dan remaja tidak bisa berbahasa Sunda dengan baik.
Menyadari kondisi tersebut, AMD pun kini mulai memperjuangkan agar bahasa Sunda menjadi salah satu mulok di sekolah dasar.
Beberapa kali, melalui diskusi internal dan dengan tokoh masyarakat lainnya, mereka mencoba menggolkan tujuan ini kepada pembuat kebijakan.
Muatan Lokal
Camat Dayeuhluhur Agus Supriyono menjelaskan, secara administratif Dayeuhluhur memang masuk wilayah Jateng, namun secara kultur warganya orang Sunda.
Hasil diskusinya dengan masyarakat, sebenarnya tidak ada yang berkeberatan dengan pengajaran bahasa Jawa. Namun, warga berharap bahasa Sunda juga diajarkan di sekolah. “Ini sebagai bentuk kepedulian pemerintah dalam melestarikan budaya yang hidup di masyarakat,” paparnya.
Selama ini dia turut memfasilitasi masyarakat dalam memperjuangkan bahasa Sunda menjadi muatan lokal (mulok). Termasuk saat mendampingi AMD yang mengajukan usulan kepada Disdikpora Cilacap.
Ketua PGRI Dayeuhluhur Basuki mengaku sangat mendukung bahasa Sunda menjadi salah satu mulok.  Selama ini, siswa SD mendapatkan tiga mulok, yakni bahasa Jawa (mulok provinsi), bahasa Inggris (mulok kabupaten) dan Tata Boga (mulok kecamatan).
’’Sebenarnya dulu (bahasa Sunda) pernah diajarkan, namun karena kurikulum yang berubah-ubah, akhirnya dihilangkan,’’ terangnya.
Mereka memang orang Sunda. Tapi masa depan ’’Sunda Kecil’’ di tapal batas ini menjadi tanggung jawab pemerintah Jateng.  Dan perlu diingat, pendidikan adalah hak dasar setiap warga negara.(47)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/21/156733/

Tiga Jam Dilewati 3.970 Mobil

SEMARANG-Jalan tol Semarang - Solo seksi I atau ruas Semarang- Ungaran resmi diujicobakan untuk dilewati kendaraan roda empat mulai sekitar jam 09.00, Sabtu (20/8) . Pengendara mobil pribadi terlihat memadati jalan tol yang sudah ditunggu-tunggu penggunaannya itu.
Dalam kurun waktu tiga jam, tepatnya mulai pukul 09.00- 12.00 tercatat ada 3.970 unit mobil melintasi jalur bebas hambatan sepanjang 14 kilometer tersebut.
Mereka memacu kendaraannya dengan kecepatan sekitar 80 km/jam. Bahkan mereka menyalip rombongan Gubernur Jateng yang hendak meresmikan jalan tol tersebut. Rombongan itu berjalan lebih lambat sambil memantau sejumlah penggalan jalan.
Dari data PT Trans Marga Jateng (TMJ), dari total 3.970 unit mobil yang masuk ke gerbang tol Banyumanik, 3.061 unit mobil di antaranya datang dari arah Semarang ke Ungaran. Sementara, sisanya atau 909 unit mobil melintas dari Ungaran ke Semarang. "Sebagian besar mobil yang masuk jalan tol memang berasal dari arah Semarang menuju Ungaran. Jumlahnya bisa mencapai tiga kali lipat dari mobil yang masuk dari Ungaran ke Semarang," kata Direktur Utama PT TMJ Agus Suharyanto melalui Kepala Bagian Operasional, Sabilillah.
Menurut dia, petugas pembayaran pintu loket jalan tol Banyumanik sudah siaga atau stand by di lokasi setelah jalur bebas hambatan tersebut dibuka. Mereka langsung mendata dengan mengumpulkan nomer transaksi. Nomer tersebut tidak diberikan ke pengguna jalan tol. Selama masa uji coba mulai H-10 hingga H+10 Lebaran digratiskan. Kendaraan roda empat berplat nomor B (Jakarta) mendominasi mobil yang melintas di jalan tol tersebut.
Dengan difungsikannya jalan tol tersebut, waktu tempuh untuk melintasi jalur Semarang- Ungaran bisa lebih cepat. Dari gerbang tol Banyumanik menuju pintu keluar di Ungaran hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit.   (J17-80)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/21/156761/