Senin, 29 Agustus 2011

Arkeolog Arab Temukan Peradaban Kuno 9000 Tahun

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH--Penemuan arkeologis terbaru di Dubai kemungkinan bakal merubah sejarah. Arkeolog Arab mengatakan, mereka menemukan situs baru di mana ada indikasi domestikasi hewan sekitar 9.000 tahun yang lalu.
Situs yang disebut Al Maqar itu, bila terbukti memiliki data domestikasi hewan kuda sembilan milenium itu akan mengubah sejarah dunia. Karena sebelumnya diketahui domestikasi hewat tertua ada di Turki atau Asia Tengah, 5.500 tahun yang lalu.
"Temuan ini akan menantang temuan situs tertua sebelumnya," kata Ali Al Ghabban, wakil presiden Museum dan Purbakala dari Komisi Wisata dan Purbakala Arab Saudi.
Ia lanjutkan, "Penemuan ini akan mengubah pengetahuan manusia soal hubungannya dengan hewan. Karena di situs ini terbukti manusia sudah memelihara hewan di era Neolitik muda," kata dia saat jumpa pers.
Ia tegaskan, selain kuda, ditemukan juga rangka manusia yang sudah termumifikasi, mata panah, serpih, alu, alat menjahit dan lain sebagainya. "Ini menunjukkan manusia 9.000 tahun lalu sudah mahir membuat kerajinan tangan," katanya.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/

Halalbihalal

SENIN, 29 Agustus 2011 ini pemerintah akan melakukan rukyatul hilal di seluruh Indonesia untuk menentukan Idul Fitri 1 Syawal 1432H. Di Jateng akan dipusatkan di Menara Al-Husna Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Jalan Gajahraya Semarang. Apabila bulan terlihat dipastikan pemerintah melalui Tim Isbat akan mengumumkan Selasa besok (30/8) Idul Fitri. Sebaliknya apabila hilal tidak terlihat maka istikmal menyempurnakan bilangan puasa Ramadan menjadi 30 hari dan Idul Fitri jatuh hari Rabu lusa (31/8). Tetapi para ahli falak hampir memastikan bulan tidak akan terlihat, sulit untuk dirukyat karena ketinggiannya masih di bawah dua derajat.
Muhammadiyah sudah mengumumkan akan beridul fitri Selasa besok (30/8). Perbedaan semacam ini sudah biasa terjadi. Masing-masing ada patokan dan dasar hukumnya. Perbedaan pandangan, perbedaan dasar hukum dan  perbedaan sumber hendaknya menjadi rahmat. Bukan sebaliknya menjadi pemicu munculnya konflik horizontal, perpecahan dan keretakan di antara umat.
Alhamdulillah melalui pencerahan dan pemahaman yang terus menerus melalui para kiai, ulama, pejabat dan tokoh masyarakat, umat makin terbiasa menerima perbedaan. Kedewasaan bersikap seperti inilah yang sebenarnya diajarkan selama bulan Ramadan.
Dalam bulan suci itu, Allah mencurahkan kasih sayangnya, memaafkan kesalahan hambanya dan membebaskannya dari api neraka (itqun minannar). Kalau hal itu di charge-kan kepada orang puasa selama satu bulan, harapannya pasti tiga hal tersebut menjadi jiwa dan mewarnai hidupnya. Sayang kalau sampai tidak terefleksi dalam kehidupan.
Maka masuk kategori kelompok orang yang hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Dia tidak mendapatkan pahalanya puasa. Handphone yang dicharge satu jam saja bisa dioperasionalkan selama 24 jam. Mestinya manusia di-charge selama satu bulan penuh bisa operasional 11 bulan sampai puasa Ramadan datang lagi tahun depan.
Sesudah puasa kasih sayangnya kepada yang lain makin bertambah, mudah memaafkan kesalahan orang lain dan meningkatkan kualitas hubungan silaturahim sesama manusia (hablum minannas) dan meningkatkan hubungan ibadah kepada Allah (hablum minallah).
Di kalangan umat Islam Indonesia mengakhiri Ramadan dengan halalbihalal sesudah shalat Id. Sebuah tradisi yang tidak ditemukan di negara lain. Selain halalbihalal juga berkembang budaya sungkeman.
Santri sowan kepada kiai dan para gurunya. Meminta maaf dan saling membuka pintu maaf. Anak meminta maaf kepada ibu-bapaknya, kepada tetangga dan sanak saudaranya. Di kantor-kantor atasan membuka pintu maaf kepada bawahanya, kolega dan handai taulan. Indah sekali. Andai budaya mengaku salah itu diterapkan di sebelas bulan di luar bulan Syawal, pasti tidak ada tawuran, pengeroyokan, konflik horizontal, perkelahian, KDRT dan lain-lain. Yang ada saling meminta maaf dan membuka maaf.
Seorang budayawan Dr Umar Khayam (alm), menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama.
Menurut tuntunan ajaran Islam, saling memaafkan itu tidak ditetapkan waktunya setelah umat Islam menyelesaikan ibadah puasa Ramadan, melainkan kapan saja setelah seseorang merasa berbuat salah kepada orang lain, maka dia harus segera minta maaf kepada orang tersebut. Bahkan Allah SWT lebih menghargai seseorang yang memberi maaf kepada orang lain (Alquran; Ali Imran ayat 134).
Sejarah asal mula halal bihalal ada beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, bahwa tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa.
Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah shalat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.
Menurut Dr Quraish Shihab, halalbihalal merupakan kata majemuk dari dua kata bahasa Arab halala yang diapit dengan satu kata penghubung ba (dibaca: bi). Meskipun kata ini berasal dari bahasa Arab,  masyarakat Arab sendiri tidak paham arti halalbihalal yang merupakan hasil kreativitas bangsa Melayu. Halalbihalal, tidak lain, adalah hasil pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Asia Tenggara. Halalbihalal merupakan tradisi khas dan unik bangsa ini. Semangatnya adalah saling menghalalkan kesalahan akibat dari tindakan maupun ucapan sebagai resiko dari sebuah pergaulan sehari-hari. Santri kepada kiai, istri kepada suami, anak kepada ibu-bapak, dengan tetangga, kolega, atasan-bawahan, semuanya berhalalbihalal. Sebaiknya halalbihalal terus dibudayakan tidak hanya di bulan Syawal saja tetapi di sebelas bulan lain sesudah Syawal. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1432 taqabbalallu minna waminkum taqabbal ya kariim. (Drs KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng-34)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/29/157588/

Observatorium Bosscha Yakin Lebaran 31 Agustus

JAKARTA- Peneliti senior di Observatorium Bosscha,  Bandung, Deva Octavian, menegaskan Idul Fitri 2011 atau 1 Syawal 1432 Hijriah akan jatuh pada 31 Agustus.
Keyakinannya didasarkan pada hasil analisa ilmu astronomi. Ijtima akhir Ramadan tahun ini akan dilakukan pada hari Senin (29/8) pukul 10.04 WIB.

”Tinggi bulan saat matahari terbenam pada 29 Agustus di seluruh wilayah Indonesia kurang dari dua derajat. Dari data tersebut, hilal tidak mungkin dilihat di Indonesia. Dengan begitu, 1 Syawal 1432 Hijriah jatuh pada 30 Agustus setelah maghrib,” ujarnya.

Dengan demikian, menurutnya, puasa kali ini genap 30 hari.
”Makanya tidak salah kalau yang menggunakan metode hisab dan rukyatul hilal dalam penentuan awal Syawal akan berbeda. Sebab, 29 Agustus hilal belum terlihat oleh mata karena dekat dengan matahari,” tambahnya.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul F Wibisono, mengatakan, Muhammadiyah sudah menentukan Idul Fitri 1432 Hijriah jatuh pada Selasa (30/8).
Keputusan itu merupakan hasil perhitungan hisab tim Muham-madiyah. Saat matahari terbenam pada hari ke-29 Ramadan, posisi hilal ada di atas ufuk dengan ketinggian satu derajat 55 menit.

Wakil Ketua Pimpinan Muhammadiyah Jawa Tengah, Drs H Rozihan SH MAg mengimbau, meski Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal dan melaksanakan shalat Id pada Selasa (30/8) besok, mereka harus tetap menghormati umat Islam lain yang masih menjalankan ibadah puasa.

’’Meski berbeda dan organisasi massa Islam lain, kita harus tetap menjaga dan menerima pluralitas atau perbedaan ini dengan lapang dada,’’ ungkap Rozihan, kemarin.
Perbedaan itu, lanjut dia, memang didasari dari perbedaan cara melihat hilal yang dilakukan Muhammadiyah dengan ormas lain atau pemerintah. Muhammadiyah menentukan hilal dari bulan yang sudah wujud. Untuk tahun ini, ijtima menjelang Syawal 1423 Hijriah terjadi Senin (29/8) pukul 10.05:16. Sementara tinggi hilal pada saat matahari terbenam di Yogyakarta adalah +01 derajat 49’ 57’’, yang artinya umat muslim tidak lagi memiliki kewajiban untuk menjalankan ibadah puasa.

Warga Muhammadiyah yang selepas buka puasa nanti akan melaksanakan takbiran, harus melakukannya dengan sewajarnya atau jangan berlebihan.
’’Jangan sampai menganggu dan harus menghormati mereka yang masih menjalankan ibadah puasa dan melaksanakan shalat Id keesokan harinya,’’ katanya.
Warga Muhammadiyah mencapai sekitar 20 persen dari warga Jateng. Untuk Kota Semarang, pelaksanaan shalat Id akan dilaksanakan di 36 titik di seluruh kecamatan, di antaranya Lapangan Rumah Sakit Roemani, halaman Wonderia, dan halaman Lapangan Tenis Pamularsih.

35 Petugas

Pemerintah akan menerjunkan 35 orang untuk mengamati hilal di 16 titik di berbagai daerah. Jumlah sebanyak itu merupakan gabungan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Observatorium Bosscha, Rukyatul Hilal Indonesia, Lapan, serta sejumlah perguruan tinggi. Pengamatan hilal dilakukan pada 29-30 Agustus mulai pukul 16.00.
Jumlah pengamat dan titik pengamatan hilal untuk penentuan 1 Syawal 1432 Hijriah lebih banyak daripada pengamatan hilal untuk menentukan awal Ramadhan, yang hanya melibatkan 30 orang di 14 titik.

Terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan, Idul Fitri 1432 Hijriah kemungkinan jatuh pada 31 Agustus karena wujudul hilal kurang dari dua derajat.
”Ada dua cara untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijiriah, termasuk memastikan hari pertama berpuasa dan Idul Fitri,” kata Ma’ruf.
Cara pertama adalah melalui ijtima (konjungsi geosentris), yaitu peristiwa di mana bumi dan bulan berada dalam posisi bujur langit yang sama. Ijtima terjadi tiap 29,531 hari sekali atau disebut pula satu bulan sinodik.

Saat ijtima, bulan tidak terlihat karena permukaan yang tampak dari bumi tidak mendapatkan sinar matahari.
Maka, lanjut Ma’ruf, pada sore hari itu dinyatakan sebagai awal bulan Hijriah tanpa melihat seberapa sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam.
Cara kedua, kata Ma’ruf, melihat bulan (rukyatul hilal) yaitu dengan mengamati secara langsung.

Sementara itu, Ketua Lajnah Falakiah PBNU Ghozali Masruri mengatakan, pihaknya masih menunggu rukyat yang akan dilaksanakan serentak pada Senin (29/8) ini di 90 titik di Indonesia dengan menurunkan 110 ahli.
”Kami belum bisa memastikan 1 Syawal jatuh pada 30 atau 31 Agustus. Hasilnya baru bisa didapatkan besok petang dan akan langsung kami umumkan,” ujarnya di Jakarta, Minggu (28/8). (D3,K3,ant-43)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/29/157590/

Sepeda Motor Kuasai Jalanan

BREBES- Puncak arus mudik di jalur pantura didominasi oleh sepeda motor. Pada H-3 Lebaran atau Sabtu (27/8), sebanyak 135.210 unit kendaraan bermotor pemudik masuk Jateng melalui jalur pantura.
Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persennya atau 110.129 adalah pemudik bersepeda motor. Akibat lonjakan volume kendaraan ini, arus lalu lintas di pantura padat merayap hingga sepanjang belasan kilometer.
Data di pos polisi Cisanggarung Losari dan Exit Tol Pejagan menyebutkan, hingga H-2 Lebaran atau Minggu (28/8) siang, total kendaraan pemudik yang masuk Jateng mencapai 426.266 unit.
Sedangkan pada H-4, total kendaraan yang masuk hanya 103.527 unit, dan pada H-2 volume kendaraan mulai berangsur menurun.
Pantauan Suara Merdeka di lapangan, lonjakan volume kendaraan itu menyebabkan sejumlah titik jalur mudik di Brebes mengalami kepadatan luar biasa. Di jalur pantura, antrean kendaraan merayap saat memasuki Kota Brebes, terutama di pasar tumpah Bulakamba, simpang tiga Pejagan, dan Tanjung.
Di jalur tengah, antrean kendaraan terjadi di exit tol Pejagan dan simpang tiga Dermoleng, Kecamatan Ketanggungan. Bahkan di jalur alternatif Ketanggungan-Jatibarang-Slawi, arus juga merayap akibat pasar tumpah.
Pengurai
Kapolres Brebes AKBP Kif Aminanto mengatakan, guna mengurai kepadatan di jalur pantura, pihaknya menerapkan sistem buka tutup di exit tol Pejagan.
Kendaraan pemudik dari Jakarta tujuan Semarang diarahkan melalui jalur alternatif Ketanggungan-Jatibarang-Slawi. Hal ini dilakukan saat arus di pantura merayap. Selain itu, pihaknya juga menerjunkan tim pengurai kemacetan yang sudah dipersiapkan. Tim khusus tersebut berjumlah 52 personel dengan 35 unit sepeda motor.  Mereka merupakan bantuan dari Korlantas Mabes Polri dan Polda Metro Jaya.
“Ketersendatan arus lalu lintas ini terjadi karena volume kendaraan dari Jakarta meningkat tajam,” katanya di sela-sela mengatur lalu lintas di exit tol Pejagan.
Kasat Lantas Polres Brebes AKP Hary Ardianto menambahkan, pada H-3 volume kendaraan memang mengalami peningkatan luar biasa. Selain menerapkan pola buka tutup di exit tol Pejagan, pihaknya pun memberlakukan pola 3:1 di jalur pantura, yaitu tiga lajur ke arah Semarang dipakai untuk arus mudik, sementara satu lajur untuk arus ke arah Jakarta.
Rp 800 Miliar
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat memastikan, pelayanan terhadap puluhan ribu TKI yang mudik Lebaran tahun ini berjalan lancar.   
“Pelayanan di semua terminal kedatangan TKI yang ada di Indonesia sepenuhnya aman dan lancar, baik yang menggunakan bandar udara maupun pelabuhan,” kata Jumhur di Jakarta.
Data BNP2TKI menyebutkan, TKI dari luar negeri yang mudik kali ini berkisar 80.000-100.000 orang dengan jumlah remitansi atau uang kiriman mencapai Rp 800 miliar lebih. Arus mudik TKI dihitung sejak sepuluh hari menjelang Lebaran hingga sepuluh hari sesudahnya.
BNP2TKI mencatat pula remitansi atau angka pengiriman uang para TKI dari luar negeri per semester I/2011 hingga Juni lalu yang tercatat di Bank Indonesia mencapai Rp 28,5 triliun.
Menurutnya, di luar musim Lebaran, jumlah TKI yang pulang dalam 20 hari seluruhnya 40.000 orang dan sebulan sekitar 60.000 orang, namun khusus selama momentum Lebaran terjadi peningkatan dua kali lipat.
“Rata-rata TKI pulang ke Tanah Air per hari sebanyak 2.000 orang dan saat Lebaran ini jumlahnya menjadi 4.000 orang per hari,” jelas Jumhur.  
Jumhur sebelumnya juga melakukan inspeksi ke terminal kedatangan TKI, seperti di Gedung Pendataan Kepulangan (GPK) TKI di Selapajang, Tangerang, Banten. Dia menginstruksikan semua petugas GPK Selapajang tidak cuti hingga 1 Syawal 1432 H untuk mewujudkan pelayanan terbaik bagi TKI.  
BNP2TKI memiliki sembilan kantor pelayanan pendataan kedatangan TKI di berbagai debarkasi, yakni di Nunukan (Kaltim), Tanjungpinang (Kepulauan Riau), Entikong (Kalimantan Barat), Gedung Pendataan Kepulangan (GPK) TKI Selapajang (Tangerang), Bandara Adi Soemarmo (Solo), Bandara Husein Sastranegara (Bandung), Bandara Adi Sutjipto (Yogyakarta), Bandara Juanda (Surabaya), dan Bandara Selaparang (Mataram). (H38,di-43)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/29/157591/

Minggu, 28 Agustus 2011

Mudik Manajemen Melawan Mati Rasa

Patutkah kita ”menyalahpahami” mudik Lebaran sebagai sebuah aktivitas romantik-spiritualistik yang tidak produktif? Tak sedikit pakar yang menganalisis, mudik -- dalam perkembangan dan tingkat keribetannya sekarang -- merupakan kegiatan yang kurang produktif, bahkan kurang rasional, apalagi jika dikaitkan dengan kalkulasi ekonomi: banyak di antara para pemudik yang selama setahun bekerja keras mengumpulkan uang di Ibu Kota, dan pada saatnya dicurahkan hanya untuk kembali, berlebaran di kampung halaman.

Kritik terhadap mobilitas sosial yang kolosal itu, sebenarnya lebih tepat diarahkan ke manajemennya, dalam hal ini mutu layanan pemerintah. Mudik ke daerah dan balik ke kota-kota tempat bekerja merupakan peristiwa rutin tahunan yang waktunya sudah pasti, rute dan moda transportasinya juga tetap. Yang pasti berubah tentu jumlahnya. Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta boleh saja mengumumkan kebijakan pembatasan bagi para pendatang yang baru, namun nyatanya setiap tahun jumlah pemudik cenderung terus bertambah.

Terdapat dua sisi penting setiap kali berbicara tentang mudik. Pertama, inilah aktivitas sosial istimewa, yang dari sisi jumlah sulit mencari padanannya di negara mana pun, khusus untuk menyongsong Idul Fitri. Terlepas dari apa pun, mudik adalah kreasi yang harus dimaknai secara terhormat, karena bangsa ini bisa menemukan jalan mengekspresikan naluri silaturahimnya. Setelah setahun tenggelam dalam kesibukan kerja yang rutin dan berkompetisi secara keras, mudik Lebaran merupakan oase untuk mencairkan semuanya.
Selama setahun, kita terikat dalam rutinitas yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti robot-robot hidup yang mati rasa. Maka, adanya ”ikatan”, ”kerinduan”, dan ”tanah kelahiran” atau ”kampung halaman” akan sejenak memalingkan kita untuk berjeda, tergerak mengungkap kembali nilai-nilai mengenai kehidupan, persaudaraan, dan tali yang mempertemukan semua. Momentum mudik memberi sentuhan agar kita tidak menjadi mati rasa, dan tidak terkunci oleh realitas persaingan hidup dalam meraih survivalitas.

Yang kedua, persoalan manajemen. Setiap tahun, realitasnya selalu muncul kesibukan luar biasa untuk melayani para pemudik, terkait dengan ketersediaan sarana transportasi, kualitas jalan, serta kenyamanan memeroleh akses menjelang dan selama dalam perjalanan. Produktif atau tidak produktif, bermartabat atau tidak bermartabat, perjalanan mudik dan balik akan ditentukan oleh kualitas unsur-unsur dalam pelayanan itu. Maka betapa menentukan peran pemerintah dalam penyelenggaraan mudik yang nyaman dan bermartabat.

Dua aspek besar itulah yang merupakan kunci untuk menyukseskannya, menjadi ”manajemen untuk melawan mati rasa”. Dengan mudik dan silaturahim, kita berusaha menemukan kembali hakikat kemanusiaan kita, sehingga tidak tenggelam dalam lilitan hidup yang serbamotorik dan serbamekanik. Pada sisi lain, pemerintah bertanggung jawab untuk menjamin kelancaran, keamanan, serta kenyamanan para pemudik sebagai bagian dari fungsi penyelenggaraan negara yang melayani dan menyejahterakan rakyatnya.
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/27/157420/10/

Pertama Dalam Sejarah Iktikaf Di Al-Aqsha Tembus

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSSALEM – Pagar pembatas dan penjagaan ketat pasukan zionis Israel tak mengahalangi niat Muslim Palestina beri’tikaf di Masjid Al-Aqsha. Bahkan berdasarkan kalkulasi Yayasan Wakaf dan Turast Masjid Al-Aqsha, jumlah mu’takif atau orang yang beriktikaf  di Masjid Al-Aqsha pada malam 27 Ramadhan mencapai 350 ribu jamaah.
"Jumlah ini menorehkan sejarah. Tidak pernah terjadi fenomana i’tikaf dalam jumlah besar seperti itu," kata Direktur Wakaf Al-Quds, Azzam Al-Khatib, sebagaimana dikutip laman Al-Jazeera, Ahad (28/8).
Ditambahkan oleh lembaga tersebut, Masjid Al-Aqsha sudah dipenuhi oleh ribuan Jamaah sejak Jumat (26/8) dan Sabtu (27/). Total keseluruhan jamaah sejak hari Kamis (25/8) hingga pelaksanaan shalat Tarawih pada Jumat (26/8), menembus jutaan jamaah. Dan mayoritas mereka bertahan di dalam Masjid. Fenomena itu merupakan bentuk dukungan dan kecintaan mereka terhadap Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam. 
Secara terpisah, pemerintah Israel menurunkan ribuan personil tentara dan polisi di sekitar Al-Aqsha. Tidak hanya itu, mereka memberlakukan syarat ketat bagi Muslim yang hendak memasuki Al-Aqsha. Pembatasan umur diberlakukan. Mereka yang diperbolekan masuk ialah Muslim yang telah menikah dengan usia 45-50 bagi laki-laki dan 30-45 tahun untuk perempuan.
Selain kategori tersebut, tidak diperkenakan memasuki Al-Aqsha. Namun tindakan tentara zionis tak mampu menyurutkan semangat dan kecintaan rakyat Palestina kepada Al-Aqsha.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/

Jawaban Hanung Atas Aksi FPI Tolak Pemutaran Filmnya

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Stasiun SCTV membatalkan tayangan film '?' (baca:tanda tanya) setelah digeruduk massa FPI pada Sabtu (28/8/2011) malam. Rencananya, film garapan sineas Hanung Bramantyo tersebut akan ditayangkan pada malam takbiran.
Bagaimana komentar Hanung atas pembatalan dan aksi FPI ini? Melalui situs mikro bloging atau twitter, Hanung yang menggunakan akun @hanungbramantyo menjawabnya.
"Terima kasih teman2 atas suport film '?'. Sy b'harap, kasus SCTV bukan hy Soal film. Tapi perjuangan melawan PREMANISME berkedok agama!" Tulis Hanung.
Saat mengerudukj SCTV, sekitar 100 massa yang dipimpin Ketua FPI DKI Jakarta, Habib Salim Alatas menyatakan bahwa Film '?' menggambarkan umat Islam itu bengis dan jahat. Ada adegan orang islam merusak restoran China, lalu pendeta ditusuk dan gereja dibom.
Film yang disutradarai  Hanung Bramantyo mulai dirilis di bioskop sejak 7 April 2011. Hanung mengangkat tema toleransi beragama yang digambarkan dari sudut lain.
"Saya ingin menunjukkan lewat film ini gambaran beberapa peristiwa yang terjadi. Pada adegan terakhir film ini nanti David Chalik mengungkap bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Buat saya itulah Islam,” ujar Hanung saat melaunching filmnya.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/jawaban-hanung-atas-aksi-fpi-tolak-penayangan-filmnya