Minggu, 26 Februari 2012

144 Orang Kena HIV dan Aids

KRAMAT – Jumlah penderita virus HIV dan Aids di wilayah Kabupaten Tegal setiap tahun meningkat. Terhitung hingga  akhir 2011 silam, jumlah penderita kedua penyakit tersebut mencapai angka 144 orang. Dari jumlah itu, cenderung  yang mengidap adalah Wanita Pekerja Seks (WPS) yang berkeliaran di wilayah Pantura setempat. Data ini terkuak ketika Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kabupaten Tegal menggelar kegiatan pertemuan intervensi struktual yang bertempat di Rumah Makan Taguya, Kramat, Sabtu (25/2) siang.
Hadir dalam acara tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, dr Hendadi diwakilkan Kabid Pencegahan Penyakit (P2) Toto Raharjo SKM,  Staf Distrik LPP LSH Banyumas Kris Maulana, pengurus dari tiga lokalisasi yakni Wandan, Peleman, dan Gang sempit, kemudian sejumlah mucikari serta WPS dari tiga lokalisasi tersebut. Kegiatan ini di pimpin oleh Sekretaris KPAD Kabupaten Tegal, Juliono SSos, didampingi stafnya, Guntur Gunawan.
Dalam paparannya, Toto Raharjo menyebutkan, dari jumlah 144 orang itu, yang mengidap virus HIV adalah 69 orang. Sedang yang mengidap Aids, 75 orang. Hingga kini, para penderita tidak dikarantina. Mereka tetap berkeliaran di sekitar wilayah setempat. Sementara itu, berdasarkan data yang ada, penderita HIV dan aids tahun 2010, hanya 31 orang. Menurutnya, 11 diantaranya mengidap HIV dan sisanya aids. Jumlah penderita yang mati akibat mengidap penyakit tersebut, hingga akhir 2011 silam, mencapai 23 orang.  Dipastikan, jumlah itu akan bertambah, karena penderita HIV dan Aids di tahun ini meningkat.
“Tahun 2009  merupakan angka tertinggi, yakni 48 orang. Jumlah penderita aids di tahun itu sebanyak 46 orang, dan 2 orang lainnya mengidap HIV. Kami upayakan, di tahun ini jumlah penderita semakin berkurang,” pintanya.
Langkah sigap guna mengurangi penyakit mematikan itu, dia bersama KPAD memberikan bantuan berupa kondom gratis khusus untuk WPS di wilayahnya. WPS tidak diwajibkan membelinya, karena alat itu merupakan bantuan dari KPA pusat.  Dia berharap, WPS selalu menggunakan alat tersebut, setiap sedang bersenggama dengan tamunya.  “Hindari virus HIV dan Aids. Kami sangat mengkwatirkan, apabila sampai menular ke pasangan resminya di rumah,” himbaunya.
Lebih jauh dia membeberkan, jumlah WPS di lokalisasi Wandan Desa Munjung Agung Kecamatan Kramat, ada 65 orang. Di lokalisasi Gang Sempit Desa Maribaya, 45 orang. Di turunan Desa Kramat, 40 orang. Di Karang gondang Lebaksiu, 30 orang.  Sementara di Peleman Desa Sidaharja, 300 orang. Sehingga jumlah total WPS di Kabupaten Tegal, sebanyak 480 orang.  “Jumlah itu fluktuatif karena mereka berpindah-pindah. Saya hanya berdasarkan pendataan akhir Desember 2011 silam,” cetusnya.
Sekretaris KPAD Kabupaten Tegal, Juliono mengatakan, kegiatan penyuluhan dan pencegahan virus HIV dan Aids itu, digelar setiap 4 bulan sekali. Kegiatan kali ini, sekaligus mensosialisasikan kondom khusus untuk WPS yang diberikan secara cuma-cuma. “Jumlah kondom sekitar 1000 biji. Dalam waktu dekat, akan kami bagikan secepatnya,” tukasnya. (yer)
Sumber Beritahttp://www.radartegal.com/index.php/144-Orang-Kena-HIV-dan-Aids.html

Sabtu, 25 Februari 2012

Kafe Koruptor Di DPR Akan Ditutup

Jakarta – KabarNet: Dua buah Kafé berlokasi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), akan ditutup. Tuntutan penutupan itu datang dari Dewan Kehormatan DPR yang menduga kuat bahwa Kafé tersebut selalu dijadikan tempat pertemuan antara para calo mafia anggaran dengan oknum-oknum anggota DPR korup yang menjadi mitra percaloan mereka, untuk membahas berbagai macam isu terkait anggaran pemerintah daerah dan lain lain yang yang ingin diloloskan. Tentang wacana penutupan kafe tersebut, Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR, Siswono Yudohusodo, telah secara resmi meminta Ketua DPR Marzuki Alie agar segera menutup kafe yang berlokasi di gedung Nusantara II, di kompleks DPR-RI, Senayan, Jakarta.
Rapat konsultasi DPR dengan sejumlah perwakilan lembaga tinggi negara tersebut dihadiri antara lain oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Wakil Kepala Polri Komjen Nanan Soekarna, dan Kepala Bareskrim Polri Komjen Sutarman, pimpinan KPK Busyro Muqoddas dan Zulkarnaen, dan Jaksa Agung Basrief Arief. Sedangkan Pimpinan DPR didampingi oleh pimpinan fraksi-fraksi, pimpinan Komisi III, pimpinan Badan Anggaran, pimpinan Badan Kehormatan, dan pimpinan Komisi XI.
Dalam pertemuan rapat konsultasi itu Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR, Siswono Yudohusodo mengungkapkan bahwa BK telah menemukan indikasi yang sangat kuat bahwa kafe yang berada di lantai dasar gedung Nusantara II selalu dijadikan tempat berkumpulnya para calo dan mafia anggaran untuk bertemu dengan oknum-oknum Anggota DPR korup yang menjadi mitra percaloan mereka, untuk membahas berbagai macam isu terkait anggaran daerah dan lain sebagainya yang ingin diloloskan. Oleh karenanya pihaknya merekomendasikan agar kafe tersebut segera ditutup. ”Kami minta itu direnovasi dan direlokasi untuk menjaga citra DPR,” ujar Siswono dalam rapat konsultasi pimpinan DPR dengan aparat penegak hukum, Kamis (23/2/2012).
Untuk diketahui, ada dua kafe di kompleks DPR berlokasi di lantai dasar gedung Nusantara II yang selalu ramai sejak pagi hingga malam hari. Kafe yang menyajikan berbagai macam kopi dan makanan ringan ini memang tak pernah sepi dari pengunjung. Di kafe inilah anggota DPR sering terlihat duduk untuk menjamu tamu-tamunya.
Menanggapi permintaan penutupan kafe ini, Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan bahwa pihaknya telah memanggil pengelola kafe. “Pihak kafe sudah dipanggil. Nanti akan ditutup, tidak ada apa pun di belakangnya. Karena di sana tempat duduk calo-calo. Kami sudah benahi DPR dari orang-orang yang tidak berkepentingan dengan bangsa dan rakyat,” kata Marzuki seusai rapat konsultasi antara pimpinan DPR dengan pimpinan institusi penegak hukum dan kementerian di Kompleks DPR, Jakarta, Kamis (23/2/2012).
Perlu diketahui, kafe yang diberi nama ‘Bengawan Solo’ di gedung Nusantara II DPR itu  adalah milik anggota Fraksi Partai Demokrat (FPD) bernama Albert Yaputra yang duduk di Komisi VII DPR. Kafe ini ditengarai menjadi tempat para calo anggaran berkumpul. 

Albert Yaputra (Bos Cafe di Gedung DPR)

Sumber Berita : http://kabarnet.wordpress.com/2012/02/24/kafe-koruptor-di-dpr-akan-ditutup/

FPI Dibubarkan Jam 7.05 ikin Ormas Baru

Jakarta – KabarNet: Kampanye negatif yang digembar-gemborkan oleh kelompok Pro-Maksiat dan Pro-Aliran Sesat yang dimotori oleh LSM SEPILIS agar ormas Front Pembela Islam (FPI) dibubarkan, terbukti berbuah kegagalan total. Bukannya mendapat dukungan, justru sebaliknya mayoritas masyarakat dari berbagai kalangan malah menunjukkan simpatinya kepada FPI, dan menolak keras kalau ormas Islam pimpinan Habib Rizieq Syihab ini dibubarkan. Pernyataan dukungan dan pembelaan terhadap FPI, baik yang tersurat maupun yang secara tersirat, berdatangan dari berbagai kalangan, mengindikasikan bahwa keberadaan FPI diinginkan oleh masyarakat luas di Indonesia, khususnya umat Islam. Dukungan terhadap FPI itu kini kembali datang dari mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), DR. KH. Hasyim Muzadi.
Kiyai Hasyim secara tegas menentang wacana pembubaran FPI sebagai ormas yang oleh sejumlah kalangan dinilai sering bertindak anarkis dalam aksi-aksinya.

Menurut Kiyai Hasyim Muzadi yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa “Al Hikam”, di Malang, Jawa Timur ini, apabila terjadi tindakan anarkis, maka yang harus ditindak tegas adalah oknum pelakunya, bukan organisasi induknya.

“Kalau ormasnya yang dibubarkan, dia akan ganti kulitnya (ganti nama, red.), lebih baik siapa yang salah dia yang dihukum,” tandas Kiyai Hasyim di hadapan sejumlah wartawan dari berbagai media, di Jakarta, pada hari Senin (20/2/2012) malam.

Lebih lanjut, Kiyai Hasyim menyatakan penolakannya atas usulan pembubaran ormas. Langkah itu, menurutnya, hanya akan menambah daftar ormas baru menggantikan ormas lama yang dibubarkan. Undang-Undang Ormas pun, menurut Kiyai Hasyim, tidak bisa mengatur keberadaan ormas yang memiliki susunan kepengurusan yang sama meski dengan nama yang berbeda. Pemerintah diharapkan mampu melakukan pembinaan terhadap ormas agar kegiatan organisasinya tidak bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku. “Yang membina pemerintah sebagai pelaksana Undang-Undang,” kata Kiyai Hasyim dalam paparannya.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Bidang Dakwah DPP FPI, Habib Muhsin Alatas, dalam sebuah acara talk show di TvOne. dengan dipandu oleh presenter Indiarto Priadi dan Indy Rahmawati yang juga menghadirkan narasumber Ketua Tim Perumus RUU Ormas DPR-RI, Abdul Malik Haramain, beberapa waktu yang baru lalu.
Dalam dialog tersebut, Habib Muhsin juga menolak wacana pembubaran ormas. Pengurus teras Front Pembela Islam ini menyatakan bahwa FPI senantiasa memberikan pengarahan kepada setiap anggotanya agar dalam aksi-aksinya taat hukum dan menghindari tindakan anarkis. Kalaupun di lapangan terkadang ada anggota FPI yang terprovokasi oleh keadaan dan akhirnya terpancing melakukan anarkisme, menurutnya, hal itu terjadi bukan dari sebab kebijakan FPI secara organisasi, melainkan karena ulah oknum anggota FPI itu sendiri yang tidak taat aturan. Dalam hal itu, Habib Muhsin mengatakan bahwa FPI selalu menjatuhkan sanksi tegas kepada siapapun anggotanya yang tidak taat aturan, dari mulai teguran keras bahkan sampai ke pemecatan.
Menjawab pertanyaan presenter TvOne seputar peristiwa pemukulan oleh “simpatisan” FPI terhadap anggota LSM penggiat paham Sekularisme-Plularisme-Liberalisme (SEPILIS) saat melakukan unjuk rasa anti FPI di Bundaran HI beberapa waktu yang lalu, Habib Muhsin menyatakan bahwa organisasinya menolak bertanggung jawab. “Itu tindakan spontan, mereka bukan anggota FPI, tapi hanya simpatisan saja. Kalau simpatisan FPI sih dimana-mana banyak. Para tukang bakso pun banyak yang bersimpati kepada FPI, khan tidak mungkin kita harus mengontrol mereka semuanya.” cetusnya.
Senada dengan pendapat KH Hasyim Muzadi terkait wacana pembubaran ormas, Habib Muhsin pun menyatakan tidak setuju. Menurutnya, organisasi FPI memiliki Prosedur Tetap (Protap) dalam setiap aksinya, yang melarang anggotanya bertindak anarkis. Kalau sampai ada anggota FPI yang terbukti melakukan anarkisme maka, tambahnya, FPI akan menjatuhkan sanksi organisasi yang keras dan akan menyerahkan oknum FPI tersebut kepada aparat kepolisian untuk mempertanggung-jawabkan tindakannya secara pribadi. “Jadi kalau ada oknum anggota FPI yang terbukti bersalah bertindak anarkis, ya silahkan ditangkap untuk diproses hukum. Bukan organisasinya yang mau dibubarkan. Sebab kalau jam 7 FPI dibubarkan, maka jam 7 lewat 5 menit saya bisa bikin ormas baru.” pungkasnya. [KbrNet/adl]
Sumber Berita : http://kabarnet.wordpress.com/2012/02/22/jam-7-00-fpi-dibubarkan-jam-7-05-bikin-ormas-baru/#more-37778

Jumat, 24 Februari 2012

Ajarkan Anak anak Kata Bukan Huruf

Polemik boleh tidaknya mengharuskan siswa Taman Kanak-Kanak membaca, muncul hampir setiap tahun. Ada yang mendukung, ada pula yang menolak tes membaca, menulis, dan berhitung saat anak-anak mendaftar SD. Masing-masing punya argumen dan pendekatan berbeda. Namun mereka sepakat, usia 1-5 merupakan fase emas sebagai kunci pertumbuhan, perkembangan, dan kesuksesan anak di masa datang, sehingga masa-masa ini harus dimanfaatkan secara optimal.


Sesungguhnya pada masa emas itu apa saja boleh diajarkan. Anak ibarat kertas putih, bergantung kepada kita ingin menulis dan menggambar apa. Apakah akan mengutamakan aspek pengetahuan saja atau melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan untuk membangun kecerdasan sosio-emosional. Ini penting untuk mempersiapkan masa depan anak agar lebih kuat menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.


Ajarkan semua dengan pendekatan bermain yang menyenangkan anak, dan tidak memaksa mereka, termasuk untuk membaca. Aktivitas bermain merupakan kunci masa depan, jika berkurang atau terabaikan dikhawatirkan bakal menghambat perkembangan potensi-potensi kemampuan mereka secara optimal kelak. Yang patut diingat, jangan mengajarkan pada anak huruf abjad, tetapi ajarkan kata-kata yang mengandung nilai-nilai kebajikan yang bermakna bagi kehidupannya.


Gunakan pendekatan informal; membacakan buku cerita sambil memperlihatkan gambar dan tulisannya, menempelkan gambar-gambar yang berhubungan dengan huruf atau tulisan pada ruang bermain atau kamar tidur anak. Latih anak meniru bentuk lingkaran, garis, atau huruf tertentu, menelusuri bentuk huruf dengan jari, bermain tebak-tebakan huruf dan angka, atau mengajak mereka menonton film yang bersifat mendidik sekaligus menghibur yang terkait dengan pelajaran baca-tulis.


Jika kita meyakini variabel kecerdasan 50 persen ditentukan saat usia 1-5 tahun, 30 persen hingga usia 8 tahun, dan hanya 20 persen ketika dewasa, jangan sia-siakan masa emas pertumbuhan ini. Menurut Daniel Goleman, keberhasilan seseorang 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan sosio-emosional, dan hanya 20 persen kecerdasan otak (IQ). Maka janganlah kita terjebak pada polemik calistung. Utamakan membangun fondasi kecerdasan sosio-emosional anak-anak kita.


Stimulasi kecerdasan intelektual anak melalui kegiatan baca tulis memang penting, namun lebih bijaksana membentuk kecerdasan sosial-emosional melalui penanaman disiplin, kemandirian, tanggung jawab, dan nilai-nilai budi pekerti untuk membentuk pribadi berkarakter. Pribadi itu teguh memegang prinsip, mampu mengambil keputusan tanpa intervensi pihak lain, kuat meyakini pandangan nilai kebaikan dan berkomitmen atas keputusan yang telah dipilih.
Sumber Berita : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/25/178366/Ajarkan-Anak-anak-Kata-Bukan-Huruf

Keroncong Rohani Anastasia Astutie Menjaga Asa

JAKARTA- Dari mana musik keroncong berasal? Dari Portugis? Bukan. Sekeyakinan sastrawan dan budayawan Remy Silado, musik keroncong adalah asli Indonesia. “Sejarah keroncong yang benar lahir di Tugu, dan tidak berasal dari Portugis,” katanya di Jakarta, belum lama ini dalam rilis Album ke-2 keroncong rohani bahasa Indonesia dan Jawa, Anastasia Astutie Hatiku Percaya, Pitados ing Gusti.

Sebelum sampai di Tugu, Tanjung Priok Jakarta, lanjut Remy, musik keroncong dibawa oleh Merke budak dari Goa. Meski pada mulanya musik keroncong identik dengan Moreska, atau musik bangsa Mor (Bangsa Arab yang beragama Islam). Dan pada mulanya lagi keberadaan keroncong dibuat untuk merukunkan Islam dan Kristen. “Karena itu di Portugis tidak ada keroncong. Karena keroncong asli ada kencrungnya. Dan karenanya, harmoni musik keroncong itu pada mulanya harmoni musik gereja Protestan.” tutur dia.

Keteduhan

Pengajar filsafat dan budayawan Romo Mudji Sutrisno, mengatakan pada perjalanannya lebih jauh,   membuat bahasa Jawa menjadi salah satu penjaga setia musik keroncong. “Sebab musik keroncong membawa keteduhan. Pola musik keroncong pun paling dekat dengan rakyat,” katanya.

Karena itu, ketika tiga legenda keroncong Anastasia Astutie, Waljinah dan Mus Mulyadi merilis album keroncong rohani bahasa Indonesia dan Jawa, Anastasia Astutie  Hatiku Percaya, Pitados ing Gusti, dia menyambut gembira. Sebab, meski mengusung semangat keKristenan dengan lirik-liriknya, secara musikal dimatangkan oleh penata musik dan pemusik Koko Thole, yang dikenal sebagai muslim yang soleh. Via album yang disebar Hosana Music itu, semangat awal dibuatnya musik keroncong sebagai penyatu umat muslim dan nasrani, kembali menguat.

 Mus Mulyadi yang kebagian menyanyikan tiga lagu di album itu tidak berharap banyak. Dia mengatakan, musik keroncong dapat lestari dan dijaga kelangsungannya. Hal senada dikatan Anastasia Astutie, yang mendedikasikan album dalam format CD, DVD dan kaset ini demi kelestarian keroncong sekaligus sebentuk rasa keberserahan dirinya kepada Tuhan.

Album yang merangkum 10 lagu religi ini, dimata Remy bukan berarti tanpa cela. Menurut dia, meski Anastasia mampu menyanyi keroncong dengan sangat baik, tapi tidak semua lagu mampu dia nyanyikan dengan pas dan laras.  (G20-91)
Sumber Berita : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/25/178330/Keroncong-Rohani-Anastasia-Astutie-Menjaga-Asa-

STAOR HUT Kodam Diikuti 56 Peserta

AJANG Slawi Tegal Adventure Off Road (STAOR) 2012 di Kabupaten Tegal, digelar untuk memeriahkan HUT Kodam IV/Diponegoro yang ke-62. Kegiatan tersebut dipandegani oleh Paguyuban Jip Tegal (PJT) dan Kodim 0712/Tegal dengan menggandeng Paguyuban Jip Bandung (PJB). Sedikitnya 56 off roader dari berbagai daerah dan salah satunya dari luar negeri, bakal beraksi menaklukan ganasnya alam di Kabupaten Tegal. Sebelum gelar off road, lomba yang didukung oleh Indonesian Off Road Federation (IOF) Korwil Pekalongan itu diawali dengan bhakti sosial kemasyarakatan.
Ajang sejenis sebelumnya digelar oleh TNI AL, dalam hal ini Lanal Tegal. Meski STAOR kali ini jauh lebih besar, dengan jumlah peserta yang lebih banyak serta lebih beragam daerah asalnya. Tidak menutup kemungkinan, ajang off road berikutnya akan kembali digeber baik di Kota Tegal, Kabupaten Brebes, maupun Kabupaten Pemalang yang memang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tegal. Hal ini mengingat, IOF Korwil Pekalongan sebagai lembaga yang menaungi, sudah mengadakan pendekatan dengan beberapa daerah tersebut.
Para off roader peserta STAOR 2012 dilepas secara resmi oleh Ketua Umum IOF Pusat, Jendral (Purn) Rusman Hadi, di Makodim 0712/Tegal, Jumat (25/2) kemarin. Sehari sebelumnya, peserta harus melalui scrutineering, yakni proses pemeriksaan teknis yang dilakukan secara detail kepada semua kendaraan peserta STAOR 2012. Scrutineering dilaksanakan di Makoyonif 407/Padmakusuma, Kamis (24/2) sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB. Seluruh peserta yang berasal dari beberapa daerah seperti Jakarta, Bandung, Kuningan, Pemalang, dari luar negeri itu, dan daerah lainnya, usai menjalani scrutineering kemudian bermalam dan mengikuti upacara pelepasan keesokan harinya.
Upacara pelepasan sendiri, digelar secara meriah. Usai dilepas, selanjutnya para off roader secara beriringan menuju ke Desa Tamansari Kecamatan Jatinegara. Rencananya, setelah bermalam di Desa Tamansari, sembari menggelar bhakti masyarakat, peserta akan kembali melanjutkan perjalanan hingga finis di Desa Guci Kecamatan Bumijawa, Minggu (26/2) besok.
“Selain menyalurkan hobi dan kesenanagan berolahraga off road, peserta juga ingin lebih dekat dengan masyarakat desa terpencil yang sulit dijangkau,” kata Ketua IOF Korwil Pekalongan, Novel Fatrio, kemarin.
Dikatakan Novel Fatrio, peserta juga bisa menikmati keindahan alam dan peduli lingkungan, sekaligus melakukan bhakti sosial kemasyarakatan di desa terpencil itu. Disamping itu, peserta juga bisa melihat pembangunan jalur off road yang di sebelahnya bisa difungsikan sebagai jalur transportasi warga.
“IOF Korwil Pekalongan bersama sejumlah off roader anggotanya juga membantu masyarakat di desa terpencil dengan membantu membangun jalan dan jembatan sederhana, sekaligus membagikan bingkisan,” ujarnya.
Disisi Lain Pembina kegiatan STAOR 2012 yang juga Dandim 0712/Tegal, Letkol (ARH Elman Nawendra, dalam lapotannya mengatakan, keterlibatan TNI Polri semata agar masyarakat memahami jika lembaga itu juga ingin dekat dan membantu masyarakat. Bahkan sebagai bukti nyata, pihaknya menggalang sumber daya, dalam hal ini para off roader, guna berolahraga sekaligus melakukan bhakti sosial dan pendekatan dengan masyarakat desa terpencil.
Menurut Elman Nawendara, tema kegiatan yang diusung dalam STAOR 2012 ini berkait erat dengan tema HUT Kodam IV/Diponegoro. Adapun tema HUT Kodam ke 62 yakni “Dengan semangat perjuangan Pangeran Diponegoro, prajurit Kodam IV/Diponegoro beserta segenap komponen bangsa mengatasi kesulitan rakyat”.
“Sejalan dengan tema HUT Kodam, STAOR menjadi ajang perwujudan tema tersebut. Sehingga jelas, kegiatan off road tidak semata-mata sebagai penyalur hobi dan kesenangan, melainkan untuk lebih mendekatkan dengan masyarakat terpencil sekaligus memberikan bantuan yang dibutuhkan,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Tegal yang mewakili Pemkab Tegal, Rojikin AH SE, mengaku sangat mendukung kegiatan tersebut. Bahkan dirinya mempersilahkan peserta lomba atau para off roader untuk menikmati alam Kabupaten Tegal, sekaligus berolahraga. Diapun memberikan apresiasi terhadap kiprah yang dilakukan para off roader selama ini. Karena secara tidak langsung, bisa membatu memperkenalkan daerah.
Disamping itu, kiprah kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan dalam STAOR kali ini juga bernilai positif dan membantu masyarkat desa terpencil yang sulit dijangkau kendaraan. Dengan kegiatan STAOR 2012 ini, secara tidak langsung para off roader juga ikut membangun jalur baru yang bisa membantu masyarakat.
“Sudah barang tentu dengan kegiatan ini, Kabupaten Tegal menjadi lebih dikenal di daerah lain,” ucap Rojikin.
Sementara Ketua Umum IOF Pusat, Jendral (Purn) Rusman Hadi, dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap Kodim 0712/Tegal. Sebagai Ketua Umum IOF Pusat, selama ini dirinya diminta oleh sejumlah daerah untuk bisa mengunjungi para off roader.
“Sedikitnya ada delapan daerah yang minta kepada kami untuk ada kegiatan off road di daerahnya,” katanya.
Ditambahkan, dari kegiatan itu dirinya berpesan kepada semua off roader peserta agar mengutamakan keselamatan. Dirinya meminta agar semua kelangkapan dan sarana off road diperhatikan dan benar-benar diteliti kesiapannya secara matang. Hal itu guna menghindari terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan saat melibas alam dalam ber-off road ria.
Hadir dalam pelepasan itu diantaranya Sekjen IOF Pusat, Walikota Tegal, juga pejabat sejumlah daerah, dan petinggi TNI Polri dari berbagai daerah. Pada kesempatan gelar acara pelepsan itu, juga diwarnai dengan pemberian bantuan sembako kepada sejumlah masyarakat di sekitar Makodim 0712/Tegal. (mohammad ghoni)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/STAOR-HUT-Kodam-Diikuti-56-Peserta.html

Wayang Santri jadi Media Dakwah Minimalis

BUNYI gong menggema di Pendapa Ki Entus Susmono di Desa Bengle, Kecamatan Talang, Kabu­paten Tegal pada Kamis malam (23/2). Gema itu menandakan dimulainya pagelaran Wayang Santri de­ngan lakon Abunawas. Ki Entus Sus­mono yang mengenakan gamis putih mulai menancapkan gunungan yang berlambang masjid di atas bola dunia dengan tulisan arab di bawahnya.

Bacaan shalawat yang dinyanyi­kan tiga sinden dengan iringan musik gamelan mulai memecah keheningan. Tokoh Abunawas muncul dan langsung menadahkan tangan menghadap gunungan. Dua tokoh Lupit dan Slenteng selalu ada di belakang Abunawas. Pan­dangan puluhan penonton pecah saat dua tokoh itu berdialog ala Tegalan.
Awal cerita, Abunawas atau Hasan bin Hani merenung karena diminta Khalifah Sultan Harun Al Rasid untuk menjadi hakim. Ayah Abunawas, Hani merupakan seorang hakim di Pemerintahan Irak. Ayahnya telah meninggal, namun saat sakaratul maut, Abunawas menemukan hal ganjil. Telinga kiri ayahnya berbau busuk dan telinga kanannya berbau harum.

Tak Adil

Hal itu membuat Abunawas tidak mau menjadi hakim.  Abunawas bertemu Khalifah Sultan Harun Al Rasid dan meminta agar tidak dijadikan hakim. Sultan marah dan menghukum Abunawas dengan mencambuknya 40 kali. Abunawas dinyatakan gila karena tidak mau menerima tawaran Sultan. Jabatan hakim akhirnya diberikan kepada Bagi. Dalam perjalanannya, Hakim Bagi tidak berbuat adil. Bahkan, mimpinya pun bisa menjadi hukum.
Hakim Bagi bermimpi memiliki seorang menantu. Harta menantunya diambil semuanya sebagai mas kawin. Mimpi itu dinyatakan Hakim Bagi menjadi sebuah aturan. Abunawas mengetahui hal itu, kemudian membakar rumah Hakim Bagi. Abunawas ditangkap dan disidang oleh Sultan. Namun, Abunawas berkilah perbuatan itu buah dari mimpinya.
‘’Jika Hakim Bagi mimpi jadi kenyataan, maka mimpi Abunawas membakar rumah Hakim Bagi bisa jadi kenyataan,’’ kata Slenteng, tokoh yang membela Abunawas.

Akhir cerita, Abunawas dile­paskan. Sedangkan Hakim Bagi dihukum pancung. Pagelaran Wayang Santri selalu diselipkan kata-kata bijak untuk memberikan pencerahan kepada penonton. Guyon renyah Ki Entus menyelimuti cerita Abunawas yang membuat pertunjukan tak monoton.
Usai pentas Ki Entus mengatakan, Wayang Santri merupakan salah satu media dakwah untuk membantu para kiai. Wayang itu memiliki format pendek dengan durasi sekitar 2 jam. Cerita yang disuguhkan berasal dari tokoh-tokoh wali yang bekerja sama dengan para kiai dalam penulisan naskahnya.

‘’Wayang Santri sudah ada sejak 2006 dengan format minimalis, namun baru dipertunjukkan di wila­yah Kabupaten Tegal. Saya ditanggap oleh seorang produser untuk disiarkan di televisi,’’ katanya.
Produser Konten Sinema Masa Kini, Boy Rifai menjelaskan, pi­haknya membuat pagelaran wayang untuk televisi. Hasil pagelaran Ki Entus akan ditawarkan di televisi swasta untuk menjawab keprihatinan siaran televisi selama ini.
‘’Wayang televisi sudah disiarkan di puluhan televisi lokal di luar Jateng. Antusias penonton cukup tinggi,’’ katanya. (Dwi Putra GD-49) 
Sumber Berita : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/25/178269/Wayang-Santri-jadi-Media-Dakwah-Minimalis