Selasa, 14 Agustus 2012

Pengamat : Pernyataan Hidayat Hancurkan PKS

itoday - Pernyataan Hidayat Nur Wahid yang meminta Joko Widodo (Jokowi) menyelesaikan tugasnya sebagai Walikota Solo justru menghancurkan PKS.
"Pernyataan Hidayat itu kontraproduktif. Hidayat sendiri maju sebagai calon gubernur DKI masih menjabat anggota DPR. Ini sama artinya yang dikatakan Hidayat tidak sesuai yang dilakukannya," kata pengamat politik dari Undip Semarang, Susilo Utomo kepada itoday, Selasa (14/8).
Menurut Susilo, pernyataan Hidayat itu akan menghancurkan PKS sendiri. "Harusnya kalau memberikan pernyataan agak rasional. Kalau kayak gitu bisa ditinggalkan kadernya. Kader PKS yang rasional bisa menilai pernyataan Hidayat itu tidak sesuai yang diucapkan," jelasnya.
Selain itu, Susilo menyoroti bergabungnya PKS ke Foke akan menjadi pertaruhan dalam Pemilu 2014. "Kalau Foke kalah dalam Pemilukada DKI, akan menjadi cambuk bagi PKS yang tidak berjalannya mesin politiknya. Dan akan ditinggalkan para pemilihnya dalam Pemilu 2014," ungkap Susilo.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Hidayat Nur Wahid mengatakan, dukungan ke Foke-Nara karena mempunyai komitmen menjalankan pemerintahan sampai selesai.
"Salah satu yang kami tanyakan ke Jokowi, sejauh mana dia berani berkomitmen untuk melaksanakan amanat warga sampai tuntas hingga 2017. Sebab kami punya pengalaman, di Solo kami mendukung beliau, tapi di tengah jalan dia pindah ke Jakarta,” ungkapnya, Sabtu (11/8).
Sumber Berita : http://www.itoday.co.id/politik/pengamat-pernyataan-hidayat-hancurkan-pks

Proyek Vaksin Flu Burung Anas Diduga Nikmati Uang Haram

itoday – Proyek vaksin flu burung bakal menyeret Ketua Umum DPP Partai Demokrat ke ranah hukum. Dari hasil audit Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN), negara diperkirakan alami kerugian sampai 300 miliar rupiah!

Dugaan keterlibatan Anas ini akan dibahas khusus oleh DPR. Pimpinan DPR seperti Marzuki Alie, Priyo Budi Santoso, Pramono Anung, Taufik Kurniawan, Anis Matta dan Sekjen DPR Nining Indra Saleh, bersama BAKN (Badan Akuntabilitas Keuangan Negara) DPR, akan membahas kasus dugaan korupsi Anas ini.

Hal ini diakui oleh anggota BAKN dari Fraksi Demokrat Achsanul Kosasih. Achsanul menakui, hasil audit BPK mengindikasikan keterlibatan Anas. "Memang dari kasus ini ada muncul PT Anugerah Nusantara. Persis seperti kasus Wisma Atlet. Kita lihat sejauh mana," kata Achsanul di sela-sela rapat BAKN dengan pimpinan DPR, di gedung DPR Jakarta, Selasa (14/8).

Seperti diketahui, Anugerah Nusantara adalah perusahaan yang versi Nazaruddin merupakan milik Anas Urbaningrum. Melalui perusahaan ini, Anas diduga turut terlibat dalam sejumlah kasus.

Achsanul menjelaskan, bahwa hasil audit ini belum bisa disimpulkan oleh BAKN. Masih dalam proses pembahasan. Namun, dalam audit BPK tersebut, ada kerugian negara yang ditimbulkan, yakni Rp 300 miliar.*
Sumber Berita : http://www.itoday.co.id/politik/proyek-vaksin-flu-burung-anas-diduga-nikmati-uang-haram-miliaran-rupiah

NU Jauh Lebih Baik Jika Pemimpin DKI Adil Meskipun Nonmuslim

itoday - Tidak ada masalah warga Muslim DKI Jakarta memilih pasangan cagub/cawagub Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama. Warga Muslim juga tidak keberatan jika pemimpin nonMuslim yang menang.

Penegasan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Sirodj menyikapi maraknya isu SARA menjelang Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua. "Pilih Jokowi-Ahok no problem. Ini bukan bentuk dukungan, kita juga tidak keberatan pemimpin nonmuslim menang," tegas Said Agil

Said Agil juga meminta, agar warga ibukota memilih pemimpin yang adil. "Alangkah baiknya, jika seorang pemimpin nonMuslim tapi memiliki rasa keadilan bersama rakyatnya. Ketimbang  pemimpin dzolim yang berasal dari kalangan Muslim.

Menurut Said Agil, jauh lebih baik jika pemimpinnya adil meskipun nonMuslim. "Agar rakyat yang mayoritas Muslim juga akan merasakan keadilan," kata Said Agil pada acara buka bersama wartawan di kantor PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8).
Sumber Berita : http://www.itoday.co.id/politik/nu-jauh-lebih-baik-jika-pemimpin-dki-adil-meskipun-nonmuslim

Jokowi Tak Suka Koalisi Simbolis

Jakarta Kemeja putih yang dikenakannya saat melaksanakan salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, membuat penampilan Joko Widodo (Jokowi) tak terlalu dikenali jemaah. Maklum, selama kampanye putaran pertama pemilihan Gubernur DKI Jakarta, kemeja kotak-kotak merah telanjur melekat padanya. Bahkan para petugas keamanan di Pintu Al-Fattah, pintu utama Istiqlal di seberang Gereja Katedral, pun tak terlalu ngeh Jokowi memasuki arena masjid sejak pukul 11.30 WIB.

“Dia kan enggak pernah pakai protokoler resmi. Malah mungkin sopir busway akan lebih tampan karena pakai jas dibanding dia,” kata si petugas sambil tertawa.

Ya, selama tujuh tahun menjadi Wali Kota Solo, Jokowi dikenal amat bersahaja. Ke mana-mana menyapa warga tanpa pengawalan. Begitu pun selama berkampanye di Jakarta. Jumat lalu, dia memasuki ruang masjid cuma ditemani seorang pengawal dari Kepolisian Daerah Metro Jaya. Ia menenteng sendiri sepatu hitam merek Buccheri ke tempat penitipan.

Kehadiran Jokowi baru disadari banyak orang ketika seorang wartawan berteriak dan mengabadikan momen itu. Puluhan hingga ratusan orang kemudian silih berganti menghampiri, menyalami, mendoakan, atau sekadar berfoto bersama. Aksi mereka ditingkahi rengekan puluhan pengemis yang meminta sedekah kepada Jokowi.

“Waduh... bukan saya tak mau beri, tapi nanti saya disemprit (Panwaslu), dikira kampanye,” ujarnya meminta pengertian kepada para pengemis. Karena menghindari hal-hal sensitif semacam itu, Jokowi sengaja mengenakan kemeja putih saat Jumatan. “Pinginnya sih pakai kotak-kotak terus, tapi apa semuanya senang? Saya enggak ingin memanfaatkan. (Sekarang) enggak pakai kotak-kotak saja tetap dirubung, ha-ha-ha... sombong,” ujarnya.

Dari Istiqlal, Jokowi menuju kawasan Epicentrum di kawasan Kuningan untuk menyaksikan preview film Brandal Brandal Ciliwung. Ia mempersilakan Pesta Sitorus dan Sudrajat dari Detik ikut bersama mobil Kijang Innova yang ditumpanginya. Selama satu jam perjalanan, Jokowi menjawab berbagai pertanyaan, mulai isu SARA yang menerpanya, rencana koalisi, hingga strateginya membangun Jakarta. Berikut ini petikannya.

Ini pertama kali Anda salat Jumat di Istiqlal?

Kalau pas pemilihan gubernur ini, iya. Tapi sebelumnya ya sering kalau pas ke Jakarta.

Enggak takut dibilang pencitraan, termasuk umrah dua pekan lalu?

Aduh... saya itu punya anu, ya, nanti saya dibilang sombong lagi pas puasa-puasa. Di Abu Dhabi proyek saya banyak. Saya juga punya office dan showroom di sana, jadi enggak mau ngomongin umrah di sana. Nanti saya ngomongin malah jadi riya lagi, janganlah. Kemarin saya juga enggak mau ngomong berangkat, tapi ya sudahlah. Karena sudah beberapa kali kami enggak bisa umrah bersama anak, jadi pas kemarin anak-anak bisa, ya sudah, saya berangkat sama anak-istri, tapi ada satu anak yang enggak bisa ikut.

Jadi bukan karena ada isu SARA?

Enggaklah, wong enggak pernah saya pikir soal isu SARA. Tapi mestinya tidak seperti itu. Yang namanya pilkada itu adu visi, adu program, dan adu solusi, sehingga jadi pembelajaran untuk masyarakat.

Sempat terganggu?

Enggak, saya enggak terganggu. Tapi, menurut saya, itu mengganggu masyarakat.

Bagaimana Anda meng-counter tudingan bahwa Ibu nonmuslim dan ayah terlibat PKI?

Ya mau gimana. Saya tahu semuanya yang masuk tentang saya. Tapi mau saya apain? Setelah terekspos mengenai ibu saya, wartawan ramai ke tempat ibu saya. Padahal ibu saya saja enggak pernah saya ikutkan, tapi kemudian media ke sana, ya terserahlah. Tanya langsung saja. Tapi ya mestinya janganlah, Ibu saya kan sudah tua, jangan difitnah seperti itu.

Itu dari sisi Ibu, kalau Ayah?

Ayah saya sudah almarhum. Dulu beliau kerja di swasta, kecil-kecilan. Jualan kayu kecil-kecilan. Ayah saya itu anaknya lurah di sebuah desa di Karanganyar. Kalau ibu adalah anak petani di sebuah desa di Boyolali. Bapak-ibu dan adik saya sudah haji semuanya. Ayah saya dulu mau haji tapi keburu meninggal, terus dihajikan. Saya pada dasarnya enggak senang, enggak mau berbicara itu (silsilah keluarga).

Kecewa karena yang melontarkan Rhoma Irama?

Sangat kaget sebagai seorang penggemar berat.

Bukankah hobi Anda musik rock, kok menggemari Rhoma juga?

Emang rocker enggak boleh dengar dangdut dan keroncong, ha-ha-ha.... Rhoma Irama itu kan dangdut rock, bukan dangdut pop. Semua orang juga ngerti nyanyinya Bang Haji. Semua juga tahu lagunya, dari Begadang, Judi, 135 Juta, Adu Domba, Indonesiaku, Darah Muda, ha-ha-ha.... Dulu saya punya koleksi albumnya, tapi sudah hilang semua. Kalau rock sih masih banyak.

Anda kecewa tokoh idola Anda malah menyudutkan posisi Anda?

Enggak apa-apa saya, ya sudah enggak apa-apa.

***

Ada strategi khusus untuk putaran kedua?

Enggak punya strategi, dari kemarin sama saja kerja kecil-kecilan, dari kampung ke kampung dari RW ke RW. Hanya itu, kok. Itu bukan strategi, tapi menghabiskan tenaga. Sebab, kalau mengundang ke gedung dan ke restoran, kan biayanya besar. Sedangkan kalau datang kan tinggal nyalamin saja, jadi modalnya hanya salaman, ha-ha-ha.... Karena memang kita kan organisasinya juga enggak jelas, tanpa bentuk, dan jalan sendiri-sendiri.

Enggak jelas bagaimana?

Ya, enggak jelas, coba saja cek markasnya di mana. Di Pasar Minggu juga komputernya cuma ada satu. Di tempat lain juga hanya ada satu atau dua. Namanya ini sukarelawan, masyarakat yang mengorganisasi dan mereka bergerak tanpa sebuah organisasi yang masif dan solid. Kami hanya memberikan panduan kecil-kecil. Makanya saya bilang ini hanya kerja kecil-kecil. Kalau kerja besar pakai duit gede, apalagi kalau mau buat strategi, pakai duit yang gede banget. Jadi enggak usah pakai strategi-strategianlah.

Anda yang memang tidak mau?

Bukan enggak mau, saya ini mengerti. Mendesain sebuah strategi dananya dari mana. Yang paling enak dan gratis ya datangi saja ke kampung, salamin. Saya enggak tahu itu efektif atau enggak. Saya koalisinya langsung dengan rakyat, warga, masyarakat, dan dengan partai semuanya. Kalau yang lain nanti di TPS (tempat pemungutan suara) saja, namanya koalisi TPS, ha-ha-ha....

Pak Taufiq Kiemas menyarankan Anda mendatangi para tokoh?

Kan sudah didatangi. Hanya, memang saya tidak mau bersuara-bersuara atau saya keluarkan di koran bahwa saya sudah bertemu kiai ini, tokoh anu. Kan enggak pernah saya begitu. Saya enggak mau meng-endorse diri saya dengan tokoh-tokoh yang dipakai hanya untuk pencitraan. Saya simbolis-simbolis mah enggak (suka). Tapi saya datangi semuanya. Sesepuh yang di sini saya datangi semuanya, tapi tidak mau kami publish memang.

Selain Habib Munzir, siapa lagi?

Banyak, habib-habib yang sudah saya datangi bukan hanya satu-dua atau tiga. Yang kemarin itu memang terekspos, padahal saya enggak bawa (wartawan). Saya hanya mau jenguk beliau sakit, itu saja sebenarnya. Eh tepergok sama media, ha-ha-ha.... Sudah saya datangi semuanya. Hanya, terus terang, saya enggak mau ngomong karena memang saya menjaga tokoh-tokoh itu.

Benarkah Anda menghindari koalisi dengan partai karena minta konsesi tertentu?

Enggaklah, saya ketemu semuanya, kok, tapi saya enggak sebutkan dengan siapa. Golkar dan partai lain saya ketemu, tapi saya memang kerja-kerja senyap saja. Kemarin dengan PKS juga diam-diam, tapi ternyata ada yang kasih tahu tapi enggak tahu siapa. Proses komunikasinya baru proses silaturahmi. Dengan partai yang lain juga seperti itu, kami tetap proses. Tapi, kalau mereka sudah memilih, ya enggak apa-apa, kami hargai. Tapi proses politik itu kami enggak pernah gembar-gemborkan. Dengan PKS kami masih telepon, masih komunikasi.

Di sebuah media dikabarkan PKS minta jatah tiga kepala dinas?

Enggak ada, dengan saya enggak bicara itu, hanya bicara masalah visi Jakarta ini ke depan seperti apa. Itu juga belum rampung karena saya ada acara, Ustad Luthfi (Luthfi Hasan Ishaaq, Presiden PKS) juga ada acara, jadi baru silaturahmi saja, kok.

***

Memasuki Jalan HR Rasuna Said, arus lalu lintas benar-benar padat. Kijang yang kami tumpangi harus merayap. Selain gedung-gedung pencakar langit dan aneka mobil mewah yang ikut merayap, tiang-tiang beton untuk proyek monorel yang mangkrak menjadi pemandangan menarik.

***

Ada yang mengusulkan tiang-tiang itu dibuat jalan layang khusus jalur bus. Anda setuju?

Proyek trem itu kan dibuat oleh orang yang pintar, yang ahli. Mestinya sudah dihitung dan dikalkulasi, kalau harus dimangkrakkan seperti itu, la terus gimana. Keputusan itu kan mestinya sudah berdasarkan sebuah kalkulasi semuanya. Mulai gambar sampai desain dan mestinya studinya sudah komplet. Kalau bolak-balik enggak rampung-rampung, jadinya hanya jadi kajian-kajian dan sebatas studi. Kalau saya, ada blueprint, ya sudah, eksekusi, laksanakan, kawal sesuai dengan waktu yang ditentukan. Proses manajemennya enggak usah berbelit-belit.

Jadi tak setuju dijadikan shelter busway?

Selesaikan (monorel). Kalau mau dijadikan elevated busway dan elevated bus kan beda soal, dan saya enggak pintarlah yang begitu-begitu. Tapi orang pintarnya banyak yang bisa itu.

Proyek monorel mangkrak karena terkait dana perbankan?

Inilah yang namanya kekeliruan cara berpikir. Pemerintah itu pelayanan, bukan cari untung, yang ada sekarang itu berlomba-lomba cari income, PAD (pendapatan asli daerah), dan memberatkan masyarakat. Pemerintah itu melayani, baik di bidang KTP, perizinan, maupun transportasi, itu pelayanan. Jadi paradigma itu harus diubah jadi pelayanan dan kesejahteraan. Kok kita ini malah jadi saling bangga-banggakan masalah PAD, warteg pun jadi dijadikan sumber PAD. Yang kecil-kecil belum bisa bertelur saja sudah dikenai pajak, saya enggak ngerti cara-cara berpikir seperti itu.
Kalau hitung-hitungan soal untung dan rugi, la kita ini swasta atau pemerintah. Saya itu orang bisnis, tapi kalau sudah masuk ke pemerintah, ya pelayanan. Cari untung itu gampang buat saya kalau jadi pemerintah. Saya tiketin orang masuk ke Jakarta, bisa langsung beribu-beribu triliun dapatnya.

Kalau soal parkir liar, bagaimana Anda akan menertibkannya?

Kembali lagi, itu manajemen sistemnya yang harus diperbaiki semuanya. Manajemen sistem harus diperbaiki di semua lini, baik pelayanan KTP, perizinan maupun perparkiran. Itulah gunanya pemimpin, untuk mengatur-atur seperti itu. Karena sistemnya enggak dibangun, ya jadi muncul begitu. Ini tantangan yang jadi menarik kalau bisa diselesaikan dan kita cari solusinya. Enggak usah susah-susahlah. Saya pingin konkretnya saja, misalnya untuk penyelesaian macet, solusinya apa untuk jangka pendek dan jangka panjang. Kalau hanya menunggu monorel dan MRT, kan butuh berapa tahun. Soal preman di Solo juga ada, dulu ada dan sekarang juga ada, tapi kan harus dikurangi yang seperti itu.

Moto Solo adalah The Spirit of Java, Jakarta kira-kira apa?

Begini, untuk membuat slogan, ada prosesnya, yakni partisipasi masyarakat. Jadi dilombakan, bukan ditanyakan kepada saya. Itu dari hasil lomba dan partisipasi masyarakat, ditentukan bersama-sama. Kota sebagai sebuah produk perlu yang namanya management product, positioning, diferensiasi, slogan, trademark, trade-name, perlu yang namanya brand. Jadi jangan terjebak pada sisi administrasi saja dan melupakan bahwa kota itu perlu sebuah city branding, sehingga dikenal.
Kalau orang mau ke Jakarta, sudah tahu, misalnya di sini adalah kota karnaval, kota festival, atau kota fashion muslim, misalnya. Bisa saja itu dibangun, tapi dengan proses partisipasi. Kayak orang mau ke Paris, bayanginnya langsung mode. Itu yang harus diproses, tapi justru itu yang dilupakan. Ide dan gagasan itu akan muncul berbondong-bondong dari masyarakat kalau mereka diajak berpikir memajukan kotanya. Pemimpin itu sebenarnya hanya memotivasi dan menginspirasi. Jangan berpikir yang sulit-sulit, kalau enggak mau yang susah-susah, sederhana saja tapi segera dilaksanakan. Masyarakat itu menunggu yang nyata, yang konkret, bukan menunggu rencana, wacana, atau yang akan datang, ha-ha-ha....

***

Setiba kami di gedung Menara Epicentrum, ternyata tak ada tanda-tanda sukarelawan yang memandu. Si pengundang pun sulit dihubungi. Sambil menanti stafnya berkoordinasi, Jokowi tetap meladeni pertanyaan seputar keluarga dan hobinya.

***

Fisik Anda dari dulu kerempeng seperti ini?

Ya enggak, di Aceh saya dulu gemuk, di atas 60 kilogram. Sekarang 53-54 kilogram karena rajin olahraga. Itu wajib. Olahraganya ya jalan-jalan ke wilayah-wilayah, murah meriah. Joging dan sepedaan juga. Atau sesekali futsal.

Masih kuat sepak bola?

Masihlah, saya masih muda, kok, ha-ha-ha.... Ikutin saya kalau mau, dari pagi sampai pagi ke kampung-kampung. Nah, itu kan tivi-tivi kalau ikutin saya dari pagi, siangnya sudah pada ngglundung. Pengawal-pengawal juga sama, berapa dari Polda ada empat orang yang ngglundung, ha-ha-ha....

Pernah diopname? Sakit sampai korbankan kesehatan?

Hmm, gimana sih ya, saya sampai sekarang paling takut sama dokter. Saya kalau enggak karena pilkada enggak pernah check-up, hahaha.... Enggak pernah sampai sakit keras yang bikin saya harus masuk rumah sakit.
Sumber Berita : http://news.detik.com/read/2012/08/14/071946/1990514/10/jokowi-tak-suka-koalisi-simbolis?991104topnews

Senin, 13 Agustus 2012

Lawan Stres Dengan Meditasi

TEMPO.CO, Jakarta -Setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya. Masalah yang mengakibatkan tekanan jiwa atau stres dapat berasal dari pekerjaan, sekolah, keluarga, ekonomi, dan masalah dalam kehidupan sehari-hari lain. Bagaimana menghadapi stres yang akan berdampak besar pada kesehatan?

Menurut sebuah studi, hanya dengan mempraktekkan meditasi integrative body-mind training atau IBMT selama lima hari manusia akan mendapat peningkatan kesehatan. IBMT berkhasiat mengurangi kortisol atau hormon stres, mampu meningkatkan aliran darah dan aktivitas listrik di otak.

IBMT dapat meningkatkan kualitas pernapasan seseorang, mengurangi tingkat kecemasan, mengurangi tingkat depresi, mengurangi kemarahan dan kelelahan seseorang.

Namun apa itu IBMT?

Ilmu ini dikembangkan pada 1990-an sebagai suatu teknik yang diadopsi dari pengobatan tradisional Cina yang menggabungkan aspek pelatihan meditasi dan kesadaran pikiran serta tubuh. IBMT menekankan pada keseimbangan relaksasi tubuh dengan memfokuskan pikiran seseorang.

Metode ini merupakan kombinasi teknik menenangkan tubuh, mengatur pernapasan, mengatur mental dan imajinasi yang diikuti dengan musik-musik sebagai pendamping.

Menurut penelitian itu, seseorang harus mengikuti instruktur dari rekaman dengan beberapa penyesuaian postur tubuh, praktek cara bernapas, petunjuk gambar, dan pelatihan kesadaran dengan memakai latar belakang musik. Kegiatan ini sebaiknya berlangsung selama 20 menit setiap hari selama 5 hari.
Sumber Berita : http://www.tempo.co/read/news/2012/06/06/060408817/Lawan-Stres-dengan-Meditasi

Kasus Simulator Sim Pemimpin KPK Disadap Polisi

TEMPO.CO, Jakarta - Perang antara Markas Besar Kepolisian Komisi Pemberantasan Korupsi dalam kasus simulator uji Surat Izin Mengemudi (SIM) terus berlangsung.  Genderang perang telah terdengar dari Trunojoyo, tempat Markas Besar Kepolisian.  Hal itu terungkap dalam laporan utama majalah Tempo edisi 13 Agustus 2012 yang berjudul "Mengapa Polisi Bertahan".
Seorang perwira tinggi menyebutkan operasi-operasi gelap telah dilakukan. Di antaranya penyadapan komunikasi pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi. Dari penyadapan itu, ia mengklaim, bisa diketahui siapa pemimpin KPK yang paling getol mendorong pengusutan perkara di Kepolisian. Penguntitan terhadap beberapa petugas Komisi Pemberantasan Korupsi juga dilakukan. "Peluru" untuk membidik pemimpin KPK juga disiapkan. Kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan mereka pada masa lalu ditelisik kembali.
Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar, Kepala Biro Penerangan Markas Besar Polri, mengatakan tidak bisa mengomentari soal itu. "Saya baru tahu dari Anda," ujarnya kepada Elliza Hamzah dari Tempo.
Petinggi Kepolisian rupanya mati-matian menahan agar kasus korupsi simulator di Korps Lalu Lintas tidak sepenuhnya disidik Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebab, jika itu dilakukan, penyimpangan pada proyek-proyek sejenis di Korps Lalu Lintas akan juga terbongkar. "Ada banyak proyek yang nilainya ratusan miliar," kata seorang perwira polisi.
Selama ini, Markas Besar Kepolisian memperoleh kemudahan dalam proyek pengadaan menggunakan dana alokasi penerimaan negara bukan pajak. Sepanjang 2011, pagu pos ini di dalam daftar isian proyek Polri tercatat Rp 3,12 triliun--melompat 74,4 persen dari tahun sebelumnya, Rp 1,79 triliun.
Kementerian Keuangan mengizinkan Kepolisian menggunakan langsung 90 persen penerimaan yang berasal dari pengurusan surat izin mengemudi, surat tanda nomor kendaraan, buku pemilik kendaraan bermotor, tanda nomor kendaraan bermotor, juga mutasi antardaerah. "Dana ini yang dipakai untuk membiayai sejumlah pengadaan di Korps Lalu Lintas," kata seorang sumber.
Pada 2011, Korps Lalu Lintas juga menangani pengadaan material tanda nomor kendaraan bermotor senilai Rp 702,5 miliar. Proyek ini digarap Primer Koperasi Polisi (Primkoppol) Direktorat Lalu Lintas. Belakangan, seluruh pengadaan bahan baku pelat nomor kendaraan ini diserahkan ke Budi Susanto, Direktur Utama PT Citra Mandiri Metalindo Abadi. Dalam wawancara dengan Tempo pada Mei lalu, Budi membenarkan soal ini. "Saya dan Primkoppol bekerja sama," ujar pemilik perusahaan peleburan aluminium di Kilometer 57, Kerawang, Jawa Barat, ini.
Ada juga pengadaan surat tanda coba kendaraan senilai Rp 75,17 miliar, pendukung surat izin mengemudi Rp 210 miliar, dan mutasi luar daerah Rp 21,3 miliar. Seluruh pengadaan ini dikhawatirkan akan juga diusut Komisi Pemberantasan Korupsi dalam pengembangan perkara korupsi simulator kemudi. "Ini berbahaya bagi banyak petinggi Polri," katanya.
Seorang perwira polisi mengatakan, selama ini, Korps Lalu Lintas menjadi sumber pemasukan gelap banyak pejabat. Ia menyebutkan Korps Lalu Lintas merupakan "gerbang uang sejumlah jenderal".
Kepada wartawan, Jenderal Timur Pradopo memastikan akan mengusut semua petinggi Kepolisian yang terlibat. "Kalau ada keterangan saksi dan bukti yang mendukung, akan kami telusuri," ujarnya.
SETRI YASA | TRI SUHARMAN | ANGGITA | AYU PRIMA
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/kasus-simulator-sim-pemimpin-kpk-disadap-polisi-044455067.html

Raskin ke 13 Digelontorkan

KRAMAT - Beras untuk masyarakat miskin (Raskin) ke - 13, sudah mulai digelontorkan sejak kemarin. Penggelontoran kali ini, khusus untuk rumah tangga sasaran (RTS) di wilayah Kabupaten Tegal.
Kepala Gudang Bulog 601 Larangan, Kramat, Sub Drive Wilayah VI Pekalongan, Suprapto, menjelaskan, penggelontoran raskin dimulai sejak hari Kamis (9/8) hingga selesai. Hal ini mendasari Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Tengah Nomor : 511/13542, tanggal 2 Agustus 2012 perihal tambahan pagu raskin ke-13 tahun 2012. Adapun alokasi raskin ini, untuk 108.822 RTS dengan jumlah kuantum 1.632.330 kilogram (Kg).
"Bulan ini khusus untuk Kabupaten Tegal saja. Sementara untuk Kota Tegal, direncanakan bulan depan," kata Suprapto, kemarin.
Penggelontoran raskin diutamakan bagi masyarakat yang sudah melunasi droping raskin reguler di bulan Agustus. Apabila masih ada tunggakan, terpaksa raskin ke-13 dipending sampai dengan hasil penjualan beras (HPB) dilunasi. Pelunasan bisa melalui satgas raskin di setiap kecamatan atau langsung ke bulog setempat.
"Di Kabupaten Tegal, ada 18 kecamatan yang akan di droping raskin ke -13. Dari jumlah itu, belum seluruhnya HPB bulan Agustus lunas," ujarnya.
Untuk itu, lanjut Suprapto, pihaknya meminta agar raskin Agustus segera di lunasi. Sehingga, raskin tidak menumpuk dengan bulan berikutnya. Dia mengatakan, target penggelontoran raskin ke 13 ini, sebelum lebaran harus sudah selesai. Adapun jadwal penggelontoran itu, dia menyebutkan ada tiga kecamatan yang mengawalinya. Yakni, Kecamatan Dukuhturi sebanyak 4.506 RTS dengan jumlah kuantum 67.590 Kg, Kecamatan Warureja sebanyak 5.081 RTS dengan jumlah kuantum 76.215 Kg, dan Kecamatan Slawi sebanyak 3.806 RTS dengan jumlah kuantum 57.090 Kg.
"Itu sudah kami gelontorkan sejak minggu kemarin," imbuhnya.
Berikutnya, kata Suprapto, Kecamatan Pangkah sebanyak 7.482 RTS dengan jumlah kuantum 112.230 Kg, Kecamatan Talang 5.101 RTS dengan jumlah kuantum 76.515 Kg, dan Kecamatan Adiwerna 6.362 RTS dengan jumlah kuantum 95.430 Kg. "Penggelontoran di tiga kecamatan itu, dimulai sejak tanggal 10 Agustus kemarin," sambung Suprapto lagi.
Kemudian tanggal 13 Agustus, pihaknya akan menggelontorkan ke Kecamatan Bojong sebanyak 7.666 RTS dengan jumlah kuantum 114.990 Kg, Kecamatan Dukuhwaru 4.357 RTS dengan jumlah kuantum 65.355 Kg, dan Kecamatan Suradadi 6.410 RTS dengan jumlah kuantum 96.150 Kg.
Jadwal selanjutnya, Selasa 14 Agustus, ke Kecamatan Balapulang sebanyak 9.213 RTS dengan jumlah kuantum 138.195 Kg, Kecamatan Lebaksiu 6.970 RTS dengan jumlah kuantum 104.550 Kg, dan Kecamatan Tarub 6.505 RTS dengan jumlah kuantum 97.575 Kg.
Berikutnya tanggal 15 Agustus, raskin digelontorkan ke Kecamatan Jatinegara sebanyak 5.558 RTS dengan jumlah kuantum 83.370 Kg, Kecamatan Kramat 4.102 RTS dengan jumlah kuantum 61.530 Kg, dan Kecamatan Pagerbarang 3.161 RTS dengan jumlah kuantum 47.415 Kg. Sedangkan jadwal yang terakhir, pihaknya akan menggelontorkan pada 16 Agustus ke wilayah Kecamatan Margasari sebanyak 8.577 RTS dengan jumlah kuantum 128.655 Kg, Kecamatan Bumijawa 9.697 RTS dengan jumlah raskin 145.455 Kg, dan Kecamatan Kedungbanteng 4.268 dengan jumlah kuantum 64.020 Kg.
"Yang sudah melunasi HPB, hanya beberapa kecamatan saja. Diantaranya Slawi, Pangkah dan Dukuhturi. Sementara kecamatan lainnya, ada sebagian desa yang belum melunasi," ujarnya.
STOK AMAN
Lebih jauh dia menjelaskan, stok raskin di gudang Bulog Larangan, saat ini dalam kondisi aman. Jumlah stok mencapai 15 ribu ton setara berat. Menurut dia, stok tersebut dapat memenuhi kebutuhan hingga 8 bulan ke depan. Dia meminta, apabila ada raskin yang berkualitas jelek, supaya segera melaporkan ke bulog setempat. Pihaknya berjanji akan menggantinya dengan raskin yang berkualitas bagus. "Kami selalu mengutamakan pelayanan kualitas raskin. Bahkan, setiap kami akan droping ke RTS, raskin selalu kami cek hingga berulang kali," tutupnya. (yer) 
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Raskin-ke-13-Digelontorkan.html