Minggu, 26 Juni 2011

Ikon Agrowisata Unggulan

SEBAGAI perusahaan, PT Tambi terus berbenah dengan mengembangkan fasilitas yang ada. Sejak 2010, perusahaan teh ini dikelola Pemerintah Daerah Wonosobo dan PT Indo Global Galang Pamitra Jakarta yang ikut memiliki saham. Keuntungan dibagi 50 persen untuk pemerintah dan 50 persen untuk perusahaan pemegang saham.

Direktur Utama PT Perkebunan Tambi, Hj Sri Wahyuni SE MM mengemukakan pengembangan fasilitas agrowisata diambilkan dari keuntungan perusahaan. Menurutnya perbaikan fasilitas wisata hanya bisa dilakukan secara bertahap sehingga membutuhkan waktu dalam penataan agrowisata Tambi sebagai ikon wisata unggulan yang sejajar.”Agrowisata Tambi terus kami kembangkan menjadi ikon wisata unggulan,” katanya.

Kendala yang masih ada adalah keterbatasan dana dalam jumlah besar untuk pengembangan. Pasalnya, pengembangan sejurus dengan keuntungan yang dihasilkan perusahaan.
Sri Wahyuni mengatakan pihaknya merencanakan di objek wisata Perkebunan Tambi ditanami bunga hias karena hal itu cukup potensial.
Dia mencontohkan pada masa kejayaan PT Dieng Jaya, dahulu di sekitarnya ada tanaman bunga yang sangat menarik dan sempat diminati banyak wisatawan.”Tanaman-tanaman hias bagus banget untuk dikembangkan di Agrowisata Tambi,” ungkapnya.

Selain itu, pada 2011 dilakukan pengembangan sarana ibadah di Agrowisata. Arena bermain di sekeliling kebun teh juga akan dibangun dan dilengkapi. ”Saat ini yang kurang adalah cinderamata karena objek wisata identik dengan kenangan, seperti kaus tentang teh dan yang khas untuk perkebunan teh,” kata dia.

Sarana Jalan

Dia mengatakan kendala yang ada sebenarnya adalah sarana jalan, namun mulai 2011 sudah diperbaiki sampai lokasi agrowisata. Hanya saja, imbuhnya, akses jalan menuju wisata dari arah Temanggung masih banyak yang belum diperbaiki sehingga belum maksimal untuk menggaet wisatawan dari jalur tersebut.
”Mudah-mudahan ke arah Temanggung akses diperbaiki karena sebagian wisatawan lewat Temanggung. Alasannya jaraknya lebih dekat,” paparnya.

Kendala lain yang masih dirasakan di Agrowisata Tambi adalah masih adanya gangguan komunikasi di beberapa titik. Dia mengatakan kalau di puncak agrowisata selama ini menggunakan handy talky (HT), sedangkan di bawah pakai handphone.(Edy Purnomo-47)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/26 Juni 2011

Sensasi Alami di Kebun Teh Tambi

BERLIBUR di pusat-pusat perbelanjaan sudah sangat biasa, apalagi hanya di seputar kota sendiri.Bagi orang-orang petualang yang haus dengan pemandangan alam, Agrowisata Kebun Teh Tambi Wonosobo bisa menjadi tawaran alternatif wisata keluarga dan institusi perkantoran.

Di lokasi ini pula, pengunjung bisa diingatkan masa kejayaan penjajahan Belanda di Indonesia. Kebun Teh Tambi yang secara administratif berada di Desa Tambi, Kecamatan Kejajar pada zaman Belanda dijadikan lumbung utama pemasok teh ke negara kincir itu.

Saat ini PT Perkebunan Tambi terus dikembangkan sehingga tidak hanya memproduksi teh namun menjadi agrowisata unggulan. Bahkan, saat ini ikon yang tersebar hampir setara dengan kejayaan wisata Dieng. Dengan total luasan lahan 825 hektare, ada tiga lokasi yang ditawarkan menjadi objek wisata.

Satu unit perkebunan (UP) berada di Desa Tlogomulyo Kecamatan Kertek yang diberi nama UP Bedakah. Dengan ketinggian 1.240 di atas permukaan laut (dpl) dan luas 304 hektare, UP Bedakah memberikan sensasi tersendiri sehingga banyak didatangi muda-mudi yang memadu kasih. Untuk ke UP Bedakah, pengunjung bisa masuk secara gratis.

Adapun yang kedua yakni di UP Tanjungsari tepatnya di Desa Sedayu Kecamatan Kalikajar. Lahan perkebunan seluas 204 hektare ini juga menawarkan pemandangan masih alami. Karena letaknya di jalur besar Wonosobo-Purworejo, di lokasi inilah biasanya wisatawan paket dari Yogyakarta menyempatkan mampir.

Menurut Kepala Seksi Operasional Agrowisata PT Tambi, Titik Zubaedah, salah satu objek wisata yang banyak diminati untuk berlibur dan menginap adalah Agrowisata Tambi yang berada di Desa Tambi Kejajar. Di perkebunan ini wisatawan bisa menikmati fasilitas pondok penginapan, gedung pertemuan, restorasi dan jasa permainan outbound.
”Musim liburan seperti sekarang kunjungan membeludak, harus pesan jauh-jauh hari,” katanya.

Titik menjelaskan perkebunan teh Tambi sudah menjadi tujuan wisata utama sejumlah siswa dan pegawai perkantoran. Dalam sepekan ini tingkat kunjungan sudah dipadati seperti dari SDN Mlipak, SDN Wonolelo, SMA Melati Yogyakarta, dan mahasiswa Universitas Negeri Semarang.

”Dalam bulan ini sekolah luar biasa dari Jakarta juga sudah pesan paket liburan,” ungkapnya.
Kebutuhan wisata anak-anak sekolah meningkat karena di lokasi ini disiapkan pemandu wisata edukasi yang bersedia menjelaskan secara detail proses pemetikan daun teh hingga produksi. Para wisatawan juga dipandu berkeliling ke areal wisata perkebunan yang menghampar di sekitar pabrik teh.

Titik menghitung kunjungan wisata ke Agrowisata Tambi bulan Januari-Mei 2011 sudah ada sebanyak 4.500 orang pengunjung. Sebagian besar mereka adalah wisatawan yang merencanakan kunjungan pada beberapa bulan sebelumnya. Kunjungan sempat sepi saat terjadi isu persebaran gas beracun dari Kawah Timbang Banjarnegara pada akhir bulan Mei lalu.

”Waktu kejadian gas di Kawah Timbang, sejumlah wisatawan banyak yang membatalkan pesanan,” terangnya.
10.000 Orang
Rata-rata dalam setahun, menurut Titik, tingkat kunjungan wisatawan ke Agrowisata Tambi sebanyak 10.000 orang. Dengan sejumlah fasilitas baru yang dibangun tahun 2011 diharapkan kunjungan bisa naik sebesar 10 persen dari tahun-tahun sebelumnya. 

Pada hari-hari besar nasional dan keagamaan, menurutnya, juga dilakukan persiapan yang matang dalam menyediakan fasilitas tiap objek wisata. Perawatan lingkungan agrowisata seperti pertamanan dan perkebunan juga menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh belasan karyawan yang ada.
Koordinator guru siswa SDIT Insan Mulia Wonosobo, Yayuk Sri Lestari, mengemukakan anak didiknya setiap sebulan sekali mengadakan pembelajaran luar kelas di kebun teh. Menurutnya model tersebut sangat efektif untuk mengajarkan materi sekolah sambil bermain.

”Para siswa juga bisa mensyukuri keindahan alam yang diciptakan Tuhan,” katanya.
Dia menambahkan ada perubahan yang signifikan dalam menangkap materi pelajaran saat proses kegiatan belajar dilaksanakan di alam. Dia mengharapkan pengelola Agrowisata Tambi menyediakan museum teh yang berisi tentang sejarah teh dari berbagai dunia supaya siswa mempunyai wawasan luas.

Pengamat Lingkungan dan Tata Ruang Universitas Sain Alquran (Unsiq) Wonosobo, Nurul Mubin MSi, mengatakan keberadaan perkebunan Teh Tambi sangat membantu kelestarian alam dan ikon wisata. Menurutnya, perkebunan itu sudah didesain oleh kolonial Belanda sebagai salah satu kawasan strategis peyangga perekonomian dan wisata.(47)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/26 Juni 2011

Batu Sentuhan Tuhan

BATU, seperti juga pasir, air,  tanah, pohon, dan semua ”produk” Tuhan diyakini memiliki ”nyawa”. Pohon itu ”bernyawa” karena ia bisa tumbuh besar, sangat besar, dan akhirnya menuju kematian. Jika ada sumber air yang cukup, tak disentuh oleh tangan jahil, dan tidak terlanda badai dan gempa, ia akan terus tumbuh dan membesar. Karena itu, berbeda dari manusia, umur pohon bisa mencapai ratusan, bahkan ribuan tahun.  Seperti  hari ini kita masih bisa menyaksikan pohon tertua di dunia, yakni Pohon Ek Plm di Kalifornia yang diperkirakan berusia 13.000 tahun.  Ada juga pohon Jhomonsugi di Yakushima, Jepang, yang diperkirakan berumur 7.200 tahun. Karena bisa tumbuh dan berkembang, ia hampir dipastikan punya ”nyawa”.
Lalu bagaimana batuk akik? Seperti juga ”produk” Tuhan yang lain, batu ini juga diyakini memiliki ”nyawa”. Entah karena pengaruh cuaca, pancaran sinar mahatari, atau alam semesta, batu ini  beraneka warna. Ada hijau, kuning, merah, putih, biru, dan hampir semua warna. Batu yang paling tua, biasanya masuk kategori berlian. Dari sudut pandang agama, batu yang berwarna-warna tersebut menjadi sedemikian rupa akibat sentuhan Tuhan.  Seperti pohon yang memiliki gurat-gurat jelek, maupun indah, semua lahir dari tangan-Nya.
Karena itu keindahan batu dengan segala aneka gurat emas, perak, lembayung, dan lain-lain terjadi karena ada ungkapan, ”Kun fayakun....” dari Tuhan.  Ini sentuhan langsung dari Tuhan.
Ada sentuhan tidak langsung dan manusialah yang menjadi alat Tuhan. Lahirlah kemudian berbagai macam patung dan lukisan kelas wahid yang lahir dari tangan-tangan terampil Michel Angelo, Salvador Dali, Raden Saleh, Afandi, dan sebagainya.  Mereka menjadi alat Tuhan. Dan mereka melukis semua kebesaran produk Tuhan, entah berupa hewan, pemandangan yang indah, ayam sedang berlaga, atau ”Monalisa”. Kuda berlari di tangan Salvador Dali sedemikian ”hidup” dan dahsyat serta dikagumi mereka yang memiliki selera seni tinggi. Lalu, apa salahnya jika seseorang mengagumi ”lukisan” Allah langsung seperti yang terpahat cantik di bongkahan-kongkahan batu kecil yang bernama akik. Lukisan Allah di batu safir, mirah, topaz, sulaiman, yang bukan hanya patut dikagumi, tetapi bahkan ”harus” dikagumi.
Allah menggurat salah satu batu safir nan cantik dan memesona yang ditatah menjadi cicin Lady Diana dan kemudian dikenakan oleh istri Pangeran William, Kate Midleton. Jika tak memiliki unsur cantik dan memesona, siapa yang mau menjadi ”pewaris”?
Seperti ada hujan emas di batu akik. Terlihat terang benderang, dan jernih. Tetesan air hujan terlihat kuning keemasan. Lalu, para penggemar akik menyebutnya ”udan emas”. Siapa yang ”melukis”? Nah, penggemar akik pun memberikan asosiasi, bahwa ”udan emas” itu jika dipakai seseorang dan diberkati Allah, maka akan melancarkan rezeki.
Jika kemudian yang terjadi memang demikian, maka bekah Tuhan bekerja. Manakala tidak, ya hanya sebatas sebongkah batu kecil dan meski dikenakan selama hidup pun  bisa saja tetap miskin. Diyakini Tuhan memberkati semua ”produk”-Nya sendiri. Jadi, manakala berkat Tuhan bekerja di pohon, di batu Ponari (Jombang), batu akik pejabat, pengusaha, maka tidak ada yang salah.
Seperti orang memakai kacamata, sepatu, ikat pinggang, gelang, kalung dan sebagainya hampir dipastikanmengenakan akik pun dengan pertimbangan kepantasan sebagai aksesori.  Syukur menambah kecantikan, kegantengan, kemegahan, dan lain-lain. Jika seorang merasa sreg mengenakan safir biru, misalnya, dan dia merasa ”nyaman”, itu sama artinya dia memakai pakaian dengan pertimbangan sreg dan nyaman. Karena itu, sebenarnya terlalu jauh menghubungkan akik dengan syirik. Menikmati keindahan Allah di sebongkah akik tentu tak ada yang salah bukan? (33) 
l  Hendro Basuki
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/26 Juni 2011

Darsem Bebas dari Qisas

AKARTA-Tidak mau kecolongan lagi seperti kasus Ruyati yang dihukum pancung, pemerintah cepat-cepat membayar diyat Rp 4,7 miliar untuk Darsem. Uang telah dibayarkan KBRI di Riyadh ke pengadilan.

Hakim pun sudah menandatangani surat pembebasan Darsem dari hukuman mati.
”Tiga Hakim di pengadilan telah membuat keputusan bebas qisas,” kata juru bicara Kemlu, Michael Tene dalam keterangannya, Sabtu (25/6).

Pembayaran dilakukan resmi pada hari ini (kemarin-Red) oleh KBRI ke keluarga majikan Darsem melalui Ketua Lembaga Lajnah Islah yang mengurusi diyat. ”Secara resmi telah menyerahkan uang cek diyat. Dengan demikian bebas dari qisas yang ditetapkan melalui keputusan hakim,” terang Michael.

Namun, Darsem tetap meringkuk di tahanan. Dia akan menjalani hukuman. Namun, masih terbuka kemungkinan Darsem segera dibebaskan.

”Bebas murni terbuka, namun belum bisa dipastikan,” kata juru ichael Tene. KBRI Riyadh, lanjutnya akan mengupayakan agar Darsem bisa segera bebas dari hukuman bui. ”KBRI mengupayakan pembebasan,” jelas Michael.
Uang diyat yang dibayarkan hanya membebaskan Darsem dari hukuman pancung. Namun tidak dari hukuman fisik, kuat dugaan dia kan di penjara hingga hitungan tahun di Arab Saudi.
”Untuk tuntutan publik belum lepas,” tutur Michael.

Darsem divonis bersalah telah membunuh saudara pria majikannya di Arab Saudi. Pembunuhan itu terpaksa dilakukan sebagai upaya membela diri karena pria tersebut akan memperkosanya, pada Desember 2008. Oleh pengadilan Arab Saudi, dia dijatuhi hukuman mati.

Langgar

Sementara itu pembentukan Satgas TKI oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan moratorium TKI yang akan diberlakukan Agustus masih menuai kritik. Selain dinilai bukan langkah politik kongkrit dan hanya solusi instan, keputusan itu juga dinilai melanggar hak-hak asasi buruh.   
Menurut analis Migrant Care Wahyu Susilo, pembentukan satgas ini dinilai sebagai solusi instan dan hafalan karena SBY sebelumnya cukup sering membentuk satgas-satgas untuk mengatasi suatu permasalahan.

Menurut Wahyu, kebiasaan presiden membentuk Satgas tidak bisa selalu dipandang sebagai sesuatu yang positif. Wahyu menganggap perlu dilakukan langkah politik yang kongkrit yang dilakukan langsung oleh Presiden SBY.
”Kalau sekarang bikin Satgas, saya pikir mengulang hal yang sama. Perlu political action yang kongkrit dari SBY. Seperti mendatangi Raja Arab Saudi,” paparnya dalam diskusi di Jakarta kemarin.

Sementara itu untuk memperbaiki kinerja membela WNI yang terancam hukuman mati di luar negeri, Solidaritas Perempuan mengeluhkan dampak moratorium pengiriman TKI
Komunitas Solidaritas Perempuan (SP), Mendesak SBY agar membatalkan moratorium TKI yang akan diberlakukan Agustus nanti. Mereka juga menyarankan agar SBY lebih mengedepankan perspektif HAM dalam mengelola sistem perlindungan buruh migran Indonesia.

”Moratorium justru melanggar HAM buruh migran karena menghalangi buruh migran untuk bermigrasi,” kata Ketua Badan Eksekutif Nasional SP, Risma Umar terpisah.
Menurutnya, kebijakan pemerintah mengeluarkan moratorium malah membuat hak warga negara untuk meraih pekerjaan yang layak semakin sempit.
”Moratorium merupakan kebijakan yang semakin menguatkan pelanggaran hak warga negara untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak,” tegasnya.

Solidaritas Perempuan juga menyatakan, ditengah sulitnya lapangan pekerjaan, moratorium bisa menambah jumlah pengangguran wanita. Dan meningkatkan arus migrasi buruh Indonesia ke luar negeri melalui jalur-jalur tidak resmi.
”Kebijakan moratorium di saat maraknya PHK dan sulitnya lapangan kerja di dalam negeri menyebabkan perempuan Indonesia terperangkap pada situasi pemiskinan dan kehilangan kontrol untuk menopang beban hidup dan keluarganya,” terang Risma.

Prof Sulistyowati Irianto pengamat masalah gender Universitas Indonesia mengatakan, migrasi merupakan hak azasi manusia yang harus dihormati, dan banyak sekali jalan yang bisa dilakukan pemerintah untuk melindungi TKI daripada melarang warga negaranya melakukan migrasi demi perbaikan nasib.
 ”Yang terpenting adalah adanya akses keadilan, dan bantuan hukum kepada para TKI kita. Adil sejak dari penyusunan kontrak, juga bantuan hukum yang mencapai mereka,” katanya.

Indonesia, menurutnya, bisa mengoptimalkan bargaining power terhadap negara Arab. Namun juga harus dibenahi pelatihan TKI di dalam negeri. ”Juga harus dipahamkan bahwa kenyataannya orang Arab itu memang meremehkan buruh migran. Makanya kita harus mengirimkan TKI yang mampu bekerja di sektor formal yang lebih dipandang orang Arab daripada PRT (sektor informal) yang sering dianggap orang rendahan dan rentan diperlakukan semena-mena,” katanya.

Ajak Kades

Sementara itu Menakertrans Muhaimin Iskandar meminta para Kepala Desa dan Camat ikut membantu mencegah berangkat ke Luar Negeri TKI yang tak berkualitas. Peran ini harus dilakukan untuk mengimbangi iming-iming gaji  besar yang sering disosialisasikan oleh para calo tenaga kerja. Muhaimin juga meminta peran ulama untuk kembali mensosialisasikan fatwa MUI. Pasalnya, sejak sejak 1980-an sudah ada fatwa MUI yang melarang jadi TKW ke Luar Negeri. Tapi seruan dan fatwa itu tidak bisa membendung logika ekonomi rakyat yang miskin. ”Tapi tetap sosialisasikan lagi saja,” kata Muhaimin dalam acara Dialog Polemik bertema Nasib Ruyati dan Harga Diri Negeri di Warung Daun Cikini kemarin.

Muhaimin juga berjanji akan menggunakan  ”tangan besi” terhadap PJTKI yang masih melakukan penempatan dan pengikatan kontrak yang merugikan dan menjerumuskan TKI.
Muhaimin lebih jauh mengatakan bahwa data terakhir menyebutkan bahwa 47 persen TKI  di LN berpendidikan SD dan ke bawah. Hal ini menyebabkan bargaining power TKI rendah, sehingga tidak bisa masuk sektor formal dengan kualifikasi tertentu.

”Kita ingin TKI yang bekerja punya pendidikan dan keahlian dan mampu bekerja di  sektor formal.”
Dalam kesempatan yang sama, Imas, TKI asal Majalengka Jawa Barat meminta Muhaimin peduli akan nasib TKI yang berprofesi PRT agar tidak bernasib seperti dirinya.
”Saya pernah kerja di Kuwait, pertama kerja di majikan yang galak, gampang mukul dan nendang. Saya mengadu ke KBRI, tapi diminta diselesaikan ke agensi. Sama agensi saya dijual lagi ke majikan lain, bahkan mau diperkosa sama majikan yang baru. Saya minta nasib kami dilindungi,” kata Imas.

Muhaimin juga mengatakan, perlindunga terhadap TKI tak bisa berdiri sendiri. Perlu kerjasama berbagai pihak lintas sektor agar hal ini bisa efektif. Menurutnya pemerintah sudah meminta Arab Saudi agar memperlakukan TKI yang bekerja disana sebagaimana layaknya pekerja formal lainnya. Juga jangan ada lagi TKI yang tinggal di rumah majikan sehingga harus kerja hampir 24 jam.

”Kalau bisa nanti mereka kerja dengan jam yang ditentukan. Tapi mereka pulang pergi dari pondokkan ke rumah majikan. Namun proses ini tidak mudah, tapi tetap kita harus melakukannya,” katanya.(F4,dtc-80)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/26 Januari 2011

Anggaran Dana Koperasi Minim

SLAWI - Dibanding tahun sebelumnya, alokasi dana anggaran untuk mendongkrak sektor koperasi tahun 2011 kali ini mengalami penurunan. Bila di tahun 2010 ada kucuran dana sekitar Rp 150 juta, nominal tersebut merosot di tahun, hanya sekitar Rp 80 juta.
Kepala Dinas Koperasi , UKM, dan Pasar, Drs Abasari Mhum mengatakan, dengan keterbatasan alokasi dana bantuan yang ada pihaknya akan berupaya memfokuskan kucuran bantuan permodalan pada koperasi yang benar- benar sehat.  "Bantuan yang ada akan kami alokasikan secara fariatif dari segi besaran nominal, khusus untuk koperasi yang benar-benar sehat. Ini mengingat dari jumlah koperasi yang sempat terdaftar se Kabupaten Tegal berjumlah 535 buah," terangnya, Jumat ( 24/6).
Dia tak menampik koperasi skala kelompok besar seperti KUD yang dulu sempat menjadi primadona sekarang ini banyak sekali mengalami penurunan, baik dari segi anggota maupun upaya pengembangan permodalan. Dari realita ini pihaknya terpanggil untuk mencoba melakukan pembinaan kembali secara bertahap dengan mengambil beberapa sample KUD yang sudah terpuruk.  "Masalah krusial dalam KUD sebenarnya banyak disebabkan pada faktor managerial. Dimana orang yang tidak mempunyai kemampuan di dalam mengurus justru dipilih anggotanya karena kedekatan semata. Jadi mereka dipilih menjadi ketua bukan karena kemampuan skill managerial yang mumpuni," terangnya.
Diapun mengakui upaya pembinaan terhadap koperasi selama ini secara kontinue tetap dijalankan khususnya terkait pembinaan administrasi manajemen lewat pelatihan-pelatihan yang digelar ditingkat provinsi maupun kabupaten. Termasuk didalamnya menggandeng dengan pengelola diklat keuangan.
Khusus bantuan permodalan sendiri, selain mendapat kucuran dari APBD II , pihak provinsi juga memfasilitasi dari  Kementrian Koperasi dan UMKM. Dan menyambut hari koperasi sendiri pihaknya juga berupaya membuka wawasan para pekerja koperasi lewat gelaran seminar koperasi yang fokus mengulas peran koperasi dalam mendongkrak industri di daerah. Dimana dalam seminar nanti akan didukung Dikopinda dan Dewan Koperasi Kabupaten Tegal.  "Diharapkan dengan seminar ini sedikit banyak bisa menjadi bahan referensi teman-teman di koperasi dalam menata kembali perannya ditengah masyarakat," ujarnya. (her)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/24 Juni 2011

Berbhakti Nyata dan Bermakna Bagi Bangsa

TUJUH jiwa yang bersemayam di hati Anak Alam Nusantara (AAN), putera dari Perguruan Argasonya Tegal, selalu mengutamakan kiprahnya untuk bangsa dan negara. AAN yang merupakan generasi muda perguruan itu, aktivitas rutinnya berada di Padepokan Wulan Tumanggal Desa Dukuh Tengah Bojong. Semboyan dan keinginan mereka selalu berkiprah nyata bagi bangsa dan negara yang berlandaskan Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 45.
Semboyan itu sepertinya harga mati pagi seluruh putera Padepokan Wulan Tumanggal Bojong, bahkan tidak bisa diganggu gugat. Sebagai perwujudan dari kiprah nyata mereka selalu bersentuhan dengan empat landasan diatas. Bahkan sebagai pengingat jiwa yang menuntun kiprah putera Perguruan Argasonya termasuk di dalamnya AAN, diprasastikan pada Prasasti Jatayu yang merupakan salah satu dari prasasti-prasasti yang ada di padepokan dimaksud.
“Kami ingin langkah konkret dan bukan berbicara. Pada dasarnya justru bangsa dan negara tidak lagi membutuhkan generasi yang pandai berbicara semata, melainkan kiprah nyata,” kata Ketua Kimanan dan juga intlektual muda, Wasto, kepada Radar.
Dikatakan Wasto, sebagai perwujudan rutin dalam berbhakti, setiap tahunnya selalu mengadakan kegiatan dan upacara sebagai rasa cinta kepada bangsa dan negara. Yaitu setiap tanggal 11 Maret (super Semar) yang dilakukan disejumlah padepokan dibawah perguruan Argasonya secara bergilir. Di tahun 2012 mendatang, rencana peringatan bakal dilakukan di Medan Sumatera Utara.
Selain itu, untuk lebih bermakna, generasi muda AAN juga melakukan kegiatan serupa setiap 1 Juni Hari Pancasila, 17 Agustus Hari Kemerdekaan RI dan pada 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda.  “Ini suatu kegiatan wajib yang dilakukan oleh AAN, dalam bentuk upacara bendera,” ucap Wasto pula.
Disamping upacara bendera, kegiatan yang dilakukan AAN adalah menguri-uri budaya dan kesenian Indonesia khususnya Jawa. Pada setiap kegiatannya selalu dilakukan pentas seni, dengan mengundang sejumlah putera dan praktisi seni dari sejumlah daerah bahkan manca negara. Bentuk langkah konkret ini sebagai perwujudan jika AAN tidak hanya mampu berbicara tetapi langkah nyata.
TUJUH JIWA
Berbicara seputar pemuda Indonesia, menurut Wasto, sangatlah memiliki potensi besar, namun dari pergerakan yang selama ini pihanya lihat, kurangnya kesempatan yang diberikan kepada mereka. Untuk itu AAN sebagai putera dari Perguruan Argasonya, ingin menunjukan jika dirinya diberi kesempatan yang luas untuk berkarya bagi bangsa dan negara tercinta.  “Dari pengalaman dan ilmu yang diketahui dirinya, siklus tujuh badan saat ini sudah masanya kejayaan pemuda Nusantara. Jika siklus pertama kejayaan Sriwijaya abad 7, kedua kejayaan Majapahit abad 14, saat ini abad 21 seharusnya kejayaan Nusantara baik pemuda dan seluh bangsa,” jelasnya.
Hanya saja, yang terjadi saat ini semuanya masih berproses dan itu tergantung dari perilaku anak bangsa, termasuk didalamnya pemuda sebagai generasi yang bakal mewarisi semuanya di nusantara. Salah satu yang harus dilakukan generasi muda bangsa untuk tetap terciptanya Negara Indonesa yang berdasarkan Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, harus bersikap nyata.
Setidaknya ada upaya bagaiman mewujudkan harapan dan keinginan yang digadang untuk mewujudkan cita-citanya. Untuk generasi muda AAN, selain mendasari empat dasar diatas, juga harus menerapkan tujuh jiwa dalam perilaku keseharian AAN. Jika itu tercipta, Indonesia bakal damai sejahtera dan masyarakat aman sentausa. “Ketujuh jiwa yang terpampang jelas pada Prarasti Jatayu adalah Bersujud Kepada Tuhan YME, Berbudi Pekerti Luhur, Saling Menghormati, Rela Berkorban, Gotong Royong, Bangga Sebagai Bangsa Indonesia dan Bersatu,” pungkas Wasto. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/24 Juni 2011

Kontingen Jamnas Dilepas

SLAWI – Hari ini, Sabtu (25/6),  Bupati Tegal, H Agus Riyanto, S.Sos MM selaku Ketua Majelis Pembimbing Cabang (Mabicab) Gerakan Pramuka Tegal direncanakan melepas secara resmi Kontingen peserta Jambore Nasional (Jamnas) 2011 Kwartir Cabang 11.28 Tegal, yang digelar di pendopo rumah dinas Bupati Tegal.
Waka Bidang Abdimas dan Humas Kwarcab 11.28 Tegal, dr Widodo Djoko Mulyono MKes mengatakan, Kwartir Cabang 11.28 Tegal akan mengirimkan Kontingennya dalam Jambore Nasional 2011 yang akan dilaksanakan di Bumi Perkemahan Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan tanggal 2-9 Juli 2011 mendatang.  “Rencananya kontingen cabang akan dilepas oleh bupati atau ketua Mabicab,” kata Djoko, kepada Radar, Jumat (24/6).
 Sedangkan untuk pemberangkatan, kata Djoko, yaitu dari Sanggar Pramuka Kwarcab Tegal pada hari Rabu (29/6) mendatang.  “Sebelumnya, untuk pelepasan kontingen tingkat Jateng telah dilaksanakan oleh Gubernur Jawa Tengah di Wisma Perdamaian Semarang, Selasa, (14/6) lalu.
Djoko menambahkan, dalam Jambore nanti, peserta akan mengikuti berbagai macam kegiatan antara lain Teknologi dan Industri, Scouting Skill, Adventure Challenge, Wisata dan sebagainya.  ”Diharapkan peserta bisa mengikuti kegiatan dengan baik dan dapat membawa nama baik daerah (Kwarcab),”  Pungkasnya. (fat)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/24 Juni 2011