Minggu, 28 Agustus 2011

Jus Sirsak Kelapa Muda

Setelah menikmati beragam hidangan penuh lemak, tinggi kalori, dan banyak mengandung gula dan garam. Kini saatnya pencernaan Anda dibersihkan dengan jus buah yang segar dan menyehatkan. Tingginya serat di dalam jus sirsak akan mengikat kelebihan lemak dan garam dari dalam saluran pencernaan. Jua buah juga kaya vitamin dan mineral yang akan menjaga kesehatan tubuh pasca lebaran.
Bahan:
300 gr daging buah sirsak
100 gr daging kelapa muda
60 gr manisan rumput laut
4 sdm susu kental manis
150 gr es batu
60 ml air es
3 sdm madu
Cara Membuat:
1. Masukkan daging buah sirsak, daging kelapa muda, madu, rumput laut, susu kental manis, air es dan es batu ke dalam tabung blender. Proses hingga lembut. Angkat.
2. Tuang jus ke dalam gelas saji. Hidangkan segera.
Untuk 3 Porsi
Tips: Sajikan segera jus sesaat setelah dibuat agar rasa dan nilai gizinya dalam kondisi baik.
Sumber Berita : http://id.custom.yahoo.com/ramadan/kuliner-article/

Jelang Lebaran 60 Ribu Kendaraan Lewati Suramadu

Surabaya, CyberNews. Arus mudik Idul Fitri 1432 H di Tol Suramadu, penghubung timur Pulau Jawa dengan Madura, diperkirakan mencapai puncaknya sore ini (28/8). Kepadatan kendaraan diprediksi akan terus bertambah hingga esok (29/8).
Jembatan tol sepanjang 5.438 meter ini telah dilalui sekitar 60 ribu kendaraan bermotor. Kepadatan arus kendaraan telah mulai terasa sejak pukul 15.00 WIB tadi.
Hingga menjelang waktu buka puasa, kendaraan yang terdiri dari 70 persen roda dua dan 30 persen roda empat ini memenuhi jalur Surabaya-Madura dan sebaliknya.
"Kepadatan sudah mulai terasa sejak sore tadi, dan akan bertambah sampai besok pagi," kata Kepala Gerbang Tol Suramadu, Suharyono  pada detik.com, Minggu (28/8).
Demi menjaga keamanan dan keselamatan pengendara di Jembatan Suramadu, ia menambahkan, pihaknya telah menambah pasukan untuk penjagaan. Pihaknya menyiagakan 10 personel dari Brimob dan beberapa petugas kepolisian PJR, serta tantrib.
"Penjagaan ini akan berlangsung selama lebaran, H-5 sampai H+4," kata Suharyono.
( dtc / CN33 )
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/08/28/94915/

Buah Sayur dan Air Putih

SIAPA yang tak ingin menikmati hidangan serba-lezat pada saat lebaran? Mengingat ini adalah kesempatan yang hanya datang setahun sekali, semua yang tersedia di meja makan rasanya ingin dicicipi dan dimakan. Karena  sebagian orang berpikir, ’toh hanya pada saat lebaran saja, jadi tidak perlu kuatir’.
Kalau memang hanya pada saat lebaran, memang tak masalah. Yang menjadi masalah tentu jika pola makan seperti ini keterusan. Tk hanya penyakit seperti maag atau diare yang menghampiri Anda, tapi juga diabetes, hipertensi, asam urat serta kolesterol. Padahal, kunci untuk menjaga kesehatan adalah dengan menjaga pola makan, dan gaya hidup.
Seperti yang dilakukan beberapa selebriti kita. Tak hanya mereka yang sudah berumur saja yang punya kesadaran untuk menjaga pola makan atau menerapkan gaya hidup sehat. Para selebriti yang masih muda pun, sudah berlomba-lomba untuk menjalankan gaya hidup sehat. Seperti yang dilakukan Agni Pratisha. Puteri Indonesia 2006 ini gemar berolahraga untuk menjaga kesehatannya. Selain rutin pergi ke gym, ia rutin lari pagi, yang hampir dilakukannya setiap hari. Dan sebulan belakangan, ia juga menekuni pilates. “Kalau latihan pilates ini, untuk persiapan lomba maraton yang akan aku ikuti, biar otot perut dan pahaku kuat,” katanya.
Marsha Timothy, aktris yang membintangi film “Pintu Terlarang” ini rutin berolahraga sekaligus menjaga asupan makan, untuk menjaga kebugaran dan berat badan ideal. Ia rutin lari pagi dan melakukan treadmill di rumah, dengan alasan agar tak gampang sakit. Untuk asupan makan, ia tak pernah meninggalkan sayur dan buah.
“Sayuran dan buah tidak boleh absen dalam makanan saya, itu sudah wajib. Jadi, tubuh saya nggak gampang flu dan sakit. Segelas susu juga saya konsumsi setiap hari,” ungkapnya pada sebuah situs berita.
Setelah sempat terkena tifus karena diet sembarangan, membuat aktris Nia Ramadhani menjalani hidup sehat dengan banyak mengkonsumsi sayur dan buah, serta rutin berolahraga. Menurut Nia, diet itu yang penting adalah menjaga pola makan; porsi cukup, tidak berlebihan, dan tetapi bergizi.
Jika Nia Ramadhani dan Marsha Tomothy menjaga pola makan dengan banyak mengonsumsi sayur dan buah, lain lagi dengan Sherina Munaf. Ia tidak mengkonsumsi ayam atau daging, alias vegetarian. Penyanyi yang mengawali karirnya dengan film “Petualangan Sherina” ini, sudah tidak mengkonsumsi ayam atau daging sejak masih duduk di bangku SMA. Menurut dia, ayam ataupun daging tidak mengandung gizi, sehingga ia memilih untuk tak mengkonsumsinya.
Siapa yang tak kenal Bondan Winarno? Presenter acara kuliner yang terkenal dengan ucapan “maknyus” ini, harus benar-benar bisa menjaga keseimbangan makanan yang dia konsumsi, karena ia sering mencicipi makanan-makanan enak. Ia mengungkapkan, selain menjaga keseimbangan pola makan, ia banyak mengkonsumsi air putih.     
Ya, banyak mengkonsumsi air putih serta rutin berolahraga adalah salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk mengimbangi, jika tetap ingin mengonsumsi segala jenis makanan yang berlemak, mengandung gula murni atau karbohidrat tinggi. (Irma Mutiara Manggia- 11)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157473/

Pilihan Lebaran Sarat dengan Serat

PUASA Ramadan akan segera berakhir. Lebaran sudah di depan mata. Bagi Sulam (17), merayakan Lebaran berarti balas dendam setelah selama sebulan terakhir ia berusaha menjaga pola makan dan minum. Dendamnya akan segera ia tuntaskan dengan ketupat dan opor ayam, sambal goreng hati, dan berbagai camilan manis yang biasanya akan banyak disajikan di Hari Idul Fitri.
Remaja asli Magelang tersebut tak terlalu ambil pusing, apakah ”balas dendam”-nya itu baik untuk kesehatan tubuh atau tidak. ”Makan nggak sehatnya kan cuma setahun sekali! Jadi, saya pikir, nggak kenapa-kenapa,” elaknya. ”Habis itu kan bisa diimbangi dengan olahraga,” lanjut mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut, lalu terkekeh. Tak ada sedikit pun rasa khawatir di air mukanya.
Hal itu jelas berbeda dengan Hanik Pertiwi (34). Sejak tiga tahun belakangan, perempuan berdarah Sunda tersebut tak pernah lagi menghadirkan menu opor, sirup-sirupan, es krim, dan pelbagai camilan manis di rumahnya pas lebaran. Nah, sebagai suguhan keluarga dan tamu, ibu dari Nada Bening (6) dan Lantang Swara (10) itu menggantinya dengan makanan-makanan kaya serat, sari buah, puding dan agar-agar, serta buah-buahan.
”Awalnya keluarga saya protes. Para tamu juga sering bingung. Tapi, setelah dijelaskan, akhirnya mereka sepakat. Malahan, kini beberapa tetangga menerapkan hal yang sama dengan saya di rumah mereka masing-masing.”
Perubahan menu hidangan Hari Raya itu dipicu oleh kejadian kurang menyenangkan yang pernah dialami Hanik dan suaminya, Prabu (38), tiga tahun silam. Kala itu hari H Lebaran. Layaknya keluarga lain yang merayakan lebaran, keluarga Hanik pun menyajikan banyak makanan rendah serat, kaya lemak.
”Sore hari, Mas Prabu tiba-tiba pingsan setelah sempat mengeluh sakit kepala. Nah, pas diperiksa dokter, ternyata tekanan darahnya sangat tinggi. Padahal selama puasa, Mas Prabu ndak pernah mengeluh sakit kepala, apalagi sampai kambuh hipertensinya,” kenang Hanik. ”Acara mudik terpaksa gagal deh,” sesalnya.
Ternyata, penyebabnya adalah kebelumsiapan tubuh Prabu untuk menerima makanan yang sulit dicerna tubuh.
Maka, pascakejadian itu, menghadirkan asupan penuh gizi dan serat pas Lebaran di rumah adalah kewajiban bagi Hanik. Di samping mengimbangi suguhan dari luar yang biasanya ”kurang sehat”, makanan yang disajikan perempuan murah senyum itu juga berfungsi sebagai ”jembatan”, dari puasa ke tidak puasa.
”Berdasarkan pengalaman suami dan beberapa referensi, saya jadi tahu, saat puasa organ pencernaan kita ’libur’ lebih lama. Jadi, sewaktu diminta untuk kembali bekerja penuh, organ-organ tersebut pasti bakal ’kaget’. Nah, guna membiasakan, makanan yang mudah dicerna dan berserat tinggi bisa menjadi solusi,” papar Hanik.

*****
Pendapat Hanik mungkin benar. Pendapat Sulam juga sepertinya tidak salah. Olahraga dan menambahkan serat adalah bagian penting dalam menjaga kondisi badan agar tetap stabil selama masa peralihan setelah ”bulan wajib puasa” berakhir.
Seperti dikatakan Hanik, ketika seseorang berpuasa, saluran pencernaan beserta enzim-enzim dan hormon pencerna makanan diistarahatkan. Yang biasanya sistem pencerna makanan bekerja terus-menerus bekerja selama 18 jam, kini bisa berisitrahat selama kurang lebih 14 jam.
Nah, ternyata, saat seseorang berpuasa, berbagai macam penyakit kambuhan biasanya dapat lebih terkendali. Bagi Anda yang berpuasa Ramadan, fase awal puasa tentu menjadi fase terberat dalam puasa Anda selama sebulan. Lapisan lidah kita terasa lebih tebal dan napas berbau lebih menyengat. Pasalnya, pada saat itu tubuh tengah mengeluarkan sejumlah besar racun, melalui aliran darah, pori-pori tubuh, dan lewat organ pembuangan lain.
Setelah itu, proses pembersihan tubuh disempurnakan. Lemak tubuh tak bermanfaat dan racun-racun mulai dikeluarkan tubuh dalam bentuk sel-sel sakit, sel mati, lapisan lendir menebal di dinding usus, dan limbah aliran darah. Limpa, hati, dan ginjal adalah organ yang ”bergerak” membersihkannya. Kemudian, saat beban racun tubuh berkurang, kinerja tiap sel pun jadi lebih efisien.
Dokter spesialis gizi klinis, dr  Niken Puruhita MMedSc SpGK, mengungkapkan, saat seseorang berpuasa, ada tahap kala tubuh mulai menggunakan sumber energi dari dalam tubuh sendiri. ”Pada tahap awal, energi yang ’dipecah’ adalah cadangan glikogen, lalu diikuti sedikit cadangan protein, dan disusul jaringan lemak,” terang dokter mitra di RS Telogorejo Semarang tersebut.
Pemakaian cadangan lemak memungkinkan adanya proses detoksifikasi, karena beberapa toxin (racun) yang semula terikat dalam lemak ikut terbuang. Dari lemak yang terpakai tersebut, sebuah penelitian di Amerika menunjukkan, puasa membawa dampak positif mampu mengendalikan beberapa parameter sindrom metabolik seperti gula darah dan kolesterol.
Sayangnya, Ramadan hanya sebulan. Dan, ketika bulan puasa usai, ”masa cuti” organ-organ tubuh itu tentu saja harus rampung pula. Apa jadinya?
Yang pasti, sesuatu yang semula teratur tentu akan menjadi semrawut saat ”kekang” yang membuatnya teratur mengendur. Pun halnya dengan puasa. Ketika kekang yang mengendalikan tubuh kita kendur, kesehatan tubuh kita pun jadi ikut longgar. Apalagi jika diperparah oleh asupan yang terhitung sulit untuk ”diolah”.
Perubahan kesehatan yang signifikan terjadi biasanya lebih disebabkan karena asupan makanan yang cenderung berlebih. Acara makan dan ngobrol bersama pas Lebaran juga biasanya menjadi ”kejam”, karena apa yang kita makan, kebanyakan adalah ”racun” bagi tubuh.
Lihat saja, para penderita kencing manis tentu kadar gula darahnya akan menjadi tidak terkendali, atau seorang penderita maag menjadi lebih sering merasa nyeri dan panas di ulu hati. Semuanya karena ”racun” berwujud opor ayam, camilan manis, dan aneka minuman berkadar gula tinggi.
Solusinya? ”Tentu saja sajian sayur dan buah-buahan tetap menjadi cara jitu sebagai penyeimbang, karena mengandung banyak serat,” papar dokter Niken. Buah atau pun sayur bisa disajikan dalam bentuk buah potong atau diblender (bukan juicer), sehingga serat masih bagus. Makanan lain yang tinggi serat seperti agar-agar atau puding, dengan catatan tidak berkadar gula tinggi juga bisa ditambahkan.
”Serat yang terlarut dalam sayur, buah, atau agar-agar akan mengikat lemak dan gula dalam makanan sehingga tidak semua diserap di usus, tapi dibawa ke usus besar, kemudian dibuang,” tandas dia.
Begitulah cara sehat a la dr Niken. Tak terlalu memberatkan. Tetap sehat kapan pun di mana pun, apalagi di waktu kita tengah merayakan sebuah hari kemenangan, tentu menjadi dambaan tiap orang. Eat some green! Itu solusi. Selamat Hari Raya Idul Fitri! (Galih P Laksana-11)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157474/

Mudik Bersepeda Motor Lebih Praktis Maut pun Tak-Digubris

MUDIK ke kampung halaman saat Lebaran bagi sebagian orang, menjadi keharusan. Dengan kondisi demikian, banyak orang  melakukannya dengan cara ngaya. Salah satunya, mudik dengan mengendarai sepeda motor.
Menjadi bagian dari arus mudik dengan bersepeda motor, semula tak pernah dibayangkan Sutikno (27). Kalau toh pada akhirnya pria asli Kalijambe, Sragen ini ”berlangganan” naik motor, lebih didasarkan atas pengalaman pahit saat mudik menggunakan bus.
”Pernah berangkat Senin petang dari Cakung, sampai di Sragen Rabu dinihari. Pokoknya kapok naik bus lagi,” ujarnya, saat beristirahat di warung pinggir jalan di kawasan Tirto, Kota Pekalongan.
Hal yang sama juga dirasakan Yanto (37), pengendara Yamaha Vixion B-6892-SQA warna merah tua. Insan bara (perantau, Red) asal Wonogiri ini, mengaku perjalanan sekitar 800 kilometer itu ditempuh dalam tempo 24 jam.
”Kalau dari Jakarta berangkat siang, sampai di sini sudah siang esok harinya,” ujar pria asal Desa Klampeyan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, ini.
Sunarko (35), warga Pondok Kopi, Jakarta menjelaskan, selain waktu tempuh yang lebih cepat, mudik dengan sepeda motor praktis dan lebih murah. ”Istilahnya, tinggal werr saja dari rumah habis Subuh, sebelum Magrib sampai Purwokerto,” kata Sunarko (35), warga Pondok Kopi Jakarta Timur, pekan lalu.
Menurut pria yang bekerja sebagai tukang ojek di sekitar Pondok Kopi dan Klender tersebut, mudik Lebaran dengan bersepeda motor tahun ini, untuk kali kelimanya. Mudik yang kali pertama bagi bapak seorang puteri tersebut dilakukan tahun 2005. Saat itu bersamaan dengan kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan.
Awalnya, menurut dia, karena ada unsur nekatnya. ”Wis kebelet mudik, tapi pas uang pas-pasan. Terus temen-temen di sini ngompori saya, ayo numpak motor. Ya saya harus coba Mas. Ternyata bisa juga sampai Purwokerto, dengan bensin 10 liter saja,” kata pria asal Purwokerto Wetan tersebut.
Hal senada dikatakan Ronsi (38) warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Bapak dua anak asal Wonogiri tersebut mengaku pernah melakukan mudik dengan sepeda motor pada tahun 2008 juga karena ”dikompori” tetangganya. ”Tetangga saya pada bilang, kalau nggak nyobain nggak akan pernah tahu enaknya naik motor. Coba dong. Akhirnya saya coba. Ya sih masih ada senangnya, ongkos juga cuma Rp 90 ribu sampai Wonogiri. Tapi anak dan istri saya langsung kapok,” kata karyawan perusahaan swasta tersebut.  
Tidak hanya itu, sesampainya di kampung, Ronsi juga dimarahi ibu dan mertuanya. Mereka khawatir akan keselamatan anak dan cucunya. Menempuh perjalanan yang sangat jauh dengan satu sepeda motor untuk empat orang di tengah padatnya arus mudik, benar-benar tindakan yang sangat nekat di mata mereka.
Antimacet
Pertama kali Sunarko mudik bersama keponakannya. Saat itu dia menggeber motornya dengan kecepatan maximum 70 km/jam. Mudik kali berikutnya, dia sudah berani meningkatkan kecepatan. ”Tapi nggak pernah lebih dari 80 (km/jam, Red) Mas. Tahu sendiri motor kan gampang ngleyang kalau ngebut banget,” katanya.
Pertama kali mudik, dia juga tidak berani ngebut lantaran membawa keponakan. Pada saat pertama (2005) itulah, Sunarko melihat sendiri bahwa sepeda motor adalah kendaraan antimacet. Saat mobil terjebak macet, sepeda motor bisa dengan leluasa melaju melalui jalan-jalan tikus bahkan pematang sawah, sehingga akhirnya lebih cepat mencapai tujuan.
”Rata-rata Jakarta sampai Purwokerto waktunya antara 11 dan 12 jam saja. Itu pun, sudah pakai istirahat tiga kali,” tuturnya.
Menurut Ronsi, pemilihan waktu mudik juga memengaruhi macet tidaknya mudik bersepeda motor. Dia mengaku mendapatkan informasi dari mereka yang berpengalaman mudik bersepeda motor, bahwa mudik harus sebelum H-5.
”Makanya saya mudiknya H-6, jadi Jakarta -Wonogiri lancar. Ditambah empat kali istirahat, Jakarta-Wonogiri ditempuh selama 15 jam,” tuturnya.
Sutikno mengaku sudah mudik menggunakan sepeda motor lima tahun silam. Pria yang bekerja di perusahaan tekstil di bilangan Cakung ini mengaku, menikmati mudik tanpa berboncengan. ”Kalau berboncengan, motor jadi lebih berat. Apalagi kalau yang diboncengkan mengantuk, motor sering goyang,” ujarnya.
Selama mudik dengan motor, Sutikno menghindari berombongan. ”Susah kalau mudik ikut rombongan, berhenti di pom bensin setengah jam, belum lagi kalau ada rombongan tertinggal. Pokoknya lama,” ujarnya mengisahkan pengalaman di tahun 2008 saat mudik bersama salah satu merk sepeda motor.
Lain Sutikno, lain lagi dengan pengalaman empat pengendara motor dari Kejobong, Purbalingga. Taufik (20), Herman (24), Ranto (25) dan Lau (23) merupakan empat pemudik dengan tiga motor, justru lebih senang berombongan. Berangkat dari perasaan senasib satu kampung, mereka bersama rekan-rekannya menggunakan delapan unit motor. Agar lebih mudah dikenali, disiapkan tulisan ”Cah Purbalingga Back to Kejobong City” di belakang sepeda motor. Hanya saja, di tengah jalan rombongan terpisah.
Lakukan Imbauan
Ranto mengisahkan, dalam setiap kali mudik paling tidak tiga kali melihat kecelakaan di depannya. ”Pernah sekali perjalanan melihat lima kecelakaan,” ujarnya.
Kejadian paling parah dialami Ranto, rem belakang motornya rusak dari Cikampek, baru diketahui di Bumiayu. Herman, teman Ranto bahkan pernah mengalami kecelakaan saat mudik tahun 2006. ”Waktu itu saya menyalip di tikungan, namun tidak berhasil. Akhirnya,  menabrak Avanza. Namun justru pengemudi Avanzanya yang kabur, karena melihat saya terkapar,”  ujarnya sambil tertawa, mengenang kejadian tersebut.
Meski begitu, hal tersebut tak membuat Ranto kapok mudik menggunakan motor.
Menyusul terus meningkatnya angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor, Kementerian Perhubungan terus melakukan imbauan agar masyarakat tidak mudik dengan sepeda motor. Selain disebabkan oleh banyaknya kecelakaan yang merenggut korban jiwa, imbauan itu juga disebabkan oleh fakta bahwa sepeda motor bukan merupakan alat angkutan jarak jauh.  
Karena itu, masalah mudik dengan sepeda motor bagi pemerintah menjadi persoalan tersendiri. Selain kemacetan dan angka kecelakaan yang tinggi, semakin banyaknya pemudik bermotor juga membuat  pemerintah menyediakan berbagai fasilitas di jalur yang banyak dilewati pemudik. Misalnya, penyediaan tenda-tenda tempat istirahat  di sejumlah titik-titik khusus. Di tempat istirahat ini, fasilitas yang disediakan bukan hanya untuk sekadar makan minum, tapi sarana pendukung lain seperti untuk tidur, cek kesehatan, servis kendaraan, dan membeli oleh-oleh.
Selain itu, Kemhub bersama Direktorat Lalu Lintas Polri juga mengawal pemudik sepeda motor ini dan memberikan tips mudik aman. Walau demikian, Menurut Menhub Freddy Numberi, pemerintah tidak bisa mengeluarkan peraturan yang melarang pemudik menggunakan sepeda motor, karena tidak ada landasan hukumnya. Dengan demikian, yang dilakukan hanya sebatas imbauan saja.
Pada bagian lain, Freddy menjelaskan, transportasi angkutan umum yang disediakan pemerintah lebih dari cukup. Pemprov DKI misalnya, untuk Lebaran tahun ini menyediakan 7.292 bus cadangan, 244 rangkaian kereta berkapasitas 61.680 bangku, 24 kapal berkapasitas 28.531 bangku, dan 285 persawat berkapasitas 39.923 bangku.(09)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157518/

Ketupat Khas Ngemplak Semarang

DI Kampung Ngemplak, Tandang, Semarang ada sebuah tradisi yang biasa dijalankan saat Lebaran. Sukarman (68), tokoh masyarakat setempat bercerita tentang kegiatan yang kerap disebut riyaya itu. “Usai Shalat Id, warga biasanya berkumpul. Setelah saling berjabat tangan untuk mengucap maaf, acara dilanjutkan dengan melahap makanan yang dibuat warga,“ ujar Sukarman saat ditemui di kediamannya kemarin.
Hidangan Lebaran yang dibawa dari rumah oleh masing-masing keluarga itu terdiri dari berbagai macam. Ada lontong opor, sambal goreng ati, ayam goreng, telur, kue-kue, dan lainnya. Tradisi itu sendiri menurutnya masih berjalan di Masjid Al Hidayah, meski tak meriah dulu. Dari tiga masjid yang ada di kampung tersebut, hanya masjid itu yang masih mempertahankannya.
Sukarman menjelaskan, acara makan bersama yang dilakukan seluruh warga tersebut dimaksudkan untuk membangun kerukunan.
Selain riyaya yang berdimensi sosial kemasyarakatan, warga kampung tersebut juga punya tradisi lain yakni pembuatan sajen (sesaji) dan pemasangan kupat lepet di depan pintu rumah.
Untuk sajen, ada dua macam yang biasa dibuat, yakni sajen bada dan sajen syawalan. Sementara kupat lepet dipasang saat Syawal hingga tahun depan, meski biasanya sebelum sampai saat yang dimaksud sudah hilang, karena diambil orang atau hancur sendiri.
Satu lagi tradisi syawalan di sana adalah pembagian kupat jembut, ketupat yang dibelah diagonal dan diisi dengan tauge lengkap dengan sambal kelapa. Ketupat tersebut biasanya dibagikan kepada anak-anak. (Adhitia A-79)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157505/

Lampion Kontemporer Sambut Idul Fitri

“MAU yang Naruto, Sponges Bob, apa masjid?” tanya Slamet (28) pada seorang anak kecil yang tampak kebingungan memilih. Si anak tampaknya pasrah saja ketika ibunya menanyakan pilihannya. “Masjid saja,” ujarnya. “Sama Sponges Bob ya,” ibunya menawari, dan si anak hanya mengangguk.
“Telu ya mas, patang puluh lima oleh ya. (Tiga ya mas, empat puluh lima ribu boleh ya),” rayu si ibu pada Slamet.
Dengan senyuman, Slamet menampik harga yang dianggapnya belum cocok itu. Pasalnya menurut pengakuan Slamet, dia menjual satu unit lampion seharga Rp 20 ribu. “Seket lima telu bu (Lima puluh lima ribu, tiga bu),” Slamet mengambil keputusan. Si ibu pun setuju, dan akhirnya membawa pulang tiga lampion berbentuk masjid, Sponges Bob, dan Naruto.
Si bocah pun dengan girang mengikuti langkah ibunya menuju ayahnya yang menunggu di sepeda motor tak jauh dari tempat berdagang Slamet. Dalam hati si anak, tentu perayaan malam takbiran nanti akan semakin meriah karena orang tuanya telah berbaik hati.
Ya, ini adalah cerita ringan transaksi lampion di kawasan Alun-alun Utara Yogyakarta pada Rabu (24/8) lalu. Sejak pertengahan Ramadan lalu, di kawasan itu mulai bermunculan penjual lampion. Tidak lagi hanya mengandalkan bentuk bunga, bintang, atau tiruan-tiruan alam lainnya, kini gaya lampion pun mulai beragam mengikuti tren. Maka bentuk tokoh kartun semacam Sponges Bob, Naruto, Avatar, Doraemon, Hello Kity dan semacamnya pun dijadikan inspirasi pembuatan lampion. Begesernya tren lampion pada tokoh-tokoh film ini terjadi sekitar 4 tahun belakangan.
Tentu, berbagai bentuk baru itu pun menuntut pembaharuan-pembaharuan. Bisa dibayangkan jika kreasi tokoh-tokoh animasi itu hanya dibentuk dengan masih mengandalkan struktur bambu dan membran dari kertas minyak saja. Maka bahan-bahan yang sebenarnya juga merupakan perkembangan dari obor sebagai “lampion” paling tradisional itu pun harus mengalah.
Lebih Ringan
Para perajin kini lebih menyukai styro foam untuk mencari bentuk lampion. Bahan ini dianggap lebih ringan, dan mudah dibentuk. Kertas minyak pun tidak lagi menjadi andalan pewarnaan, meski masih dominan. Saat ini kreasi cat berwarna-warni pada styro foam juga penting, untuk membuat detail karakter tokoh.
Perubahan pun terjadi pada sumber cahaya lampion. Dulu, di masa baheula kita mengenal obor yang mengandalkan sumber cahaya dari api. Kemudian mulai lebih modern dengan bohlam yang disokong baterai. Saat ini pedagang sudah tidak terlalu kesulitan menyambung dan membuat saklar untuk peranti tersebut. Pasalnya, lampu mainan, demikian mereka menyebutnya, sudah sangat praktis. Mereka tinggal membeli lampu pabrikan yang sudah jadi itu per dos dan memasang pada lampion. Hasilnya, dengan peranti yang dibeli dengan Rp 35 ribu itu, cahaya berwarna-warni pun sudah menyebar. Praktis, dan ekonomis.
Menurut Slamet, saat ini pembuatan lampion memang jauh lebih mudah. Meski begitu ia tetap membuat lampion-lampion yang masih memakai rangka bambu. “Di sini saya juga masih jualan yang rangka bambu. Tapi terus terang bikinnya lebih sulit. Kayak yang bunga mekar, itu pakai rangka bambu,” terang pria yang tinggal di kawasan Surokarsan, Kelurahan Wirogunan, Mergangsan, Kota Yogyakarta.
Ia yang mengaku mengerjakan lampion sendiri, dalam sehari bisa menghasilkan sekitar 20 unit. Selain menjual lampion secara lengkap, ia juga menjual lampion kosongan. “Kalau mau lampionnya saja tanpa pakai lampu mainan, yang rangka bambu cuma Rp 15 ribu. Memang terpaut sedikit. Soalnya kalau yang rangka bambu, misalkan mau diisi pakai lilin masih aman. Kalau yang styro foam tidak berani, berbahaya bisa terbakar,” terang pria asli Purworejo itu.(47)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157501