Minggu, 23 Oktober 2011

Tidak Tamat SD Belajar dari Geolog Prancis

Setelah Merapi meletus pada Oktober-November 2010, banyak sumber air yang mati atau menyurut di kawasan sekitarnya. Warga pun mengalami kesulitan air. Budi Banyu memperkenalkan pembuatan sumur tandem sebagai solusi mengatasi kesulitan air.
NAMA Budi Banyu amat populer bagi mayoritas warga di lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Ketenaran itu tak terlepas dari jasa pria pemilik nama asli Budi Haryanto ini mengatasi kesulitan air.
Sudah belasan tahun Budi naik turun menjelajahi perkampungan di lereng dua gunung tersebut membantu warga mencari sumber air. Kampung-kampung itu biasanya berada di punggung gunung.
Pemilihan lokasi pendirian kampung itu merupakan bagian dari kearifan lokal, tak terlepas dari karakter Merapi yang rutin beraktivitas. Dengan berada di ketinggian, warga terlindung dari kemungkinan luncuran awan panas atau banjir lahar dingin karena terhalang bukit.
Untuk mendapatkan air, mereka memasang pipa-pipa paralon dari sumber ke rumah-rumah. Dahulu waktu penggunaan paralon belum populer, warga ngangsu dari sumber air memakai jerigen atau kendi besar yang terbuat dari tanah liat.
Erupsi Merapi 2010 ternyata membuat sebagian besar saluran air hancur. Ada yang rusak terkena awan panas, ada yang hanyut terbawa banjir lahar dingin. Situasi ini diperparah musim kemarau panjang yang membuat mata air mati atau menyurut.
Sebagai solusi mengatasi kesulitan air, Budi yang sekarang menginjak 55 tahun memopulerkan pembuatan sumur tandem. Sumur jenis ini berbeda dari kebanyakan sumur yang digali tegak lurus (vertikal) ke bawah. Sumur tandem memadukan penggalian vertikal dan pengeboran horizontal (horizontal drilling).
”Saya memanfaatkan teori bejana berhubungan yang saya terima waktu kelas IV SD. Saya memang tidak tamat SD. Waktu itu saya harus keluar karena tak punya biaya. Namun, alhamdulillah ilmu yang saya dapat bermanfaat,” kata Budi di rumahnya di Sanggrahan Blabak, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.
Budi berpinsip bahwa suatu tempat tak bisa disebut tidak ada air jika belum dibuktikan dengan penggalian. Karena itu, dia mengajukan syarat kepada warga di lereng gunung yang meminta pertolongannya mencarikan sumber air.
Mereka harus membawakan sampel tanah di permukaan, pinggir tebing, dan lapisan dalam. Syarat itu sama sekali tak berkaitan dengan mistik. Budi memerlukannya untuk melakukan analisis sederhana.
Dia menunjukkan perbedaan contoh ketiga jenis tanah tersebut. ”Jika ada lapisan tanah yang basah atau lembab bisa dipastikan ada kandungan air di dalamnya. Semakin dalam tanah akan semakin basah. Sekarang tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” terang dia.
Dengan metode sumur tandem, lubang sumur digali lebih dulu secara vertikal ke bawah dengan kedalaman 3-5 meter dan lebar minimal 2 meter. Kemudian diteruskan pengeboran horizontal sekitar 50-70 meter sesuai kebutuhan.
Semakin panjang penggalian mendatar akan semakin baik. Berarti semakin banyak potensi sumber air yang bisa didapat.
Namun, panjang penggalian horisontal biasanya disesuaikan dengan kondisi wilayah. Dalam beberapa kasus panjangnya bisa mencapai 100 meter.
Setiap satu sumur tandem membutuhkan 3-4 pengeboran horizontal. Pengeboran ini diarahkan ke dataran yang lebih tinggi agar air yang terkandung di dalam tanah bisa tersedot masuk. Setelah selesai dibor, pipa paralon dimasukkan untuk menyalurkan air ke dalam lubang sumur vertikal. ”Ini saya sebut sebagai sistem pola hisap karena menyedot air tanah. Air ini yang kemudian kami olah untuk dimanfaatkan penduduk, baik sebagai air minum maupun pertanian,” jelas Budi.
Air yang terkumpul ditampung di dalam sumur utama. Filterisasi dilakukan dengan memanfaatkan tumpukan batu-batu, kerikil, pasir, dan ijuk.
Air kotor yang mengandung zat berbahaya akan dibuang, sedangkan air bersih hasil penyaringan disalurkan ke bak penampungan melalui paralon yang terpendam di dalam tanah.
Berbeda dari kebanyakan sumur, sumur tandem kembali ditutup tanah sehingga lahan di atasnya bisa dimanfaatkan bercocok tanam. Penyaluran air memanfaatkan beda ketinggian atau gaya gravitasi bumi. Karena itu, sumur tandem biasanya dibangun di tempat yang lebih tinggi dari perkampungan dan lahan persawahan yang akan dialiri.
Dibayar Sayuran
Menurut Budi, metode sumur tandem mampu menyediakan air dengan kapasitas 7 liter per detik. Sumur model ini kali pertama diuji coba di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, pada 1998.
Sejak itu, teknik yang diperkenalkan Budi Banyu ini menyebar ke berbagai desa di lereng Merapi dan Merbabu. Tidak hanya di wilayah Magelang, melainkan juga di Boyolali dan bahkan Temanggung.
Sejak 1998-2005, Budi sudah berhasil melakukan pengeboran di 95 titik. ”Jika dihitung hingga sekarang, jumlahnya lebih banyak lagi. Saya sampai tidak hafal. Apalagi pascaerupsi Merapi tahun lalu, permintaan warga semakin besar,” tuturnya.
Budi tak menerapkan tarif dalam setiap pembuatan sumur tandem. Beberapa kali warga membayarnya dengan sayur mayur hasil pertanian. Bagi Budi, yang terpenting adalah tekad dan kesungguhan warga mengatasi kesulitan air.
Dari mana Budi mendapatkan pengetahuan tentang teknik pembuatan sumur tandem? Ternyata ilmu ini diperoleh secara tidak sengaja.
Dia menyebutnya sebagai ”berkah” erupsi Merapi pada November 1994. Saat itu, seorang geolog berkebangsaan Prancis bernama Philips Hans meminta Budi mengantarnya naik ke puncak Merapi. Meski tak lulus SD, Budi memang fasih berbahasa Inggris lantaran belajar lewat siaran radio BBC.
Sebagai seorang pemandu pendakian, Budi menyanggupi meski tahu Merapi tengah beraktivitas. ”Philips Hans mengaku heran mengetahui warga kesulitan air. Dia mengatakan tidak mungkin suatu wilayah nihil air jika tidak mengupas kulitnya (kontur tanah) lebih dulu. Dari situ saya belajar membaca kontur dan tekstur tanah,” jelas dia.
Sayangnya, belum lagi Budi belajar banyak mengenai seluk-beluk air, keduanya digiring polisi turun gunung. Sebab, Merapi menunjukkan tanda-tanda hendak meletus.
Tiga hari setelah erupsi, Budi kembali ke puncak Merapi seorang diri. Dia mendapati tebing-tebing yang runtuh ternyata menyimpan kandungan air. Sejak peristiwa itu, dia mulai berpikir mengenai penggunaan air untuk kesejahteraan masyarakat gunung.
Sekarang, teknik sumur tandem ala Budi Banyu sudah diadopsi warga Hargobinangun, Sleman, Yogyakarta. Dia juga menerima banyak kunjungan warga yang ingin belajar teknik tersebut.
”Dalam waktu dekat saya akan menularkan ilmu ini ke saudara-saudara sebangsa di NTT. Saya sudah survei langsung dan yakin sumur tandem bisa diterapkan di sana,” jelas Budi.
Pertama-tama, Budi akan membangun sumur tandem di tujuh titik di sekitar Ruteng dan Labuhan Bajo.  Sebelumnya, sudah ada 10 tim ahli yang gagal mengatasi kesulitan air di daerah tersebut. (65)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/10/24/163883/

Supriyadi Terpilih Ketua MPC PP.

SLAWI – Slamet Supriyadi yang akrab di sapa Supri, pada Musyawarah Cabang Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila (Muscab MPC PP) Kabupaten Tegal IV, di Gedung PGRI Slawi, Minggu (23/10) terpilih menjadi Ketua MPC PP periode 2011- 2015.
 Supri yang memperoleh suara sebanyak 12 suara, telah menyisihkan dua calon lainnya, yakni Drs Waudin yang juga ketua panitia memperoleh 3 suara dan mantan ketua MPC PP Kabupaten Tegal periode 2007-2011, Hery Bertus Badri SH, yang memperoleh 2 suara.
 Ketua Terpilih, Slamet Supriyadi, dalam penyampaian visi dan misinya mengatakan, bahwa dirinya sebagai ketua akan melakukan program untuk membentuk kepengurusan Pemuda Pancasila sampai ke tingkat ranting yang jumlahnya 287 desa/kelurahan se Kabupaten Tegal.  “Saya akan turun langsung untuk membentuk ranting PP. Jika saya tidak turun, maka silahkan saya diturunkan dari ketua MPC PP Kabupaten Tegal. karenanya saya minta doa restu, jika saya terpilih nanti,” ucapnya sebelum pemilihan.
 Sementara, Hery Bertus Badri, di sela-sela muscab kepada Radar menyampaikan, bahwa dirinya berharap kepengurusan ke depan lebih amanah, dan mampu membawa organisasi masyarakat ini ke arah yang lebih baik.
 “Kami berharap kepengurusan nanti dapat membawa ormas PP, agar bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya,” ungkapnya.
 Sementara, dalam pembukaan Wakil Bupati Tegal, Heri Soelistiyawan, yang diwakili Asisten I, Drs Nur Kholis, sekaligus membuka acara tersebut menyampaikan, bahwa Pemkab sangat apresiatif terhadap muscab PP ini. Pihaknya berharap melalui muscab tersebut dapat menghasilkan program-program yang mengarah pada visi dan misi PP dan Pemkab Tegal.
 Ia menjelaskan, saat ini pancasila nampaknya semakin hari semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Hal ini terlihat dari kurangnya semangat dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini.  “Kita dituntut untuk tidak hanya mengisi kemerdekaan pada saat hari kemerdekaan saja, tetapi harus berkembang setiap hari. Harapan saya PP harus mempu menjaga dan mengamalkan pancasila ini sebagai dasar negara melalui anggota-anggotanya,” ungkapnya.
 Ia juga menerangkan tentang empat pilar bangsa, yakni tentang Pancasila, UUD 45, NKRi dan Bhineka Tunggal Ika. (fat)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Empat Tenggelam Dua Tewas

TEGAL- Dalam sehari, empat orang yang sedang mandi di dua lokasi berbeda, tenggelam. Dua ditemukan tewas, dua lainnya selamat. Kejadian itu kian menambah daftar korban tenggelam yang terjadi di Kota Tegal.
Kejadian pertama terjadi di Sungai Ketiwon, yang merupakan anak Sungai Kaligung, yang menjadi batas wilayah Kota dan Kabupaten Tegal, tepatnya di tanggul sungai yang lurus ke timur dengan Jl Industri, Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, sekitar pukul 13.30, Sabtu (22/10).
Saat itu, tiga pelajar putri, Tasya Dwi Septiani (13) pelajar Kelas I SMP Muhammadiyah Kota Tegal, bersama dua rekannya Dewi Puspita (12) pelajar Kelas VI SD Negeri Panggung 12 dan Indah (11) pelajar Kelas V SD Negeri Panggung 4. Lokasi ketiga sekolah pelajar itu di Kecamatan Tegal Timur.
Paman dan tante Tasya, Daspam (45) dan Faridah (40) menuturkan, keponakannya setelah pulang sekolah, diajak mandi di pinggir sungai tersebut oleh Dewi dan Indah. Tak lama kemudian, ketiganya yang diduga tak bisa berenang, terpeleset ke kubangan cukup dalam di dasar sungai itu. Ketiga pelajar putri tersebut, langsung tenggelam.
Dua Selamat
Seorang personel Pangkalan TNI AL (Lanal) Tegal yang melihatnya, langsung memberikan pertolongan. Dua dapat diselamatkan, satu orang akhirnya meninggal dunia. Korban tewas adalah Dewi Puspita.
Ketiga korban setelah dievakuasi, kemudian dibawa ke RSU Mitra Siaga, Dampyak, Kramat, Kabupaten Tegal. Indah setelah mendapat perawatan, akhirnya diizinkan pulang untuk berobat jalan.
Adapun Tasya, yang diduga masih trauma atas kejadian yang dialaminya masih dirawat di Ruang Aster 7 rumah sakit tersebut. Untuk korban meninggal, tak lama kemudian dibawa mobil ambulans rumah sakit menuju ke rumah korban.
Menurut Farida, ketiga pelajar putri yang tenggelam itu, tempat tinggalnya berdekatan, yakni di Jl Mejabung, Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal. Sementara itu, beberapa warga sekitar lokasi kejadian mengatakan, di lokasi tenggelamnya ketiga pelajar putri tersebut sungainya dikenal cukup dalam. Warga sekitar juga tidak pernah mandi di pinggir sungai tersebut.
Sementara itu, korban keempat adalah Mas Joko (19) warga Jl Ababil RT 6 RW 2, Kelurahan Randugunting, Kecamatan Tegal Selatan. Dia awalnya, sejak Sabtu (22/10) dilaporkan pihak keluarganya ke Polsekta Tegal Selatan tidak pulang ke rumah.
Mayat Mengapung
Sekitar pukul 07.00, Minggu (23/10), bagian penjagaan Sat Polair Polres Tegal Kota, menerima informasi terkait penemuan mayat seorang laki-laki yang mengapung di dekat bendera mercusuar sebelah timur kolam Pelabuhan Tegal, atau di batas paling barat lokasi wisata Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal.
Personel Sat Polair Briptu Suyanto bersama personel Lanal Tegal, menggunakan perahu wisata langsung bergerak cepat menuju ke lokasi. ”Ternyata identitas korban tewas adalah orang yang dilaporkan hilang sejak Sabtu (22/10). Kemungkinan korban juga tenggelam sejak Sabtu (22/10)lalu,” terang Briptu Suyanto didampingi Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian (KSPK) Polres Tegal Kota Aiptu Suharyanto, Minggu (23/10).
Terpisah, Kapolsekta Tegal Timur Kompol Teguh Riyanton SE mengimbau, agar warga tidak mandi di Sungai Ketiwon, terutama di bagian sungai yang dalam.  (D12-74)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/10/24/163770/

Puting Beliung Terjang Kajenengan

BOJONG - Angin puting beliung menerjang Desa Kajenengan, Kecamatan Bojong, Sabtu (22/10) sore jam 15.00 WIB. Akibatnya 40 rumah rusak dan 3 diantaranya roboh. Dua rumah roboh karena tertimpa pohon dan satu diterjang karena kuatnya terjangan angin.
Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu, karena saat turun hujan disertai angin kencang, puluhan warga berlindung di dua musola dan TPQ terdekat. Saat ini korban pemilik rumah roboh mengungsi di rumah saudara. Sedang 37 rumah rusak, tengah diperbaiki dengan dibantu oleh TNI Kodim 0712 Tegal dan dari Polres Tegal. Petugas dari PMI dan BPBD daerah setempat sudah meninjau lokasi dan segera menurunkan bantuan.  “Angin datang dari arah tenggara sekitar lereng gunung Slamet dengan suara bergemuruh. Gumpalan angin berwarna hitam yang dibarengi hujan deras dalam tempo 30 menit sudah memporakporandakan puluhan rumah warga di desa kami,” jelas Kades Kajenengan, Basori, bersama sejumlah perangkatnya, kepada Radar, Minggu (23/10).
Dikatakan Basori, puluhan rumah rusak dan 3 roboh berada di RT 01 RW 4 sebanyak 13 rumah rusak dan satu roboh. Di RT 02 RW 4 sebanyak 13 rumah rusak dan dua roboh. di RT 03 di RW 4 sebanyak 12 rumah rusak dan RT 02 RW 1 dua rumah rusak. Kerugian sementara ditaksir oleh pihak desa mencapai puluhan juta rupiah. Angin juga sempat menumbangkan puluhan pohon sehingga membuat listrik di dua RW tersebut padam sementara.  “Untuk rumah roboh di RT 01 RW 4, milik Rokib (40) dan dua rumah roboh di RT 02 RW 4, milik Rohim (55) dan Mukti (55),” ucapnya.
Menurut dia, meski musibah menimpa warga Kajenengan bahkan merusak dan merobohkan rumah, namun tidak mempengaruhi aktifitas keseharian warga. Meski demikian, Basori menyatakan, karena mayoritas korban warga tidak mampu, mereka membutuhkan bantuan dari instansi dan para donatur, untuk kembali mendirikan bangunan rumahnya yang rusak dan roboh.
 LEBIH PARAH
Musibah angin puting beliung saat ini diibaratkan sebagai ulangan dari tahun sebelumnya. Di tahun 2010, kejadian sama juga menimpa desa yang 90 prosen warganya merantau keluar kota. Bahkan di tahun sebelumnya kerusakan rumah warga lebih banyak dan lebih parah.
Disisi lain saksi mata yaitu Kaur Kesra Desa Kajenengan, Zabidin mengatakan, dirinya saat ini dalam perjalanan pulang dari rumah teman. Jam 15.00 WIB, tiba-tiba turun hujan deras dibarengi angin cukup kencang dengan suara gemuruh. Saat sampai di RW 4, pihaknya segera memberitahukan kepada warga agar berlindung pada musola maupun bangun yang dianggap kokoh. Karena dari perkiraannya, angin bakal menerjang wilayah itu.
Puluhan warga yang juga ketakutan segera menuju dua musola dan bangunan TPQ yang ada. Hal itu sangat menguntungkan nyawa warga, meski rumah mereka roboh. Namun tidak ada korban jiwa dalam musibah itu.  “Kami bersyukur, karena warga mau berlindung, tidak ada satupun warga yang terluka,” ujar Zahidin.
Sementara, Minggu (23/10) Kodim 0712 Tegal segera memberikan bantuan dengan mengirimkan 30 personil, guna membantu perbaikan rumah warga. Begitupun satu regu Dalmas dari Perintis Polres Tegal, hadir dan turut membantu perbaikan. Selain itu, warga saling bahu membahu bersama muspika, memperbaiki rumah warga yang mengalami kerusakan ringan. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Diduga Sebarkan Ajaran Sesat Massa Rusak Rumah Warga

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA-- Polisi selidiki aksi perusakan dilakukan kelompok orang tak dikenal terhadap rumah warga yang dituduh jadi penganut ajaran sesat di Kampung Panaekan, Desa Acol, Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (22/10) malam.
"Kini kasus ini (pengrusakan rumah warga) sedang kita dalami," kata Kapolsek Cineam AKP Suharto kepada wartawan, Minggu. Dalam proses penyelidikan tersebut, pihak kepolisian setempat mengamankan rumah yang ditempati keluarga Ikin Asikin (50) dengan memasang garis polisi.
Aksi pengrusakan rumah panggung berukuran sekitar 6x4 meter beserta isinya itu beruntung tidak menelan korban jiwa karena penghuni rumah tidak ada ditempat, namun menurut Suharto kerugian materi diperkirakan sekitar Rp10 juta.
Berdasarkan informasi yang diterima kepolisian sejumlah orang tidak dikenal datang dengan mengendarai sepeda motor kemudian mengepung rumah milik Ikin sekitar pukul 19.00 WIB yang dituduh menganut ajaran aliran sesat.
Sebagian orang dari massa tersebut langsung masuk ke rumah Ikin, kemudian melakukan perusakan hingga sebagian material bangunan rumah tampak rusak, seperti kaca jendela dan genting pecah, serta seluruh perabotan rumah tangga berantakan.
Pelaku perusakan umumnya menggunakan helm dan penutup kepala sehingga warga sekitar yang sempat mengetahui aksi perusakan itu tidak mengetahui wajah kelompok orang tersebut.
Keberadaan massa yang berlangsung sekitar setengah jam itu, langsung membubarkan diri setelah tokoh masyarakat dan ketua RT setempat meminta menghentikan aksi perusakan tersebut.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/

Nasionalisme Bocah Lola

COBA iseng-iseng saja Anda bertanya pada seorang anak muda. ”Siapa Menteri Perumahan Rakyat yang baru dan siapa pelantun lagu ‘Alamat Palsu’?” Atau, ”Pilih mana menari Srimpi atau dance ala Korea?”
Kemungkinan jawabannya adalah dia tidak mengenal Djan Faridz dan sangat mengenal Ayu Ting Ting, atau memilih tarian Korea ketimbang Srimpi. Kalau kedua pertanyaan itu bahan kuesioner untuk mengetahui rasa nasionalisme anak muda, Anda mungkin sudah mendapat gambaran simpulannya: betapa rendahnya nasionalisme anak muda.

Cukupkah hanya karena tidak mengenal nama Pak Menteri dan ogah menari Srimpi lantas cap itu Anda berikan?
Memang, setiap menjelang dan saat peringatan Hari Sumpah Pemuda, kaum muda seolah-olah berada pada situasi tidak nyaman. Sebab, perguliran wacana biasanya seputar kisah romantisme masa lalu yang memuja-muja tokoh pemuda yang penuh gereget memperjuangkan nasionalisme Indonesia dan cerita mengenai anak muda cengeng yang lebih suka nongkrong di mal, ketimbang memikirkan persoalan bangsa.

Tentu saja ada banyak alasan, mengapa muncul anggapan mengenai rendahnya nasionalisme di kalangan muda sekarang. Mereka dianggap lebih suka ”berkicau” di Twitter, memuja-muja para artis atau bernarsis-narsis di Facebook ketimbang serius belajar agar pintar, dan ilmunya suatu hari bisa dipakai untuk membangun bangsa. Mereka dituding lebih suka membicarakan potongan rambut atau tren baju terbaru atau kongkow di mal dan kafe-kafe, daripada mendiskusikan derajat bangsa yang terus turun di mata negara-negara tetangga. Ada juga pendapat sumir bahwa mereka lebih suka berbudaya asing ketimbang berbudaya sendiri.

Cukupkah lantaran perilaku seperti itu, lantas kita sebut mereka bernasionalisme rendah?
Tunggu dulu. Kalaupun benar ada persoalan kepudaran rasa nasionalisme di kalangan anak muda, tidak cukup hanya disikapi dengan menjadikan mereka sebagai kambing hitam. Sebab, mereka bisa saja ”menghantam balik” dengan mengambinghitamkan generasi yang lebih tua. Mereka bisa saja menganggap generasi tua hanyalah generasi korup yang tak becus mengurusi persoalan bangsa, dan buat mereka itu bukti mereka tidak punya nasionalisme.
***
YA, terhadap tudingan soal rendahnya nasionalisme, anak muda bisa saja membeberkan bukti-bukti bahwa rasa nasionalisme mereka masih sangat tinggi. Siapa yang berteriak paling keras ketika Malaysia terus-terusan bikin ulah dan menyinggung harga diri nasionalisme kita? Dari siapa istilah ”Malingsia” muncul? Ketika Timnas Indonesia bertanding, siapa pendukung terbesar? Ketika mereka marah terhadap PSSI karena tak becus mendongkrak kualitas Timnas, apakah itu hanya karena mereka takut tak bisa menikmati hiburan dari lapangan hijau? Tentu saja bukan.

 Mereka punya banyak alternatif hiburan, dan kemarahan-kemarahan itu pasti lahir dari rasa memiliki bangsa.
Ketika Darsem hendak dipancung di Saudi Arabia dan kasus-kasus serupa lainnya, mereka juga berteriak agar pemerintah melakukan sesuatu. Mereka tidak kenal Darsem, dan pasti itu lantaran perempuan itu warga Negara Indonesia. Tapi ketika Darsem ”berulah”, mereka marah tapi lalu abai.

Boleh jadi, sikap abai itu tidak lahir secara ahistoris. Karena nasionalisme pula anak-anak muda itu sudah berupaya sibuk ”memikirkan” karut-marut bangsa yang dihasilkan dari korupsi berjamaah atau ”dagang sapi” di kalangan politikus. Mereka sudah melakukan sesuatu demi pemenuhan rasa nasionalisme tapi lalu karena jarang tergubris, mereka marah dan abai.

Bisa jadi, dalam persoalan nasionalisme, sebenarnya anak-anak muda itu hanyalah kumpulan bocah lola, anak yang tidak berbapak dan tak beribu. Mereka ingin mencari teladan, tapi yang hendak dijadikan panutan tak ada. Ketika tak menemukan teladan pada kalangan tua, mereka melirik kalangan muda yang ”berprestasi”. Tapi lalu mereka disodori nama Nazarudin dan Gayus Tambunan. Mereka kecewa lagi, lalu memilih cuek.

Ya, mungkin saja anak muda itu memilih menjadi bocah lola. Tanpa ibu dan bapak di rumah, dia melakukan apa-apa sendiri. Dia memilih aktivitasnya sendiri. Dia bisa asyik sendiri. Pada saat seperti itulah, lalu kita menohoknya dengan predikat ”anak mbambung”. Anak seperti itu memang mencemaskan. Kita takut, dia tak pernah pulang ke rumah dan pelan-pelan rumah itu ambruk. Kalau rumah itu sebuah negara? (09)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/10/23/163749/

Patek Cs Berpesta Pasca Bom Bali I

SOLO- Solo dan Sukoharjo dipilih sebagai tempat untuk merencanakan pengeboman di Paddy’s Pub dan Sari Club di Legian, Kuta, 12 Oktober 2002, atau yang lebih dikenal sebagai teror Bom Bali I.
Di daerah ini pulalah pesta digelar berupa jamuan makan setelah peledakan bom yang memakan korban ratusan jiwa tersebut. Fakta itu terungkap dalam rekonstruksi yang dijalani Umar Patek dkk, Sabtu (22/10).    Rekonstruksi perencanaan kasus bom Bali I yang melibatkan Patek cs itu mendapat penjagaan ekstraketat dari aparat kepolisian. Wartawan dan masyarakat dilarang mendekat ke empat lokasi reka ulang.
Garis polisi dibentang puluhan meter sebelum tempat kejadian perkara (TKP). “Kami mempersiapkan 500 personel kepolisian untuk mengamankan wilayah Surakarta. Polisi tak hanya berjaga di TKP. Pengamanan ini untuk menjaga situasi tetap kondusif,” terang Kapolresta Surakarta Kombes Listyo Sigit Prabowo.
Dua lokasi reka ulang berada di Kota Solo, dua lainnya di Sukoharjo. Dalam setiap rekonstruksi, ratusan warga tumplek blek ingin melihat wajah-wajah para pelaku pengeboman.
Rekonstruksi mengambarkan peran Patek yang dominan. Selain menjadi otak intelektual bersama Dulmatin, dia mengajari Hari Kuncoro dan almarhum Maulana, pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton Jakarta, cara merakit bom.
Reka ulang memperlihatkan, para pelaku Bom Bali I tak merakit komponen elektronik di Solo untuk menjadi bom lalu dibawa ke Bali. Mereka merencanakan pengeboman dengan menggelar beberapa kali pertemuan.
Seusai survei lokasi yang menjadi sasaran pengeboman, Patek bersama kompolotannya kerap menggelar pertemuan di sejumlah tempat. Mereka antara lain Dulmatin, Imam Samudera, Ali Gufron alias Muklas, Amrozi, Ali Imron, Abdul Ghoni, Utomo Pamungkas alias Mubarok, Sawad alias Sarjio, dan Hari Kuncoro alias Bahar alias Husein. Perencanaan pengeboman di antaranya di rumah Hernianto di Desa Manang, Sanggrahan, Grogol dan rumah kontrakan Hari Kuncoro di Sidodadi, Pajang, Laweyan.
Rekonstruksi pertama digelar di Terminal Tirtonadi, Solo, sekitar pukul 05.15-05.30. Di sini, Patek menjalani dua adegan, yakni saat berangkat ke Bali untuk survei dan ketika pulang dari Bali menggunakan bus.
Pertemuan
Dalam adegan pertama, Patek diantar ke Terminal Tirtonadi oleh Dulmatin (diperankan petugas) dengan sepeda motor. Setelah reka ulang di Tirtonadi, Patek dikeler petugas ke lokasi kedua di rumah kontrakan Dulmatin di Dukuh Mantung, RT 04 / RW 05, Sanggrahan, Sukoharjo.
Dia dibawa dengan mobil Barracuda. Di rumah milik Suharno ini, Dulmatin dan Patek yang tinggal beberapa lama mengajarkan cara membuat bom kepada Hari Kuncoro dan Maulana (diperankan petugas). Imam Samudera dan Abdul Ghoni diketahui mengontrak rumah yang berdekatan dengan mereka.
Reka ulang berlanjut ke rumah kontrakan Hari Kuncoro di Sidodadi. Di tempat itu para pelaku menggelar pertemuan untuk merencanakan pengeboman. Selain Patek, yang menjalani rekonstruksi di sini adalah Ali Imron, Abdul Ghoni, Mubarok, Sawad, dan Hari Kuncoro. Pelaku lain seperti Muklas, Amrozi, Imam Samudera, dan Idris diperankan petugas.
Rekonstruksi terakhir digelar di rumah kontrakan di Perumahan Candi Baru, Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, sekitar pukul 07.00-07.17. Di sini, Patek bersama Hari Kuncoro serta Imam Samudera dan Dulmatin mematangkan rencana kesiapan aksi Bom Bali I.
Mereka kemudian secara terpisah berangkat ke Bali untuk bertemu Amrozi dan pelaku lain. Di Bali, berbagai rangkaian elektronik dirakit, sejumlah bahan peledak dibeli, hingga bom diledakkan.
Setelah aksi Bom Bali I, Hari Kuncoro di rumah kontrakannya di Kampung Sidodadi, Pajang, menjamu Patek yang datang bersama pelaku lain. Mereka merayakan keberhasilan meledakkan bom di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, serta di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat. “Mereka memang makan-makan setelah Bom Bali I,” ungkap seorang perwira Polresta Surakarta yang meminta namanya dirahasiakan. 
Total waktu reka ulang di empat titik itu adalah dua jam. Pada Sabtu siang, Patek, Ali Imron, Mubarok, dan Hari Kuncoro diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani penahanan di Mabes Polri. Adapun Abdul Ghoni dan Sawad dikembalikan ke LP Kedungpane Semarang. (G11,K23,H46-65)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/10/23/163754/