Jumat, 02 Maret 2012

Besok Pesta Siaga Kwarcab 11.28 Tegal

SEJUMLAH 36 barung tergiat putra dan putri dari 18 Kwartir Ranting (Kwarran) se-Kwarcab 11.28 Tegal, siap beradu kemampuan dan ketrampilan dalam gelaran Pesta Siaga tingkat Kwartir Cabang 11.28 Tegal, Minggu (4/3) besok.
Gelaran tingkat cabang yang merupakan ajang kreativitas dan ketrampilan bagi Pramuka Siaga tersebut, rencananya akan dihelat di komplek Sekretariat Pemkab Tegal dan bakal dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Tegal, H Moch Hery Soelistiyawan SH MHum.
“Peserta merupakan barung tergiat putra dan putri tingkat Kwarran,” terang Andalan Cabang Urusan Siaga yang juga Ketua Panitia Kegiatan, Makmuri SPd, kemarin.
Menurutnya, pelaksanaan kegiatan Pesta Siaga dimaksudkan sebagai sarana memberikan wadah yang terarah bagi peserta didik (pesdik) khususnya usia Siaga, sehingga diharapkan Pramuka Siaga dapat meningkatkan pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, serta mengembangkan dirinya.
“Upaya ini juga dalam rangka penanaman sikap disiplin, patriotisme, dan cinta tanah air bagi generasi bangsa,” tegasnya.
Dimana dalam warung kegiatan, tambah Makmuri, adik–adik Siaga diberikan materi dan ketrampilan yang akan menopang pembentukan karakter dan watak disiplin, cinta tanah air, maupun patriotisme tadi, yaitu seperti warung agama, seni budaya, pengetahuan tentang nama–nama mantan Presiden RI, ketrampilan, ketangkasan, dan kepemimpinan.
“Bagi barung tergiat nantinya akan mewakili Kwarcab 11.28 Tegal diajang yang sama di tingkat Binwil Pekalongan yang bakal digelar di Kota Tegal 18 Maret 2012 mendatang,” tandasnya.
AKSI DONOR DARAH
Bersamaan dengan kegiatan Pesta Siaga tingkat cabang sekaligus dalam rangka mengambil momentum kelahiran Bapak Pandu Dunia “the founding father” Baden Powell, Bidang Pengabdian Masyarakat dan Hubungan Masyarakat (Abdimas dan Humas) bakal menggelar aksi donor darah sukarela. Dalam aksi donor darah tersebut, Bidang Abdimas dan Humas Kwarcab 11.28 Tegal menggandeng Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Tegal.
Hal itu diungkapkan koordinator aksi donor darah sukarela yang juga anggota Bidang Abdimas dan Humas, Tri Basuki. Menurutnya, kegiatan donor darah sukarela ini digelar sekaligus sebagai pembelajaran bagi adik-adik Siaga yang tengah mengikuti Pesta Siaga tingkat Kwarcab 11.28 Tegal. Pasalnya, aksi donor darah sukarela akan ditempatkan berdekatan dengan sekretariat utama kegiatan Pesta Siaga tingkat Kwarcab 11.28 Tegal.
“Mohon dukungan dan partisipasi dari semua pihak, baik Pembina Pramuka maupun masyarakat guna suksesnya kegiatan donor darah ini,” harapnya.
Tri Basuki berharap, aksi donor darah tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pramuka Peduli yang dapat memberikan manfaat bagi sesama yang membutuhkan. “Mudah-mudahan aksi ini dapat bermanfaat bagi sesama,” ujarnya.
Sementara secara terpisah, Ketua PMI Kabupaten Tegal, dr H Bimo Bayu Adji, melalui Humasnya, Sunarto, menyambut baik aksi pedulu Pramuka Kwarcab 11.28 dengan menggelar donor darak sukarela tersebut. Pihaknya berharap, kegiatan sejenis dapat menjadi agenda rutin Pramuka.
"Kami berharap, donor darah sukarela ini dapat lebih diintensifkan lagi. Setidaknya, dapat dijalankan secara rutin. Karena dengan donor darah, dapat membantu meringankan beban penderitaan sesama yang sangat membutuhkan darah," ujarnya. (fatkhurohman)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Besok-Pesta-Siaga-Kwarcab-11.28-Tegal.html

Instansi Harus Bertanggung Jawab

ADA kebijakan yang keliru dilakukan oleh sejumlah instansi terkait pada kasus ekploitasi bukit di wilayah Margasari. Kondisi itu menimbulkan ketidaksetujuan warga. Hal itu harus disikapi serius oleh Pemkab Tegal. Jika tidak bisa, akan berdampak pada kegiatan itu sendiri. Sementara, Pemkab Tegal merasa dilematis dalam menangani. Meski sudah menemukan formula terbaik guna solusi penyelesaiannya.
“Kami kira ada kebijakan keliru yang dilakukan oleh sejumlah instansi, terkait ekploitasi dan segala kegiatannya. Tidak mungkin warga protes jika semua prosedur dilakukan secara benar,” jelas Ketua DPRD Kabupaten Tegal, Rojikin AH SE, kemarin di kantornya.
Dikatakan Rojikin, dirinya yakin jika kejadian itu dirunut, dari awal ijin diberikan sampai dengan pelaksanaan, pasti ada yang keliru. Muncul pertanyaan, mengapa kendaraan berat bisa melintas di atas jalan kabupaten kelas III yang bukan peruntukannya. Itu salah satu penyebab yang harus dikaji dan instansi mana yang harus bertanggung jawab. “Pemkab harus bersikap tegas dan menyikapi instansi yang melanggar kebijakan ini,” ujarnya.
Disisi lain, Sekda Pemkab Tegal, Drs H Haron Bagas Prakosa MHum, menegaskan, jika kejadian itu merupakan sebuah permasalahan yang dilematis. Disatu sisi Pemkab Tegal yang memiliki lahan untuk alam yang bisa dikelola dan tidak bisa membatasi jika daerah lain akan memanfaatkannya. Apalagi kegiatan tersebut menggunakan anggaran pusat. Dirinya khawatir jika membatasi, maka terkesan tidak loyal dengan pemerintah pusat. “Padahal kabupaten masih menerima anggaran dan bantuan dari pusat. Ini yang membaut kami dilematis,” jelas Bagas.
Namun, saat ini dirinya sudah memanggil instansi terkait dan menemukan formula solusi. Dimana pihak DPU untuk melakukan kajian terkait infrastruktur yang ada di sekitar lokasi kegiatan ekploitasi. Khusunya untuk jalan dan jembatan yang dilalui aktivitas kendaraan kegiatan itu. Karena dari perusahaan sudah menyepakati untuk siap mengganti semua infrastruktur yang rusak akibat kegiatannya.
“Kami minta DPU mendata dan memotret kondisi jalan saat ini. Dan paska kegiatan segala kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan untuk dikomplainkan kepada perusahaan pemilik kegiatan. Kami kira ini solusi terbaik dan dipahami semua pihak,” terangnya.
Sementara, terkait dengan adanya kebijakan keliru yang dilakukan instansi tertentu seperti dispensasi yang kurang koordinasi sehingga berdampak negatif, sudah barang tentu bakal disikapi dengan tegas dan bijak.
“Sudah pasti, kami bakal menegur instansi bersangkutan dan untuk berhati-hati dalam memberi kebijakan atau dispensasi,” pungkas Bagas. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Instansi-Harus-Bertanggung-Jawab.html

Kamis, 01 Maret 2012

SKB Rusak Dindikpora Angkat Tangan

UPAYA menyelesaikan permasalahan bangunan fisik yang cukup memprihatinkan di UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), yang sebelumnya akan diupayakan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga (Dindikpora) Kabupaten Tegal, akhirnya sirna.
Hal ini lantaran alokasi dana yang dimungkinkan akan diambilkan dari Dana Alokasi Khusus (DAK), tidak bisa dilakukan. Sebab dalam aturan petunjuk pelaksanaan (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) DAK memang hanya dikhususkan untuk Kepala Dindikpora Kasbupaten Tegal, Drs Edi Pramono, melalui Sekretarisnya, Edi Budiyanto, tidak menampik jika SKB memang dalam pola pembinaan dan pengelolaan langsung dibawah institusinya. Sementara bidang PNFI, hanya terfokus pada pembinaan kurikulum yang ada di SKB.
 "Setelah kami melihat aturan juklak dan juknis penggunaan DAK, disana tidak mengatur pengalokasian dana untuk bidang pendidikan informal. Kami takut bila tetap menggunakan DAK untuk alokasi SKB, justru nantinya menimbulkan masalah dan bersinggungan dengan aturan hukum. Disini kami akan segera melakukan langkah konfirmasi dan koordinasi dengan pihak propinsi agar bisa diupayakan pengadaan dana perbaikan untuk SKB. Namun bila ajuan itu direspon propinsi, kami juga menjamin tidak bisa serta merta dialokasikan pada tahun ini. Prediksi kami, bantuan itu bisa direalisasikan tahun 2013 untuk kegiatan rehab," tegasnya, Kamis (1/3) kemarin.
Dia menegaskan, Dindikpora punya komitmen yang besar untuk mendukung dan mewujudkan rehab sarana dan prasarana (sarpras) di UPTD SKB, yang kini kondisinya sangat memprihatinkan.
Selain menempuh langkah koordinasi dengan propinsi, pihaknya juga berupaya mencari informasi di pusat untuk mendapatkan dukungan dana rehab UPTD SKB. "Bila dari dua upaya itu juga belum membuahkan hasil, upaya final kami adalah memprioritaskan ajuan dana pada APBD II ditahun 2013 mendatang," cetusnya.
Terpisah, Kepala UPTD SKB, Hj Nurnaningsih SPd, mengakui, bidang PNFI memang sempat melakukan tinjauan untuk memastikan kondisi riil sarpras yang ada sekarang. Dia juga berharap, dengan kondisi yang ada sekarang ada perhatian serius dari Pemkab untuk mendukung kegiatan belajar mengajar bagi pamong belajar yang ada disana. Dan pihaknya juga mengaku, terpaksa mengeluarkan dana dari kocek pribadi hanya sekedar untuk memperbaiki ruang kerjanya dan ruang tamu agar lebih manusiawi untuk dijadikan tempat kerja. (her)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/SKB-Rusak-Dindikpora-Angkat-Tangan.html

Menilik Geliat Pemkab Tegal Membina PKL

Ratusan PKL di Slawi Timbulkan Kesan Semrawut
PKL di lingkungan kota Slawi, khususnya di sepanjang Jalan Letjen Suprapto kawasan ruko Slawi, menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat dan Pemkab Tegal karena menimbulkan kesan semrawut. Pemkab pun kemudian berupaya menempuh langkah-langkah penataan. Lalu ?
LAPORAN : FATKHUROHMAN
JUMLAH Pedagang Kaki Lima (PKL) yang memadati ruas Jalan Letjen Suprapto terutama di kawasan ruko Slawi, mencapai ratusan. Pedagang yang berjualan di trotoar jalan dan sudah memanfaatkan bahu jalan tersebut, menjual beraneka ragam barang dagangan. Mulai dari sayuran, jajanan, pakaian, dan lainnya.
    Salah satu warga yang kebetulan sedang berbelanja di sekitar kawasan ruko Slawi, Mukmin, menuturkan, keberadaan PKL di jalan tersebut sebenarnya harus menjadi perhatian serius dari Pemkab Tegal. Karena PKL ini merupakan masyarakat Kabupaten Tegal yang ingin meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui usaha dagangnya. Namun di sisi lain, juga sangat mengganggu pengguna jalan. Selain itu, juga berdampak pada kebersihan ibu kota Kabupaten Tegal yang menjadi kurang terjaga.
    “Pemkab harus mencarikan solusi terbaik agar kota juga terlihat bersih dan tidak kumuh, tetapi para pedagang juga tidak merasa dirugikan. Karena, mereka juga butuh makan dari hasil dagangannya,” katanya.
    Ditambahkan, adanya PKL di sepanjang jalan tersebut, juga sangat mengurangi persiapan penilaian Adipura yang sedang digalakkan oleh Pemkab Tegal. Karenanya, permasalahan ini harus dicermati secara baik dan bijaksana.
    “Secara pribadi saya berpendapat, harus ada relokasi. Kalau memang mau bersih dan Adipura pun dapat diraih. Kalaupun tidak, harus ada pengaturan agar PKL tidak menumpuk dan diatur waktunya,” ujarnya.
    Sementara secara terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Tegal, Ir Toto Subandriyo, menuturkan, bahwa pembinaan PKL di lingkungan Slawi, baik itu di Jalan Letjen Suprapto, Mayjen Sutoyo, maupun di Jalan dr Soetomo dan Wahid Hasyim serta lainnya, dilakukan secara sinergi dengan instansi terkait lainnya. Bahkan, saat ini sedang dilakukan pembinaan kepada PKL, dalam rangka meraih Adipura.
    Yang sedang ditempuh saat ini, lanjut Toto Subandriyo, adalah melakukan pendataan PKL dengan model persuasif. Yakni, dengan membentuk paguyuban di masing-masing wilayah. Hal ini dilakukan agar tidak ada lagi tambahan PKL.
    “Sementara yang sudah kita lakukan pembinaan dan diberikan gerobak yang sama, yakni PKL yang ada di depan RSUD di Jalan dr Soetomo dan PKl di Depan Rumah Dinas Bupati di Jalan Wahid Hasyim. Untuk yang lain, sedang dilakukan pembinaan secara bertahap,” kata dia.
    Diakui, untuk PKL sementara ini memang sulit dilakukan relokasi. Meskipun, Pemkab telah menyediakan tempat di depan terminal Slawi. Namun sayangnya, hingga saat ini belum bisa ditempati PKL.
    “Untuk mengatasi PKL ini sebenarnya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga masyarakat atau PKL itu sendiri. Karena secara sadar, kita semua tahu bahwa fungsi jalan dilihat dari segi apapun, baik keindahan, ketertiban, dan keamanannya, sangatlah tidak pas untuk berjualan,” ujarnya.
    Dirinya berharap, para PKL dapat ikut memikirkan bersama permasalahan tersebut. Jika suatu saat dipindah pun, harus bersama-sama menyadari bahwa upaya itu bukanlah untuk kepentingan pribadi atau golongan tetapi untuk kepentingan bersama. (*)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Menilik-Geliat-Pemkab-Tegal-Membina-PKLMenilik-Geliat-Pemkab-Tegal-Membina-PKL.html

15 Kecamatan Nunggak Raskin

KRAMAT - Awal bulan Maret ini, merupakan jatah penyaluran beras miskin (Raskin) ke wilayah Kabupaten Tegal. Namun penyaluran itu mengalami kendala, lantaran masih ada yang menunggak. Yakni, sebanyak 15 kecamatan dari 18 kecamatan di wilayah Kabupaten Tegal yang mengalami keterlambatan pelunasan Harga Pembelian Beras (HPB).
Kepala Bulog Larangan 601 Sub Drive VI Pekalongan, Suprapto, mengatakan demikian kepada wartawan, Kamis (1/3) pagi, di ruang kerjanya.
Dia menjelaskan, alokasi penyaluran raskin bulan Februari dilakukan pada awal bulan tersebut. Mestinya dua minggu setelah penyaluran, HPB sudah masuk ke bulog. Namun sampai dengan hari ini, baru tiga kecamatan yakni Kecamatan Slawi, Bojong, dan Pangkah yang baru melunasinya. Dia berharap, 15 kecamatan lainnya segera melunasi sebelum memasuki pertengahan bulan Maret ini.
"Untuk wilayah Kota Tegal sudah lunas sejak pertengah Februari silam. Yang sering nunggak cuma Kabupaten Tegal saja," tegasnya.
Alokasi raskin untuk Kabupaten Tegal hingga Maret ini, sebanyak 1.534.455 kilogram. Sedangkan Kota Tegal, hanya 226.155 kilogram. Sehingga jumlah total dari kedua daerah tersebut adalah, 1.760.610 kilogram. Sejauh ini, stok raskin untuk tiga bulan kedepan, dipastikan aman. Stok yang tersimpan di gudang bulog setempat, sebanyak 5000 ton. Dan bulan Maret ini, merupakan penyerapan gabah dan beras dari mitra atau petani.
"Penyaluran raskin untuk Kota Tegal tidak ada masalah. Yang sering terkendala wilayah Kabupaten Tegal," pungkasnya. (yer)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/15-Kecamatan-Nunggak-Raskin.html

Esemka Tak Lulus Uji Tipe

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Langkah Walikota Surakarta, Joko Widodo untuk memproduksi mobil Esemka sebagai mobil massal nampaknya butuh waktu lebih lama lagi. Kementerian Lingkungan Hidup belum meloloskan uji emisi, mobil tersebut juga belum lolos uji tipe.
Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Bambang S Ervan mengatakan, uji emisi yang dilakukan beberapa waktu lalu masih belum memenuhi standar.
"Kami berharap agar pemohon tidak patah semangat, karena emisi Esemka belum memenuhi standar Kementerian Lingkungan Hidup," kata Bambang kepada wartawan di Jakarta, Kamis (1/3/2012).
Disebutkan Bambang, standar emisi untuk mobil baru harusnya membuang karbondioksida (CO) dengan 5 gram per km dan HC+NOx standar 0,70 gram/km. Namun mobil Esemka emisi pembuangannya masih cukup tinggi yaitu CO-nya 11,63 gram/km dan HC+NOx sebesar 2,69 gram/km.
"Kami menyarankan perbaikan kinerja emisi gas buangnya. Standar ini diatur dalam Kepmen KLHJ No.04/2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang untuk Kendaraan Bermotor Tipe Baru," ujarnya.
Dia menjelaskan, tidak ada batas waktu perbaikan, merek bisa menggunakan Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor.
Disebutkannya, pada 2010 Esemka sudah mengajukan uji laik jalan, namun ternyata masih ada kekurangan di lampu, standarnya kurang dipenuhi. Pihak balai pengujian meminta untuk diperbaiki. "Tetapi saat ini mereka belum mengajukan lagi," ujarnya.
Untuk lampu yang tidak lolos, jelasnya, pemerintah menetapkan standarnya dalam satu lampu memiliki 12.000 candle (CD), namun pada Esemka lampu kanannya baru menyinarkan 10.900 CD dan sebelah kiri sebanyak 6.700 CD. "Ini masih bisa diperbaiki," ujarnya.
Untuk hal ini, Ditjen Perhubungan Darat telah mengirimkan surat ke PT Solo Kreasi untuk menjelaskan agar berkoordinasi dengan BPPT untuk meningkatkan standar sehingga memenuhi syarat.
Surat tersebut tertuang dalam SK bernomor AJ.S0E/17/6/DJPD/2012 tertanggal 29 Februari tentangs Uji Ulang Uji Emisi EURO 2 yang ditandatangani oleh Direktur DLLAJ Kemenhub, Sudirman Lambali atas nama Dirjen Perhubungan Darat.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/esemka-tak-lulus-uji-tipe-065634778.html

Demi Sang Raja Puluhan Ribuan Wanita Telanjang Dada

Hasil penelitian di Italia beberapa tahun lalu membuktikan, bahwa kadar cinta seseorang yang ”jatuh cinta” hanya mencapai puncaknya sekitar satu tahun.Hal ini bisa dibuktikan dengan kenaikan sel darah putih, yang hanya maksimal satu tahun. Penelitian ini sebagai isyarat, bahwa perasaan jatuh cinta bukan pengalaman psikis semata, melainkan bisa diukur secara kimiawi. Hasil penelitian yang muncul tahun 2006 ini, menurut pandangan raja Mswati III asal negara Swaziland.


Karena raja MSwati III asal Swaziland sudah lama mengetahuinya, bahkan mempraktekannya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan kegemarannya memilih perawan cantik setiap tahun untuk dijadikan istrinya.
Kadar cinta bertahan satu tahun? Setelah beberapa minggu saja kadar cinta raja Swaziland sudah mulai menurun, dan mulai melirik gadis cantik lainnya untuk dijadikan istri berikutnya.

Dan tidak bisa dipungkiri, kegemaran raja Mswati III menikai gadis cantik setiap tahun ini menghasilkan kritik dan geram dari berbagai pihak. Bahkan tindak tanduk raja Mswati III selalu menarik perhatian media, baik dari dalam dan luar negeri. Seperti pesta tahunan yang terjadi beberapa waktu lalu.

Suasana malam minggu di negara Swaziland menjadi sangat meriah, dengan kehadiran 40.000 wanita muda yang masih perawan. Mereka menghadiri pesta, dan menarikan tarian khusus, dalam rangka tebar pesona.

Dengan tujuan membuat jantung raja Mswati III ber-dag dig dug, agar memilihnya untuk dijadikan istri raja yang ke-14.

Para wanita muda yang dijamin 100% masih perawan ting-ting ini sangat antusias untuk membuktikan mimpinya. Mimpi menjadi wanita bangsawan dengan kehidupan glamour.



Dalam acara tari-tarian tersebut para wanita mengenakan baju pesta, dengan membiarkan buah dadanya yang ranum tersebut terbuka.

Dan tidak bisa dipungkiri, ini salah satu kesempatan raja Mswati III untuk melihat keindahan tubuh gadis-gadis tersebut secara utuh.

Pesta adat tahunan yang dilaksanakan dikota Ludzidzini tersebut, seperti biasanya mendapatkan pemberitaan secara nasional dan internasional. Karena bukan rahasia umum lagi, kegemaran raja Mswati III yang suka glamour dan hura-hura.

Semua istri-istrinya didapatkan melalui pesta tahunan. Hal ini dikecualikan untuk istrinya yang nomor 12. Karena saat raja Mswati III menikahi wanita tersebut, usia pernikahan dengan istrinya yang ke-11 baru berumur dua minggu.


Raja yang sempat mengenyam pendidikan di Inggris dengan mengambil jurusan matematika tersebut, tentu tidak perlu disangsikan lagi kemampuannya mengotak atik angka. Termasuk mengotak -atik jumlah istri, dan cara memilih satu gadis dari 40.000 gadis-gadis yang bertebaran dimatanya.

Walau mendapat kritik sana-sini, raja Mswati III tidak akan bergeming sedikitpun. Kegemarannya memilih wanita cantik setiap tahun, tidak akan beliau hentikan.

Mengingat ayah kandungnya (raja Sobhuza II), semasa hidupnya menikah dengan 70 wanita, dan memiliki 210 anak.

Raja yang memerintah negara Swaziland sejak penobatannya pada tanggal 25 April 1986 tersebut, bukan sekedar raja biasa. Beliau merupakan raja dari kerajaan yang berbentuk monarki.

Dan inilah monarki yang paling terakhir di benua Afrika. Dimana beliau juga disebut penguasa tunggal atau alleenheerser.


Sebagai penguasa kerajaan monarki, raja Mswati III memerintah negara Swaziland tanpa undang-undang dasar.

Dan berhak mengangkat dan mencopot para mentri-mentrinya semaunya sendiri.

Negara Swaziland yang terletak dibagian ujung benua Afrika bagian selatan tersebut, bisa dikatakan sebagai negara miskin. Mengingat negara yang berpenduduk 1,2 juta tersebut, sepertiga dari rakyatnya menggantungkan kebutuhan pangan dari sumbangan dunia internasional.

Bahkan sekitar 65% dari penduduknya, hanya mempunyai pendapatan sebesar 1 dolar setiap harinya. Angka ini sungguh sangat kecil, agar warganya bisa hidup layak. Bahkan sebagian besar penduduknya juga doyan minum alkohol, walau penghasilannya rendah.

Dinegara Swaziland juga ditemukan banyaknya kasus penularan virus HIV, seperti kebanyakan negara-negara Afrika. Akan tetapi raja Mswati III sepertinya menutup mata, untuk peduli meningkatkan perbaikan kesehatan rakyatnya.

Raja yang pelit terhadap kesejahteraan warganya ini, tidak demikian terhadap wanita-wanita yang menjadi istrinya. Semua istri-istrinya dimanja dengan harta benda dan kehidupan glamour, seperti layaknya kehidupan kalangan bangsawan. Semua istri-istrinya diberi hadiah mobil mercedes yang paling terbaru, dan tinggal di istana yang megah.

Bahkan raja MSwati III tidak risau sama sekali dengan kritikan dunia luar, saat beliau dengan enteng mengumumkan dana pesta yang beliau keluarkan. Dana yang dibutuhkan untuk acara pesta adat seperti ini, hampir 800.000 dolar setiap tahunnya. Angka ini sungguh besar untuk negara Swaziland.

Pesta yang dihadiri oleh 40.000 perawan ting-ting. Tentu selalu menarik perhatian pekerja pers baik didalam maupun luar negeri.
Sumber Berita : http://indonekat.blogspot.com/2008/11/demi-sang-raja-puluhan-ribuan-wanita.html