Kamis, 05 Januari 2012

Tiga Pedukuhan Masih Terisolir

SEJUMLAH tiga pedukuhan yaitu Pedukuhan Sawangan Desa Sigedong Kecamatan Bumijawa, Dukuh Karang Sari Desa Wotgalih Kecamatan Jatinegara, dan Dukuh Sidamulya Desa Lebaksiu Lor Kecamatan Lebaksiu, sampai kini masih terisolir. Bahkan dua pedukuhan yaitu Karang Sari dan Sawangan, sampai kini belum dimasuki jaringan listrik. Sedang untuk jalur komunikasi jalan penghubung, ketiganya belum terbangun secara baik.
Kondisi itu membuat ketiga pedukuhan tersebut jika malam hari gelap gulita, karena sarana penerangan rumah warga hanya menggunakan lampu minyak (lampu tempel). Bahkan warga saat ada keperluan menuju ke balai desa harus menempuh jarak belasan kilometer dengan berjalan kaki. “Bahkan warga Dukuh Sawangan sampai mengambil jalan memutar lewat wilayah Brebes jika ingin ke kantor balai desa,” kata BR Irawanto, Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Tegal, dari FPDI Perjuangan, asal Jatinegara.
Dikatakan Irawanto, kondisi seperti itu sudah berlangsung puluhan tahun sejak kemerdekaan. Sayangnya, sampai kini belum ada tindak lanjut dari Pemkab setempat. Bahkan yang masih sangat terisolir yaitu Dukuh Karang Sari Desa Wotgalih Jatinegara. Untuk dua pedukuhan lain yaitu Sidamulya Lebaksiu Lor, tahun 2011 sudah dimasuki jaringan listrik. Sedang Dukuh Sawangan melalui TMMD, tengah dibangun jalan penghubung.
Disisi lain, Anggota Komisi I dari FP Golkar, M Khuzaeni SE SH, menjelaskan, jika income perkapita (pendapatan) warga dua pedukuhan yakni Sidamulya dan Karang Sari, masih sangat minim. Hanya satu pedukuhan yang pendapatan warganya cukup tinggi bahkan bisa mencapai Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu perhari, yaitu Dukuh Sawangan Desa Sigedong. “Mereka kebanyakan bermatapencaharian sebagai petani sayur. Karena di pedukuhan itu memang basis sayuran di wilayah Bumijawa,” terangnya.
Keduanya berharap agar Pemkab Tegal melalui dinas instansi terkait, diminta untuk lebih memperhatikan tiga pedukuhan tersebut agar tidak tertinggal terlalu jauh dari pedukuhan lain. Menurutnya, jika ada pos anggaran yang sedikit lebih banyak terhadap ketiga  pedukuhan itu, maka kondisi ketertinggalan pedukuhan itu bisa diperbaiki untuk menjadi lebih maju.
Ditambahkan, keduanya juga mengatakan, jika ketersediaan anggaran daerah kurang mencukupi, Pemkab Tegal bisa melakukan beberapa upaya lain melalui dana-dana dari propinsi maupun pusat. Seperti dana bantuan percepatan desa tertinggal atau dana lainnya untuk pedukuhan itu. “Toh, mereka bagian dari Kabupaten Tegal juga membayar kewajiban PBB dan pajak lainnya. Jadi sangat pantas untuk diperhatikan,” ujar M Khuzaeni, yang diamini BR Irawanto. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Menilik Dari Dekat Ritual Rutin bagi Mahasiswa Baru UPS Tegal

Lakukan Perenungan di Telaga Langen Tirto Desa MuncanglarangSinergitas dan kebersamaan antara warga masyarakat Desa Muncanglarang Kecamatan Bumijawa dengan UPS Tegal, sudah terjalin sejak berdirinya perguruan tinggi itu. Hal itu direalisasikan setiap semester awal mahasiswa baru UPS Tegal, dengan melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan di desa itu. Ada apa ?
LAPORAN : MOH GHONI
Kegiatan sosial kemasrakatan mahasiswa khususnya Universitas Panca Sakti (UPS) Tegal di desa dalam pelaksanaan KKN, bukan sesuatu hal yang istimewa. Namun jika setiap semester awal mahasiswa perguruan tinggi itu harus ke desa tertentu, pasti ada sesuatu yang patut dipertanyakan. Begitupun yang terjadi antara UPS Tegal dengan Desa Muncanglarang Bumijawa.
Dikatakan oleh Kades Muncanglarang, Alek Subekti SE MM, jika kebersamaan dan sinergitas kedua pihak, sudah terjalin sejak berdirinya UPS Tegal. Bahkan ada semacam kewajiban jika mahasiswa baru harus melakukan perenungan di desa itu, khususnya di sebuah telaga yang bernama Telaga Langen Tirto.
“Konon cerita masa lalu, telaga itu dipergunakan sebagai tempat perenungan calon pemimpin. Maka, mahasiswa baru UPS pun melakukan perenungan di telaga tersebut,” Kata Alek Subekti, kemarin.
Menurut dia, kegiatan perenungan itu selain bisa memberi motivasi kepada mahasiswa, juga memberikan dampak bagi masyarakat sekitar. Yakni sisi positifnya, juga bisa memotivasi warganya untuk berpikir lebih maju khususnya di bidang pendidikan. Bahkan sinergi lain dari keberadaan mahasiswa di Desa Muncanglarang, membuat warga merasa terhibur dan bisa menjalin silaturahmi dengan mahasiswa.
“Setiap semester sekitar 200 mahasiswa menginap di rumah warga secara gratis selama masa perenungan. Imbasnya, ada sinergi positif diantara keduanya. Bahkan, sampai kini masyarakat selalu menunggu kehadiran mahasiswa UPS baru,” terangnya.
SOSIAL KEMASYARAKATAN
Selain kegiatan perenungan di Telogo Langen Tirto, sejumlah kegiatan juga digadang oleh mahasiwa UPS dan masyarakat desa. Bentuk kegiatan dimaksud, bersifat sosial kemasyarakatan seperti penghijauan lingkungan. Untuk bibit tanaman penghijauan, didapat dari mahasiswa. Sedang penanamannya, bersama masyarakat. Biasanya penghijauan dilakukan di sekitar telaga atau di beberapa titik desa yang kekurangan tanaman penghijauan.
Masih menurut Alek Subekti, selain pelatihan pengembangan kepemimpinan di Desa Muncanglarang, mahasiswa juga membangunkan rumah warga yang reot yang terbuat dari kayu. Serta melakukan kegiatan dengan memperbaiki sejumlah infrastruktur seperti irigasi pertanian, pengecatan masjid dan musola, serta lainnya yang bersifat tidak terlalu membutuhkan biaya besar.
“Semua dibiayai oleh mahasiswa dan didukung oleh pihak UPS Tegal, beserta pengurus yayasan,” ujarnya.
Sementara, pada konteks tertentu mahasiswa maupun pihak UPS Tegal juga memberikan bantuan kepada masyarakat kurang mampu di desa itu. Bahkan tidak jarang mereka memberikan santunan kepada anak yatim dan tidak mampu dari Desa Muncanglarang.
“Intinya, sinergitas itu menguntungkan kedua pihak dan masyarakat berharap agar kegiatan ini menjadi agenda rutin yang tidak terputus,” pungkasnya. (*)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Hindari Fitnah Pelayanan e KTP Ditertibkan

ADIWERNA - Besarnya animo warga yang ingin mendapatkan e-KTP dalam program gratis hingga April 2012 mendatang, mencuatkan berbagai permasalahan dilapangan. Di Kecamatan Adiwerna sendiri yang memayungi 21 desa, sempat mencuat adanya tudingan jika pihak kecamatan memudahkan salah satu desa dengan membooking waktu pelayanan, sehingga jadwal untuk warga desa lainnya dinomor duakan.
Hal ini dibantah keras Camat Adiwerna, HM Soleh, yang mengaku sebelum pelaksanaan pemotretan dan perekaman data pribadi program e-KTP, pihaknya terlebih dahulu menggelar rakor dengan masing-masing pokja untuk menyusun alokasi waktu pelayanan.
"Memang dengan 21 desa yang ada dibanding dengan waktu kerja yang hanya 5 hari, tidak sebanding. Dan agar tidak ada warga yang tercecer dalam program pelayanan e-KTP gratis, ada beberapa desa yang berinisiatif untuk mengoptimalkan waktu pada malam hari. Kami pun melakukan koordinasi dengan petugas termasuk desa yang meminta pelaksanaan pemotretan diluar hari kerja Sabtu dan Minggu. Jadi ini murni inisiatif desa dan tidak ada istilah pembookingan jam dan waktu pelaksanaan. Toh program e-KTP benar-benar gratis, tidak ada punggutan dari pihak kecamatan," ujarnya, Rabu (4/1).
Upaya mengejar target yang dilakukan masing-masing desa, sebagai bentuk pelayanan prima terhadap warganya tersebut juga ditoleransi oleh pihak kecamatan sebagai penghubung dengan tenaga pelaksana yang diterjunkan Disdukcapil di masing-masing kecamatan.
"Dari fenomena ini kami sempat menggelar rapat kordinasi dengan pokja yang melayani program e-KTP agar kedepan kecamatan akan melakukan pelayanan sesuai jadwal yang ditentukan Disdukcapil. Yakni pagi pukul 08.00 WIB hinga pukul 17.00 WIB. Dan kami tidak akan lagi melayani permintaan pelayanan pada hari Sabtu dan Minggu, mengingat tenaga yang ada terbatas dan mereka juga butuh waktu istirahat yang cukup. Hal ini juga kami tempuh agar tidak muncul lagi penilaian negatif yang menyudutkan pihak kecamatan tekait isu kemudahan yang diberikan kepada beberapa desa," tegasnya.
Dengan penetapan ini, setidaknya masyarakat bisa memaksimalkan waktu yang ada dan jadwal yang sudah ditetapkan. (her)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Gadis ABG Digilir 7 Pria

SURADADI - Tragis! Seorang anak baru gede (ABG), digilir 7 pria di pantai Purwahamba Indah (Purin), Suradadi, belum lama ini. Gadis ABG, sebut saja Melati (16), merupakan warga Desa Jatimulya Kecamatan Suradadi.
Sebelum digilir 7 pria yang tidak bertanggung jawab itu, Melati diberi minuman keras dan disuruh menelan pil yang memabukkan. Melati merupakan siswi kelas 9 SMP di Suradadi. Sebelum kasus ini dilaporkan ke pihak berwajib, lebih dulu keluarga korban melaporkan ke balai desa setempat.
"Orang tua korban, kemarin melaporkan ke kami. Dan selanjutnya, kami melaporkan ke Polsek Suradadi," kata Sekretaris Desa Jatimulya, Akmari, Rabu (4/1).
Berdasarkan laporan dari orang tua korban, Akmari menjelaskan, kejadian itu bermula ketika Melati didatangi salah satu pelaku, Hd, yang berdomisili di Desa Harjasari Kecamatan Suradadi. Hd datang ke rumah korban, hari Jumat (24/12) malam sekira pukul 19.30 WIB. Kemudian Hd mengajak Melati jalan-jalan ke Purin. Sampainya di Purin, Hd mengajak Melati ke sebuah warung minuman di sekitar Peleman. Di tempat tersebut, Hd menyuruh Melati minum beberapa Pil yang tidak tahu jenisnya apa. Selang berapa lama, Melati diajak kembali ke Purin. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba di Purin sudah ada 6 pria yang merupakan teman Hd.
"Pengakuan dari korban, Melati diperkosa sekitar jam 3 pagi. Melati digilir oleh 7 orang pria. Dan kata orang tua korban, salah satu diantara pelaku sudah berkeluarga," terangnya.
Setelah dicabuli, Melati tidak langsung pulang ke rumah. Melati ketakutan dan mengalami shock berat. Melati baru pulang ke rumah setelah satu hari berikutnya. Tepatnya Minggu malam, Melati diantar pulang ke rumah oleh salah seorang pelaku. Di rumah, Melati langsung menceritakan kejadian pahit yang telah dialami kepada orang tuanya. Merasa dilecehkan, kedua orang tua Melati bergegas melaporkan kejadian tersebut ke pemerintahan desa setempat.
"Setelah mendengar ceeita kronologisnya, kami langsung melaporkan ke Polsek Suradadi. Dan kabarnya, beberapa pelaku sudah ditangkap hari Selasa (3/1) oleh Polisi," kata Akmari.
Kapolsek Suradadi, AKP Sehroni, ketika ditanya soal kasus tersebut, pihaknya membenarkan. Dan berkas pelaporan tersebut sudah dilimpahkan ke Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tegal. "Betul mas, kasus ditangani PPA Polres," ucapnya singkat, saat dihubungi melalui sambungan elektronik. (yer)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Selasa, 03 Januari 2012

Video Porno Joged Bumbung Goyang Bali

Denpasar -Belum cukup lama berselang, Bali dihebohkan video para gigolo di Pantai kuta, kini muncul video Joged Bumbung versi porno di pulau yang terkenal sebagai pulau para Dewata tersebut.

Dalam rekaman video yang diduga dimainkan kelompok tari dari desa di Buleleng yang dianggap melecehkan budaya Bali itu, sang penari yang mengenakan pakaian tarian khas Bali, bergoyang seronok layaknya penari porno.
Belum diketahui pasti perekaman video berdurasi lebih dari dua menit ini diambil lalu diposting ke situs YouTube, yang saat ini sudah diblokir.
Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ida Bagus Sedawa, mengaku prihatin atas menyayangkan peredaran video porno tersebut karena dapat melecehkan seni budaya Bali. Dia mengatakan kasus video porno joged Bumbung saat ini sudah diserahkan ke pihak kepolisian.
Saat ini diduga peredaran VCD joged Bumbung versi porno tersebut sudah merambah luas. Bahkan diduga para pedagang di pinggir jalan pun telah menjual.
Joged Bumbung merupakan tari pergaulan yang dilakukan secara berpasangan laki-laki dan perempuan dan selalu mengundang partisipasi penonton ini sangat populer di Bali. Tarian yang memiliki pola gerak yang bebas dan dinamis dengan sesekali penarinya bergoyang ala dangdut ini, membutuhkan kelincahan gerak tubuh dan mata dari penarinya, biasanya dipentaskan pada musim sehabis panen, hari raya, dan hari penting lainnya.
Diambil dari Legong maupun Kekebyaran, joget Bumbung muncul pada tahun 1946 di Bali Utara. Biasanya tarian diiringi dengan gamelan Tingklik bambu berlaras Slendro yang disebut Grantang atau Gamelan Gegrantangan. Saat ini Joged Bumbung dapat dijumpai hampir di semua desa dan merupakan jenis tari joged yang paling populer di Bali.
Sumber Berita : http://erensdh.wordpress.com/2010/09/

Wow Miss Universe Ngangkang Tak Bercelana Dalam

Dalam 60 tahun penyelenggaraan Miss Universe, kontroversi sering mewarnai ajang bergengsi kelas dunia itu,
Kali ini pun demikian, datang dari seorang peserta kontestan asal Kolombia,
Catalina Robayo, dia nekat tampil tanpa mengenakan celana dalam, seperti tampak pada foto dibawah ini.
Bagaimana bisa?

Adalah seorang fotografer media yang berhasil menangkap basah dan mengabadikan aksi Robayo saat tengah duduk ngangkang dengan busana mini warna orange, selangkangan perempuan cantik itu nampak jelas hingga ‘sono’-nya, karena tak memakai celana dalam.

Catalina Robayo, Miss Columbia ini sengaja tidak memakai celana dalam?
Tak ayal, hasil jepretan jangka itu pun
terpampang manis di surat kabar. Tunggu, siapa bilang manis? Itu jelas dianggap mencoreng citra Yayasan Miss Universe
sebagai penyelenggara ajang dunia itu.
“Kolombia harus berbicara dan menegur perwakilannya untuk memakai celana dalam, apa yang telah dilakukannya (Robayo) benar-benar tidak pantas,” kata seorang pejabat
Yayasan Miss Universe kepada Fox News. “Masyarakat
malu melihatnya terpampang di media dengan mengumbar selangkangan.”
Presiden Organisasi Miss Universe, Paula Shugart, dikabarkan shok mendengar kabar ini dari salah satu timnya.
“Ada banyak wanita yang berbalut gaun mini yang menjadi pusat perhatian, tetapi ketika saya melihat foto itu (aksi Robayo)
di halaman depan surat kabar, saya sungguh terkejut.”
kata Shugart.
“Tim pengawas kami sudah
menjelaskan kepada seluruh
kontestan tentang cara berbusana yang tepat. Salah
satu tim kami juga sudah
berbicara kepada Robayo, dan ia mengatakan pakai celana dalam. Tapi, bagaimana pun juga kasus itu sudah cukup mengaduk-aduk kondisi di sini selama beberapa hari.”
Shugart memang pantas mengeluh, pasalnya sebelum kasus Robayo mencuat, panitia Miss
Universe juga sempat pusing harus mengembalikan
bikini dari perusahaan Catalina Brazil Swimwear yang menjadi salah satu sponsor, karena pakaian renang yang dibuat perusahaan itu dianggap terlalu minim untuk dikenakan para kontestan.
Untuk diketahui, grand final kontes ratu sejagad itu akan digelar di Hotel Hilton, Sao Paolo, Brasil pada 12 September mendatang. Sebanyak 89 kontestan, diantaranya Nadine Alexandra Dewi Ames akan dinilai kepantasannya untuk dipilih sebagai Miss Universe 2011.
Sumber Berita http://erensdh.wordpress.com/2011/09/08/wow-miss-universe-ngangkang-tak-bercelana-dalam/

Balita Diperkosa dan Dibunuh

SEMARANG- Warga Kampung Tlumpak, RT 2 RW 8, Kelurahan Tandang, Tembalang digegerkan dengan penemuan mayat balita di semak-semak, Selasa (3/1) malam. Setelah dicek, jenazah itu adalah Risti Amalia Putri (5) yang hilang beberapa jam sebelumnya.

Putri keenam dari enam bersaudara pasangan Sarbi dan Supatmi itu ditemukan tak bernyawa di semak-semak Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kedungmundu, sekitar 50 meter dari rumahnya pukul 21.30.

“Kami memang sedang mencari anak itu karena sejak magrib hilang. Ketika menyibak semak-semak saya melihat tubuhnya sudah dikerumuni semut,” kata Darno, warga setempat yang juga Ketua RT 2.
Informasi yang dihimpun, Risti sekitar pukul 16.00 masih bermain dengan teman-temannya di sekitar TPU. Tapi ketika anak-anak lain pulang, pukul 17.00, Risti tidak kelihatan.

Orangtua bersama warga kemudian mencari hingga magrib tiba. Pencarian tanpa hasil itu dilanjutkan pukul 21.00, dan setengah jam kemudian Risti ditemukan sudah meninggal.
Pakaian yang dikenakannya, rok kembang-kembang, masih utuh. Petugas kepolisian yang dilapori kemudian berdatangan ke lokasi.
Korban dievakuasi ke rumah duka, kemudian pukul 23.30 dibawa ke RSUP dokter Kariadi untuk proses autopsi.

Bekas Jeratan

Menurut seorang petugas polisi yang tak mau disebutkan namanya, di leher korban ditemukan luka bekas jeratan. Di kemaluan, juga terdapat bercak darah yang menimbulkan dugaan korban usai diperkosa. “Perkiraan sementara, korban dijerat dulu baru diperkosa,” katanya.

Peristiwa itu membuat warga di sekitar perkampungan yang relatif sepi tanpa penerangan itu berdatangan ke rumah duka untuk menunjukkan simpatinya. Sebagian warga berinisiatif memeriksa sekitar lokasi dengan harapan menemukan jejak pelaku. Sampai berita ini ditulis, pelaku belum diketahui. (H68,J12-71)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/01/04/172373/