Sabtu, 07 Mei 2011

Terkendala Pembebasan Tanah Akses Jalan

PEMBANGUNAN jembatan Ketiwon Langon, yang direncanakan penganggarannya ditanggung tiga daerah yaitu Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Pemprov Jateng, diprediksi bakal mengkrak.
Pasalnya, dari awal perencanaan dirasa kurang matang. Karena, tidak diawali dengan pembebasan lahan milik warga yang bakal dipakai untuk akses jalan masuk menuju jembatan.
Saat ini pengerjaan fisik dua penyangga kerangka baja jembatan, sudah terselesaikan. Sedang ditahun 2011 ini, rencananya pembangunan bakal dilanjutkan dengan anggraan sekitar Rp 4,5 miliar. Namun sejumlah tokoh dan pengamat tidak yakin jika pembangunan bakal lancar. Kondisi itu terkait dengan ketersediaan lahan untuk akses jalan keluar dan masuk jembatan. Kondisi ini karena perundingan yang masih alot antara Pemkab Tegal dengan warga, dan juga antara Pemkot Tegal dengan warga pemilik lahan.
“Kami kok tidak yakin, pembangunan jembatan selesei sesuai azas manfaat. Melihat situasi yang ada saat ini,” kata tokoh masyarakt sekaligus anggota DPRD Kabupaten Tegal dari FPAN, Sahuri, yang tinggal di Desa Wangandawa dan setiap hari melintasi jembatan lama di Ketiwon Langon itu.
Dikatakan Sahuri, prediksi dirinya, karena mendengar jika tanah untuk akses jalan menuju dan keluar dari jembatan Ketiwon Langon baru, belum dibebaskan dari warga. Padahal perlu kesepahaman harga antara warga dengan pemerintah. Jika tidak ada penyelesaian, berarti warga tidak bersedia lahannya dilepas dan jembatan tidak memiliki akses jalan. Dampaknya, pembangunan jembatan selesai tetapi tidak termanfaatkan alias mangkrak.
Menurut dia, kondisi itu diprediksi akibat perencanaan yang kurang matang dan teliti, baik secara teknis maupun kajian lingkungan. Idealnya, sebelum direncanakan pembangunan, selain pembahasan terkait ketersediaan anggaran juga harus dibahas bagaimana lahan pendukung. Tujuannya agar pengerjaan pembangunan jembatan, membuahkan hasil yang lebih representatif.
“Ini yang kami lihat, terbukti dari awal pembebasan lahan untuk akses jalan tidak terencana, tiba-tiba dibangun jembatan itu,” ujar Sahuri.

BELUM JELAS
Disisi lain, Kepala Bagian Pemerintahan Pemkab Tegal, Fajar Rokhwidi SIP, mengakui, warga Desa Mejasem pemilik lahan sebelah Timur jembatan memang belum besedia melepas lahannya untuk akses jalan. Hal itu diakibatkan karena belum adanya kesepahaman harga ganti lahan antara Pemkab Tegal dan warga.
“Sampai saat ini, warga masih minta ganti rugi sebesar Rp 5 juta satu meternya. Harga ini dinilai masih terlalu tinggi, maka kami sebagai tim yang ditunjuk untuk pembebasan bakal melakukan nego dengan warga,” jelasnya.
Memang, masih menurut Fajar, sudah ada sedikit titik cerah karena sesuai informasi, warga sedikit melunak dan siap bernegosiasi harga ganti rugi lahan miliknya. Soal besaran harga, pihaknya tidak bisa menjelaskan karena saat ini masih melakukan pendekatan.
Sedang untuk akses jalan sebelah Barat yang merupakan tanggung jawab Pemkot Tegal, pihaknya belum mengetahui secara pasti.
Sementara Ketua RT 1 RW 5 Kelurahan Slerok Kota Tegal, Suwarno, yang wilayah RTnya bakal dimanfaatkan untuk akses jalan menuju jembatan, masih belum ada kejelasan informasi. Bahkan Pemkot Tegal belum pernah melakukan pendekatan dengan warga RTnya.
“Sepengetahuan saya, belum ada konfirmasi antara Pemkot Tegal dengan warga. Adapun seputar permintaan harga, informasi yang kami terima juga masih simpang siur,” pungkas Suwarno
Sumber Berita : Radar Tegal, 6 Mei 2011

Kamis, 05 Mei 2011

1.232 Ha Tanaman Padi Gagal Panen

KRAMAT - Sedikitnya 1.232 hektar (Ha) tanaman padi milik petani Desa Kertayasa, Kecamatan Kramat diserang hama tikus. Kondisi tersebut berlangsung selama musim tanam (MT) pertama di tahun ini. Seluruh petani mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Salah seorang petani, Radi (38) menuturkan, akibat tanaman padinya diserang hama tikus, maka dirinya harus rela menanggung kerugian yang cukup lumayan besar. Warga Desa Kertayasa ini mengaku, tanah seluas setengah hektar yang ditanami padi miliknya itu hanya mampu menghasilkan padi 50 kg. Padahal dalam kondisi normal bisa menghasilkan sedikitnya 11 kuintal.  “Kendalanya hanya hama tikus saja. Kalau hama lainnya masih bisa ditangani. Kami kuwalahan menghadapi hama ini. Untuk itu, kami minta agar dinas mampu mencarikan solusinya. Sehingga kami sebagai orang kecil bisa menikmati sebagaimana yang kami harapkan,” ucapnya prihatin, Kamis (5/5).
Berhubung hingga kini belum ada penyelesaian terhadap hama tikus tersebut, maka penanaman padinya dihentikan untuk sementara waktu. Radi mengaku, penanaman bakal dimulai pada bulan Juni mendatang. Hal ini menurutnya, guna mengantisipasi kerugian yang membengkak. “Penanaman kami hentikan dulu. Kami tidak ingin kerugian kami tambah banyak,” akunya.
Sementara, Kepala Desa Kertayasa Sutejo membenarkan kondisi yang tengah melanda tanaman padi di wilayah kerjanya. Guna mengantisipasinya, pemerintah desa setempat dibantu warga sekitar melakukan gropyokan di sekitar tanaman padi. Selain dibantu warga, pihaknya juga mengerahkan tim anjing pemburu tikus, sedikitnya lima ekor.
“Kami melakukan gropoyokan setiap hari sampai tikus yang sudah merusak tanaman padi disini, hilang dan musnah. Sampai dengan hari ini (kemarin, red) sudah berlangsung selama 10 hari,” tuturnya.
“Tanaman padi yang terserang hama tikus, sedikitnya ada 1.232 Ha. Kami juga merasa prihatin melihat kondisi sekarang ini. Tapi sayangnya, kami tidak bisa berbuat banyak. Kami hanya bisa membantu dengan cara gropyokan,” sambungnya
Sumber Berita : Radar Tegal, 5 Mei 2011

Bupati, Masyarakat Untuk Tidak Terpengaruh

SLAWI – Terkait penangkapan terduga jaringan teroris di pasar malam PG pangkah belum lama ini, Bupati Tegal, Agus Riyanto SSos MM meminta agar masyarakat tidak terpengaruh.
Menurutnya, kejadian penangkapan jaringan teroris ini bukan berarti menjadikan sebagai pencuriga, tetapi kemudian harus tetap hati-hati dan masyarakat tetap merasa nyaman.
Pihaknya sangat memberikan apresiasi kepada pihak keamanan dalam hal ini adalah densus dan Polres Tegal, karena telah menangkap teroris diwilayahnya.  “Tertangkapnya teroris di Kabupaten Tegal bukanlah menjadi sasaran. Tapi ini menunjukan masyarakat Tegal aman, dan memberikan kehormatan dan tidak bisa menolak tamu. Namun Ini menjadi warning kita, agar dalam menerima tamu bisa lebih hati-hati dan waspada, tapi bukan berarti mencurigai,” katanya kepada Radar, Rabu (4/5).
Selain itu, lanjut Agus, kejadian semacam ini menjadikan pelajaran baginya agar masyarakat lebih berfikir dengan nalar.  Kejadian semacam ini merupakan modernitas yang tidak dibarangi dengan logika dan rasional. Artinya mereka yang menjadi teroris hanya bergelut dengan perasaan. Padahal ketika bekerja tetapi bergelutnya dengan perasaan sangat berbahaya.  “Kalau dulu pernah ada istilah sambung rasa, maka ini harus ditingkatkan, dan masyarakat Tegal interaksi yang harus dibangun adalah dengan sambung nalar. Karena ketika perasaan ini dilogikakan sangat berbahaya, dan emosi juga dirasionalkan juga berbahaya. Artinya masyarakat diminta dalam berfikir untuk tidak saklek atau lebih luas,” jelasnya.
Ia menambahkan, agar tidak terbawa perasaan, ini kemudian pengetahuan, sekolah menjadi penting. Karena itu untuk membangun tata cara paradigma (cara pandang, red) berfikir.  “Dengan potensi yang ada, harus ada kesadaran sambung nalar di semua elemant. Dan ini menjadi pelajaran agar tatanan  masyarakat perlu ditingkatkan. Contohnya, kalau ada apa-apa harus lapor ke RT/RW,” ungkapnya.
Pemkab sendiri, lanjut Agus, dalam mengantisipasi masalah seperti ini, kegiatan-kegiatan yang bersifat turun ke public akan di percepat atau dimajukan. Ia mencontohkan, kegiatan tilik desa, pertemuan hafidz-hafidoh, pertemuan rowatib, dan pertemuan-pertemuan lain yang bisanya tiga bulanan akan menjadi satu bulanan
Sumber Berita : Radar Tegal, 5 Mei 2011 

Diguncang Isu Bom Pasar Malam sepi

PANGKAH -  Setelah penangkapan terduga teroris di Lapangan Dwi Windu Desa Pangkah, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal, Senin (2/5) malam berdampak pada berkurangnya tingkat kunjungan masyarakat. Kondisi ini menjadikan pedagang banyak mengeluh karena penghasilannya menurun 80 persen.
Salah seorang pedagang bakso asal Kecamatan Taman,Kabupaten Pemalang, Wage (35) mengatakan, beredarnya isu bom tersebut muncul dari mulut masyarakat.  "Infonya PG Pangkah akan diledakkan," jelasnya di lokasi pasar malam Pangkah, Kamis (5/5).
Belum diketahui munculnya isu tersebut, namun telah berakibat pada tingkat kunjungan masyarakat ke pasar malam. Sebagai pedagang kecil, ia meminta agar isu tersebut tidak dibesar-besarkan. Karena nyatanya hal itu tidak benar terjadi.
Terlebih, lanjutnya, kejadian penangkapan terduga teroris oleh anggota Densus 88 kemarin adalah penangkapan biasa dan bukan pengeboman di pasar malam.
Wage menuturkan, berkurangnya pengunjung mengakibatkan pendapatannya berkurang. Biasanya pada malam sebelum kejadian penangkapan Densus, ia mampu mengantongi uang hingga Rp 1 juta tapi kini hanya sekitar Rp 200 ribu.  "Mohon kembalikan suasana pasar seperti dulu," harapnya.
Hal yang sama juga diungkapkan pedagang busana, Waluyo (35). Menurutnya, isu murahan itu telah mengakibatkan pedagang sepi pembeli.  “Tolong jangan dibesar-besarkan isu seperti itu,” harap Waluyo warga Panggung, Kota Tegal.
Begitu juga dengan pedagang bakso dan mie ayam, yang stannya berdampingan dengan stan terduga teroris, Musori (30). Ia mengatakan, adanya kejadian penangkapan kemarin, telah berakibat pada sepinya pengunjung ke pasar malam Pesta Giling Pabrik Gula (PG) Pangkah.
"Sehari setelah kejadian, pasar malam tidak seramai hari sebelumnya," tungkas Musori ditemui di lokasi pasar malam, kemarin.
Ia menjelaskan, pasar tersebut biasanya ramai setiap pukul 17.00-22.00. Namun kemarin, kepadatan pasar malam tak lagi terjadi. Ia mengindikasikan, berkurangnya pengunjung pasca penangkapan Densus 88 di lokasi pasar malam lalu tampak dari berkurangnya pendapatan per harinya.
Saat malam normal atau sebelum kejadian, ia mampu memperoleh pendapatan hingga Rp 400 ribu per malam, tapi saat ini pendapatannya hanya sekitar Rp 50-100 ribu.  “Menurunnya pendapatan tersebut jelas mengakibatkan kerugian bagi pedagang seperti saya mas.  Terlebih, biaya sewa per kapling untuk satu stan berukuran 3 m x 3 m senilai Rp 200.000 yang dibayarkan  kepada pengelola atau panitia pasar malam PG Pangkah. Belum lagi untuk biaya hidup dan lain sebagainya selama digelarnya pasar malam yakni sejak 25 April-12 Mei 2011,” jelasnya.
Sementara, Kapolsek Pangkah AKP Suratman mengatakan, hendaknya masyarakat tidak percaya dengan isu tersebut. Pihaknya hanya mengimbau kepada pedagang dan masyarakat agar lebih waspada dan hati-hati.  "Tingkatkan kewaspadaan," pungkasnya
Sumber Berita : Radar Tegal, 5 Mei 2011

Reses Anggota DPR RI Dewi Ariyani, S.Sos, M.Si

ANGGOTA DPR RI Dapil Jateng IX dari Komisi VII, Dewi Aryani SSos MSi, Rabu (4/5) sore kembali melakukan resesnya di wilayah dapilnya. Reses dihelat di kediaman Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kramat PDIP, Agung, Desa Mejasem Timur, Kecamatan Kramat. Kegiatan reses tersebut tampak meriah dengan iringan orgen tunggal serta penyanyi-penyanyi pilihan.
Dalam kesempatan itu, Dewi Ariyani mengaku tidak akan ber-money politik dalam merangkul kader-kadernya. Wanita yang mengenakan baju berwarna putih dan celana putih ini hanya ingin mensosialisasikan program pelayanan gratis penambahan jaringan aliran listrik. Dimana sejumlah rumah warga sekitar, masih ada yang belum tersentuh dengan aliran listrik. Padahal menurutnya, kondisi demikian tidak perlu dicemaskan.  "Sering terjadi, warga salah pengertian. Padahal sebenarnya, penambahan jaringan listrik, tidak ada biayanya alias gratis. Untuk itu, bila warga hendak memasangnya, khususnya yang belum ada jaringan listriknya, secepatnya melapor ke pemerintah desa setempat,” katanya.
“Kami tidak ingin ber-money politik dalam mencari kader maupun suara. Kami lebih cenderung membantu warga yang tidak mampu, khususnya bagi pemilik rumah yang belum dialiri listrik,” lanjutnya.
Dijelaskannya, bahwa anggaran penambahan jaringan listrik sudah ditanggung pemerintah. Yakni melalui APBD serta APBN. Selain itu, pihak PLN juga sudah mengalokasikan dana sendiri. Karenanya, jika masih ada warga yang rumahnya belum dialiri listrik, secepatnya pihak desa setempat mengupayakannya.  “Kalau PLN setempat tidak mau menanggapi, silahkan menghubungi kami atau pengurus PDIP setempat. Dan kami akan menindaklanjutinya ke pusat,” janjinya.
Kegiatan reses yang dihadiri ratusan kader PDIP Kabupaten Tegal ini, Dewi mengingatkan kepada pengurus PAC sekitar agar secepatnya mendatakan dirinya masing-masing. Karena dalam waktu dekat ini, seluruh pengurus PAC PDIP se-Kabupaten Tegal bakal mendapatkan asuransi jiwa.  “Semuanya didata dulu. Baik anak ranting, ketua ranting serta pengurus PAC. Setelah terkumpul di PAC, nanti pihak kami akan membawa data tersebut ke Bank Bumi Putera untuk mendapatkan asuransi kesehatan, kematian dan pengobatan. Jujur, dana ini milik pribadi saya sendiri. Karena itu, tolong kami dibantu agar datanya segera dikumpulkan,” jelasnya.  
Selain kader PDIP, hadir pula dalam kesempatan itu, Asisten Manager Perencanaan PLN APJ Kota Tegal, Asep, dan Manager PLN APJ Tegal Timur, Muji, didampingi beberapa petugas PLN lainnya.
Menanggapi masalah penambahan jaringan listrik, Asep menyatakan, bahwa pelanggan listrik di Kabupaten Tegal, baru 64,39 persen dari jumlah rumah. Nominal jumlah pelanggannya, 290.323 rumah.  “Jumlah itu terhitung bulan April tahun ini,” imbuhnya.
Kendala penambahan jaringan listrik, kata Asep, biasanya karena terhalang oleh situasi. Seperti harus melalui hutan, atau pepohonan yang rimbun. Alasan kendala itu, karena jaringan yang dimiliki PLN khususnya Jawa Tengah, masih menggunakan multi grounding. Dimana jaringan tersebut, sangat rentan dengan gesekan batang pohon. “Kabel yang tersentuh dengan batang pohon, itu akan mengakibatkan mati lampu atau konsleting. Sebab itulah, kami agak kesulitan jika penambahan jaringan listrik kepada warga yang bermukim di tengah hutan. Sebagai contoh, di Jatinegara dan Kabupaten Brebes. Di lokasi itu, kami tidak bisa bebas menambah jaringan. Dan kami pun tidak berani menebang pohon tanpa seijin yang berwenang,” akunya.
 Dirinya tak menampik, semua pernyataan Dewi Ariyani bahwa penambahan jaringan listrik, memang gratis. Menurutnya, bagi pelanggan baru, sama sekali tidak dimintai dana.  “Bila ada warga yang hendak pasang listrik, silahkan saja. Kami tidak minta biaya. Dan kalau mau pasang, kami mewanti-wanti, jangan sekali-kali melalui calo atau perantara. Warga langsung datang saja ke kantor kami,” pungkasnya.
Sumber Berita : Radar Tegal, 5 Mei 2011

Rabu, 04 Mei 2011

Apakah Mulut Kita Bau

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki masalah bau mulut atau dalam dunia medis dikenal dengan halitosis. Sebenarnya ada cara mudah untuk mendeteksi bau mulut.

Wajar memang jika orang tidak menyadari punya masalah bau mulut, karena otak terbiasa dengan aroma pribadi sehingga otak mengira bau sehari-hari adalah bau yang wajar.


Agar bisa terdeteksi sejak awal Anda mendeteksi bau mulut sendiri dengan cara sebagai berikut:

1. Cek lidah
Mulailah dengan mengecek lidah. Bila lidah berwarna pink atau merah muda dan mengkilap, berarti menunjukkan napas Anda segar.

"Namun bila lidah berwarna putih dan bersisik, maka itu pertanda bau mulut," jelas Dr Harold Katz, seorang bakteriologi dan pendiri California Breath Clinic.

2. Jilat punggung tangan
"Mencium napas sendiri di tangan bukan cara terbaik untuk memeriksa halitosis," kata Dr Katz. Menurutnya, cara terbaik adalah dengan menjilat punggung tangan, biarkan kering selama beberapa detik dan kemudian cium permukaannya. Bila berbau tak sedap, maka Anda mengalami halitosis.

Dr Katz menjelaskan, bau mulut memang identik dengan kondisi kesehatan gigi yang buruk. Namun bukan berarti orang yang dengan kondisi gigi baik, tidak berlubang, tidak bisa mengalami halitosis.

"Bau mulut juga berhubungan dengan lidah," jelas Dr Katz.

Menurut Dr Katz, lebih dari 600 jenis bakteri di temukan di mulut. Kebanyakan bakteri terperangkap di bawah permukaan lidah dan dapat menyebabkan bau mulut.

Bagaimana mengatasi bau mulut?

1. Banyak minum
Melawam bakteri penyebab bau mulut seperti mempersiapkan pertempuran. Tetaplah terhidrasi dan banyak minum. Mulut kering adalah tempat yang nyaman untuk berkembang biak bagi bakteri penyebab bau mulut yang bersarang di lidah.

2. Kunyah permen karet bebas gula
Mengunyah permen karet bebas gula dapat terus menghasilkan air liur yang merupakan cara alami untuk menghilangkan bau mulut.

"Air liur memiliki oksigen yang menjadi musuh alami untuk bakteri yang berbau busuk. Mereka tidak bisa hidup dengan adanya oksigen, sehingga minum air dan mengunyah permen karet bebas gula dapat menghilangkan bau mulut," jelas Dr Katz.

Menggunakan penyegar mulut yang mengandung mint bukan ide yang buruk untuk menghilangkan bau mulut, namun menurut Dr Katz, hal tersebut hanya bersifat sementara.

3. Hindari makanan penyebab bau mulut
Bila khawatir menimbulkan bau, batasi konsumsi makanan seperti bawang putih, bawang merah, kari dan ikan. Minuman yang bersifat asam seperti bir, kopi, wine (anggur) dan soda juga bisa menjadi pemicu bau mulut, karena dapat melepaskan senyawa yang berbau busuk, yang bisa diserap ke dalam aliran darah. Juga batasi coklat dan permen yang bersifat manis, karena kandungan gula dapat membantu bakteri mereproduksi di mulut.

4. Makan makanan penghilang bau mulut
Teh hijau memiliki sifat anti-bakteri yang mengalahkan bau busuk. Cinnamon atau kayu manis juga mengandung minyak esensial yang membunuh banyak jenis bakteri mulut.

Makan buah-buahan segar dan sayuran, seperti seledri atau apel, menawarkan manfaat penghilang bau mulut ganda. "Mengunyah seledri atau apel akan menghasilkan lebih banyak air liur di mulut Anda, dan tekstur makanan tersebut juga akan membantu mengusir bakteri," menurut Dr Katz. Melon dan buah berry juga membantu.

"Saya mengatakan kepada pasien saya untuk makan melon, jeruk dan makanan lain yang tinggi vitamin C, karena mereka membantu membunuh bakteri bau alami," kata Dr Katz.

Jika Anda sudah mengubah gaya hidup dan kebiasaan makan namun bau mulut masih berlanjut, hubungi penyedia layanan kesehatan untuk memastikan itu bukan suatu tanda kondisi medis yang lebih serius.

Karena sekitar 10 persen dari kasus bau mulut merupakan gejala dari sinus kronis atau infeksi pernapasan, penyakit refluks, gangguan hati dan ginjal, kanker atau diabetes. Penyakit tersebut dapat melepaskan bahan kimia ke dalam tubuh yang menghasilkan bau mulut. [detikhealth]

Gatal.....? Sumbat Saja Simpul Syarafnya

Kabar gembira buat para penderita gatal-gatal. Para peneliti telah menemukan sumber sel saraf yang menjadi pemicu rasa gatal. Kini sedang dicoba cara untuk menyumbat saraf gatal untuk meringankan beban si penderita.

Eksim, psoriaris, alergi, infeksi dan beberapa kondisi lainnya adalah penyakit-penyakit yang bisa memicu rasa gatal yang kronis. Berbagai pengobatan pun banyak tersedia, namun semuanya hanya bersifat sementara.

Namun baru-baru ini para peneliti mengungkapkan bahwa rasa gatal sebenarnya berasal dari sebuah sel saraf. Dalam Journal Science, peneliti dari Washington University School of Medicine, St Louis dan Peking University Third Hospital-Beijing berhasil menciptakan tikus yang tidak akan merasa gatal dengan cara membunuh sel-sel saraf gatalnya.

“Kami menemukan bahwa beberapa saraf sangat berhubungan dengan sensasi gatal, yang artinya sel-sel tersebut mengandung reseptor-reseptor spesifik gatal atau molekul-molekul tertentu yang kemudian dapat diidentifikasi untuk menciptakan suatu alternatif penanganan atau pengaturan rasa gatal untuk mereka yang memiliki penyakit gatal yang kronis,” ujar Zhou-Feng Chen yang memimpin studi tersebut, seperti dilansir dari Newsdaily, Senin (10/8/2009).

Sebelumnya pada tahun 2007, para peneliti berhasil mengidentifikasi gen penyebab gatal yang disebut Gastrin-Releasing Peptide Receptor atau GRPR. Gen tersebut aktif di dalam tulang belakang manusia.

Dengan menghancurkan atau merusak sel-sel saraf yang memiliki GRPR menggunakan racun yang disuntikkan ke dalam saraf tulang belakang, rasa gatal pun bisa dihilangkan.

“Ketika tikus diberi suatu rangsangan yang bisa membuatnya gatal, mereka tidak melakukan reaksi menggaruk-garuk, tapi mereka justru merasakan kesakitan,” ujar Chen.

“Hal ini sangat tidak diharapkan karena seharusnya dengan merusak saraf penyebab gatal itu, rasa sakit tidak akan muncul. Kami masih meneliti hal ini, dan penelitian mengenai saraf GRPR ini pun harus terus dilanjutkan agar para penderita gatal kronis bisa seperti orang normal lainnya tanpa harus menderita gatal,” ujar Chen.

Peneliti kini memfokuskan pada upaya menghilangkan rasa sakit jika saraf gatal tersebut dimatikan. Jika sudah ditemukan solusinya, upaya penyumbatan saraf gatal bisa dijadikan terapi untuk penyakit-penyakit gatal.
[untukku.com]