Rabu, 08 Juni 2011

Bunga Duka Cita Yang Menakutkan

WAKIL Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih mengaku tidak habis pikir dengan teror yang menimpa keluarganya. Dia juga merasa tidak mengenal sang pengirim paket berisikan tiga boneka dengan lumuran darah yang diterimanya Selasa (7/6) sore itu.

Yang lebih menyedihkannya, selain paket boneka itu, datang juga sebuah karangan bunga berisi ungkapan bela sungkawa atas ”kematian” anak keduanya.

Tentu saja paket itu membuat Rustri waswas. Pasalnya, ketiga boneka berlumuran darah itu masing-masing ditulisi nama ketiga anaknya. ”Pastinya kami merasa kaget dan takut dengan kiriman paket ini. Saya benar-benar tidak menyangka,” tutur Rustri saat dihubungi semalam.

Rustri menceritakan, sejak dia melihat paket di dalam sebuah kardus berukuran sekitar 30 cm x 10 cm dan terlakban itu, sudah merasa curiga. Terlebih saat melihat nama pengirimnya, yakni Seniman RT 4 RW 4 Pondok Cabe, Ciputat, Jakarta, yang tak dikenalnya. Karena kesibukannya sebagai wagub, paket tersebut dibiarkan saja.

Baru pada keesokan harinya, Rabu (8/6) pagi sekitar pukul 07.00, paket tersebut akhirnya dibuka oleh staf bagian rumah tangga, Rudi. Begitu dibuka, betapa kagetnya mantan Bupati Kebumen itu mendapati ada tiga buah boneka dengan lumuran darah dan bertuliskan nama ketiga anaknya.

Dua di antaranya adalah tokoh kartun Malaysia Upin Ipin dan satunya lagi boneka perempuan mengenakan gaun berwarna pink. Rustri menceritakan, boneka yang terbuat dari kain itu juga berambut layaknya manusia.

Staf rumah dinas wagub di Jl Rinjani No 1 Semarang kemudian melaporkan paket itu ke polisi. Kekagetan dan kekhawatiran semakin bertambah ketika sekitar pukul 08.30 Rustriningsih hendak berangkat ke Salatiga.

”Saat mau berangkat, saya mendapat kiriman bunga bertuliskan ‘turut berduka cita’ atas meninggalnya anak kedua saya. Saya tidak tahu apakah paket dan karangan bunga itu ada hubungannya,” terangnya.

Tak berselang lama, Tim Gegana Sat Brimob Polda Jateng dan beberapa petugas dari Polda Jateng tiba di rumah dinas wagub. Setelah menunggu beberapa saat dan memberikan informasi, Rustri kemudian melanjutkan pekerjaannya untuk mendatangi sebuah acara di Salatiga.

”Karena ada paket dan kiriman bunga itu, saya sampai terlambat di Salatiga,” katanya.

Rustri menyerahkan sepenuhnya penanganan paket itu ke kepolisian. (Saptono Joko S, Royce Wijaya-43)
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 9 Juni 2011

Batu Merapi Akan Dongkrak Pengunjung Museum

SEMARANG - Gerakan Ayo Berkunjung ke Museum yang dicanangkan Gubernur Jateng Bibit Waluyo awal tahun lalu terus mendapatkan respons dari masyarakat.

Hal ini menjadi tantangan dan akan terus diperhatikan Dinas Kebudayaan Pariwisata Jawa Tengah selaku pengelola Museum Ronggowarsito Semarang, dengan meningkatkan pelayanan dan penambahan koleksi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jateng, Prasetyo Ariwibowo melalui petugas pelayanan pengunjung museum Ronggowarsito, Tamti A Md, menyebutkna, sejak pencanangan program tersebut pengunjung terus meningkat.

Data dua bulan terakhir menyebutkan, pada Maret jumlah pengunjung mencapai 2.175 orang, sedangkan April mencapai 3.391 pengunjung.
”Selain pencanangan Gubernur mungkin juga imbas dari liburan sekolah, dengan begitu pengunjung siswa sekolah lebih mendominasi,” papar Tamti.
Tamti menyebutkan, selain wisatawan domestik, ada pula warga asing yang datang ke museum untuk meneliti benda koleksi purbakala.

Tambah Koleksi

Untuk menarik minat pengunjung, pihak museum berencana menambah koleksi. Bulan depan koleksi bertambah berupa batu yang keluar dari perut bumi saat erupsi Gunung Merapi.

Sementara Budi Santoso, staf Pengkajian dan Pelestarian Koleksi Museum Ronggowarsito mengatakan, petugas akan mengambil batu besar Merapi yang melintang di tengah jalan Desa Kinahrejo. Batu itu merupakan saksi bisu yang nantinya dapat memberi banyak ilmu bagi pengunjung dan peneliti.

Selain batu erupsi Merapi, pihak museum juga sudah mengajukan permohonan dana serta terus berkoordinasi dengan Pemprov Jateng untuk segera menebus koin kuno peninggalan Dinasti Sung abad 15-16, yang ditemukan di Kendal, baru-baru ini. (rni-16)
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 9 Juni 2011

Diduga, Banyak Nilai Dikatrol

BOLEH jadi angka kelulusan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/MA/SMK dan SMP/MTs di Kota Tegal tahun ini mengalami peningkatan. Namun demikian, diindikasikan hasil kelulusan yang ada tidak lepas dari dugaan adanya pengkatrolan nilai sekolah.
Hal ini terkuak dalam Rapat Koordinasi (rakor) Pendidikan yang di gelar Pemerintah Kota (pemkot) Tegal, Rabu (8/5), di ruang Adipura Balai Kota. Pada kesempatan itu, Sekretaris Dinas Pendidikan (Disdik) Dra Titik Andarwati membeberkan hasil evaluasi yang dilakukan, yakni perbandingan antara nilai UN dan nilai sekolah.
Untuk tingkat SMP/MTs, dari 35 sekolah, sebagian besar nilai sekolahnya terpaut jauh dengan nilai UN-nya. Hanya ada beberapa sekolah yang perbandingan antara nilai UN dan nilai sekolahnya tidak terlalu jauh. Yakni SMP Pius, SMPN 2, dan SMPN 7.
Sementara di tingkat SMA/MA, hasil evaluasinya demikian. Untuk jurusan IPA dari 10 sekolah hanya lima yang hasil nilai UN-nya lebih tinggi dari nilai sekolah. Yakni SMAN 4, SMAN 1, SMAN 2, MAN,  dan SMAN 3.
Sedang di jurusan IPS dari 12 sekolah yang nilai UN-nya lebih tinggi dibanding nilai sekolahnya hanya ada satu yakni SMAN 1. Sementara ditingkat SMK dari 15 sekolah yang nilai UN dan nilai sekolahnya terpaut jauh hanya ada 5 sekolah. Di antaranya SMK Muhammadiyah 2, SMK PGRI, SMK Bahari, SMK SUPM Al Maarif, dan SMK DWP. Sementara sisanya sudah seimbang, bahkan nilai UN-nya lebih tinggi dari nilai sekolah.
Pada kesempatan sama Kepala SMPN 2, Luas mengungkapkan, setelah melihat hasil evaluasi tersebut, dirinya mengaku prihatin. Menurutnya apabila kelulusan tahun ini sistemnya sama dengan 2010 lalu. Maka jumlah siswa tidak lulus di tingkat SMP/MTs mencapai 962 anak.
"Dengan begitu sebenarnya hasil kelulusan ini jika dibandingkan tahun sebelumnya merosot tajam. Bahkan jika dibandingkan dengan daerah lain seperti Brebs, Kabupaten Tegal, dan Pemalang. Kota Tegal tergolong paling rendah," ujarnya.
Dia menambahkan, faktor yang mempengaruhi hal tersebut diantaranya terkait dana-dana bantuan. Seperti Dana Peningkatan Mutu Sekolah (Dapen) tahun ini belum ada kejelasannya. Apakah akan keluar atau tidak. Kemudian juga dana BOS dengan sistem terbarunya. "Kami rasa itu semua berpengaruh juga terhadap hasil evaluasi tadi," tandasnya.
Sementara Wali Kota Tegal, H Ikmal Jaya SE Ak membantah dengan tegas bahwa hasil kelulusan tahun ini membuktikan banyaknya ketidak jujuran sekolah. "Ini bukan katrol. Ini nilai dari semester 1 sampai dengan 5. Jadi gabungan bukan katrolan," tegasnya.
Dia meyebutkan, idealnya nilai sekolah lebih tinggi dari nilai UN. Hanya saja perbandingannya tidak terlalu jauh. Karenanya dia berpesan agar perbandingan nilai kedepan lebih diperbaiki lagi.
Kemudian bagi sekolah-sekolah yang tahun ini belum meluluskan 100 persen. Diharapkan tahun depan diupayakan bisa lulus 100 persen. Bagi yang sudah 100 persen kualitasnya lebih ditingkatkan lagi. (adi)
Sumber Berita : Radar Tegal 8 Juni 2011

49 CPNS Ikuti LPJ di Semarang

SLAWI – Sebanyak 49 CPNS Golongan III, Kamis (16/6) bakal diberangkatkan untuk mengikuti Latihan Pra Jabatan (LPJ) umum, yang dilaksanakan oleh Pemprov Jateng di Semarang. Dari 49 CPNS peserta LPJ umum, nantinya bakal terbagi dalam tiga angkatan dan dalam LPJ digabung bersama daerah lain. Saat ini, sesuai data dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkab Tegal, masih ada sekitar 81 CPNS yang belum mengikuti LPJ terdiri dari Golongan II dan I.  “Lama diklat mereka, karena LPJ umum 14 hari efektif dari tanggal 17 Juni sampai 4 Juli 2011 bertempat di Badan Diklat Provinsi Jateng di Semarang,” kata Kepala BKD Pemkab Tegal, Retno Suprobowati SH MM.
Dikatakan Retno Suprobowati, dari 49 CPNS yang mengikuti diklat pra jabatan itu, guna memenuhi persyaratan menuju PNS. Nantinya dari peserta dari Pemkab Tegal, yang terdiri dari tenaga kesehatan, pendidikan dan tenaga administrasi, terbagi dalam tiga angkatan, yaitu angkatan XXXVI, XXXVII dan angkatan XXXVIII. Setiap angkatan sendiri nantinya digabungkan dengan daerah lain.
Menurut dia, sebelum diberangkatkan untuk mengikuti LPJ, ke 49 CPNS terlebih dahulu mendapat pelatihan dari BKD setempat. Itu dilaksanakan pada 25 dan 31 Mei lalu. Pelatihan diberikan dipimpin oleh Kepala BKD Pemkab Tegal, Retno Suprobowati SH MM.
Sementara, menyinggung jumlah CPNS yang belum mengikuti LPJ di Pemkab Tegal, saat ini ada sekitar 81 CPNS yang terdiri dari Golongan II dan I. Sebagai persayatan dari CPNS menjadi PNS, nantinya mereka juga bakal di LPJkan sesuai aturan yang ada. “Namun menunggu surat perintah tugas,” pungkasnya. (gon)
Sumber Berita : Radar Tegal 8 Juni 2011

Kepedulian Sukarela Donor Kurang

ADIWERNA - Meski kepedulian sukarela donor darah di Kabupaten Tegal  bisa dibilang bagus, namun dari  segi prosentase rata-rata di tingkat Jawa Tengah dibilang belum cukup. Maklum, kini rata-rata kepedulian sukarela pendonor darah di Jawa Tengah sudah dilevel angka 95 persen. Sementara untuk Kabupaten Tegal baru mencapai kisaran 83 persen. Hal tersebut dilontarkan Ketua PMI Provinsi Jawa Tengah, Sasongko Tedjo SE MM disela-sela sambutan singkatnya dalam prosesi penggunaan gedung operasional Unit Donor Darah PMI Kabupaten Tegal yang berlokasi di Jalan Raya Utara Banjaran, Rabu (8/6).
Dia juga sempat menyentil dengan keberadaan gedung operasional Unit Donor Darah PMI, setidaknya turut dibarengi dengan dukungan pengadaan alat transfusi atau olah darah oleh pemkab. Agar darah yang ada siap pakai dan mendongkrak peningkatan pelayanan.  "Se Jawa Tengah saat ini ada 11 kota dan kabupaten yang belum optimal dalam memproses ketersediaan darah siap pakai, karena belum adanya dukungan pengadaan alat yang memadai. Mudah-mudahan ini bisa menjadi pertimbangan Pemkab Tegal untuk tidak masuk dalam kategori 11 kota dan kabupaten tersebut," ujarnya.
Sementara itu, ketua PMI Kabupaten Tegal, Dr Bimo Bayu Adji sendiri mengakui kepindahan PMI Unit Donor Darah di eks bangunan Puskesmas Adiwerna ditempuh karena pihak RSUD Dr Soesilo akan melakukan pembenahan dan mengharuskan kantor PMI berpindah lokasi.   "Operasional pelayanan PMI Unit Donor Darah ini  menempati gedung eks Puskesmas Adiwerna melalui proses perjanjian pinjam pakai dengan pemkab selama dua tahun. Kami telah melakukan renovasi dengan menelan anggaran Rp 179 juta dan disokong bantuan dari pemkab senilai Rp 90 juta. Mudah-mudahan setelah bangunan ini terlihat mapan, ada keterpanggilan dari pemkab lewat pendekatan DPRD agar gedung itu bisa dihibahkan untuk PMI," ujarnya.
Ajang peresmian operasional pelayanan PMI Unit Donor Darah sendiri kemarin juga dihadiri ketua DPRD Kabupaten Tegal, Rojikin AH beserta jajaran muspida.
Dia juga berkesempatan mengunting pita sebagai tanda dimulainya aktifitas operasional pelayaan PMI Unit Donor Darah. Sementara itu bupati yang dalam hal ini diwakili Kepala Dinkes Dr Djoko Mulyono MKes sendiri berharap dengan difungsikannya gedung pelayanan PMI Unit Donor Darah ini bisa menjadi penguat kegiatan kemanusiaan di wilayah Kabupaten Tegal. (her)
Sumber Berita : Radar Tegal, 8 Juni 2011

Kaki Seribu Serang Warga

KRAMAT - Ribuan binatang melata jenis kaki seribu menyerang warga RT 02 RW 02 Desa Munjung Agung, Kecamatan Kramat sejak satu bulan terakhir. Warga menduga,  bahwa hadirnya binatang tersebut berasal dari salahsatu pabrik pengolahan hotmix yang lokasinya berada di kampung setempat. Akibatnya, sejumlah warga mendatangi pabrik, Rabu (8/6) siang, guna meminta pertanggungjawabannya.  "Ini sangat mengganggu aktifitas kami. Sebab jumlahnya tidak sedikit. Bahkan sampai masuk ke tempat tidur dan makanan yang dihidangkan di meja makan," ucapnya lantang di depan para karyawan pabrik tersebut.
Hadirnya kaki seribu dengan panjang sekira 5 centimeter itu, kata Gani, bukan hanya di wilayah RT 02. Akan tetapi di RT 03 dan RT 04 yang masih satu RW, juga mengalami hal yang serupa. Dia meminta agar pabrik segera mengambil tindakan. Minimal, lingkungan pabrik dibersihkan dari rumput-rumput panjang serta barang rongsokan yang sepertinya kerap dijadikan perkembangbiakan binatang tersebut.  "Padahal kami sudah mengadukan hal ini kepada salah seorang karyawan pabrik. Namun sayangnya hingga satu bulan ini belum ada realisasinya," cetusnya.
Warga lainnya, Supi (47) juga mengatakan hal yang senada. Menurut warga RT 04 RW 02 ini, meski binatang kaki seribu tidak menggigit, namun sedikitnya sudah membahayakan. "Saya takut barangkali masuk ke telinga. Sebab binatang ini sering merambat ke kasur," ucapnya.
Pemilik warung nasi di lokalisasi Wandan ini menambahkan, bukan hanya binatang kaki seribu saja yang mengganggu di kampungnya. Melainkan, pernah juga dijumpainya beberapa ekor ular Cobra yang keluar dari tembok pabrik tersebut.  "Saya curiga kehadiran hewan ini akibat ada lahan kosong di dalam pabrik sehingga merambah ke pemukiman warga,” katanya.
Terpisah, Camat Kramat Drs Berlian Adjie MM mengharapkan agar secepatnya pihak pabrik melakukan tindakan sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.  "Kalau warga sudah komplain, pabrik harus sigap. Jangan sampai dibiarkan saja," ucapnya singkat.
Sementara, Kepala Administrasi PT TJR, Trio Hartikno menyatakan bakal bertanggung jawab untuk memusnahkan binatang yang sudah mewabah itu. Meski demikian, dia mengaku bingung kenapa pabriknya yang dituding sebagai biang kerok kehadiran kaki seribu.  "Kami tetap akan bertanggung jawab. Tapi kami akan mempelajari masalah ini barangkali ada provokatornya," katanya.
Fenomena ini menurutnya baru kali ini terjadi. Dia memperkirakan, munculnya kaki seribu dikarenakan kelembaban tembok pabrik yang terhimpit dengan rumah warga.  "Mungkin saja seperti itu," ujarnya. (yer)
Sumber Berita : Radar Tegal 8 Juni 2011

Pembelajaran Bagi Petani Padi

SLAWI – Sebagai jawaban atas serangga Penyakit kresek (Hantu Monas), yang menyerang tanaman padi, di musim ekstrem dengan anomali cuacanya, PT Bayer Indonesia, mengadakan Rice Show. Acara itu sebagai bentuk pembelajaran langsung terhadap petani, sekaligus memberikan jawaban jika produk maupun pola tanam yang diselenggarakan, mampu menghindari penyakit tersebut.
Dalam kegiatan itu, sejumlah petani Desa Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal mendapatkan penjelasan tentang menanam padi dengan sistem Tanam Benih Langsung (Tabela), Rabu (8/6). Bahkan petani bisa melihat secara langsung tanaman yang diujicobakan serta bagaimana pola tanam dan pemeliharaan yang baik dari PT itu.
Cara tanam padi dengan sistem Tabela, dinilai mampu meningkatkan produksi gabah dan menghemat biaya produksi, dengan waktu penen relatif lebih cepat. Selain itu, dinilai mampu memberantas penyakit padi yang disebut Penyakit Kresek yang menyerang lahan padi di wilayah tersebut.  “Pengenalan sistem itu hasil kerja sama Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) dengan PT Bayer Indonesia sebagai produsen obat-obatan pertanian,” jelas kepala BP4K, Ir Toto Subandrio.
Dikatakan Ir Toto, Pengenalan sistem tabela yang terbalut dalam program Rice Show itu dilakukan dengan meninjau langsung di lahan pertanian yang digunakan sebagai areal pencontohan atau laboratorium lapangan pertanian di Desa Gumayun.
Program itu, menurut dia, dilakukan mengingat pada musim taman lalu tanaman padi petani terserang hama kresek. Hama yang menyerang 30 persen dari 1.800 Ha lahan pertanian di desa itu, menyebabkan penurunan produksi antara 5-30 persen. “Keluhan petani itu, kami sampaikan kepada stakeholder, yaitu PT Bayer Indonesia. Keluhan itu direspon dengan baik melalui program Rice Show,” katanya pula.
Disisi lain, Senior Crop Manager Rice Marketing Departemen PT Bayer Indonesia Jarot warseno menjelaskan, sistem Tabela merupakan cara menanam padi secara langsung tanpa ada persemaian. Cara itu berbeda dengan penanaman padi pada umumnya. Petani menanam padi dengan cara disemai terlebih dahulu, kemudian dipindahkan ke lahan lainnya. Kondisi itu rawan terkena virus, sehingga tanaman padi tidak tumbuh maksimal.
“Kami menggunakan alat modern untuk menanam benih padi, sehingga menghemat tenaga kerja dan biaya dengan hasil yang lebih baik. Biasanya menanam benih padi dipersemaian membutuhkan sekitar 9 orang, tapi dengan alat ini hanya membutuhkan 4 orang,” terang Jarot Warseno.
Lebih lanjut dikatakan, sistem ini juga mengantisipasi kekurangan air. Hal itu dikarenakan cara tanam sistem tabela, air yang digunakan tidak boleh berlebih. Bibit padi ditanam di lahan yang tidak membutuhkan banyak air. Namun, cara menanam seperti itu harus sesuai dengan prosedur dari Bayer. Termasuk penggunaan obat, pupuk dan pestisida. Ini dilakukan agar hasil yang diperoleh maksimal.  “Hasil yang diperoleh bisa mencapai 9 ton/ha. Normalnya lahan di wilayah Gumayun hanya 7 ton/ha. Sedangkan biaya produksi bisa menghemat antara Rp 600 ribu dan Rp 1,5 juta. Yang pasti petani lebih diuntungkan,” pungkas. (gon)
Sumber Berita : Radar Tegal, 8 Juni 2011