Sabtu, 06 Juli 2013

Jokowi Diincar Golkar dan Demokrat

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA- Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo semakin memikat partai politik. Di luar parpol tempatnya bernaung, PDIP, dua parpol besar lainnya yakni Partai Demokrat, dan Partai Golkar meminati mantan Wali Kota Solo itu untuk maju pada Pemilihan Presiden tahun depan.
Golkar menginginkan Jokowi sebagai calon wakil presiden mendampingi Aburizal Bakrie, sedangkan Partai Demokrat menginginkannya ikut konvensi calon presiden. "Sebenarnya kami menunggu anggukan kepalanya Jokowi," kata Wakil Bendahara Umum Golkar Bambang Soesatyo di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (5/7).
Menurut Bambang, bila Ical dipasangkan dengan Jokowi, sangat serasi karena keduanya adalah tipe pekerja keras. "Kami telah berkomunikasi dengan Jokowi, sudah non-formal dan non- struktural," kata Bambang, Anggota Komisi III RPR RI.
Golkar juga telah melobi PDIP dengan intensif. Ia pun berharap adanya koalisi antara PDIP dengan partai berlambang banteng itu. "Justru sangat baik kalau 2014 mendatang PDIP berjalan bergandengan tangan dengan Golkar untuk menyelesaikan masalah-masalah bangsa, kesejahteraan yang tertunta dan masalah-masalah hukum yang tidak tuntas," kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri.
Selain mengincar Jokowi, Golkar juga meminati mantan KSAD Pramono Edhie menjadi pendamping Aburizal Bakrie pada Pemilu Presiden 2014. Bambang Soesatyo menyatakan pertimbangan partainya meminati anggota dewan pembina Demokrat itu karena latar belakang militer yang dimiliki Pramono Edhie.
"Hanya pada pertimbangan yang bersangkutan adalah dari kalangan TNI. Tapi itupun baru wacana. Belum kita putuskan. Baru window shopping," kata Bambang.
Latar belakang lainnya melirik Pramono Edhie yakni faktor suku Jawa. Selain Pramono, ternyata Golkar juga meminati Gubernur DKI Joko Widodo. "Sebenarnya kita menunggu anggukan kepalanya Jokowi," tuturnya.
Popularitas dan elektabilitas Joko Widodo memang menjadi magnet, mengundang berbagai pihak untuk mendekatinya. Meski tidak secara kelembagaan, ada kader Partai Demokrat yang bergerilya mendekati Jokowi agar ikut konvensi capres.
Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat, Andi Nurpati membenarkan kabar tersebut. Namun, upaya pendekatan terhadap Jokowi tidak mengatasnamakan partai, melainkan inisiatif pribadi kader.
"Saya kira, kita menunggu saja bagaimana nanti (hasilnya) karena masih pembicaraan awal. Saya enggak tahu apakah resmi dari partai atau tidak. Saya denger bukan resmi partai, melainkan inisiatif personal," ujar Andi di KPU.
Tak menutup kemungkinan, kata Andi yang mantan anggota Komisi Pemilihan Umum, Partai Demokrat yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono akan menjalin koalisi dengan PDI Perjuangan untuk menggaet Jokowi. Karena dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi.
"Yang penting dia (Jokoei) bersedia enggak mengikuti konvensi. Ketentuan Demokrat bersedia ikut konvensi karena itu mekanismenya. Target awal kan Agustus masih akan dimulai," kata Andi.
Selama ini, nama Jokowi menduduki posisi tertinggi dalam hasil survei sejumlah lembaga. Persepsi publik menempatkan Jokowi posisi teratas dari sisi elektabilitas. Namun, Jokowi berulangkali menegaskan lebih memilih mengurus Jakarta ketimbang jadi capres.
Ada pun PDI Perjuangan belum memutuskan mengenai calon presiden yang diusung pada Pemilu 2014. DPP PDIP menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada Megawati Sukarnoputri.
"Rakernas pertama tahun 2011, PDIP telah memberikan kewenangan kepada Ibu Mega selaku Ketua Umum Partai untuk memutuskan  siapa capres dan cawapres yang akan diusung PDIP," kata Wasekjen PDIP Ahmad Basarah.
Waktu pengajuan capres dan cawapres pun diberikan sepenuhnya kepada Ketua Umum. Mengenai peluang kader PDIP yang kini menududuki jabatan Gubernur DKI Jakarta Jokowi menjadi calon yang diusung PDIP, Basarah juga tidak berkata banyak. "Kami serahkan sepenuhnya keputusan itu kepada kebijakan dan kearifan Bu Megawati," kata Basarah.
Sumber Berita :
http://id.berita.yahoo.com/jokowi-diincar-golkar-dan-demokrat-014412275.html

Pidatonya Tidak Disimak Megawati Ngomel-ngomel

TEMPO.CO,Blitar-Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan marah-marah di depan ribuan massa yang mengikuti deklarasi pasangan Calon Gubenur Jawa Timur dari PDIP, Bambang DH-Said Abdullah. Ia kecewa massa yang hadir tidak menyimak pidatonya.
"Diam, coba diam satu menit saja," katanya, kepada ribuan massa yang mengikuti deklarasi Bambang-Said sebagai Calon Gubenur dan Wakil Gubenur Jawa Timur, di lapangan UPTD PIPP, Kota Blitar, Sabtu, 6 Juli 2013.

Namun, meski intonasi suara Mega semakin dikeraskan, massa masih saja ribut sendiri, malah semakin bersorak-sorak. Merasa intruksinya tidak didengar, Mega meminta agar semua massa yang berdiri di depan panggung duduk di tanah, namun lagi-lagi mereka tidak menggubris.

Akhirnya Megawati pasrah dengan muka yang sedikit murung. "Biarkan, setiap acara pasti ada pengacau, suruh mereka dibelakang saja," ujarnya.

Kemudian Presiden Indonesia ke-5 itu melanjutkan sambutannya.
Beberapa menit kemudian Megawati kembali marah-marah karena pada saat menyanyikan lagu Indonesia Raya banyak pemuda yang berdiri di depan pentas tidak serius menyanyikannya. "Pemuda macam apa kalian, menyanyikan lagu bangsanya sendiri main-main, gitu kok mau jadi pemimpin," ujarnya dengan nada yang tinggi.

Megawati meminta agar pemuda tidak sembarangan menyanyikan lagu Indonesia raya, selain itu Mega meminta agar pemuda disiplin dan menghargai negaranya sendiri.

ARIEF RIZQI HIDAYAT
 Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/pidatonya-tidak-disimak-megawati-ngomel-ngomel-130930373.html

Jumat, 05 Juli 2013

Wamenag 1 Ramadan 9 Juli Agak Berbeda

MERDEKA.COM. Muhammadiyah telah menyatakan bahwa 1 Ramadan tahun ini bertepatan dengan hari Selasa 9 Juli 2013. Sedangkan versi pemerintah, awal puasa sendiri diprediksi akan jatuh pada Rabu 10 Juli 2013.

Menurut Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, kemungkinan pemerintah akan menetapkan 1 Ramadan pada Rabu 10 Juli.

"Ramadan akan distigmalkan Sabat itu 30 hari. Bisa diprediksi Ramadan nanti jatuh pada tanggal 10 Juli," kata Nasaruddin Umar, Jumat (5/7).

Namun, masih ada mazhab lain yang dipakai di dalam negeri. Seperti ajaran Muhammadiyah yang akan berpuasa pada tanggal 9 Juli.

"Mereka biasa jika di atas ubud sudah 0,001 derajat saja sudah bisa berpuasa, ini agak berbeda dengan ajaran dunia Islam," ujarnya.

Dia menjelaskan sistem yang dipakai oleh pemerintah sudah sesuai dengan Alquran dan Hadist. Namun Nasaruddin tetap menghormati segala perbedaan yang ada.

"Tradisi ini bukan hanya terjadi di Indonesia saja. Perbedaan ini adalah hal biasa," tutupnya.

Sumber : http://id.berita.yahoo.com/wamenag-1-ramadan-9-juli-agak-berbeda-di-060933442.html