Senin, 27 Agustus 2012

Mengintip Gigolo di Pantai Kuta

Ciri-ciri Gigolo di Pantai Kuta

Di Pantai Kuta Bali praktik gigolo sudah ada sejak 20 tahun lalu. Keberadaanya dapat diketahui secara nyata. Mereka memiliki ciri-ciri tersendiri bila akan mencari mangsanya.
Jony Combor, salah satu gigolo pantai menyatakan, aktifitas gigolo pantai berbeda dengan gigolo umumnya, seperti di cafe atau tempat hiburan.
Menurutnya, operasi gigolo Kuta, juga berbeda dengan gigolo yang ada di Ubud Gianyar yang mencari mangsa di sebuah café atau Bar. Jika mangsa sudah kena biasanya mereka diajak ke villa-villa.
Gigolo-gigolo tersebut kerap sengaja dihubungi tamunya sebelum tiba di Bali. Kemudian diminta untuk menemani sang tamu selama berlibur di Bali.
"Mereka juga memiliki teman tamu yang kapasitasnya menemani turis selama 2-3 minggu, seperti jalan-jalan, shoping hingga menghantar liburan ke wilayah lain seperti Lombok," kata Jony Combor, Selasa (27/4).
Diantara mereka ada yang berhubungan, ada juga yang tidak. "Bisa dikatakan mereka ini sebagai guide tidak resmi," ujarnya.
Berbeda dengan gigolo pantai, cirinya antara lain biasanya berbada kekar, berkulit hitam, dekil, gondrong tanggung, rambut diwarnai,  suka mengenakan celana melorot, dan suka berjemur. 
"Itu ciri-ciri yang menonjol, jika mencari mangsa biasanya mereka mendekati target yang sedang berjemur dengan bahasa asing sehari-harinya," katanya.
Bahasa yang sering digunakan untuk mendekati tamu seperti "Hi.. how are you". Jika to the point gigolo ini akan mengatakan "you like jig-ijigg?" jigg-ijigg adalah salah satu istilah bahasa gaul dari Australia yang biasa digunakan oleh bule-bule yang ingin melakukan seks. 
Jika targetnya orang Jepang, bahasa yang digunakan "Moshi-moshi…, anata wa daisuki icha-icha, desu ka"?? artinya "halo apa anda mau 'bercinta' dengan saya?"
Sulitnya, tempat nongkrong para gigolo ini tidak bisa ditebak. Tapi, biasanya berada di warung-warung sepanjang Pantai Kuta. 
Berbeda dengan di kawasan Ubud Gianyar, ciri-ciri mereka hampir sama, celana oblong, kekar, dan mengenakan topi miring, kacamata hitam.
Mereka bukan asli Kuta, rata-rata mereka dari wilayah lain seperti Buleleng, Singaraja, Karangasem, bahkan dari Banyuwangi dan Jember.
"Di ubud juga banyak, biasanya mereka nongkrong dekat tempat wisata Monkey Fores, di samping lapangan, di jalan Dewi Sita, mereka biasanya di Villa-villa," katanya.



“Kami Bukan Gigolo, Tapi Pacari Bule Gonta-ganti’’ Kesaksian Aktor Cowboys in Paradise

PARA beach boy di Kuta  yang bekerja di Bali membantah berprofesi seba-gai gigolo, sebagaimana yang dikisahkan dalam film ‘Cow-boys in Paradise’. 
Namun, me-reka tidak menyangkal kerap berpacaran dengan wisatawan asing dan sering berganti pacar. “Kita pacaran dengan wanita bule karena suka sama suka,” kata Argo (28), salah seorang ‘bintang’ Cowboys in Paradise, Rabu (28/04).
Pria berusia akhir 20-an tahun asal Jawa Timur terse-but mengaku pernah beberapa kali berpacaran dengan wanita asing dari berbagai negara yang berlibur ke Bali. Biasanya kisah asmara berawal dari papan selancar berubah men-jadi teman hingga berakhir menjadi TTM (teman tapi mesra) hingga akhirnya berpacaran.
“Kalau dia ajak keluar ma-lam, kenapa tidak? Kita mau saja. Mereka ke sini kan ingin senang-senang,” ujar Argo. Argo mengaku tidak jarang aktivitas bersenang-senang dibiayai oleh pihak wanita. Tetapi dia membantah bila dituding motivasinya berpacaran dengan wisatawan wanita asing adalah untuk menggaet kekayaan saja.
“Kalau saya tidak mampu bayar minuman di diskotik, ya dibayarin. Tetapi saya tidak pernah mendapat barang mewah dan uang banyak dari mereka. Kalau kita gigolo mungkin sudah banyak punya mobil,” katanya. 
Bila jalinan cinta dua bangsa ini mulus, maka pertemuan selanjutnya usai berakhirnya musim libu-ran bisa melalui jaringan internet. Tetapi sering juga mereka putus sebelum ber-akhirnya musim liburan ka-rena si wanita cemburu de-ngan teman-teman wanita para beach boys.
Beach boy lainnya bernama Arnold juga membantah ber-profesi gigolo,
“Kami bukan gigolo, mas. kita kerja di sini melatih berselancar para tamu,” kata Arnold, salah satu beach boy yang muncul dalam film ga-rapan Amit Virmani tersebut. Dia pemuda yang bilang,”I love you!”
Bersama rekan-rekannya, selama lima tahun terakhir Arnold membuka kursus surf-ing kecil-kecilan dan menye-wakan papan surfing di Pantai Kuta. Tarif yang dikenakan kepada wisatawan untuk ber-selancar sebesar Rp 150 ribu per jam.
“Biasanya dua jam belajar, mereka sudah bisa berdiri di atas papan selancar,” kata Ar-nold yang asal Jawa Timur ini.
Sementara itu, Agus yang menyewakan papan selancar juga membantah jika rekan-nya berprofesi gigolo. “Saya kenal mereka dan bekerja sa-ma saya sejak lama, tidak be-nar mereka gigolo,” kata Agus. Para beach boy itu sendiri mengaku tak tahu bahwa film yang menampilkannya itu merupakan film tentang gigolo di Bali.
Arnold mengatakan, ketika diminta ambil bagian dalam film tersebut ia tidak diberi ta-hu bahwa film itu akan ber-kisah mengenai gigolo di Bali. “Kalau saya tahu itu film gi-golo, logikanya bodoh aja ka-lau saya main film seperti itu,” ujar Arnold.
Pemuda yang sehari-hari bekerja menyewakan papan selancar ini mengaku kenal dengan sang sutradara, Amit Virmani, yang memang saat itu sangat dekat dengan anak-anak pantai. “Pertama kenal, (dia) sebagai tamu. Terus, dekat sama anak-anak. Ke-mudian, jadi teman baik,” cerita Arnold.
Dengan adanya film itu, Arnold merasa hanya diman-faatkan oleh Amit. Ia meng-anggap Amit mereguk keuntu-ngan dengan mengorbankan anak-anak pantai. “Kata te-man saya, dia (Amit) dapat duit miliaran di setiap negara yang memutar film tersebut, semen-tara saya enggak dapat apa-apa. Malah, nama baik saya ter-cemar,” ujarnya lagi.(dtc/zal)


Razia Gigolo Bali, 28 Pemuda Ditangkap
 

TEMPO Interaktif, Denpasar - Razia yang Satuan Tugas (Satgas) Pantai Kuta, akhirnya membuahkan hasil. Dalam razia yang dilakukan Senin (26/4) mereka berhasil menangkap 28 pemuda yang tak memiliki identitas serta pekerjaan yang jelas di Pantai Kuta Bali. Mereka jelas bukan sekedar turis domestik karena sudah sering ditemui oleh petugas.

Namun, menurut Ketua Satgas Pantai Kuta Gusti Ngurah Tresna, mereka tidak ada yang mengaku sebagai gigolo. "Itu pengakuan mereka. Kami tidak menelusuri lebih jauh," katanya.

Menurut Tresna, setelah ditangkap, para pemuda itu dibawa ke Kantor Kelurahan Kuta untuk mendapat pembinaan. Terutama untuk melengkapi surat-surat kependudukan dan harus segera mencari kerja.

Sayang, dalam razia itu, Satgas belum berhasil menangkap aktor yang di clip video "Cowboys in Paradise" yang diunggah di situs Youtube itu. Bisa jadi, kata Tresna, mereka sengaja bersembunyi setelah kasusnya terekspose sejak satu minggu lalu.
Tresna menjamin, dari kalangan pedagang serta penyewa papan surfing di pantai tidak ada yang berani melakukan praktek gigolo. "Mereka semua terdaftar dan memiliki izin. Kalau bermasalah akan kami cabut izinnya," ujarnya.





































Sumber Berita : http://gobloggoblox.blogspot.com/2012/04/mengintip-gigolo-di-pantai-kuta.html