Minggu, 28 Agustus 2011

Tenongan Lambang Keguyuban

Tenong merupakan wadah makanan yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk bundar, di dasar dan sampingnya berupa bilah bambu tipis yang dilingkarkan. Biasanya dilengkapi tutup yang terbuat dari anyaman bambu pula. Tradisi ini digelar pada hari pertama Idul Fitri. Usai Shalat Id dan bersalaman saling memaafkan, warga pulang mengambil tenong yang berisi makanan istimewa di rumah dan kembali ke masjid.
Dalam tenong itu berisi nasi dari beras terbaik, yakni rajalele dan dibentuk menjadi penggel (gunungan kecil). Ada pula gulai ayam dengan santan yang kental dan ayam goreng, sambal goreng tempe dan tahu, telur rebus, petai rebus mlenthis, rempeyek yang renyah, lalapan bunga kecombrang (burus) sebagai hiasan, serta tidak ketinggalan sambal terasi yang sangat pedas. “Bagi masyarakat desa, dulu makanan itu sudah sangat istimewa,“ kata budayawan Banyumas asal desa tersebut, Ahmad Tohari.
Duduk Bersama
Makanan itu ditata para ibu sebelum Shalat Id. Malam sebelumnya, mereka lek-lekan masak hingga subuh.
Di serambi masjid, ratusan warga duduk bersila membuat lingkaran besar. Setelah berdoa, tenong yang berada di hadapan warga digeser ke kanan dua atau tiga kali, sehingga si pembawa tenong akan mendapatkan tenong milik tetangga yang duduk di sebelah kiri, dan tenong yang dibawa akan berada di hadapan orang yang duduk di sebelah kanan. “Setelah itu, barulah mereka makan bersama. Karena itulah warga berlomba-lomba membuat sajian terbaik,“ lanjutnya.
Dengan diputarnya tenong itu melambangkan sebuah kebersamaan, guyub, keakraban, dan kedekatan warga masyarakat. Semua mendapatkan jamuan istimewa dari tetangga. Biasanya isi tenong itu tidak habis, dan di sinilah saatnya anak-anak tampil. (Ryan Rachman-79)
Sumbe Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157503/

Riyaya dan Tradisi yang Memikat

LEBARAN bagi masyarakat Jepara tidak hanya sebagai momentum saling bermaaf-maafan antarkeluarga dan tetangga. Dalam Riyaya itu, lahir tradisi yang memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat Bumi Kartini dan masyarakat kabupaten sekitar, untuk ikut memeriahkannya. 
Memanfaatkan lokasi wisata pantai, muncul tradisi lomban yang merupakan bentuk rasa syukur masyarakat pesisir atau nelayan, dengan melarungkan kepala kerbau ke lautan. Acara larung kepala kerbau itu dilangsungkan pada H+7 Idul Fitri. Tradisi itu dimulai pagi hari untuk mengawali kegiatan masyarakat menikmati pemandangan pantai.
Menikmati pemandangan pantai merupakan bentuk perenungan atas ciptaan Allah yang Maha Besar. Dengan melihat pantai serta menaiki kapal-kapal nelayan yang sudah disiapkan, diharapkan bisa mempertebal rasa iman terhadap agungnya Sang Pencipta. “Intinya makna kegiatan larung kepala kerbau atau juga bisa disebut sedekah laut, adalah ungkapan rasa syukur setelah mencari nafkah setahun penuh,“ kata Sholikul Huda, pembina Sanggar Kreatif Kalinyamat.
Meski tradisi lomban bermula dari masyarakat nelayan, Huda melihat kondisi sekarang sudah tidak seperti itu. Lomban di Jepara sudah menjadi milik seluruh masyarakat Jepara, termasuk beberapa daerah sekitarnya. Itu ditunjukkannya dengan pelaksanaan festival kupat lepet, dalam acara ritual lomban sejak lima tahun lalu. 
Sholikul yang juga penggagas festival kupat lepet mengungkapkan, perpaduan festival kupat lepet dan lomban yang menjadi gawe Jepara, diharapkan mewakili masyarakat Jepara yang berada lereng Gunung Muria. “Dalam waktu yang sama kalau masyarakat pesisir itu menyebut lomban, sedangkan masyarakat Jepara yang di pegunungan menyebutnya bodo kupat,“ jelasnya.
Dengan kondisi itu, adanya festival kupat lepet menunjukkan kegaiatan lomban bukan hanya milik masyarakat pesisir. Huda lantas menjelaskan festival kupat lepet yang dalam kegiatannya terjadi rebutan masyarakat untuk mendapatkannya juga memiliki makna penting. “Kupat itu bermakna mengaku lepat atau mengaku salah, sedangkan lepet itu dipepet atau diikat sehingga kembali ke nol. Jadi ada makna yang bisa diambil dari simbol kupat dan lepet,“ tutur Huda. 
Kemudian untuk seluruh kegiatan lomban tersebut mengandung doa untuk meminta keselamatan kepada Allah SWT. Untuk yang dilarung kepala kerbau itu merupakan bentuk tradisi. Kemudian untuk kupat lepet hingga sekarang juga muncul kepercayaan soal kesakralannya.
Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara, Eko Kasiono menjelaskan kegiatan lomban akan dilangsungkan pada 6 September dengan rangkaian kegiatan, ziarah ke makam Cik Lanang di Pemandian Pantai Kartini pukul 16.00.
Dilanjutkan ziarah ke makam Ronggomulyo Ujungbatu Kecamatan Kota Jepara. Pada Senin (5/9) malam dilangsungkan pagelaran wayang kulit di TPI Ujungbatu. Kemudian pada Selasa (6/9) dilakukan ritual larung kepala kerbau di TPI Ujungbatu sekitar pukul 07.00. Setelah itu kegiatan di Pantai Kartini untuk festival kupat lepet.
Dukung Visit Jateng
Namun, Eko Kasiono memiliki harapan ke depan ada kegiatan perang bantal dan juga kegiatan lepas bebek untuk diperebutkan masyarakat. Karena beberapa pertimbangan tidak dilangsungkan pada tahun ini. “Yang jelas kami mempersiapkan kegiatan sebaik mungkin untuk menunjang Visit Jateng 2013. Kami juga berharap seluruh prosesi kegiatan bisa berjalan lancar,“ ucapnya. 
Seniman Senior Jepara, Ari Jatmiko mengungkapkan, ke depan perlu terus ada inovasi sehingga lomban Jepara semakin menarik. Dia lantas menunjuk kegiatan festival kupat lepet merupakan tambahan. Pada tahun 1970-an, seniman-seniman senior pernah mengadakan kegiatan tambahan kemudian vakum dan kini telah dilanjutkan lagi.
Zamroni Lestiaza, Kabid Pengembangan dan Pengelolaan Pariwisata Disparbud Jepara menjelaskan, pada tahun ini penyelenggaraan lomban dikonsentrasikan pada tiga tempat, yakni Pantai Kartini, Pantai Bandengan, dan Pantai Benteng Portugis. Pemkab Jepara mengalokasikan anggaran operasional untuk lebaran tahun ini sebesar Rp 290 juta.
Dengan alokasi itu, masyarakat yang berkunjung ke objek-objek wisata pantai, bisa menikmati hiburan tanpa ada penambahan biaya tiket masuk. Biaya masuk selama syawalan atau lomban dari 31 Agustus hingga 6 September sebesar Rp 8 ribu untuk dewasa dan Rp 7 ribu untuk anak-anak. Itu berdasar Perda sehingga tidak boleh melebihi itu. (79)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157506/

Ciptakan Dua Lopis dan Megono Raksasa

SYAWALAN dirayakan sepekan setelah Idul Fitri.  Demi melestarikan tradisi itu, Pemkab Pekalongan membuat kegiatan perayaan yang diakulturasikan dengan kirab seni dan budaya, yang dipusatkan di objek wisata Linggo Asri.
Tahun ini seluruh prosesi dan teknis dilaksanakan masyarakat. Termasuk pembuatan megono gunungan setinggi 2 meter. Berbagai elemen masyarakat di Linggo, termasuk umat Hindu akan mengikuti kirab dan mengarak megono itu. Setelah digelar kirab dari Kelurahan Linggo Asri menuju ke objek wisata. Megono gunungan kemudian diperebutkan. Warga dan para pejabat berbaur untuk makan bersama nasi megono sebagai simbol kebersamaan dan silaturahim.
Pemkab menyediakan sekitar 2.000 nasi bungkus.
Sementara itu di Kota Pekalongan ada tradisi dua lopis raksasa yang dibuat masyarakat Krapyak Kidul dan Krapyak Lor. Lopis itu dipotong oleh Wali Kota Pekalongan HM Basyir Ahmad di saat syawalan.
 Ribuan warga pun berdatangan untuk memperebutkan lopis gratis itu.
Lopis raksasa di Krapyak Kidul, di depan Mushala Darunna’im. Makanan khas terbuat dari ketan itu, dibuat dengan berat lebih dari setengah kuintal.
Mengapa dibuat lopis, makanan khas itu memiliki kelengketan yang sangat kuat dan memiliki harapan masyarakatnya akrab, sehingga bakal mempererat persatuan dan kesatuan umat.   (Trias Purwadi, Muhammad Burhan-79)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157502/

Jejak Maaf

BANYAK maaf diminta, banyak maaf diberikan tetapi kesalahan terus bermunculan. Stok maaf memang besar  sekali, tetapi jumlah kesalahan juga besar sekali. Komposisi ini bisa membingungkan karena bisa menimbulkan aneka spekulasi. Pertama, karena selalu  tersedia  maaf, maka mudahlah kita
membuat kesalahan. Jadi wajar. Kedua, karena selalu ada maaf bagi  setiap kesalahan, wajar jika maaf  menjadi banyak sekali karena kesalahan juga banyak sekali. Jadi, wajar lagi. Ketiga, banyak maaf memang harus berdampingan dengan banyak kesalahan itulah yang disebut keseimbangan. Lagi-lagi ini juga wajar. Akhirnya, kesalahan bisa jadi harus dianggap sebagai kewajaran. Atau jangan-jangan pewajaran semacam itu, hari  ini  sudah terjadi.
Lihatlah ular-ularan permintaan maaf terutama menjelang lebaran itu. Ia sudah  mulai bahkan sebelum bulan puasa benar-benar tiba. Aneka SMS sudah berlalu lalang siap menyambut puasa sambil meminta maaf atas semua kesalahan. SMS ini tambah gencar memasuki seminggu sebelum Lebaran. Ada yang mengaku harus berkirim ucapan jauh-jauh hari demi untuk menghindari kepadatan sinyal dan kemacetan provider. Berkirim SMS saja mana cukup jika tidak bersalaman di puncak perayaan yakni pagi hari, rampung salat ied di masjid dan lapangan. Begitu khatib menutup dengan salam jamaah mulai gaduh  saling-silang bermaafaan. Begitu bersemangat maaf-memaafkan itu  sampai enak saja  meninggalkan koran bekas di lapangan. Lautan koran bekas adalah pemandangan yang selalu khas di setiap salat ied dirampungkan. Tapi sudahlah, korupsi saja bisa dimaafkan apalagi ini sekadar koran.
Karena mana afdal bersalaman jika cuma ketemu di lapangan. Yang tua-tua harus menunggu di rumah untuk menunggu yang muda datang. Yang muda harus sowan yang tua karena itu penghormatan. Yang atasan harus bersiaga karena bawahan pasti datang. Yang petinggi harus open house karena pasti banyak pihak ingin bersalaman. Ini baru Lebaran hari pertama. Hari kedua, ketiga dan seterusnya sudah menunggu acara halalbihalal di berbagai segmen dan kesempatan. Mulai dari kampung sendiri, kantor sendiri sampai organiasi itu dan ini. Satu  pribadi bisa ada di empat lima organisasi tergantung posisi. Di luar pribadi ia adalah juga anggota paguyuban keluarga besar, warga di  sebuah kawasan, pegawai di  sebuah departemen dan angota komunitas ini itu.
Jadi budaya memintaa maaf itu luar biasa besar di Indoensia. Lautan maaf tersedia di negeri ini. Inilah kenapa koruptor saja diusulkan dimaafkan jika mau  mengembalikan hasil jarahan. Tindakan penjarahan itu sendiri tidak penting karena yang penting adalah  mengamankan barang jarahan. Sementara pembawa narkoba diancam hukuman mati, pemakainya harus diampuni dan cukup dikirim ke pusat rehabilitasi  karena sebutannya adalah korban. Inilah hukum yang memandang rendah pemakai dan memandang tinggi pembawa. Semua kesalahan itu menjadi mudah mengalami proses pewajaran karena telah disediakan cukup banyak stok pembenaran. Kita sambut gembira budaya maaf-memaafkan ini sambil menyisakan pertanyaan: adakah jumlah maaf itu telah sepadan dengan jumlah kegembiraan kita, terutama sebagai bangsa? (33)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157520/

TekadMudik Bersepeda Motor

RITUAL massal tahunan itu hadir kembali. Menjelang Idul Fitri, lautan manusia membanjiri jalanan dari ibu kota ke sepanjang Pulau Jawa. Lihat saja prediksi Kementerian Perhubungan, pemudik Lebaran tahun ini akan mencapai 15,5 juta orang. Angka ini berarti naik 4,17 persen dibandingkan tahun lalu. Berbagai sarana angkutan akan membawa para pemudik dari Jakarta. Selain pesawat udara, kapal laut, yang paling diminati tentu saja sarana angkutan darat.
Di antara bus, kereta api dan mobil, pilihan mudik dengan menggunakan sepeda motor mengalami peningkatan yang sangat besar. Diperkirakan Lebaran tahun ini akan ada 3,6 juta pemudik bersepeda motor.
Mengapa bersepeda motor? Biasanya alasan efisiensi dan praktislah yang dikemukakan oleh para pemudik. Bayangkan saja kalau harus naik kereta api. Beli tiket saja sudah harus antre minta ampun, belum lagi pada waktu berangkat harus berebut masuk ke dalam gerbong. Bus juga menjadi mahal, jika harus membawa anak-anak. Apalagi kapasitas angkut kedua sarana transpotasi itu juga terbatas untuk mengangkut jutaan orang secara bersamaan. Pesawat terbang sudah pasti tak terjangkau bagi kebanyakan pemudik yang akhirnya memilih sepeda motor.
Kemudahan memiliki sepeda motor yang ditawarkan para produsen, membuat orang juga mengambil pilihan untuk memilikinya. Tak peduli, apakah setelah dipakai berlebaran nanti disita lagi, karena tak mampu membayar angsuran. Yang penting ada sarana transportasi untuk mudik.
Di jalanan nanti, bus dan mobil akan menghadapi problem kemacetan. Pasar tumpah, infrastruktur jalan yang kurang memadai, maupun perilaku para pengguna jalan sendiri bisa menjadi penghambat perjalanan ke kampung halaman. Dengan sepeda motor, mereka lebih fleksibel menghindari kemacetan, bahkan kalau perlu bisa naik ke trotoar untuk mencari jalan. Lebih lagi bersepeda motor bisa menjangkau hingga desa mereka yang masih sulit akses transportasi.
Dengan sepeda  motor pun hanya dibutuhkan biaya  beberapa puluh ribu rupiah. Maka jadilah sepeda motor itu bisa-bisa dipenuhi dua penumpang dewasa, dua anak-anak, belum lagi barang bawaan yang banyak. Tekadnya cuma satu: pulang ke kampung, setelah satu tahun bekerja di Ibukota.
Namun, apa pun kelebihan mudik dengan sepeda motor, banyak hal yang harus diwaspadai. Meski dianggap efisien, sepeda motor sebenarnya tidak pas untuk mengangkut penumpang melebihi kapasitas. Apalagi menempuh jarak beratus kilometer. Risiko kecelakaan sungguh besar. Faktor kelelahan, kontrol kendaraan tak maksimal, bersaing dengan transportasi lain yang lebih besar, bisa berakibat fatal.
70 Persen
Data Jasa Raharja menunjukkan, jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas 70 persen adalah pengguna sepeda motor. Data Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), selama arus mudik tahun lalu (2010), lebih dari 800-an orang meninggal. Dengan melonjaknya jumlah pemudik, angka kecelakaan diprediksi juga bakal mengalami kenaikan.
Bagi anak-anak yang yang diajak orang tuanya mudik dengan sepeda motor, tentu banyak hal yang dialami. Meski selamat sampai di tujuan, mereka yang masih rapuh itu tentu mengalami kelelahan, terpaan angin, dan ketidaknyamanan.
Pakar transportasi Darmaningtyas mengatakan, angka kecelakaan pada saat mudik Lebaran mengalami peningkatan akibat pemerintah belum bisa menciptakan sistem yang baik.
Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengaku sudah mempersiapkan sejumlah armada untuk menekan angka kecelakaan pemudik bermotor. Mulai dari kapal pengangkut motor di pelabuhan hingga kereta api guna mengangkut pengendara.
Apakah terobosan itu mampu mengangkut mayoritas sepeda motor milik pemudik? Jawabannya tentu saja tidak. Karena itu, Darmaningtyas meminta agar pemerintah memberikan peran yang besar dan memberikan subsidi khusus untuk Lebaran agar golongan masyarakat bawah bisa nyaman melaksanakan mudik.(Bagas Pratomo-09)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157519/

Rekomendasi DPP Tidak Perlu Bayar

JAKARTA - DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan membantah telah menerima Rp 5 miliar dari mantan calon Bupati Pati, Sunarwi. Dalam keterangannya, Jumat lalu, Sunarwi menyebut uang sebesar itu diserahkan demi memperoleh rekomendasi.
Menurut Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo, untuk mendapatkan rekomendasi sebagai calon yang direstui tidak ada kewajiban membayar sejumlah uang. ”Logikanya, jika Sunarwi merasa kehilangan Rp 5 miliar karena disetor ke DPP, apa mungkin DPP tidak merekomendasikannya?” kata Tjahjo, Sabtu (27/8).
Tjahjo menyatakan tidak menuduh Sunarwi berbohong. Dia menegaskan, sebagai kader senior seharusnya yang bersangkutan tahu mekanisme partai. ”Kalau tahu kenapa mekanismenya dilanggar?” lanjutnya.
Sebagai ketua DPC dan ketua DPRD, Sunarwi juga pasti tahu sanksi apa yang akan dijatuhkan bila peraturan partai dilanggar. Apalagi, Tjahjo menegaskan, kehormatan ketua umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri juga dilawan.
Sebagai sekjen, Tjahjo memang mengizinkan siapa pun mendaftarkan diri dan mengikuti mekanisme pencalonan Pilkada. Namun, keputusan rekomendasi DPP diambil berdasarkan survei, uji kelayakan dan kepatutan, dukungan struktur partai, serta mempunyai dana gotong royong untuk saksi di TPS dan biaya operasional kampanye.
”Calon bersangkutan harus bisa membuktikan apakah dia mempunyai dukungan dan dana buat menyukseskan kampanye. Rekomendasi DPP tidak bayar,” tandasnya.
Tjahjo bahkan menyarankan bila ada fungsionaris partai yang meminta bayaran terkait rekomendasi agar dilaporkan. Dia memastikan oknum tersebut akan dipecat oleh Megawati.
Kesempatan menjadi calon kepala daerah dari PDIP terbuka bagi semua kader dan bukan anggota/kader partai yang ikut mendaftar dan mengikuti mekanisme Pilkada. DPP kemudian akan melakukan survey dan fit and proper test bagi mereka yang sudah mengikuti tahapan-tahapan klarifikasi sebagai calon dari PDIP.
”Hasil survei serta hasil fit and proper test ditambah hasil koordinasi DPP dengan DPD dan ketua-ketua DPC tetangga menjadi pertimbangan keputusan DPP dalam memberikan rekomendasi,” jelasnya.
DPP PDIP memutuskan menggugat Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena lembaga itu memberi peluang kepada Sunarwi untuk maju dan mendaftar. Padahal keputusan KPU itu tidak pernah dikonsultasikan dengan DPP/DPD partai yang mengeluarkan rekomendasi pilkada.
”Keputusan KPU mengenai Pati diambil melalui mekanisme voting. Apa KPU tidak mempunyai sistem? Untuk itulah DPP PDIP menggugat KPU ke Polda, PTUN, dan Mahkamah Konstitusi,” imbuhnya.
Gugatan juga dilayangkan sebagai pelajaran kepada KPU agar tidak mengulangi kasus Pati. Menurut Tjahjo, pihaknya tidak ingin kasus itu menjadi preseden sehingga unsur partai di daerah berani melawan keputusan pimpinan pusat.
Opsi Wakil Bupati
Di Pati, Sunarwi kembali mengungkapkan ketidakpuasannya atas prosedur yang dipraktikkan jajaran pengurus tertinggi di partai banteng moncong putih itu. Dia menyatakan dikelabui DPP setelah bersedia mendaftarkan pasangan calon pemegang rekomendasi Imam Suroso-Sujoko ke KPU Pati.
Sunarwi mengaku ditawari opsi penggantian calon wakil bupati dari Sujoko ke Riyoso, adik kandung Sunarwi. Rencana penggantian tersebut dimunculkan karena Imam Suroso tidak sreg berpasangan dengan Sujoko sekaligus meredam konflik di akar rumput.
Pertemuan tersebut difasilitasi pengurus DPP PDIP Mindo Sianipar. ”Demi kekompakan partai dan menjaga suasana kondusif, saya bersedia menerima opsi itu. Adik saya pun langsung mengurus berkas yang dibutuhkan dalam pencalonan. Saya kemudian kaget karena disuruh menandatangani surat untuk keabsahan tim kampanye Imam Suroso-Sujoko. Surat rekomendasi tidak berubah, Riyoso tidak masuk satu paket dalam pencalonan itu,” papar Sunarwi.
Karena merasa terus dizalimi, dia termotivasi mengganti pasangan Imam Suroso-Sujoko dalam masa perbaikan berkas pencalonan. Sunarwi mengetahui adanya celah untuk mengganti calon atau pasangan calon setelah rapat terbatas di DPP itu. Politikus asal Desa Ngemplak Lor, Kecamatan Margoyoso, ini selanjutnya berkomunikasi dengan KPU Pati mengenai kemungkinan penggantian calon. Benar saja, KPU Pati menyatakan upaya itu bisa dilakukan sepanjang penetapan pasangan calon belum dilakukan. ”Jadi sangat salah dan fitnah jika saya bermain-main dengan KPU. Saya tidak menyuap KPU,” tegasnya.
Jika tidak ada upaya penggantian calon wakil bupati Sujoko kepada Riyoso, Sunarwi tak mengetahui celah hukum tersebut. Sunarwi juga bersumpah tak pernah bersekongkol dan mengatur penggantian pasangan calon Imam Suroso-Sujoko secara sistematis jauh-jauh hari.
Pengamat politik asal Pati, Alwi Alaydrus, menilai kasus PDIP kali ini terbilang biasa. Persoalan serupa juga terjadi di daerah lain. Namun, dia menggarisbawahi bahwa penentuan rekomendasi calon bupati dan wakil bupati merupakan hak pucuk pimpinan partai.
Mengenai setoran Rp 5 miliar dari kader ke DPP, Alwi menyebut setoran itu dapat diberlakukan sebagai uang pendaftaran. ”Soal setoran itu sebenarnya terserah Sunarwi. Kalau memang bisa memosisikan uang itu sebagai persyaratan pendaftaran, bisa diupayakan ditarik kembali ketika tidak jadi maju,” ujar mantan kader PDIP ini. (H28,H49-65,57)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157522/

Lebaran Beda Lagi

PADA tahun ini, umat Islam di Tanah Air akan kembali berbeda dalam merayakan Idul Fitri 1432 H. Muhammadiyah sudah jauh-jauh hari mengumumkan Lebaran jatuh pada 30 Agustus, sedangkan Nahdhatul Ulama (NU) kemungkinan mengumumkan Lebaran tanggal 31 Agustus.
Satu pertanyaan yang seringkali muncul di kalangan umat Islam adalah mengapa sering terjadi perbedaan awal Ramadan dan hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha? Jawaban singkatnya adalah terdapat perbedaan metode dalam penentuan awal bulan.
Selain Kementerian Agama, dua ormas terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, selalu turut andil dalam menentukan awal Ramadan, dan jatuhnya Idda’in (dua hari raya-Red). Menurut pakar ilmu falak IAIN Walisongo Ahmad Izzudin, memang terbuka kemungkinan waktu Lebaran yang tidak bersamaan di Indonesia seperti yang  terjadi pada 2007 silam.
Meski awal puasa sama, kata Izzudin, peluang 1 Syawal berbeda cukup
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/28/157526/