Selasa, 27 Maret 2012

15 Nama Korban Bentrok Istana Presiden di RSCM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - 15 orang korban bentrokan mahasiswa dengan aparat kepolisian di depan Istana Presiden, Jakarta menjalani perawatan medis di Rumas Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, Selasa malam (27/3/2012).

Sekian nama korban yang terdaftar dalam Papan pengumuman IGD RSCM saat ini :

1. Fajar mahasiswa asal UNPAM
2. Makmun mahasiswa UNPAM
3. Pungky mahasiswa UNPAM
4. Erwin mahasiswa asal Palu, Sulawesi Tengah
5. Fariz asal Lenteng Agung
6. Ahmad Sofyan Mahasiswa UNPAM
7. Okki Mahasiswa IISIF
8. Alif al hafidi asal Bogor
9. Alan fitnur asal Cirebin
10. Moch taufik
11. Moh Imam Mahasiswa Paseban BSI
12. Idris Syahrian Satgas PDIP Bekasi
13. Ahmad Bagja asal Komplek Depag Tangerang
14. Bribtu Dhany asal Mako Den B Plopor Cipinang
15. Zein Mahasiswa asal Sulawesi.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/15-nama-korban-bentrok-istana-presiden-di-rscm-125552835.html

Senin, 26 Maret 2012

Ratusan Kendaraan Terjebak di Ciregol

BREBES- Ratusan kendaraan terjebak kemacetan di tanjakan Ciregol, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Minggu malam (25/3).
Iring-iringan kemacetan itu memanjang hingga tujuh kilometer, terutama bagi kendaraan dari arah Purwokerto menuju ke Tegal. Itu terjadi akibat tanjakan Ciregol ambles lagi sekitar 50 sentimeter.
Pantauan Suara Merdeka di lapangan, antrean kendaraan yang terjebak kemacetan itu terjadi sejak Minggu pagi hingga kemarin. Hal itu karena kendaraan harus bergantian melintas di titik amblesnya tanjakan yang semakin curam. Kondisi tersebut menyebabkan kendaraan kesulitan melintas dan harus dipandu petugas yang dibantu warga sekitar. Antrean itu semakin memanjang saat malam hari. Bahkan, kendaraan dari arah Purwokerto menuju ke Tegal macet total. Itu karena arus kendaraan lebih diutamakan dari arah Tegal menuju ke Purwokerto.
Sementara itu, larangan kendaraan berat yang bersumbu lebih dari dua untuk melintas, ternyata tidak dipatuhi pengemudi. Terbukti, hingga kemarin truk dengan sumbu lebih dari dua masih nekat melintas melalui jalur Ciregol.
Larangan Truk Besar
Kondisi itu semakin memperparah kemacetan. Sebab, truk yang akan melintas di titik jalan ambles harus ditarik dengan mobil derek. Keadaan itu cukup memakan waktu lama.
”Sudah sekitar satu jam saya terjebak macet di sini. Saya masuk jalur Ciregol sekitar pukul 18.00, tetapi hingga pukul 19.30 saya belum bisa melintas di titik amblesnya jalan,” keluh Iwan (32) salah seorang pengemudi yang akan menuju ke Tegal.
Dia mengatakan, kendaraannya mulai antre saat masuk Desa Karangjati atau sekitar 5 kilometer sebelum tanjakan Ciregol. Sejumlah kendaraan pribadi ada yang terpaksa putar balik melalui jalur alternatif Linggapura-Karangsawah.
”Yang kami sayangkan, katanya truk besar sudah tidak boleh melintas. Namun, kenyataannya saya masih melihat truk besar melintas Ciregol,” tandasnya.
Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Pemkab Brebes, H Sutriyono SH MM mengatakan, akibat hujan yang terus mengguyur wilayah selatan Brebes, kini tanjakan Ciregol ambles lagi sedalam 50 Cm.
Kendaraan yang melintas titik itu diminta harus ekstra hati-hati, karena tanjakan semakin curam dan sulit dilalui. Jika tidak berhati-hati akan membahayakan kendaraan. ”Saat ini memang tanjakan Ciregol ambles lagi. Kami sudah melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk penanganan ini,” katanya.
Diakui dia, meski sudah dilarang, sampai saat ini memang masih banyak kendaraan besar yang nekat melintas. Pihaknya kesulitan untuk mengatasi kendaraan besar, karena jalur tersebut merupakan jalan utama untuk menuju ke Purwokerto maupun Yogyakarta, bagi kendaraan dari arah Jakarta. ”Kami menghimbau, bagi kendaraan besar jangan melalui tanjakan Ciregol karena berbahaya,” tandasnya. (H38-49)     
Sumber Berita : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/03/27/181337/Ratusan-Kendaraan-Terjebak-di-Ciregol

Jangan Dipikirkan PNS Sudah Pintar Cari Duit

Mantan Menteri Keuangan pada era Orde Baru, Mar’ie Muhammad dijuluki  ”Mr Clean”. Meski menjadi bagian dari inti kekuasaan di era tersebut, dia terbebas dari belenggu korupsi. Bagaimana kiprahnya?
SUATU ketika di Istana. Mar’ie Muhammad, yang ketika itu menjabat sebagai menteri keuangan, menghadap Presiden Soeharto untuk menyampaikan sebuah gagasan terkait reformasi birokrasi, termasuk di antaranya rencana meningkatkan kesejahteraan pegawai negeri sipil.
Gagasan itu disampaikannya sebagai upaya untuk menekan penyimpangan dan kebocoran anggaran, bidang yang menjadi tanggung jawabnya.
Sungguh tak diduga jawaban yang muncul dari sang Presiden kala itu. ”Mar’ie, soal kesejahteraan pegawai negeri jangan dipikirkan. Mereka sudah pintar cari duit.”
Ramalan Soeharto yang ditestimonikan Mar’ie di sebuah seminar yang diselenggarakan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Gedung Asia Afrika, Bandung, pada awal terbentuknya lembaga negara itu, terbukti belasan tahun kemudian.
Bak cendawan di musim hujan, PNS-PNS yang ”pintar mencari duit” di usia muda itu satu per satu terungkap ke publik. Sayang, anak-anak muda yang di antaranya bernama Gayus Tambunan dan Dhana Widyatmika itu, berhasil menumpuk kekayaan bukan dengan cara yang halal, melainkan dengan memainkan pembukuan pajak yang harusnya diterima negara.
Entah apa yang bergolak di kepala Mar’ie Muhammad melihat kader-kader instansi yang pernah dipimpinnya dulu kini satu per satu digelandang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena kasus penyimpangan pajak.
Sebab, saat menjabat sebagai menteri keuangan dan Dirjen Pajak dulu, Mar’ie dikenal sebagai ”Mr Clean”, sosok yang bersih dan tegas terhadap segala bentuk penyimpangan dan amat disegani anak buahnya.
Pria kelahiran Surabaya, 3 April 1939 ini memang dikenal sebagai sosok yang sederhana, baik sebagai menteri maupun kesehariannya. Kesederhanan itu tecermin dari penampilannya yang bersahaja.
Dulu dia dikenal dengan kacamata minusnya yang tebal. Sebagai menteri, ia lebih sering mengenakan safari ke kantor, sedangkan di rumah Mar’ie merasa nyaman mengenakan sarung.
Kesederhanaan itu ditularkan pada keluarganya. Contohnya, seperti dituturkan putri bungsunya Rahmasari, Mar’ie tidak membolehkan anak-anaknya menggunakan mobil ke kampus maupun ke sekolah. Ia pun memilih membawa keluarganya berumroh daripada hura-hura ke luar negeri.
Selain sederhana, lelaki penggemar jogging ini dikenal tegas dan lurus. Ia disebut-sebut pernah menolak anggaran taktis dan biaya perjalanan dinas yang dinilainya terlampau besar. Sebaliknya, sebagai aparat negara ia berupaya meningkatkan efisiensi dan berusaha membendung kebocoran di instansi yang dipimpinnya.
Tentang dijulukinya dia sebagai Mr Clean, terdapat satu kisah. Di suatu siang saat masih menjabat Dirjen Pajak tahun 1989, Mar’ie memimpin sendiri timnya ke Jalan Cendana. Sambil membawa gulungan pita ukur, ia mengukur sendiri rumah Soeharto. Acara ukur-mengukur ini adalah dalam rangka pengumpulan data pajak bumi dan bangunan yang wajib dibayar.
”Tak peduli presiden atau pengusaha, soal keharusan membayar pajak, tidak ada pengecualian. Paling tidak selama saya jadi Dirjennya,” tegas Mar’ie saat itu. Nyatanya dia tidak membual. Selama lima tahun menjabat, instansi yang dipimpinnya berhasil mengumpulkan pajak Rp 19 triliun, di luar sektor minyak dan gas bumi. Padahal targetnya hanya Rp 9 triliun. Mungkin karena itulah ia kemudian dipercaya Soeharto menjadi Menkeu pada 1993.
Berani
Diangkat sebagai menteri, tidak membuat ayah tiga anak ini menjadi ”yes man” demi membuat atasan senang. Dia hanya satu dari sedikit anggota kabinet yang dengan berani menyatakan ”tidak” kepada Presiden Soeharto. Misalnya ketika pemerintah hendak membiayai pembelian 39 kapal dari Jerman Timur atas usulan Menristek BJ Habibie.
”Saya katakan kepada Pak Harto bahwa anggaran kita terbatas,”  tegasnya seperti dikutip Tempo 16 Oktober 1998.
Dia juga tidak gentar ketika menghadapi tuntutan Bambang Trihatmodjo saat pemerintah harus melikuidasi 16 bank, termasuk Bank Andromeda milik anak ketiga Soeharto itu.
Selain masalah pembelian kapal Jerman Timur, suatu kali Mar’ie pernah pula dipanggil Soeharto yang mengatakan, Habibie memerlukan dana yang besar untuk membuat kapal CN-235. Padahal saat itu, APBN dalam keadaan terdesak, sementara harga minyak juga sedang anjlok.
”Jadi, saya katakan jumlah anggarannya itu hanya ada sekian, lantas jika terjadi apa-apa nanti bagaimana,” jelasnya.  Apalagi negara saat itu sedang membutuhkan dana besar untuk impor beras, sehingga anggaran yang ada memang agak mepet.
”Pak Harto mengatakan, ya, tidak apa-apa kalau memang begitu. Lantas Pak Harto mengatakan, kalau begitu pakai saja dana reboisasi. Saya jawab, dana reboisasi itu bukan hak saya, karena dana itu berada di luar anggaran belanja,” elaknya.
Bukan sekali dua- kali Mar’ie berlaku ”berani” kepada sang Presiden. Setelah beberapa tahun anggaran belanja selalu defisit dan saat beberapa tahun menjadi Menkeu berhasil membukukan surplus, Mar’ie minta dilakukan penghematan agar ada sisa.
Dia pun mengusulkan agar pemerintah bisa menabung, karena tabungan inilah yang membantu Indonesia di awal krisis. Mungkin karena surplus terlalu besar, Soeharto pernah tidak setuju.
”Pak Harto itu kan orang Jawa, jadi kalau nyentil itu sambil tertawa dan ada kalanya sambil ngeledek. Padahal, itu kritik tajam. Pada saat saya datang melapor rutin, Pak Harto mengatakan, ’Saudara Menteri Keuangan, tugasmu itu membangun, bukan menabung.’ Lantas saya katakan, menabung ini juga untuk membangun di kemudian hari, Pak. Saya tahu, sebetulnya sindiran itu teguran kepada saya,” ungkapnya.
 Seringnya Mar’ie ”mengganjal” ide-ide besar Habibie, membuat hubungan keduanya tidak begitu bagus. Implikasinya, Mar’ie sempat terganjal ketika namanya ikut dicalonkan sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di era pemerintahan Habibie.
Pada saat proses pencalonan ulang, tiba-tiba saja muncul isu dirinya mengundurkan diri dan kemudian muncul nama mantan menteri perdagangan Satrio Budiardjo Joedono. Bukan rahasia lagi, menteri sederhana yang akrab dipanggil ”Billy” Joedono ini memang sosok yang dikenal cukup dekat dengan sang Presiden.
Untuk membantah isu tersebut, Mar’ie mengirim surat kepada pimpinan DPR/MPR dan para ketua fraksi. Dia menegaskan bahwa sejak diusulkan sebagai salah seorang calon Ketua BPK, ia tak pernah menyatakan keberatannya.
Belakangan, untuk ”meredam” isu rekayasa ini, pemerintah menawarkan akan mengangkat Mar’ie sebagai Duta Besar RI di Belgia. Tawaran itu langsung ditolak Mar’ie. ”Saya memilih tetap mengabdi di dalam negeri saja. Banyak masalah yang harus segera ditangani,” tegasnya. (Fauzan Jayadi-71)
Sumber Berita : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/03/27/181416/Jangan-Dipikirkan-PNS-Sudah-Pintar-Cari-Duit

Demonstran Merahkan Monas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Demonstran sudah memenuhi kawasan monas. Mereka kebanyakan berasal dari PDIP yang kompak mengenakan baju warna merah. Dalam aksi tersebut juga tampak PKNU dan PBB yang menggunakan pakaian putih dengan corak hijau.
Pantauan Republika jalan Merdeka Barat sudah ditutup barikade polisi bahkan sejak di depan kantor RRI. Para pendemo meneriakkan yel-yel untuk menurunkan SBY dan menudingnya sebagai antek-antek Amerika Serikat. Masa mulai bergerak ke arah Istana Medeka.
Arus lalu lintas sudah tak bergerak. Kendaraan yang sudah terlanjut mengartah ke istana Merdeka terjebak. Transjakarta yang biasanya beroperasi pun tidak ada. Jalur transjakarta di tutup oleh kendaraan para pendemo.
Tampak pula helikopter berada diatas kawasan pendemo. Ambulans dari PDIP pun dikerahkan.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/demonstran-merahkan-monas-061532670.html

Lagu Iwak Peyek Bergema Saat Demo BBM

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Lagu Iwak Peyek bergema pada aksi demonstrasi yang dilakukan berbagai elemen di Surabaya. Bahkan hampir setiap elemen, menyanyikan lagu yang sedang populer itu di sela sela orasi.
Dengan merubah sedikit lirik, setiap kelompok demonstran menyanyikan lagu tersebut.
"Iwak peyek, Iwak peyek, Iwak Peyek sego jagung, sampe elek sampe tuek SBY mudun (lauk peyek nasi jagung, sampe tua sampe jelek SBY turun)," begitulah nyanyian yang disuarakan para demonstran.
Menurut Taufik Monyong, salah satu peserta aksi, lagu tersebut dapat mewakili suara hati rakyat Surabaya. Bahwa masyarakat Surabaya akan terus melakukan aksi untuk menolak kenaikan harga BBM meski sampai tua dan jelek.
"Kami akan terus melakukan aksi walau sampai jelek karena kepanasan seperti ini. Dan bahkan, Kalau BBM benar-benar sampai naik, kami akan terus menyerukan suara untuk menurunkan SBY-Boediono," katanya.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/lagu-iwak-peyek-bergema-saat-demo-bbm-di-060433897.html

Perempuan Bertato di Dada Ini Pencopet

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA -  Sri Lestari (42), diamuk massa di Pasar Kranggan, Kota Yogyakarta, saat tertangkap mencopet dompet miliki Hadiyati Suwaldi (60), warga Sinduadi, Sleman, Selasa (27/3/2012). Wanita bertato itu dihakimi massa sekitar pukul 6.30 WIB.
Menurut polisi, tersangka adalah pencopet kambuhan yang memang sering mangkal di Pasar Kranggan. "Pelaku amuk massa pedagang Pasar Kranggan. Kemudian, personel yang bertugas mengatur lalu lintas langsung mengamankan pelaku dan dibawa ke markas," kata Kasi Humas Polsek Jetis, Kota Yogyakarta, Aiptu Sugianto.
Di kantor polisi, Sri mengaku mencopet karena desakan ekonomi keluarga. Sri mengatakan, keluarganya membutuhkan uang banyak. "Saya butuh uang untuk menikahkan putri kedua yang saat ini sudah hamil empat bulan. Saya juga butuh uang untuk pengajian tiga harinya adik saya," ujar Sri.
Perempuan bertato itu juga mengatakan, saat diamuk massa dirinya dipukul, dijambak dan ditendang. "Saya terima. Saya mencopet sendirian," ungkap dia.
Korban Hadiyati mengaku mengetahui dompetnya dicopet setelah ada salah seorang pedagang memberitahu. "Saya sedang belanja sayur, tahu-tahu diberitahu oleh salah seorang pedagang pasar bahwa dompet saya dicopet orang. Kemudian saya berusaha untuk mengejar," ungkap dia.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/perempuan-bertato-di-dada-ini-pencopet-034639450.html

Proyek Saluran Diduga Asal asalan

KRAMAT - Proyek saluran air sepanjang 300 meter di Jalan Pala Raya Barat Desa Mejasem Barat, Kecamatan Kramat, disinyalir asal-asalan. Hal ini terkuak, ketika Komisi III DPRD Kabupaten Tegal melakukan kunjungan kerja (kunker) ke lokasi, Senin (26/3) siang. Komisi III merasa geram lantaran banyak ditemukan kejanggalan pada proyek tersebut.  "Ini jelas tidak benar. Masa sudah banyak yang retak. Ini harus segera dibetulkan," tegas Yuswan Maulana ST, selaku sekretaris Komisi III, saat ditemui di lokasi.
Dia meyakini, bahwa pengerjaan saluran dengan volume 300 meter itu asal-asalan. Petugas atau pengawas dari Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya (DPU CK) Kabupaten Tegal selaku pengguna anggaran, disinyalir tidak mengawasi secara maksimal. Dia meminta dinas terkait segera melakukan teguran tegas terhadap pemborong yang mengerjakan proyek tersebut.  "Dalam waktu dekat kami akan memanggil Kabid DPU CK untuk mempertanggungjawabkan semua ini," janji Yuswan.
Komisi III bertambah geram, setelah menemukan proyek perbaikan jalan yang sudah berlubang. Padahal proyek jalan yang berada di samping saluran tersebut baru di kerjakan dengan menggunakan APBD II tahun anggaran 2011. Lubang yang berdiameter lebar itu sangat membahayakan bagi pengguna jalan karena lokasinya berada di tikungan.
Menurut anggota Komisi III, Haji Budji, dengan adanya pengerjaan seperti ini, berarti pengawas dari PU tidak bekerja sesuai tupoksinya. Mestinya, pada saat pengajuan laporan mingguan maupun bulanan, pengawas harus mengecek ke lokasi sebelum menandatangani. Sehingga tidak terjadi demikian. Dia menyayangkan, pengawas proyek telah teledor dan tidak melaksanakan pekerjaannya dengan baik. "Kedua proyek ini belum ada yang benar. Proyek jalan maupun saluran, semuanya asal-asalan. Terkait ini, kami akan memanggil kepala UPTD PU Kramat yang mengawasi proyek jalan tersebut," tegasnya lantang.
Dirinya tak menampik, meskipun hanya kerusakan kecil, namun itu sudah melanggar ketentuan kontrak. Anggaran hasil lelang, harus digunakan dengan baik sesuai bestek maupun volume yang ada. "Walaupun hanya retak dan beberapa belum di pelur, tapi kan itu masalah. Dan itu merupakan temuan bagi kami," tandasnya.
Edi Kurnianto, selaku Pengawas proyek saluran dari DPU CK Kabupaten Tegal mengakui kondisi proyek tersebut masih banyak yang perlu diperbaiki. Terutama bagian saluran yang belum dipelur dan beberapa dinding saluran yang sudah retak. "Proyek ini masih dalam pemeliharaan. Dan kami akan segera koordinasikan dengan pemborong supaya memperbaikinya kembali," ujarnya.
Dia menyebutkan, proyek saluran tersebut menggunakan anggaran Provinsi dengan nama kegiatan pembangunan infrastruktur pedesaan dana ex.2P0A tahun anggaran 2011. Nilai anggaran hasil lelang sebesar Rp 170 juta dari nilai pagu Rp 209 juta. Edi tak mengelak, ketika mengawasi proyek tersebut, dirinya tidak maksimal. Alasannya, beban pekerjaan terlalu tinggi sehingga ada beberapa pekerjaan yang diabaikan.   "Saya sudah ngecek ketika laporan mingguan dan bulanan, tapi saya tidak maksimal," akunya polos. (yer) 
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Proyek-Saluran-Diduga-Asal-asalan.html