Minggu, 29 Mei 2011

Liga Arab Upayakan Palestina Masuk PBB

DOHA - Liga Arab memperjuangkan Palestina agar bisa menjadi angggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Dalam pertemuan Liga Arab di Doha, Qatar, para anggota organisasi Pan-Arab itu berjanji akan memperjuangkan hal ini dalam pertemuan PBB di New York, September mendatang.
”Komite memutuskan akan minta keanggotaan penuh PBB untuk Palestina. Seperti sebelum perang tahun 1967, dengan Jerusalem Timur sebagai ibukota,” demikian keputusan Liga Arab.
Namun usulan itu mendapat penentangan dari AS dan Israel. Presiden AS Barack Obama, walau mendukung Palestina bisa memperoleh wilayah sebelum perang 6 hari tahun 1967, tetapi keberatan jika Palestina menjadi anggota PBB.
Saat ini ada 112 dari 192 negara di PBB yang telah mengakui Palestina berdasarkan tapal batas 1967. Untuk menggolkan usulan itu, butuh 2/3 suara dari 192 negara anggota PBB. Namun rencana tersebut bisa buyar kalau AS sebagai anggota tetap dewan keamanan PBB menggunakan hak vetonya untuk menjegal Palestina.
Pernyataan Liga Arab itu dikeluarkan tidak lama  setelah Presiden Palestina Mahmud Abbas menyampaikan kembali tekadnya untuk meminta pengakuan di badan diplomatik dunia tersebut kecuali Israel memulai perundingan mengenai ”masalah dasar”. Qatar mengusulkan dalam pertemuan itu bahwa proses perdamaian Timur Tengah tidak perlu dilanjutkan sampai Israel siap. 
Pertemuan itu mengkaji perkembangan paling akhir yang berkaitan dengan masalah Palestina setelah Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengajukan usul guna menyelesaikan sengketa lama tersebut. (rtr-niek-31)
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 30 Mei 2011

NU Lakukan Penguatan Organisasi

KEPENGURUSAN PC NU Kabupaten Tegal periode 2011-2016 yang dipimpin H Was'ari SPd, mencoba melakukan penguatan organisasi. Hal ini ditempuh agar semua kegiatan yang dilakukanya nanti, bisa berjalan beriringan.
Hal itu diungkapkan H Was'ari, disela rapat rencana Musyawarah Kerja Cabangan (Muskercab) dan pelantikan, yang digelar di gedung NU, Minggu (29/5) kemarin. Dia menyampiakan, agar para pengurus nanti dapat menjalankan tugas dan fungsinya serta dapat menjalankan organisasi dengan bekerjasama.
“Sebuah organisasi akan berjalan bagus apabila di setiap tubuh organisasinya sudah kuat. Makanya yang paling utama pada kepengurusan baru ini, adalah melakukan penguatan organisasi,” katanya.
Dia juga menyampaikan beberapa program. Adapun program yang akan diperkuat, adalah terkait dengan pendidikan yang sekarang sudah berjalan dibawah lembaga Maarif. Bidang kesehatan yang selama ini sudah mempunyai rumah bersalin, akan diupayakan untuk dijadikan sebuah rumah sakit agar warga NU bisa berobat ke tempat milik NU.
Sumber Berita : Radar Tegal, 29 Mei 2011
Terkait dengan penguatan ekonomi untuk warga NU maupun untuk organisasi, dia menyampaikan bahwa dirinya bersama dengan pengruus yang lain sudah menyiapkan konsep menabung, yang nanti akan dilakukan oleh pengurus cabang, pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC), pengurus ranting, dan warga NU sendiri.
Dia menambahkan, dalam rangka dakwah, selain harus mempunyai buletin sendiri juga akan melakukan kerjasama dengan Radar Tegal. Dimana nanti dalam setiap kegiatan, bisa dikabarkan kepada masyarakat secara umum.
“Mudah-mudahan apa yang nanti akan dijadikan program dan kegiatan mendapatkan dukungan dari semua pihak khususnya warga NU. Serta bisa dilakukan dengan baik dan bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama,” pungkasnya.

Kala Borobudur Dianggap Masjidil Aqsha

BAYANGKANLAH masa kenabian Sulaiman AS ribuan tahun silam mengambil pentas di Jawa. Tatkala mengetahui di luar batas kerajaannya bertakhta Ratu Balqis di kerajaan Saba’ yang menyembah matahari bersama rakyatnya, Nabi Sulaiman segera mengutus burung Hud-hud menemui sang ratu: memintanya meninggalkan kepercayaan lama sekaligus mengundang berkunjung ke istananya.
Tatkala Ratu Saba’ dan rombongan dalam perjalanan memenuhi undangan, singgasana takhtanya dipindah secepat kilat ke istana Sulaiman. Betapa terkejut sang ratu kala menyadari singgasananya telah berada di istana Sulaiman. Atas kesediaannya meninggalkan kepercayaan lama, sang ratu dihadiahi istana baru: istana Balqis, yang adalah Candi Ratu Boko. Singgasananya bersama singgasana Sulaiman beserta relief aparatnya tersimpan di Haykal Sulaiman atau Masjidil Aqsha, yang adalah Candi Borobudur.
Paparan tersebut adalah gagasan KH Fahmi Basya’, dosen UIN Sunan Gunungjati Bandung, tentang Candi Borobudur sebagai Masjidil Aqsha. Gagasan itu diturunkan berdasar dua pendekatan. Pertama, lewat analisis ayat-ayat Alquran secara numeris berbasis klaim matematika modern yang menyimpulkan ada bilangan-bilangan istimewa hasil kelipatan angka 19 yang secara geometris membentuk susunan mirip piramida/punden berundak.
Candi Borobudur adalah satu-satunya bangunan kuno di Indonesia (bahkan di Asia Tenggara) yang berbentuk mirip pundek berundak. Posisi stupa-stupanya pun bisa ditafsirkan berdasar bilangan-bilangan istimewa itu. Kedua, berdasar pendekatan transliterasi toponimi (nama daerah).
Nama Sulaiman dianggap berubah menjadi Sleman, Saba’ menjadi Sobo dan akhirnya Wonosobo, sementara Ratu Balqis menjadi Ratu Boko.
Gagasan Candi Borobudur sebagai Masjidil Aqsha mendapat sambutan hangat. Ada yang menyebut itu bukti peradaban Indonesia jauh lebih tua ketimbang yang selama ini diduga dan mengaitkannya dengan peradaban Atlantis yang dihipotesiskan Dr Arsiyo Santos. Ada yang menganggapnya sebagai bukti tanah Jawa tak kalah religius dibanding tanah Arab sehingga layak bila ada rasul diutus ke sini. Dalam ranah praksis, ada yang mulai menziarahi Candi Borobudur dan memperlakukannya sebagai Masjidil Aqsha.
Tanpa Bukti
Ilmu pengetahuan mengatur sebuah gagasan hanyalah hipotesis (dugaan), yang akan menemukan kebenaran dan menjadi teori baru tatkala didukung bukti sahih dan reliabel dari penelitian independen. Jika tiada bukti, selamanya gagasan itu hanya dugaan tak berdasar. Di sinilah gagasan tersebut menemui batu sandungan.
Dari ranah arkeologi, prasasti Ugarit di Tell el-Amarna (Irak) dari masa 1400 SM menyebutkan keberadaan kota Urusalem, nama lama dari Yerusyalayim atau Yerusalem. Di kota itu terdapat batu suci Ya’kub atau sakhrakh, tempat Nabi YaĆ­kub AS menerima wahyu pertama.
Di atas sakhrakh itulah dibangun Haykal Sulaiman atau Masjidil Aqsha pada masa kenabian Sulaiman AS, yang menurut pertanggalan radioaktif terjadi sekitar abad ke-9 SM.
Sementara Candi Borobudur dibangun abad ke-9 M, yang semula dirancang sebagai candi Hindu, namun transfer kekuasaan belakangan membuatnya dikonversi menjadi candi Buddha. Jadi ada selisih waktu sangat besar (1.800 tahun) antara masa kenabian Sulaiman AS dan pendirian Candi Borobudur. Jika Candi Borobudur “dipaksakan” berdiri pada abad ke-9 SM, selain ketiadaan artefak arkeologis pendukung, secara geologis pun musykil.
Mengingat, saat itu kawasan Borobudur dan sekitarnya masih terbenam di kedalaman Danau Borobudur purba, produk terbendungnya aliran Kali Progo oleh sebagian lereng Gunung Merapi yang runtuh sebagai debris avalanche akibat letusan lateral katastrofik sebagaimana dipaparkan Newhall dan kawan-kawan (2000).
Sebuah bangunan suci didirikan tidak untuk ditinggalkan, namun untuk dipakai masyarakat. Sepeninggal Sulaiman AS, masyarakatnya mengalami episode pahit invasi Chaldea yang dipimpin Raja Nebukadnezzar II pada 586 SM yang menghancurleburkan Haykal Sulaiman. Setelah dibangun kembali, Haykal Sulaiman lagi-lagi diratakan pada 70 M saat terjadi invasi kedua (invasi Romawi) yang dipimpin Jenderal Titus dan disusul Kaisar Hadrianus.
Kedua invasi itu melibatkan kekuatan amat besar yang sangat tercatat dalam sejarah. Namun tiada bukti keduanya berlangsung di wilayah Borobudur dan sekitarnya, baik berdasar tinggalan arkeologis maupun catatan independen seperti berita mancanegara (misalnya berita China). Fakta itu melemahkan gagasan tersebut.
Akhirnya, secara teologis gagasan itu tak bisa diterima. Riwayat al-Barra’ menegaskan ketika berlangsung pemindahan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Kakbah, Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakan dengan berputar mengubah arah dalam shalat. Perputaran itu (yang mencapai 157 derajat atau hampir setengah lingkaran) takkan terjadi jika Masjidil Aqsha di Candi Borobudur, sebab Candi Borobudur berada di arah tenggara bila dilihat dari Madinah. Jadi, bila berpindah arah ke Kakbah hanya bergeser sedikit (maksimum 60 derajat) dan tidak berputar.
Penegasan letak Masjidil Aqsha ada di Yerusalem diperkuat oleh Khalifah Umar bin Khattab RA pascapenaklukan kota itu. Beliau berhasil mengidentifikasi ciri-ciri sakhrakh sebagai batu di puncak bukit Muriah sesuai dengan sabda Rasulullah SAW. (51)

- M Ma’rufin Sudibyo, astronom alumnus Teknik Fisika UGM, bertugas pada Badan Hisab dan Rukyat Daerah Kebumen
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 30 Mei 2011

Master Limbad Pukau Warga

Master Limbad yang selama ini selalu tampil di acara televisi, Sabtu (28/5) malam, tampil di lapangan Aspol Kalibliruk Slawi. Dia menampilkan hiburan ekStrim dengan permainan yang sangat memukau ribuan penonton, pada acara Extrim Magic Show The Prince of Fakir Master Limbad yang bersamaan dengan puncak acara hari jadi Kabupaten Tegal yang ke- 410.
Sebelum bermain, Master Limbad yang tidak pernah mengeluarkan suara itu, keluar dari boks dibarengi dengan api yang menyala dan membakar tubuhnya. Dia kemudian melakukan permainan pemanasan dengan meminta koran yang dipegang oleh saslah seorang temannya dan kemudia memperlihatkan kepada penonton, bahwa didalamnya tidak ada apa-apa.
Kemudian dirinya membuat kertas koran itu seperti halnya bungkus kacang rebus, dan ternyata didalamnya langsung berubah dari yang tadinya kosong menjadi berisi uang ribuan yang disebarkan kepada penonton. Setelah membuat penonton tercengang, pada aksi keduanya, Master Limbad yang berasal dari Kabupaten Tegal itu menunjukan kelihaian sulapnya. Seutas benang yang telah diputus beberapa bagian, kemudian digengam dengan tangannya. Setelah ditarik lagi, ternyata potongan benang itu menjadi utuh kembali.
Dalam permainan yang ketiga, Master Limbad membuat penonton menjadi diam seribu bahasa. Karena pembawa acara pada malam itu, diminta untuk menjadi lawan mainnya dengan mencoba sebuah pisau yang sangat tajam. Pembawa acara tersebut yang bernama Olga, diminta untuk membuktikan bahwa pisau tersebut tidak main-main, dengan menebaskan pisau itu untuk memotong buah mentimun dan beberapa helai rambut milik Olga.
Terlihat Olga merasa ketakutan. Setelah diberi beberapa mantra, tangan Olga pun kemudian diiris menggunakan pisau. Selain tangan, rambut Olga pun juga tak luput menjadi sasaran irisan pisau Master Limbad. Anehnya, bilah pisau yang tajam itu tak dapat melukai kulit mulus Olga dan juga rambut Olga.
Begitu juga dengan permainan selanjutnya, Master Limbad ditutup matanya oleh Bupati Tegal Agus Riyanto, dengan kain beerapa lapis. Setelah itu, bupati nampak membuang pisau ke luar panggung. Setelah Limbad ditutup, dirinya mencari pisau yang telah dibuang bupati dan berhasil menemukannya. Bukan hanya itu, setelah pisau ditemukan, beberapa orang termasuk bupati sendiri masing-masing nampak memegangi dua buah balon untuk dipecahkan Master Limbad.
Setelah balon yang dipegang beberapa orang berhasil dipecahkan Limbad, balon yang dipegang bupati mendapat giliran terakhir. Bupati terlihat gemetar ketika Limbad ketika akan menusukkan pisau ke balon yang dipegang bupati. Serta satu balon lainnya yang ditaruh di sela-sela peralatan sound system. Namun Limbad dengan mata yang ditutup itu, ternyata bisa memecahkan semua balon tanpa harus melukai bupati.
Pada season kedua, setelah Limbad beristirahat sejenak, dirinya langsung menampilkan pertunjukan yang lebih ekstrim lagi. Dia mencoba memakan kaca pecah dan paku. Yang membuat orang semakin takut untuk melihatnya, dia juga mengebor tubuh penonton dengan bor listrik. Dan yang paling ekstrim dalam aksi penutupnya, Limbad nampak memotong lidahnya dengan pisau yang membuat darahnya berceceran. Namun pada saat potongan lidah itu dimasukan kembali ke dalam mulutnya, lidahnya kembali utuh.
Aksi panggug Master Limbad nampak mendapat sambutan hangat pengunjung. Apalagi selama ini, sejumlah pengunjung yang hanya dapat menonton aksi Master Limbad di televisi, dapat menyaksikan secara langsung.
Sumber Berita : Radar Tegal 29 Mei 2011

Menilik Penderita Tumor Perut di Desa Sidamulya

BETAPA malangnya nasib seorang gadis kecil bernama Suratmi warga RT 01 RW 01 Desa Sidamulya Kecamatan Warureja ini. Di usianya yang baru menginjak 11 tahun, dia harus menanggung penyakit yang teramat berat. Gadis berkulit hitam dan berambut lurus ini, telah divonis menderita penyakit tumor di perutnya sejak tiga tahun silam. Tumor sebesar bola kaki ini, kian hari semakin membesar.
Setiap hari, Suratmi harus rela menahan sakit di perutnya yang membusung itu. Meski nafsu makannya tidak berkurang, namun acap kali dia kesulitan untuk bernafas. Dikala masih duduk di bangku kelas II SD, tak jarang teman-teman sebayanya kerap meledeknya dengan kalimat perut membusung. Lantaran itu, Suratmi lebih memilih untuk berhenti sekolah.
Kepedihan Suratmi tidak berhenti begitu saja. Suratmi harus rela berpisah dengan kakak dan kedua orang tuanya. Sebab, kedua orang tuanya itu kini sudah bercerai. Kakaknya dibawa ke luar pulau oleh bapaknya, sedangkan ibunya menikah lagi dengan pria lain. Penderitaan Suratmi seolah mendera tiada berhenti.
Kini Suratmi terpaksa harus tinggal bersama kakek dan neneknya di sebuah gubug reot di desa setempat. Untuk menopang hidupnya, Suratmi harus rela membantu kakeknya mencari kayu bakar di tengah hutan. Kayu bakar itu, nantinya dijual untuk membeli makanan. Meski rasa sakit terus menjalar di sekujur tubuhnya, namun Suratmi tetap tegar. Dia tidak cengeng layaknya gadis seusianya.
"Daripada tidak ada kegiatan, lebih baik saya membantu kakek untuk mencari kayu bakar di hutan," kata Suratmi polos, kemarin.
Usai membantu kakeknya, tak jarang Suratmi pun kerap bermain dengan teman-teman sebayanya. Dia masih bisa berlari-lari, meski perutnya semakin membesar. Tak luput pula, Suratmi juga rajin menjalan ibadah sholat lima waktu. Setiap selesai sholat, kata Suratmi, selain mendoakan kedua orang tua dan kakek neneknya, dia juga mendoakan untuk dirinya sendiri.
"Saya selalu berdoa, suatu hari kelak ada seorang dermawan yang rela mengobati penyakit saya sampai sembuh," ucapnya seraya menundukan kepalanya.
Sementara kakek Suratmi, Kasan (70), mengaku, sudah dua kali membawa cucunya itu ke RS Dr Soeselo Slawi untuk diperiksa. Tapi jawaban yang selalu dia peroleh, cucunya harus dioperasi di Semarang. Mendengar jawaban itu, Kasan selalu pesimis dan pasrah. Karena menurutnya, dana yang dibutuhkan tentunya sangatlah besar. Sedangkan dirinya, sama sekali tidak punya uang lebih. Dirinya juga tidak memiliki fasilitas program pemerintah seperti Jamkesda maupun Jamkesmas.
"Kami bingung, untuk makan saja kami sudah kesusahan. Apalagi untuk mengobati Suratmi. Kami hanya pasrah saja. Kalaupun Allah SWT masih sayang dengan kami, pasti penyakit cucu kami pasti bisa disembuhkan," kata Kasan tampak jujur.
Tak henti-hentinya,kakek renta yang berprofesi sebagai pekerja serabutan ini, selalu berharap agar dari pemerintah daerah (Pemda) setempat maupun dari pihak swasta rela membantu mengurangi derita yang dialami cucunya itu.
“Kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Untuk itu, kami minta kepudulian orang-orang yang duduk diatas (pejabat, red) agar membantu kesembuhan cucu kami,” ujarnya penuh harap.
Sumber Berita : Radar Tegal, 29 Mei 2011

Kinerja Kwarcab 2010 dinilai Kwarda

KINERJA Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) 11.28 Tegal tahun 2010, dinilai oleh tim Kwartir Daerah (Kwarda) 11 Jawa Tengah.
Tim penilai diterima langsung oleh Ketua Kwarcab 11.28 Tegal, H Muji Atmanto SH MM di Sanggar Bakti Pramuka Kwarcab 11.28 Tegal, Jl KH Agus Salim Nomor 2 Kudaile Slawi, Minggu (29/5) kemarin.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota Mabicab, Pengurus Kwarcab, Pimpinan Satuan Karya (Pinsaka) tingkat Cabang, Pengurus Kwartir Ranting (Kwarran), dan Dewan Kerja Cabang (DKC).
Tim penilai Kwarda Jateng, terdiri dari 6 orang yakni Mardhi Saputra SH (Ketua Tim yang juga menjabat anggota Bidang Organisasi dan Hukum), M Bambang Setyo Bintoro (Bidang Keuangan, Usaha dan Sarana Prasarana), Sri Sutarti (Bidang Pembinaaan Anggota Pramuka Muda atau Binamuda), Suhadi, HS (Bidang Pembinaan Anggota Pramuka Dewasa atau Binawasa), Dicky Hendra (Bidang Pengabdian Masyarakat dan Hubugan Masyarakat atau Abdimas dan Humas), dan Alfiandri Farizal (Anggota Dewan Kerja Daerah atau DKD).
Ketua Kwarcab 11.28 Tegal, H Muji Atmanto, SH MM dalam sambutannya mengatakan, kinerja tahun 2010 merupakan bakti tahun kelima dari pengurus Kwarcab masa bakti 2005–2010. Dimana pada tahun tersebut (2010), Kwarcab Tegal tidak pernah absen dalam kegiatan tingkat Kwarda dan Kwarnas.
“Untuk tuan rumah kegiatan, khususnya tingkat Binwil (eks Karesidenan Pekalongan, red) pada tahun 2010, belum mendapatkan giliran,” katanya.
Dalam kegiatan bakti, kata Muji, meskipun tidak semua terdokumentasi dan terformalkan dalam SK kerjasama, namun banyak kegiatan bakti yang dilaksanakan sesuai kemampuan. Kegiatan tersebut dilakukan oleh Unit Bantu Pertolongan Pramuka (UBALOKA) dan Kwarran dalam merespon musibah dan bencana yang timbul.
“Kegiatan itu seperti musibah angin puting beliung, kecelakaan lalu lintas, korban tenggelam, dan pengiriman relawan Merapi,” terangnya.
Selain itu, imbuh Muji, Kwarcab dan Kwarran Adiwerna maupun Dukuhturi juga mampu menghimpun dana untuk disumbangkan kepada korban musibah Merapi. Dana yang terkumpul mencapai sekira Rp 20 Juta, terdiri dari Kwarcab Rp 1,8 Juta, Kwarran Adiwerna Rp 17 Juta, dan Dukuhturi Rp 1,5 Juta.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Kwarran yang mampu menghimpun dana bencana Merapi, khususnya Kwarran Adiwerna yang mencapai Rp 17 Juta,” ungkapnya.
Sementara Ketua Kwarda 11 Jawa Tengah, Prof Slamet Budi Prayitno melalui Ketua Tim Penilai, Mardi Saputro SH, menjelaskan, lomba Kwarcab dimaksudkan dalam rangka melihat secara langsung kinerja Kwartir Cabang selama tahun 2010. Sehingga dapat diketahui sejauh mana perkembangan Pramuka di Kwartir Cabang.
“Penilaian ini untuk melihat secara langsung apa-apa yang telah dilakukan Kwarcab dalam membina generasi muda lewat Pramuka,” jelasnya.
Melalui penilaian ini, diharapkan Kwarcab juga dapat meningkatkan kinerja secara administrasi sehingga bisa tertata dengan baik.  “Secara administrasi agar bisa tertata dengan baik,” pungkasnya.
Sumber Berita : Radar Tegal, 29 Mei 2011

20 Hektar Gagal Panen

SURADADI - Sedikitnya 20 hektar tanaman padi di Desa Sidaharja Kecamatan Suradadi, mengalami gagal panen. Akibatnya, 50 petani pemilik lahan tanaman tersebut, terpaksa harus rela gigit jari. Dugaan gagal panen, belum diketahui secara pasti. Petani menilai, bahwa hama tersebut masih misterius.
Bendahara Kelompok Tani Marga Mulya Desa Sidaharja, Jahidin (45), menuturkan, hampir seluruh petani di desanya tidak ada yang berhasil panen sukses. Mayoritas mengalami kehancuran. Menurut dia, gagal panen di musim tanam (MT) kali ini, sungguh mengherankan. Alasannya, ketika bibit padi baru ditanam, tanaman sudah mulai layu dan kering dalam waktu satu minggu. Warna batangnya juga berubah menjadi kemerah-merahan.
"Warna batang padi mestinya hijau. Tapi ini justru merah. Dan setelah satu minggu kemudian, padi menjadi layu dan kering. Karena itulah, tanaman padi disini (Desa Sidaharja, red) tidak ada yang berhasil panen sukses. Tapi masalahnya apa, kami juga belum tahu," terangnya, Sabtu (28/5).
Menurut warga RT 22 RW 09 desa setempat ini, permasalahan gagal panen hingga kini belum ada solusi dari pihak manapun. Baik dari dinas kabupaten, maupun dinas kecamatan. Sedangkan tanaman padi tersebut, cukup dibiarkan tumbuh tanpa diberi pupuk oleh petani. Alasannya, karena sudah pesimis untuk melanjutkan penanaman kembali.
"Kami sangat menyesal, kenapa dari dinas terkait belum pernah memberikan penyuluhan atau pun solusi terhadap petani yang ada disini. Padahal kami sangat membutuhkan itu semua. Kerugian kami sudah cukup banyak. Setelah munculnya penyakit itu, kami langsung putus asa. Dan tanamannya tidak kami beri pupuk lagi," keluhnya.
Petani lainnya yang masih satu RT, Rohasim (50) menguraikan, kerugian petani setiap satu hektarnya mencapai Rp 2 juta. Kerugian itu, belum dengan pupuk. Karena pasca penanaman satu minggu, kondisi tanaman sudah mengering. Sehingga petani enggan memberikannya pupuk.
"Jika satu hektar Rp 2 juta, maka 20 hektar bisa mencapai Rp 40 juta. Uang sejumlah itu bagi petani sangat banyak. Karena itulah, kami sangat mengharapkan kepedulian dinas terkait guna memberikan perhatiannya kepada petani di desa ini," pintanya
Sumber Berita : Radar Tegal, 29 Mei 2011