Senin, 28 November 2011

Penyelidikan Penyebab Runtuhnya Jembatan Harus Dibuka

Liputan6.com, Jakarta: Komisi hukum DPR meminta pemerintah membuka hasil penyelidikan penyebab runtuhnya Jembatan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur. Kuat dugaan pembangunan mega proyek itu tidak sesuai standar.
Pimpinan Komisi III DPR Nasir Djamil menegaskan pemerintah harus menjelaskan kasus tersebut. Menurutnya, pembangunan jembatan kebanggaan masyarakat Tenggarong itu tidak tertutup kemungkinan sarat dengan berbagai masalah. "Pemerintah harus menjelaskan mengapa jembatan yang baru berumur 10 tahun itu runtuh"ujarnya.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi menjamin investigasi runtuhnya Jembatan Kutai Kertanegara akan diungkap secepatnya.
Jembatan Kutai Kertanegara resmi beroperasi sejak 10 tahun lalu. Dibangun saat daerah tersebut dipimpin Bupati Syaukani yang terbelit berbagai skandal korupsi. Panjang jembatan mencapai 720 meter dan menjadi penghubung utama menuju Kota Tenggarong.
Jembatan tersebut juga menjadi sarana pendukung menuju sejumlah kawasan wisata di Kutai Kertanegara. Bahkan, oleh para pendirinya, jembatan yang membelah Sungai Mahakam ini dibuat mirip dengan golden gate-nya Kota San Fransisco, Amerika Serikat. Pasalnya, di sekitar jembatan juga dibangun sarana wisata dengan pemandangan indah beberapa pulau. Namun sayang, jelang usianya yang ke 10 jembatan kebanggaan Masyarakat Tenggarong ini tiba-tiba runtuh.(ADI/ULF)
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/

Minggu, 27 November 2011

Raskin 13 Tunggu Pemprof dan Perum Bulog

SLAWI - Jatah Raskin untuk Rumah Tangga Sasaran (RTS) di Kabupaten Tegal masih menunggu surat resmi dari Pemprof Jateng dan dari Perum Bulog. Namun baru sebatas informasi, sudah ada kesepakatan jika jatah Raskin 13 yang didroping pada Desember bakal ada. Namun kepastiannya masih menunggu surat resmi dari dua institusi diatas. Untuk itu, masyarakat RTS penerima Raskin bisa bersabar.
 “RTS di Kabupaten Tegal sebanyak 102.297 RTS dengan jatah tonase Raskin 1.534.455 kg,” kata Kabag Ekbang Pemkab Tegal, Prastiawan SH MHum, kemarin.
 Dikatakan Prastiawan, sebatas informasi pihaknya mendengar jika jatah itu bakal turun. Namun demikian, pihaknya masih menunggu surat pemberathuan resmi dari Pemprov Jateng dan Perum Bulog. Dua surat diatas sebagai acuan bisa disalurkannya jatah Raskin dari gudang Dolog yang ditunjuk kepada RTS yang berhak menerima.
 Menurut dia, sebelum adanya surat itu, penyaluran Raskin kepada RTS belum bisa dilaksanakan, meski cadangan Raskin ada di Gudang Dolog. Untuk itu pihaknya berharap agar masyarakat, khususnya RTS penerima jatah Raskin bisa memahami dan bersabar. “Kami kira jika surat resmi sudah turun, tidak lama jatah Raskin bisa di drop kepada yang berhak,” ucapnya.
 Sedang penyalur Raskin di kabupaten Tegal yaitu Gudang Dolog Larangan maupun Gudang Dolog 602 Procot, sudah mempersiapkan selaku penyalur Raskin. Namun kedua gudang diatas belum bisa menyalurkan karena menunggu keputusan dua surat dimaksud.  “Intinya tidak ada kendala terkait kesiapan jatah untuk Raskin 13,” kata Kepala Gudang Dolog Larangan, Suprapto.
Sementara Wakil Katua Komisi D DPRD Kabupaten Tegal, dr Budi Sutrisno MKes, berharap agar sebelum raskin dibagikan benar-benar dikontrol. Sehingga tidak mendua kali kerja, saat sudah disalurkan kemudian ditarik kembali karena jatah Raskinnya kurang baik.  "Ini kewajiban instansi terkait dalam bertindak dan jangan hanya berkomentar baik ternyata belum melakukan ceking," tandasnya. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Membongkar Radikalisme Agama

SLAWI - Mulai tahun 2000-2011 Indonesia diguncang oleh serangkaian peristiwa bom disejumlah tempat. Lalu apakah ini yang dilakukan oleh umat islam atau hanya sekelompok gerakan yang telah diidentifikasi polisi bahwa pelaku bom masih saling terkait dengan peristiwa terdahulu seperti Negara Islam Indonesia (NII) kelompok islam garis keras dan lainnya.
Bertempat di gedung rakyat Slawi, RMI NU Kabupaten Tegal mengadakan khalaqoh Ulama se Kabupaten Tegal, dengan tema Revitalisasi Tradisi NU dan pengaruh gerakan trans Nasional di Idonesia dengan narasumber, Rois Syuriah PBNU, Prof DR Masdar F Masudi, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abas, dan Pakar Hukum Tata Negara Undip, Hasyim Asyari.
Halaqoh ulama yang dimotori oleh RMI NU Kabupaten Tegal tersebut di moderatori Drs Muslih MSI. Dalam mengawalinya Muslih menyampaikan bahwa dalam sejarahnya mulai dari zaman Ali bin Abithalib sudah pernah terjadi pertentangan antar kelompok islam, yakni khowarij dan syiah. Fenomena dunia modern seperti sekarang ini tidak lepas dari sejarah masa lalu, yang mana sekarang muncul propaganda dari negara-negara barat, sampai memunculkan islam garis keras dan teroris.
Sebelum sampai ke pembahasan islam dan NU sendiri seperti apa melakukan komitmennya kepada negara Indonesia. Mantan anggota JI, Nasri Abas diberikan waktu terlebih dahulu untuk menceritakan tentang apa yang dilakukan JI.
Menurut Nasir Abas, JI itu berasal dari NII, dimana didalamnya mempunyai tiga wilayah garapan, yakni masalah ekonomi yang mengurusi pembiayaan kelompok, wilayah militer dan wilayah yang akan digarap yang menurut JI beertentangan dengan yang di fahaminya, termasuk salah satunya Indonesia.
Anggota JI belajar militer di afganistan, yang dilakukannya sekarang ini adalah melakukan gerakan militer dengan menyerukan aksi pembalasan pembunuhan kepada amerika ataupun sekutunya. Hal ini karena masalah yang dialami Osama bin Laden. Ia menjelaskan, JI sekarang ini sukanya mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham dengannya termasuk dirinya juga pernah mengkafirkan orang NU.
“Yang dilakukan JI di NKRI ini adalah masuk melalui pendidikan seperti ponpes, dakwah dengan menggunakan bakti sosial, dan militer caranya membela orang islam. Yang saya lakukan sekarang ini adalah berusaha meluruskan teman-teman saya bahwa yang dilakukan JI itu tidak benar,” katanya.
Narasumber ke dua, Hasyim Asy’ari yang menyampaikan tentang relasi dan silam di Indonesia: pengalaman NU, menjelaskan, bahwa titik konflik yang menonjok di Indonesia di antaranya diwarnai oleh relasi negara dan agama. Konflik ini dapat melibatkan antara otoritas negara versus warga negara dan konflik antar warga negara.
Hasyim Asy’ari menceritakan tentang sejarah NU dan berdirinya NKRI, dimana dalam akhir penyampainya mengatakan relasi negara dan Islam di Indonesia diwarnai oleh ketegangan dan moderasi, pengalaman NU setidaknya menggambarkan dinamika relasi itu. Pada akhirnya relasi negara dan Islam di Indonesia adalah pilihan. Pengalaman NU dapat dipilih sebagai pelajaran bahwa relasi negara dan silam di Indonesia tidak selalu ditempuh melalui jalur ketegangan yang berwatak kekerasan. Namun melalui jalur moderasi dan toleransi.
Sementara Narasumber ketiga, Masdar F Masudi, menyampaikan Negera islam versus negara pancasila, dimana sebenarnya negara islam sebagai konsep kekuasaan itu tidak ada dalam quran. Bukanlah negara islam yang didengungkan tetapi lebih pada negara islami. Artinya negara yang damai tanpa ada kekerasan seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad pada saat mendirikan negara madinah. (fat)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

70 perusahaan label musik terancam bangkrut

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perusahaan-perusahaan label musik di Indonesia saat ini benar-benar merasakan pukulan terkait Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Pelarangan SMS Premium dan Broadcasting. Bila dalam tiga bulan tidak ada kebijakan pemerintah yang memihak, maka dipastikan ada sejumlah perusahaan yang bangkrut.
Ketua Asosiasi Perusahaan Rekaman Seluruh Indonesia (ASIRI), Jusak Irwan Sutiono mengatakan, sejak adanya surat edaran pemerintah tanggal 18 Oktober tersebut, pendapatan label dari bisnis ring back tone (RBT) menurun drastis hingga 80 persen.
Padahal, jelasnya, saat ini perusahaan-perusahaan label di Indonesia telah menggantungkan hidup mereka kepada bisnis RBT dan nada sambung pribadi (NSP). Pendapatan RBT berkontribusi sebesar 90 persen dari pendapatan label.
"Saat ini pendapatan turun drastis karena banyak pelanggan seluler yang putus hubungan dengan RBT," kata Jusak di Jakarta, Kamis (24/11/2011).
Dijelaskannya, bila pada tahun ini omset RBT ditargetkan mencapai Rp 600 miliar, maka nilai tersebut direvisi karena tidak mungkin tercapai. "Sejak ada surat edaran Menkominfo, pendapatan dari RBT langsung terhenti. Saat itu posisi pada Rp 450 miliar dan target tidak mungkin tercapai," ujarnya.
Jusak menambahkan, saat ini sebanyak 70 perusahaan label anggota ASIRI tidak mendapatkan penghasilan dari RBT. Sehingga dalam beberapa bulan mereka diperkirakan bakal mengalami kesulitan keuangan.
"Dalam tiga bulan ke depan, mereka akan kesulitan keuangan. Saya memperkiraan akan ada label yang kolaps dan bangkrut," kata Managing Director Warner Music Indonesia itu.
Sumber Berita : http://id.omg.yahoo.com/news/

Pacu Profesionalisme Anggota

SEJALAN mulai digulirkannya Ops Zebra Patuh Candi 2011, jajaran Satlantas Polres Tegal kembali menata diri untuk mernjalankan tugas menggugah kesadaran pengguna jalan mematuhi aturan hukum berlalu lintas.
Kasat Lantas AKP Ifan Hariyat SiK mengaku telah mendoktrin semua personilnya untuk selalu bertindak profesionalisme selama menjalankan tugas dilapangan sehingga tidak memicu antipati warga terhadap petugas.  "Sesuai arahan pimpinan kami juga telah mengupayakan pola pendekatan pada personil untuk selalu bertugas dengan tulus dan ikhlas mengindari arogansi dilapangan. Terkait pelanggaran apa saja yang wajib ditindak juga telah kami sampaikan pada
personil. Jadi tidak ada kesan personil mencari-cari kesalahan pengguna ranmor," ujarnya.
Diakuinya Ops Zebra Patuh Candi 2011 digelar sebagai upaya cipta kondisi.  " Seruan dari Polda Jawa Tengah itu kita tindak lanjuti. Dan  Ops Zebra Patuh Candi 2011 sendiri akan digelar mulai 24 November hingga 8 Desember 2011 mendatang," tegasnya.
Diakuinya, untuk mendukung Ops Zebra Patuh Candi 2011 kali ini  pihaknya menerjunkan 105 personil yang ada ditambah bantuan personil dari fungsi Intelkam.  Dia juga menyatakan sasaran yang hendak dibidik dalam Ops Zebra patuh Candi mendatang kawasan yang selama ini menjadi areal rawan macet dan rawan laka lantas. Dimana areal rawan macet yang sempat terdeteksi jajarannya ada diwilayah Banjaran Adiwerna dan areal pasar tumpah Pagongan.
"Untuk kawasan rawan laka lantas sudah kami petakkan. Kawasan itu ada diwilayah Margasari, Pantura, dan Lebaksiu. Dimana selama Ops Zebra Patuh nanti personil akan melakukan penertiban disana, dan melakukan upaya teguran pada pengguna ranmor, baik roda dua dan empat yang berpotensi menjadi penyebab terjadinya kemacetan dan laka lantas," tegasnya.
Sebelum personil diterjunkan kelapangan, pihaknya juga berupaya membekali anggota dan mengecek kelengkapan tugas berikut armada yang akan diterjunkan dalam tugas. Dia tak menampik langkah peneguran ini akan ditingkatkan pada tilang apabila tingkat pelanggaran sudah melebihi batas dan menjadi pemicu terjadinya kecelakaan dan kemacetan berat. (her)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Peran Guru Bangun Karakter Bangsa

SLAWI – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) PGRI Kabupaten Tegal ke 66 mengadakan berbagai macam kegiatan. HUT PGRI yang jatuh pada tanggal 25 November, kegiatan yang diadakan melibatkan anggota dalam jumlah banyak, sederhana dan efisien.
Menurut Ketua PGRI Kabupaten Tegal, Drs H Waudin Msi, melalui sekretaris panitia, Efendi Iriyanto SPd MM, beberapa jenis kegiatan yang diadakan dalam rangka HUT ini, sosialisasi empat pilar Kebangsaan, Jalan santai keluarga besar PGRI dan peresmian gedung PGRI, pertandingan bulu tangkis, Seminar Nasional dan Upacara Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT PGRI.
Dikatakannya, kegiatan yang ada ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen guru, berkembangnya budaya mutu dikalangan guru dan pemangku kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Kedua, meneladani semangat dan dedikasi guru sebagai pendidik profesional dan bermartabat bagi semua anak bangsa.
Ketiga, meningkatkan kepedulian pemerintah dan masyarakat akan pentingnya kedudukan dan peran cerdas. Dan keempat, membangun dan memperkokoh solidaritas dan kesetiakawanan anggota serta meningkatnya kepercayaan masyarakat dan anggota PGRI sebagai organisasi profesi.  “Di HUT PGRI ini diharapkan dapat meningkatkan peran setrategi guru untuk membangun karakter bangsa,” katanya, Jumat (25/11).
Sementara dalam upacara HGN dan PGRI, bertempat di GOR Trisanja Slawi, yang di pimpin langsung Wakil Bupati Tegal, H Moh Heri Soelistiyawan SH Mhum, berjalan dengan hidmat dan lancar.
Heri yang membacakan sambutan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menyinggung bagaimana menjadi guru teladan. Menurutnya ada seorang guru teladan yang pernah ditanya kenapa tertarik menjadi guru. guru teladan tersebut menjawab karena guru yang dapat merasakan dan menyentuh pinggiran masa depan.  “Dia (guru teladan) tidak berharap dapat menyentuh masa depan, karena hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Cukup menyentuh pinggirnya saja,” katanya.
Dikatakannya, bertanggung jawab terhadap pembentukan masa depan menunjukan bahwa guru berbeda dari profesi lainnya. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan apabila sebagai profesi, guru mendapatkan kehormatan memiliki hari guru. Profesional guru akan terasa pada masa depan, yang apabila salah arah akan mustahil diputar untuk memperbaikinya.“Kita tidak boleh terjebak hanya karena pertimbangan kepentingan praktis sesaat,” tegasnya membaca sambutan menteri. (fat)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Warnai Boyongan Sekda Pemkab Tegal

SETELAH ditetapkan dan dilantik menjadi Sekda definitif Pemkab Tegal, Jumat (25/11), Drs Haron Bagas Prakosa MHum boyongan tempati Rumdin. Selain menyantuni 50 anak yatim dari tiga Panti Asuhan (PA) di Kabupaten Tegal, boyongan juga diwarnai dengan pengajian manakib Syeh Abdul Qodir Al Jaelani. Dengan harapan selama menempati rumdin sekda, penghuninya bakal mendapar barokah Allah SWT.
 Acara boyongan sendiri diawali dengan penyerahan selaku warga dari Lurah Kudaile selaku kepala kelurahan dimana sebelumnya sekda berdomisili, kepada Kades Dukuhwringin, desa domisili saat ini. Acara sendiri dihadiri hampir seluruh pejabat Pemkab Tegal, juga dihadiri Wakil Bupati Tegal, HM Hery Soelistiyawan SH MHum beserta Istri.
 “50 anak yatim dari PA Darul Faroh Desa Harjosari, PA Ullinuha dari Desa Kalisapu dan PA Putra Harapan Pakembaran,” kata Panitia penyelenggara boyongan, Muji Basuki yang juga Kabag Umum Pemkab Tegal, kemarin.
 Dikatakan Muji Basuki, sebelumnya acara boyongan sudah diawali dengan dipindahnya sebagian perabotan milik sekda, dari rumah lama ke rumdin, seminggu sebelumnya. Untuk boyongan kali ini, hanya pindahan sekda beserta Istri, karena sejumlah anaknya ingin tetap berada di kediaman lamanya di Kelurahan Kudaile.
 Disisi lain, Sekda Pemkab Tegal, Drs Haron Bagas Prakosa MHum, dalam sambutannya minta agar selalu didoakan demi keselamatan dan keberkahan dirinya selama bertugas dan menempati rumdin. Pihaknya juga titip kepada Lurah Kudaile terhadap rumah dan keluarganya yang masih tinggal di kelurahan itu.  “Kami titip rumah dan keluarga kami semoga tetap mendapat pengawasan dari lurah maupun tetangga lama kami di Kudaile,” ucap Bagas.
 Sedangkan kepindahan di kediaman baru, dirinya siap bermasyarakat dengan lingkungan dan berkomunikasi serta beradaptasi dengan desa dimana kediaman barunya berada. Bahkan dirinya berharap ada kebersamaan selama dirinya berdomisili di rumdin itu. Sehingga tercipta singkronisasi antara dirinya yang selaku masyarakat dengan lingkungan.
 MEMBAUR
 Salah satu prosesi lain yaitu pembacaan manaqib Syeh Abdul Qodir Al Jaelani, yang dipimpin oleh ulama setempat. Pembacaan manaqib sendiri dengan harapan kepindahannya mendapat barokah dan keselamatan dari Allah SWT. Untuk itu, sekda juga minta kepada seluruh hadirin dan masyarakat Kabupaten Tegal untuk mendoakan dirinya agar bisa bekerja dan membangun daerah dimana dirinya berkarya.
 Sedang Wakil Bupati Tegal, HM Hery Soelistiyawan SH MHum dalam sambutannya menjelaskan, jika tinggal di Kelurahan Kudaile sudah barang tentu harus bisa membaur dengan komunitas masyarakatnya. Untuk itu pihaknya minta agar Drs Haron Bagas Prakosa bisa mengikuti sejumlah kegiatan kemasyarakatan yang ada di tempat domisili barunya.
 “Saya dulu tingga lima tahun disini. Juga berusaha mengikuti berbagai kegiatan kemasyarakatan yang ada,” ujar Hery.  Sementara, Wakil Bupati Tegal juga berpesan, tidak hanya kepada sekda saja melainkan kepada semua hadirin agar mampu menjaga lingkungan kerjanya dengan baik. Tidak hanya kinerjanya saja, melainkan segala inventaris maupun lainnya harus bisa dijaga. Itu sebagai bukti jika seorang pegawai khususnya pejabat selalu menjaga amanah dan wibawa dalam memberikan layanan kepada masyarakat. (goni) 
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/