Selasa, 03 Januari 2012

Buaya Dengan Perut Berisi Manusia Ditangkap Warga

Pekanbaru (ANTARA) - Buaya sepanjang lebih lima meter dan berbobot tidak kurang dari 400 kilogram dengan perut diduga berisi jasad Rio Candra (14), warga Desa Sungai Belah, Kecamatan Kuala Indragiri, Indragiri Hilir, Riau, ditangkap dan dibunuh warga setempat.
"Buaya raksasa ini ditangkap sekitar jam 18.30 WIB, Senin (2/1) lalu. Setelah ditangkap, buaya ini kemudian dibunuh warga," kata Camat Kuala Indragiri, Kabupaten Indragiri Hilir, Muhammad Syafullah kepada ANTARA di Pekanbaru, Selasa.
Tidak hanya di bunuh, menurut Camat, warga yang penasaran dengan isi lambung hewan buas itu juga membelah perutnya.
"Bagaimana nggak terkejut, bayangkan, dalam perut buaya itu ternyata ada jasad seorang bocah yang telah hilang sejak dua hari lalu," katanya.
Jasad anak manusia itu, kata Syafullah, disaksikan banyak warga dengan kondisi yang mengenaskan, bagian tubuhnya terpotong-potong.
"Peristiwa ini sempat menggegerkan banyak warga. Anak-anak yang tadinya terbiasa mandi di sungai, sudah mulai dilarang oleh orang tua untuk menghindari terkaman buaya," kata Syafullah.
Informasi sejumlah warga menyebutkan, Rio Candra (14) sebelumnya sempat dikabarkan hilang sejak Sabtu (31/12) lalu saat mengarungi Sungai Merusi yang membelah Kecamatan Kuala Indragiri bersama bapaknya, Syahrudin untuk mencari kayu bakau.
Hari itu sekitar pukul 17.00 WIB, Rio yang terbiasa dengan aliran sungai mengalami nasib naas, seekor buaya berukuran raksasa tiba-tiba mendatangi dan dengan beringas menyambar tubuhnya.
Ayahnya yang berada di sampingnya dikabarkan sempat menyaksikan langsung kejadian tersebut. Buaya tersebut akhirnya menggondol Rio.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/

68 Kades Bakal Lengser

DITAHUN 2012 sebanyak 68 Kepala Desa (Kades) bakal lengser karena habis masa jabatannya. Kondisi itu membuat 68 desa yang tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Tegal, bakal mengadakan hajat pemilihan Kades (Kodrah). Kondisi itu dikatakan oleh Kabag Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Tegal, H Fajar Rokhwidi SIP, agar warga di daerah yang akan menggelar kodrah, untuk tetap menjaga kondusifitas dan jangan mudah terprofokasi. “Ini mendasari Perda Nomor 6 tahun 2004 tentang pemberhentian dan pengangkatan Kades,” kata dia, kemarin.
Dikatakan H Fajar, untuk tahun 2011 lalu, juga sudah dilangsungkan kodrah di 12 desa dan semua Kades terpilih sudah dilantik. Melihat pelaksanaan Pilkades tahun sebelumnya yang kondusif, pihaknya yakin Pilkades tahun 2012 juga bakal kondusif, selama warga mau bekerjasama dan saling menjaga lingkungan tanpa mudah terprovokasi.
“Sangat wajar, jelang Pilkades biasanya muncul oknum yang memprovokasi warga. Ini yang harus disikapi secara bijak,” ujarnya. Seperti diberitakan media ini sebelumnya, jika tahun 2012 ada 79 Pilkades. Sesuai penjelasan Kabag Pemerintahan Pemkab Tegal, dirinya merasa jika hal itu keliru. Karena, setelah dikaji dan dicek ulang, ternyata hanya 68 Desa yang Kadesnya habis masa jabatan ditahun 2012. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Volume Limbah Tahu Membludak

MAKIN membludaknya volume limbah tahu di sentra pengrajin tahu di Desa Pesalakan Kecamatan Adiwerna, disikapi secara serius oleh provinsi dan BLH Kabupaten Tegal. Ditahun anggaran 2012 kali ini, dua unit biodigester penampung limbah tahu akan dibangun untuk menopang keberadaan dua unit biosdigester yang sudah ada. Dua unit itu akan dibangun melalui dana provinsi dan APBD tingkat II.
Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Tegal, Ir Khoffifah MM, melalui Kabid Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Siswoyo SP, menyatakan, sebelumnya pihaknya juga telah merampungkan proyek renovasi dua tabung biodigester limbah tahu yang sempat bocor dipenghujung tahun 2011 lalu.
"Volume limbah yang dihasilkan pengrajin tahu Pesalakan memang semakin meningkat. Hal ini dipastikan tidak bisa ditampung pada dua unit biodigester yang sudah ada sebelumnya. Provinsi positif mengucurkan dana pembangunan tabung biodigester disana. Dan dari APBD II sendiri hal itu sudah diusulkan dan besar kemungkinan juga akan direalisasilkan tahun ini," ujarnya, Senin (2/1) kemarin.
Dia juga menyatakan, ditahun 2012 mendatang usulan proyek juga telah disodorkan ke Pemkab untuk pembuatan biodigester menampung limbah tahu di wilayah Balapulang dan Bumijawa. Usulan pembangunan untuk penampungan limbah tinja juga disodorkan untuk dialokasikan ke pondok pesantren Warurejo dan Lebaksiu, guna penambahan volume kegiatan yang sudah dilakukan.
Pihaknya juga menjelaskan, terkait pembangunan 40 paket biodigester untuk menampung kotoran ternak juga telah berhasil dirampungkan dalam tahun anggaran 2011 lau. Bantuan dari Kementrian LH tersebut diharapkan bisa dimaksimalkan untuk menekan dampak polusi udara di sekitar lokasi peternakan hewan.
    Diakuinya selama tahun 2011, upaya pengolahan limbah lewat pengadaan instalasi pengolahan limbah (IPAL) dilakukan BLH dengan membidik enam titik yang berbeda. Dimana lima dari enam program pembangunan sarana pengolahan limbah tersebut dimanfaatkan untuk limbah dari industri tahu, dan satu titik dibangun untuk pengolahan 'feses' atau tinja manusia. Pembangunan sarana pengolahan limbah itu akan diwujudkan dalam bentuk biodigester.
"Selain pembangunan sarana pengolahan limbah, kami juga merealisasikan pembangunan konstruksi saluran air limbah rumah tangga. Dimana untuk pembangunan saluran air limbah rumah tangga, membidik tiga desa di Kecamatan Bumijawa masing-masing di Desa Cempaka, Jejeg, dan Bumijawa," terangnya.
Selebihnya, pembangunan juga dilakukan di dua desa yang berada di Kecamatan Adiwerna masing-masing untuk Desa Bersole dan Lumingser, serta satu desa di Kecamatan Slawi.
Terpisah Kasubid Pengendalian Pencemaran Udara dan Bahan Berbahaya Beracun, Eko Suypriyono, menyatakan pembangunan biodigester tersebut didukung dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Badan Lingkungan Hidup.
"Intinya, bantuan dana pembuatan biodigester ini merupakan standar pelayanan minimal bidang Lingkungan Hidup. Ada empat item standar pelayanan minimal yang salah satunya mengendalikan laju pencemaran dan polusi air, tanah, dan udara," terangnya.
Dia mengungkapkan, Pemkab memberikan DAK tersebut guna berupaya menekan gas metan yang terbuang dengan memanfaatkan biodigester gas metan yang ditekan ke udara untuk dijadikan gas alternatif. Dari hasil penelitian dibanding dengan limbah tahu ataupun limbah kotoran hewan, feses manusia tersebut lebih cepat diproses melalui biogas menjadi gas. "Bila limbah tahu butuh waktu 3 bulan , dan limbah kotoran ternak butuh waktu 1 bulan untuk bisa menjadi gas, feses manusia hanya butuh waktu 1 minggu saja," cetusnya. (her)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Menilik Upaya Peningkatan Produksi Gabah Tahun 2012

Direncanakan Mencapai 399 Ribu Ton atau Naik 14 PersenProduksi gabah di Kabupaten Tegal tahun 2010 sebanyak 368 ribu ton dengan tingkat produktifitas setiap hektarnya sekitar 5,7 ton atau naik sebesar 5,6 persen dari tahun sebelumnya. Kondisi ini menjadi harapan untuk mendapatkan penghargaan keempat kalinya bagi Bupati Tegal, terkait kenaikan produksi padi diatas 5 persen setiap tahun. Lalu ?
LAPORAN : MOH GHONI
Penghargaan atas kenaikan produksi padi hingga diatas 5 persen setiap tahunnya. Nah, untuk hasil produksi tahun 2010, rencananya akan diterima Bupati Tegal. Bahkan saat ini, profil Bupati Tegal yang bakal menerima penghargaan sudah dikirimkan ke pemerintah pusat.
Sedang untuk produksi gabah ditahun 2011 karena cuaca yang ekstrim, diprediksi hanya 351 ribu ton dengan produktifitas lahan setiap hektarnya hanya 5,4 ton perhektar. “Jika melihat angka tersebut, produksi gabah tahun 2011 turun sekitar 17 ribu ton dibanding tahun 2010,” kata Kepala Dinas Tanbunhut Kabupaten Tegal, Ir Karwadi, kemarin di kantornya.
Dikatakan Ir Karwadi, ditahun 2012 mendatang, dinasnya merencanakan produksi gabah daerahnya sekitar 399 ribu ton atau dengan produktifitas sekitar 6,1 ton perhektar atau naik 14 persen dibanding tahun 2011. Kondisi itu bakal diupayakan dengan luasan lahan sawah seluas 41 ribu hektar, namun bakal tercapai luasan panen seluas 65 ribu hektar. Sudah barang tentu kondisi yang bakal diupayakan adalah peningkatan produksi dan mencapainya dengan menggunakan tanaman padi varietas unggul dengan hasil panen yang diharapkan cukup tinggi dengan masa tanam lebih pendek.
Menurut dia, untuk mencapai target perencanaan hasil panen, dinasnya bakal memaksimalkan pengerahan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) dan Sekolah Lapangan Pengelolaan Hama Terpadau (SLPHT). Mereka itulah yang nantinya bakal menerapkan penggunaan bibit unggul bagi petani tanaman pangan di daerahnya. Sehingga produksi gabah dari rencana yang ditargetkan, mampu terpenuhi.
“Kami bakal mengupayakan secara maksimal segala bentuk bantuan, baik bibit maupun Alsintan, serta irigasi, sehingga produksi bisa maksimal seperti yang direncanakan,” ujarnya.
Disamping upaya tersebut, sudah barang tentu bakal dibarengi dengan penambahan persediaan obat-obatan pertanian. Baik untuk meningkatkan produktifitas tanaman padi, juga obat untuk penanggulangan hama padi. Dengan antisipasi itu, diharapkan munculnya permasalahan terkait kesububuran tanaman dan terhindarnya tanaman dari hama, bisa diminilisir serta ditanggulangi sejak dini.
Untuk itu, dinasnya bakal bekerjasama dengan instansi terkait agar rencana capaian produk 399 ribu ton gabah ditahun 2012 itu bisa tercapai. Sudah barang tentu, bersinergi dengan pengerahan SLPTT dan SLPHT sebagai ujung tombak untuk melakukan pendekatan dan penjelasan serta sosialisasi kepada petani. “Begitupun dalam penanggulangan hama secara terpadu, nantinya harus ada kebersamaan,” ucap Karwadi.
Sementara, yang tidak kalah pentingnya adalah setiap petani dan petugas penyuluh lapangan pertanian diminta untuk secepatnya melakukan pengenalan lahan dan pemanfaatan lahan kepada petani. Juga antisipasi secara dini di lokasi kejanya, terkait kemungkinan penanganan dan penanggulangan munculnya hama penyakit tanaman.
“Untuk penanganannya sendiri harus secara intensif terhadap tanaman baik menyangkut pemeliharaan guna terhindar dari hama, atau saat melakukan pembasmian terhadap hama,” pungkasnya. (*)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Topik Reses Mulai Pendidikan Sampai Jamkesda

RESES masa persidangan III DPRD Kabupaten Tegal yang digelar H Syamsu Rijal dari FPAN, berlangsung di Kelurahan Slawi Wetan. Topik yang diusung peserta pada Reses itu terkait dengan dunia pendidikan, Jamkesda, dan perbaikan infrastruktur seperti kerusakan jalan dan tidak berfungsinya saluran air sehingga membuat genangan di sejumlah titik di wilayah Slawi.   
Terkait dengan pendidikan seperti disampaikan oleh Subkhi, asal Kelurahan Kagok, berharap agar ada bantuan dan dukungan dari pemerintah maupun anggota Legislatif asal Dapil I, untuk membantu memajukan MDA yang ada di desa itu. Pasalnya seiring ketatnya persaingan, MDA tersebut sangat menurun jumlah siswanya. Juga terkait kesulitan masyarakat terkait berobat menggunakan Jamkesda, mohon Pemkab Tegal untuk menatanya, sehingga masyarakat kecil merasa tidak terbohongi.
“Kami mohon dibantu dukungan sarana khususnya drum band untuk menarik siswa agar berminat sekolah di MDA kami,” ujarnya.    
Disisi lain Mukmin, dari Kelurahan Slawi Wetan, berharap agar instansi terkait di Pemkab Tegal memperhatikan saluran irigasi (riol) yang macet karena pendangkalan. Hal itu sering membuat macetnya air yang menggenang pasca hujan lebat. Imbasnya sejumlah titik mengalami banjir dan air menggenang yang cukup dalam di sejumlah ruas jalan di Kota Slawi. “Kadang karena tingginya genangan air, sering membuat kendaraan macet dan estetika kota juga jelek,” kata Mukmin.
Sedang Kepala Kelurahan Slawi Wetan yang turut hadir karena diundang, R Gunarko, berharap agar jalan Citarum di wilayah Kelurahan Slawi Wetan segera dibangun karena kerusakannya sudah terlalu parah. Padahal ditahun 2011 pernah dianggarkan sebesar Rp 300 juta, namun gagal dilaksanakan karena terkena rasionalisasi atau pemangkasan anggaran akibat devisit. “Kami minta ditahun berikutnya semoga bisa direaliasikan,” tuturnya.
Sementara, H Syamsu Rijal BE, membenarkan jika pembangunan Jalan Citarum dipending karena rasionalisasi. Namun pihaknya berharap, perbaikan ruas jalan itu menjadi skala prioritas bagi Pemkab Tegal. Begitupun terkait dengan perbaikan saluran air. Dikatakannya, karena berada di Kota Slawi, sebagai Ibukota Kabupaten, sudah barang tentu diutamakan pembangunannya.
Ditambahkan, untuk sarana pendidikan dan dan Jamkesda, menurutnya, karena itu sesuai dengan Komisinya yaitu Komisi IV, pihaknya bakal berupaya secara maksimal untuk membahas bersama baik di tingkat fraksi maupun DPRD. “Kami kira, semua persoalan bisa ditanggulangi dan ini bakal kami upayakan,” pungkasnya.
Selain Kepala Kelurahan Slawi Wetan, hadir pada Reses itu Ketua DPD PAN Kabupaten Tegal, Sahuri, perwakilan Camat Slawi, kader partai, dan undangan lain yang jumlahnya mencapai seratusan lebih. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Butuh Dukungan Pemkab Terkait Sarana

SLAWI - Terkait kondisi fisik gedung Korpri Slawi, meski masih terlihat bagus, namun masih ada sejumlah sarana yang belum terlengkapi dengan baik. Diantaranya sarana toilet juga kursi dan meja untuk pertemuan yang dibutuhkan penyewa.
Kondisi itu, membuat penyewa gedung itu terbatas kebanyakan hanya dari kalangan dinas/instansi, PNS atau perpisahan sekolah. Penyewa dari kalangan umum sangatlah minim karena fasilitas yang butuh pemenuhan.
Hal itu dikatakan salah satu pengelola gedung Korpri Slawi, Wasisto, kemarin. Menurutnya, ada sejumlah fasilitas gedung itu yang memang membutuhkan perlengkapan.
Dikatakan Wasisto, gedung yang awal berdiri sesuai pengetahuannya untuk memberikan fasilitas terhadap anggota Korpri Kabupaten Tegal, terkait sarana prasarana. Juga diharap menjadi ikon Slawi, namun pada realitanya sangat membutuhkan dukungan Pemkab khususnya dalam pemeliharaan dan biaya perawatan. Selama ini, pemasukan yang diperoleh dari gedung itu relatif kecil, karena pemanfaatnya kebanyakan dari kalangan PNS dan dinas instansi. Sedang pihak swasta sendiri sangat sedikit yang memanfaatkan dan menyewa gedung itu.
Disisi lain, Sekretaris Korpri Kabupaten Tegal, Ir Suhartono MM, membenarkan jika keberadaan Gedung Kopri, diharapkan bisa menjadi salah satu ikon Kota Slawi. Keberadaan gedung juga sebagai sarana fasilitas PNS maupun dinas instansi, bahkan swasta. Untuk pengelolaan dan pemeliharaan dilakukan dari hasil pemasukan gedung.
Menurut dia, untuk biaya sewa tidak sama, untuk saat ini jika seorang PNS untuk kepentingan hajatan, dipatok Rp 1,5 juta ditambah Rp 200 ribu uang kebersihan. Sedang pemakaian dinas atau instansi dipatok Rp 1 juta ditambah Rp 200 uang kebersihan. Untuk penyewa swasta dipatok sebesar Rp 2 juta ditambah Rp 200 ribu uang kebersihan.
“Hanya saja peminatnya relatif sedikit. Kalaupun ada, kebanyakan PNS atau dinas instansi. Itu yang membuat pengelola cukup berpikir,” ujarnya. (gon)
Sumber berita: http://www.radartegal.com/index.php/

3.335 Perkara Sudah Diselesaikan 75 Persen

DARI 3.335 perkara dimana 262 diantaranya tinggalan perkara tahun 2010, yang diajukan pemohon di Pengadilan Agama (PA) Slawi ditahun 2011, baru terselesaikan sebanyak 75 persen. Jika melihat angka perkara riil tahun 2011 di PA Slawi, sebanyak 3.073 perkara dan itu lebih banyak sekitar 200 perkara dibanding tahun 2010 yang hanya 2800-an perkara.
Padahal kelas PA Slawi, saat ini masih kelas IB, dan sesuai ketentuan jika perkara yang masuk diatas 2.000 perkara, status PA layak ditingkatkan menjadi kelas IA. Karena jika tidak dinaikkan kelas, dengan keterbatasn jumlah hakim yang menangani, perkara bakal banyak yang tidak selesai.
“Kami bisa menyelesaikan 75 persen dengan jumlah tenaga hakim selain PA hanya enam hakim, berarti cukup bagus,” kata Humas PA Slawi, Drs Iskandar Eko Putro MH, kemarin di kantornya.
Dikatakan Iskandar, jika kelas PA-nya naik dari IB ke IA, sejumlah keuntungan bisa diraih dalam menangani perkara. Termasuk dengan minimal jumlah hakim di kelas IA, 12 orang, bisa memperingan kinerja hakim PA Slawi dalam menangani jumlah perkara yang cukup melimpah. ”Saat ini hanya dengan enam hakim kami menangani 3.000 perkara lebih. Bagaiamana kesibukan dan mengatur waktu hakim kami,” ujarnya.
Menurut dia, dari seluruh perkara yang ditangani PA Slawi, terbanyak dan mendominasi masih permalahan cerai gugat (CG), dimana jumlahnya mencapai sekitar 50 persen dari seluruh perkara yang masuk. Sedangkan untuk perkara volunteer, sebanyak 76 perkara, dimana didalamnya terdapat perkara ijin Nikah Dini, Wali Adhol, Isbath Nikah, dan lainnya.
Sementara, menyinggung ijin nikah dini, ditahun 2011 mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Untuk tahun 2010 permohonan Nikah Dini masih dibawah 40 pemohon, sedang ditahun 2011 sekitar 48 pemohon. “Selain mereka dibawah usia batas minimal nikah, kebanyakan dari kalangan pelajar,” pungkas Iskandar. (gon)
http://www.radartegal.com/index.php/