Jumat, 17 Juni 2011

Rabu Pungkasan Butuh Dukungan Sponsor

KECAMATAN Lebaksiu yang berada disebelah selatan jantung  kota Slawi, selama ini sudah dikenal dengan martabaknya. Hal ini lantaran rasanya yang khas dan aromanya yang menggoda membuat martabak buatan Lebaksiu terkenal di seluruh penjuru tanah air. Selain martabak, Lebaksiu juga dikenal dengan Pondok Pesantren Babakan dan wisata ritual 'Rabu Pungkasan'. Wisata ritual yang dilaksanakan setiap rabu terakhir di bulan shafar tersebut banyak dikunjungi warga dari luar kota.
Seperti yang dituturkan  Arifin (59), warga Perbalan 780 Jomblang  Semarang ini. Dia mengaku sudah empat kali ziarah ke Bukit Sitanjung setiap rabu pungkasan tiba.  "Saya bersama rombongan naik ke puncak Bukit Sitanjung sejak pukul 05.00 WIB  dan turun pada pukul 09.00 WIB. Dan sebagai piranti turun biasanya saya membawa bambu sebagai alat bantu," tutur pensiunan Dinas Perikanan ini. Tak ditampiknya bila musim hujan tiba hampir seluruh jalan menuju ke atas menjadi licin. Disinilah  para peziarah dituntut sekuat tenaga dengan alat seadanya seperti bambu agar bisa sampai ke tempat tujuan.
Hal senada juga dilontarkan Nur Irianto (49) yang selalu dipercaya menjadi ketua panitia rebo pungkasan. Dia mengakui kondisi jalan licin menuju tempat ziarah di Bukit Sitanjung  dimusim penghujan membuat penurunan jumlah pengunjung. “Sudah dua rabu pungkasan mas, yakni 2010 dan 2011 bertepatan dengan musim hujan. Hal ini membuat suasana rabu pungkasan tak seramai tahun-tahun lalu,”terangnya.
Biasanya, menurut warga RT 01/ RW 08 Desa Lebaksiu Lor, Kecamatan Lebaksiu tersebut sejak  pukul 9.30 WIB kawasan sudah ramai dikunjungi pengunjung.  Namun bila kondisi licin, hingga memasuki pukul 9.30 WIB suasana masih sepi. Hal ini disebabkan cuaca yang kurang mendukung.  "Berkurangnya pengunjung belakangan ini juga disebabkan tidak ada hiburan, karena tidak adanya dukungan sponsor. Jadi  mereka yang datang kesini karena murni ziarah dengan maksud cari jodoh bagi yang masih sendiri dan peruntungan bagi para pedagang," celotehnya.
Disinggung soal harga tanda masuk, dia menegaskan bahwa tidak ada tiket resmi yang ada hanya kotak yang disediakan panitia. Dan pengunjung secara sukarela memberikan uang tanda masuk pada panitia. Besarannya pun beragam antara Rp 2.000 hingga RP 1.000, dan tidak sedikit yang tidak memberi. Hasil yang diperoleh dari para pengunjung tersebut menurutnya digunakan untuk membantu pembangunan yang ada di Desa Lebaksiu Lor, seperti pembangunan jalan, jembatan, tempat ibadah dan lain-lain.
Dengan kendala yang dihadapinya, pihaknya berharap ke depan agar lebih baik lagi dalam segala hal terutama kepanitiaan sebagai ujung tombak suksesnya suatu kegiatan. “Dengan kepanitiaan yang handal, Insya Allah sponsor akan datang dengan sendirinya,” katanya. Terpisah  Kepala Desa Lebaksiu Lor  Drs Ahmad Husein mengaku tradisi rabu pungkasan di desanya sudah dilaksanakan turun temurun. Konon katanya diatas Bukit Sitanjung ada makam Mbah Grinsing yang sakti mandraguna. Disanalah para peziarah memanjat do'a meminta jodoh bagi yang masih sendiri dan mendapat rezeki yang barokah bagi para pedagang dan lain-lain kepentingan yang ada dalam hati para pengunjung.  "Kami punya keinginan agar momentum rabu pungkasan dilakukan lebih lama lagi maksimal satu minggu. Jadi ada acara pra Rabu pungkasan diisi dengan festival rebana, terbang kencer, pasar murah, pameran dan lain-lain," tegasnya.
Dan malam hari rabu pungkasan diadaan do'a bersama. Puncaknya, grebeg pungkasan dengan cara keliling desa dan diakhiri dengan saling lempar air kali gung (ciret-ciretan). Namun, rencana tinggalah rencana, berulang kali ide tersebut sempat dia  lontarkan, dan berulang kali pula gagsan ini mengalami kegagalan. Meski demikian, dirinya tetap berharap agar suatu saat idenya dapat terlaksana. Sehingga pelaksanaan rabu pungkasan di desanya dapat lebih terorganisir, meriah dan menyumbang pendapatan lebih banyak lagi bagi desa dan warganya. (her) 
Sumber Berita : Radar Tegal 17 Juni 2011

Fungsi RPH dan Kurangi Dampak Lingkungan

MELIHAT Rumah Potong Hewan (RPH) di Kabupaten Tegal yang selama ini hanya ada dua RPH yang aktif, yakni RPH Pagongan Dukuhturi dan RPH Curug, Pangkah, pihak Pemkab melalui dinas Kelautan, Perikanan, dan Peternakan (KPP) Kabupaten Tegal akan mengoptimalkan sesusai fungsinya dan mengurangi dampak lingkungan.  Hal itu diungkapkan Kepala DKPP Kabupaten Tegal, Ir Suhartono MM, pada saat mengunjungi RPH Curug Pangkah, bersama  Stafnya dan Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indoensia (PPSKI) Kabupaten Tegal, Kahar Mudakir, Jumat (17/6).
Menurutnya, RPH itu syaratnya harus mempunyai rumah karantina, untuk mengistirahatkan hewan sebelum di potong, namun juga harus memperhatikan kotoran yang akan nanti akan menumpuk. Kalau yang ditampung terlalu banyak, maka juga akan berbahaya terhadap dampak lingkungan yang ada.  “Sementara RPH Curug Pangkah belum mempunyai pengolahan kotoran untuk menjadi pupuk organik, atau di buat biodegester atau yag lain. Hal ini yang menjadikan masyarakat sekitar menjadi terganggu. Makanya kedepan, jika pemkab ada anggaran, ini yang akan kami usulkan, agar semua RPH yang ada bisa lebih optimal dan terkurangi dampak lingkungannya,” ungkapnya.
Dikatakannya, kalau RPH mempunyai pengolahan kotoran, sebenarnya lingkungan sekitar tidak akan kena dampaknya. Karena kotoran yang dihasilkannya tidak akan banyak seperti yang ada sekarang ini ada.  “Ini sangat berpengaruh kepada keselamatan lingkungan, karena kalau kotorannya menumpuk pasti akan tercemar, dan yang paling penting, dengan optimalnya RPH nanti, semua peternak akan lebih mudah dan nyaman dalam melakukan pemotongan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dulu RPH Curug Pangkah  ini jauh dari pemukiman, akan tetapi sekarang pemukiman semakin mendekat.  “Ini juga menjadi pemikiran kita bersama, apakah RPH ini perlu di geser atau masih di tempat yang sama tapi fasilitasnya di lengkapi,” jelasnya.
AWASI LALU LINTAS TERNAK
Sementara, terkait dengan penyakit antrak yang sekarang ini sudah masuk kewilayah Jawa Tengah, DKPP akan mengawasi lalu lintas ternak yang masuk ke daerah Kabupaten Tegal.  “Sampai dengan sekarang di Kabupaten Tegal belum ada yang terkena penyakit antrak, mudah-mudahan saja tidak, karena itu sangat berbahaya,”  kata Suhartono.
Ia menghimbau kepada semua peternak Kabupaten Tegal, untuk berhati-hati dan harus tahu asal usul ternak yang dimilikinya. Karena penyakit ini sangat berbahaya, karena penyakit ini bakteri atau virusnya bisa bertahan selama puluhan tahun.  “Walaupun Kabupaten Tegal bukan termasuk daerah endemis dan bukan termasuk daerah potensi penyakit ini, tapi hal ini perlu dilakukan pemantauan. Dan kami lakukan pemantauan secara intensif, dan petugas di RPH juga inten terhadap tanda-tanda antrak ini,” jelasnya.
Ia juga berharap, pelaku usaha untuk lebih selektif dengan masuknya ternak sapi dari daerah lain. Walaupun Kabupaten Tegal termasuk daerah yang diuntungkan dengan kultur yang ada. Artinya kalau ada ternak yang mati tidak dipotong.  “Kami tetap berupaya untuk merapatkan barisan dengan masyarakat, untuk mengantisipasi agar jangan sampai penyakit antrak ini masuk, apalagi sampai kecolongan,” pungkasnya. (fat)
Sumber Berita : Radar Tegal 17 Juni 2011

Kamis, 16 Juni 2011

Sex Dialam Terbuka

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

"Menjilat" Atasan Lakukan Saja

APAKAH Anda termasuk ke dalam golongan si penjilat atasan? Tak dipungkiri, Anda lantas menjadi sasaran kekesalan rekan-rekan kerja karena dianggap promosi jabatan atau kenaikan gaji yang Anda dapatkan diperoleh dari hasil 'menjilat' atasan.
Namun, terlepas dari efek buruknya terhadap situasi kerja di lingkungan profesional Anda, sebuah studi yang diterbitkan Journal Of Management Studies justru menyimpulkan bahwa 'menjilat' bos Anda membuat hidup jauh lebih sehat.
Diungkapkan dari penelitian tersebut, tindakan 'menjilat' atau cari muka ini justru dapat mengurangi tekanan psikologis di tempat kerja. Selain itu, kemampuan merebut hati rekan kerja juga dapat menjauhkan diri dari tekanan psikologis serupa.
Ditengarai, pengabaian oleh bos atau rekan kerja yang berdampak pada pengucilan di tempat kerja menjadi faktor pemicu stres individu yang berdampak pada kesehatan.
Hal ini diperoleh berdasar survei terhadap 262 karyawan selama lebih lima tahun, dimana sebanyak 29 persen dari 66 persen responden memilih pindah kerja (resign) karena merasa diabaikan bos atau rekan kerjanya.
Sementara Ho Kwong Kwan, salah satu peneliti dalam studi tersebut, mencoba menguji 215 karyawan di dua perushaan minyak dan gas di China. Ia menyimpulkan, benar adanya hubungan antara kemampuan berpolitik di tempat kerja dan pengucilan serta tekanan psikologis yang dialami karyawan.
"Data itu menunjukan bahwa pengucilan di tempat kerja ternyata rentan dengan tekanan psikologis," ujarnya.
Ia menilai, seorang karyawan perlu memelajari ketrampilan berpolitik. Keahlian ini nantinya bisa diterapkan untuk mengambil hati atasan atau rekan kerja, pun bisa meminimalkan adanya tekanan di tempat kerja.
Namun, jika lalu banyak jalan menuju sukses dengan 'menjilat', bijaknya perusahaan mulai menciptakan budaya yang menghambat munculnya pengucilan di tempat kerja dengan menyediakan pelatihan kepada manajer dan karyawan.
Adanya peningkatan harga diri serta kepercayaan diri karyawan diharapkan akan mendorong teknik pemecahan masalah yang efektif, pun meningkatkan ketrampilan berpolitik karyawan.

(maya/CN19)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/17 Juni 2011

Puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup

Banyubiru, CyberNews. Puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup dan Hari Air serta Hari Susu Nusantara tingkat Jawa Tengah dipusatkan di objek wisata Bukit Cinta, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Akan hadir Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo beserta seluruh bupati dan walikota se Jawa Tengah.
Pada kesempatan itu, gubernur bersama seluruh bupati dan walikota akan melakukan penanaman pohon tegakan di sekitar Rawa Pening. Seperti diberitakan, Rawa Pening adalah satu-satunya sumber air abadi yang ada di Indonesia. Namun, keberadaan rawa pening yang menjadi sumber penghidupan penduduk sekitar saat ini terancam sendimentasi dan pertumbuhan enceng gondok yang hampir memenuhi 70% areal rawa pening.
Menurut catatan, Rawa Pening merupakan muara sembilan sungai yang ada di sekitarnya.
( Zainal Abidin / CN12 )
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 17 Juni 2011

Mantan Bupati Brebes Minta Maaf

BREBES - Setelah bebas dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang Jakarta, Mantan Bupati Brebes H Indra Kusuma mengaku, enggan terjun ke dunia politik.

Ia kini lebih memilih kembali menekuni jalur wiraswasta, seperti yang digelutinya sebelum menjadi Bupati Brebes. ”Setelah ini saya akan kembali ke habitatnya di wiraswasta,” ujar Indra Kusuma saat ditanya sejumlah wartawan terkait kegiatannya setelah bebas, di kediamannya, Jalan Jenderal Sudirman Brebes, Rabu malam (15/6).

Indra Kusuma sebelum menjadi Bupati Brebes, dikenal sebagai seorang pengusaha yang bergerak di bidang perminyakan dan beberapa bidang usaha lain. Selain mempunyai agen minyak tanah, ia juga memiliki sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Paskakonversi minyak tanah ke gas, usaha Indra Kusuma juga bergerak di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE).

Dia menuturkan, pihaknya sangat bersyukur dan senang bisa kembali berkumpul dengan keluarganya. Namun demikan, dirinya meminta maaf kepada masyarakat atas jalannya pemerintahan di Brebes yang diwarnai kesalahan. "Saya minta maaf kepada rakyat Brebes bila ada kesalahan saat menjabat," tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Indra Kusuma bebas dari LP Cipinang Jakarta, Rabu (15/6), setelah menjalani hukumannya dalam kasus korupsi pengadaan tanah. Ia divonis dua tahun penjara dan denda Rp 250 juta oleh Pengadilan Tipikor Jakarta.

Mantan orang nomor satu di Kota Bawang itu, pulang dari Jakarta menggunakan KA Bangunkarta bersama istri dan ketiga anaknya. Ia tiba di Stasiun Kota Tegal, Rabu (15/6) sekitar pukul 21.00. Kedatanganya itu disambut ratusan orang. Bahkan, Walikota Tegal H Ikmal Jaya SE Ak ikut menyabut kedatangan mantan Bupati Brebes dari PDIP tersebut. Sejumlah kerabat, teman dekat, pejabat dan mantan pejabat Pemkab Brebes juga ikut hadir. Termasuk, beberapa anggota DPRD Brebes. Namun, Bupati Brebes H Agung Widyantoro SH MSi tidak nampak dalam rombongan penyambutan tersebut. Suasana haru dan bahagia nampak dalam penyambutan itu. Bahkan, warga lain yang berada di stasiun dibuat binggung dengan iringan penyambutan tersebut.

"Karena saya seideologi atau datang dari partai yang sama. Makanya saya ikut menyambut bapak (Indra Kusuma-red), " kata Wali Kota Tegal Ikmal Jaya di Stasiun Tegal.

Usai dari Stasiun Kota Tegal, rombongan langsung menuju ke kediaman Indra Kusuma di jalan Jend Sudirman Kota Brebes.

Kabag Humas dan Protokol Setda Pemkab Brebes, Drs Atmo Tan Sidik mengatakan, Bupati tidak bisa ikut menjemput karena ada kegiatan di wilayah Brebes selatan. Bupati mewakilkan ke pihaknya untuk menyampaikan salam kepada Pak Indra Kusuma dan keluarga. (H38-18) 
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/17 Juni 2011

Puncak Kemarau Diperkirakan Akhir Tahun


KUDUS - Anomali cuaca saat ini benar - benar stabil dan sudah memasuki musim kemarau. Meskipun  terlambat dari prediksi sebelumnya, yaitu pada Maret.

Pengamat cuaca dan klimatologi dari Universitas Muria Kudus, Hendy Hendro Sridjono kepada Suara Merdeka kemarin menjelaskan, cuaca ekstrem sudah terjadi sejak akhir 2010 tidak tampak lagi. "Saat ini sudah mulai terjadi pengurangan terbentuknya awan," katanya.

Jika itu ada, hal tersebut tidak menyebabkan terjadinya hujan lebat atau bahkan angin kencang sekalipun seperti yang terjadi tahun lalu.

Selanjutnya, data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah mencatat, prakiraan kemarau tahun ini normal tidak terpengaruh La Nina atau peningkatan curah hujan maupun El Nino. "Diperkirakan kemarau tahun ini normal, tidak seperti tahun lalu," jelasnya.

Jika diamati perjalanan anomali cuaca, gejala La Nina melemah pada Maret 2011 dan belum menunjukkan turun menjadi El Nino, sehingga prakiraan saat ini kemarau tahun 2011 akan berlangsung normal.

"Bisa jadi pada pertengahan kemarau justru bisa meningkatkan seperti tahun 2009 kemarau yang cukup panjanag, tetapi jika dilihat kemarau tahun ini cenderung normal," katanya.

Puncaknya

Hendy mengatakan, meski normal namun diperkirakan puncaknya bisa berlangsung sampai dengan akhir tahun tepatnya di September atau justru bisa molor.

"Prakiraan puncaknya bisa jadi pada Agustus dan musim pancaroba sekitar September, kemudian musim penghujan pada Oktober. Bahkan siklus ini bisa terjadi berulang setiap tiga hingga tujuh tahun berikutnya," tandasnya. (J18-29,42)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/17 Juni 2011