Senin, 07 November 2011

7 Muara Alami Pendangkalan

TUJUH Muara sungai di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Tegal, mengalami pendangkalan. Kondisi ini berlangsung sejak awal musim kemarau beberapa bulan silam. Ironisnya, dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tegal belum menanganinya secara serius.
Ketua Pengelolaan Kawasan Pantai dan Hutan Mangrove Kabupaten Tegal, Warnadi, mengatakan, tujuh muara itu berada di sungai Kelurahan Dampyak, sungai Pah Desa Padaharja, sungai Desa Bongkok yang merupakan pelabuhan perahu nelayan Larangan, dan sungai Cacaban Desa Maribaya. Keempatnya berlokasi di Kecamatan Kramat.
Sementara yang lainnya, berada di sungai Cenang yang merupakan tempat pendaratan ikan di Desa Suradadi, dan sungai Desa Bojongsana. Keduanya di Kecamatan Suradadi. Kemudian yang terakhir di Sungai Rambut Desa Kedungkelor Kecamatan Warureja. Ketujuh muara itu, mayoritas digunakan sebagai jalur lintasan perahu nelayan. Utamanya nelayan kecil yang mencari ikan teri nasi, rajungan, dan lainnya.
"Terjadinya pendangkalan sangat mengganggu aktifitas nelayan. Mereka kesulitan melaut. Meski bisa, mereka terpaksa mencebur dan mendorong perahunya hingga ke tepi laut," katanya, Senin (7/11).
Jumlah perahu di Kabupaten Tegal, Warnadi menyebutkan, sekira 530 perahu. Dari jumlah itu, 130 perahu diantaranya, merupakan nelayan Larangan Kramat. Sementara sisanya, merupakan nelayan Suradadi.
Selain nelayan yang mengalami kesulitan akibat pendangkalan, petani tambak juga mengalami hal serupa. Menurutnya, saat ini petani tambak sedang kesulitan untuk mengganti air. "Sirkulasi air terhambat. Karenanya, petani tambak mengalami kerugian yang tidak sedikit. Sepanjang jalur Pantura di Kabupaten Tegal, ada ribuan hetar tambak yang sedang kesulitan sirkulasi air," ungkapnya.
Dirinya tak menampik, adanya break water atau pemecah gelombang, memang membantu terjadinya abrasi. Namun demikian, alangkah baiknya apabila pembangunan break water dikurangi dan diganti dengan penanaman mangrove. Sehingga, air laut dapat diantisipasi dan akresi atau pasir yang menumpuk, tidak akan terjadi.
Menurut Warnadi, break water tersebut sangat mempengaruhi adanya pendangkalan di muara. Dimana pasir akan menumpuk setelah dibawa gelombang besar. "Selama tidak ada pembuatan hutan mangrove, maka akan sulit untuk menghentikan abrasi dan akresi. Untuk itu, Pemda harus serius dalam menangani ini. Dan dinas terkait harus bertanggungjawab," cetusnya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tegal, Darsono, mengatakan, sejak Pusat Pendaratan Ikan (PPI) di Desa Suradadi Kecamatan Suradadi dibangun belasan tahun silam, muara sungai yang digunakan sebagai lalu lintas perahu tak pernah mendapat pemeliharaan dari pemerintah setempat. Tak heran, jika kondisi muara tersebut mengalami pendangkalan yang sangat parah.
"Para nelayan yang hendak melaut, mengalami kesulitan. Jalur masuk perahu ke pelabuhan tersebut, tertutup dengan pasir yang membentuk layaknya pulau kecil. Setiap nelayan hendak melaut, mereka harus rela mendorong perahunya sejauh 50 meter lebih," ujarnya.
Darsono mengaku, sejauh ini pihaknya kerap mengajukan ke dinas yang bersangkutan untuk adanya bantuan normalisasi. Tetapi, hingga kini belum ada realisasinya. "Kami harap, pemerintah memperhatinkan nelayan di sini. Kasihan para nelayan, jika kondisi ini cukup dibiarkan saja," pungkasnya. (yer)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Kanker Payudara Tak Otomatis Diturunkan

PEREMPUAN yang memiliki keluarga menderita kanker payudara terkait dengan mutasi genetik BRCA, tidak perlu khawatir akan menderita kanker yang sama jika hasil tes gen mereka negatif.  Sekitar 5-10 persen kejadian kanker payudara dipengaruhi oleh faktor genetik yang sebagian besar diakibatkan ketidaknormalan gen BRCA1 atau BRCA2. Wanita yang memiliki mutasi gen ini berisiko 5-20 kali lebih besar menderita kanker payudara atau kanker ovarium.
Karena itu wanita dengan mutasi gen BRCA1 atau 2 ini dianjurkan untuk melakukan skrining kanker dan tindakan pencegahan untuk mengurangi risiko kanker. Bahkan tak sedikit wanita yang memutuskan untuk mengangkat payudara atau indung telur mereka agar tidak terjadi kanker.
Namun dalam studi yang terbaru yang dilakukan dengan menganalis data lebih dari 3.000 keluarga dengan mutasi BRCA1 atau BRCA2 ditemukan bahwa tidak ada bukti wanita yang tidak memiliki gen bermutasi memiliki risiko tinggi menderita kanker payudara. Studi ini dilakukan di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Australia.
Hasil riset ini sekaligus menyanggah studi tahun 2007 yang menyebutkan risiko kanker tetap tinggi meski seseorang tidak membawa mutasi gen di keluarganya. Studi sebelumnya menemukan jika ditemukan mutasi gen tersebut dalam keluarga, anggota keluarga lain sebaiknya juga dilakukan skrining. Wanita yang memiliki hasil tes negatif dianggap risikonya sama seperti populasi umum.

***

Aspirin Kurangi Risiko Kanker Usus
ASPIRIN yang dikonsumsi secara terus-menerus mampu mengurangi risiko kanker kolorektal (usus) hingga 60 persen. Demikian menurut para peneliti sebagaimana dipublikasikan di jurnal The Lancet, baru-baru ini.
Studi tersebut melibatkan sejumlah penderita Lynch Syndrome, yaitu kesalahan genetis yang mengubah susunan sel sehingga menyebabkan berbagai macam kanker, termasuk kanker usus. Sebanyak 861 partisipan dibagi menjadi dua kelompok secara acak. Satu kelompok mengonsumsi dua butir aspirin berdosis 600 mg setiap hari. Kelompok lainnya mengonsumsi pil biasa atau disebut juga plasebo selama sedikitnya dua tahun. Kemudian usus besar mereka diperiksa.
Ketika data tersebut diperiksa pertama kali pada 2007, tidak ada perbedaan di antara dua kelompok itu. Namun semuanya berubah ketika para peneliti memeriksa data itu kembali beberapa tahun kemudian. Saat itu terdapat 34 kasus kanker usus di kelompok plasebo, sementara di kelompok aspirin yang terserang hanya hanya 19 orang atau 44 persen lebih sedikit dibanding kelompok plasebo.
Para dokter kemudian melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap 60 persen pasien yang mengonsumsi aspirin dan plasebo selama lebih dari dua tahun. Hasil penelitian sub-kelompok itu lebih mengesankan. Terdapat 23 penderita kanker usus di kelompok plasebo, dan hanya 10 penderita di kelompok aspirin, atau 63 persen lebih sedikit dibanding kelompok plasebo. Perbedaan itu baru terlihat setelah lima tahun.

***

Umur Panjang Bisa Diwariskan
UMUR panjang ternyata bisa diwariskan. Setidaknya demikianlah hasil riset para ilmuwan Amerika Serikat (AS). Para peneliti itu menemukan bahwa memblokir atau memodifikasi salah satu dari tiga protein kunci dalam DNA dapat meningkatkan lama hidup hewan dan keturunannya, meskipun modifikasi terhadap sel asli tidak lagi ada dalam DNA keturunannya. Temuan pertama di dunia ini menunjukkan bahwa umur panjang bisa diwariskan dengan cara nongenetik selama beberapa generasi.
Masih diperlukan penelitian lanjutan terkait temuan ini. Namun penelitian ini bisa menjadi petunjuk mengenai kemungkinan bahwa modifikasi DNA yang terjadi pada kakek-nenek buyut kita dapat mempengaruhi lama kehidupan kita sendiri. "Penelitian ini berkaitan dengan gagasan pewarisan sifat-sifat yang hampir sesat karena telah lama dipasung oleh hukum Mendel. Tapi kami menunjukkan melalui penelitian ini bahwa pewarisan umur panjang terjadi pada cacing gelang melalui pengubahan protein tertentu," kata profesor genetika, Anne Brunet, PhD., penulis utama penelitian. (Nur Hidayatullah-11)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/11/02/164964/

Pendidikan Karakter Melalui Kurban

KESEMPATAN Hari Raya Idul Adha 1432 H, dimanfaatkan Sekolah Islam Terpadu MI Luqman Al Hakim Slawi untuk menggelar kegiatan kurban. Kegiatan itu melibatkan seluruh peserta didik.
Pelaksanaan kurban berlangsung Senin (7/11) kemarin di kampus MI Luqman Al Hakim. Sebanyak 8 kambing dikurbankan berasal dari wali murid yang menyerahkan pengelolaannya kepada MI Luqman Al Hakim.
Kepala Madrasah, Wiyarso SAg, menyatakan, bahwa kegiatan kurban seperti ini merupakan langkah nyata pendidikan karakter kepada anak. “Saya yakin, pengalaman ini akan membekas dalam ingatan sampai mereka dewasa,” ujarnya.
Dia menjelaskan, momen ini menyimpan makna keikhlasan dan berbagi, yang memiliki pahala berlipat dengan nilai satu bulu satu kebaikan. “Bisa kita bayangkan ada berapa ribu kebaikan yang bisa didapatkan dari berkurban,” katanya.
Dia menambahkan, kesempatan ini juga dimanfaatkan sebagai media belajar anak bagaimana cara syarat-syarat hewan yang bisa dikurbankan, mengenai ketajaman alat pemotong, hingga menyaksikan pemotongan hewan kurban, dan ikut mempraktekkan cara memisahkan kulit dari gading hewan kurban.
“Anak-anak diberikan kesempatan untuk melakukan itu semua dengan pendampingan guru-gurunya,” tambah Wiyarso.
Saat pemotongan hewan kurban, anak-anak tanpa sungkan turut menyaksikan dengan melafalkan takbiran bersama-sama sehingga menghindari kesan ngeri. Begitu selesai, sebagian dari mereka turut membantu menguliti, dan juga memotong daging kurban. Mereka nampak begitu antusias membantu memotong daging dan mengemasnya untuk dibagikan kepada warga sekitar. Sedemikian antuasiasnya mereka, sampai-sampai mereka rela menunggu giliran untuk membantu karena keterbatasan pisau.
Ketua Panitia Kurban, Fathurachman SPdI, menjelasan, dari delapan hewan kurban itu akan dibagi menjadi 250 paket daging kurban, dan rencananya paket tersebut akan dibagikan kepada warga di sekitar MI Luqman Al Hakim dan juga warga di sekitar rumah dewan guru.
Adapun salah satu kegiatan yang dilaksanakan sehari sebelumnya sebagai rangkaian dari kegiatan Idul Adha, yakni menjalankan puasa sunnah Arafah.
Sementara itu, Yoda, siswa kelas VI (enam) mengaku senang dan puas dengan kegiatan ini. Dalam kegiatan kurban itu dia berkesempatan untuk membersihkan jeroan hewan kurban. “Bau sih, tapi seneng banget. Hanya di sekolah saya bisa bantu-bantu kayak gini. Yang jelas, aku nggak bakalan lupa dengan pengalaman ini,” katanya riang. (aan)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Menilik dari Dekat Keberadaan Produsen Kacang Bogares

KACANG Bogares diproduksi oleh sebagian warga Desa Bogares Kidul Kecamatan Pangkah. Produksinya sendiri, sudah ada sejak tahun 1960-an. Pengusaha petama produk itu adalah Wirja (Alm), yang kini diteruskan oleh anak-anaknya.
Namun seiring perkembangan waktu, jumlah produsen kacang Bogares di desa itu, menjadi puluhan orang. Selain rasa dan jenis kacang yang dijual memiliki kekhasan tersendiri, produsen kacang Bogares juga menghidupi masyarakat lingkungannya.
Tidak sedikit sentra produksi Kacang Bogares di RT 2 RW 1 Desa Bogares Kidul, mampu menghidupi ratusan jiwa warga setempat. Pasalnya, produsen memperkerjakan kaum wanita di sekitarnya untuk mengupas kulit kacang. Sementara kaum lelakinya, bekerja sebagai penggoreng kacang. Produk para penguaha sendiri saat ini sudah merambah ke sejumlah daerah di luar Kabupaten Tegal.
“Untuk kaum wanita seharinya bia menerima bayaran dari upah mengupas kulit kacang sekitar Rp 15 ribu sehari. Sedang kaum lelakinya dengan menggoreng kacang bisa mencapai diatas Rp 30 ribu sehari,” jelas Kades Bogares Kidul, Kasroi.
Dikatakan Kasroi, pihaknya tidak menutupi jika produsen kacang Bogares mampu memberi dukungan perekonomian bagi warga di lingkungan sentra produksi itu. Namun demikian, yang menjadi kendala, kemampuan yang baik itu kurang didukung dengan kontribusi kepada desa. Seharusnya, meski bersifat home industri, namun perlu memikirkan kontribusi guna pembangunan dan kemajuan desa setempat.
Menurut dia, keberadaan sentra produksi Kacang Bogares, secara tidak langsung cukup memperkenalkan desa. Apalagi, produksi kacang yang memiliki cita rasa khas, mampu menembus pasar sejumlah daerah sampai ke tingkat nasional. Bahkan, tidak sedikit pengunjung luar daerah yang sengaja datang dan berbelanja di sentra produksi dan pertokoan mereka. “Inilah salah satu yang cukup membanggakan Desa Bogares Kidul,” ucapnya.
Disisi lain, salah seorang pengusaha kacang Bogares, H Lutfi Laela, mengakui jika produksi Kacang Bogares cukup dikenal. Namun hal itu bukan berarti penjualan produk mereka bisa diandalkan. Menurutnya, tingkat keramaian pembeli produknya bisa dikatakan temporer. Terutama jika Lebaran Idul Fitri dari H-7 sampai H+7, bisa terjual sampai berton-ton dengan harga setiap kilogramnya sekitar Rp 27 ribu. Namun saat hari biasa maupun liburan biasa, penjualan produk Kacang Bogares relatif stagnan.
“Setiap harinya paling hanya dalam hitungan kilogram yang terjual. Itupun biasanya pembeli sudah menjadi pelanggan dan beberapa pedagang yang hendak menjualnya kembali. Produk untuk dikonsumsi pribadi, sangat sedikit,” terang Lutfi.
Sementara, pihaknya membenarkan jika para produsen kacang Bogares juga memberikan kontribusi yang lumyan terhadap tingkat perekonomian warga di lingkungan sentra produksi kacang Bogares. Tidak hanya kalangan wanita dan lelaki dewasa, remaja yang putus sekolah juga banyak yang membantu para pengusaha dengan imbal balik upah yang tidak terlalu tinggi. “Namun penghasilan mereka bisa dikategorikan lumayan. Bisa untuk membantu menopang kehidupan keluarga, apalagi tinggal di pedesaan,” ujarnya. (*)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Bagian Depan Jadi Embrio

BUNGA-bunga kehidupan tumbuh subur di jalanan, kaki lima menggelar resah !. Celoteh tembang 'Bunga Trotoar' yang disuarakan Iwan Fals itu menjadi potret nyata kegundahan PKL Banjaran saat ini. Dimana aksi mereka yang berencana menempati areal luar sub terminal Adiwerna akhirnya mengundang pro dan kontra.
Disatu sisi, Dishubkominfo merasa dibabntu dengan kehadiran mereka untuk merekayasa trayek agar bisa melintas disana. Tetapi disisi lain, kehadiran mereka disana justru akan mengundang kemacetan baru, lantaran mereka mengelar dagangan di bahu jalan.
Kepala Dishubkominfo Kabupaten Tegal, Ir H Suhartono MM, mengakui, sebenarnya untuk masalah pengaturan pedagang kaki lima (PKL) bukan masuk dalam tugas pokok dan fungsi (tupoksi) lembaga yang dipimpinnya. Melainkan, menjadi tangung jawab Dinas Pasar.
"Kami sempat mendapatkan saran masukan terkait PKL Adiwerna yang bisa mengganjal kondisi Slawi dalam keindahan tata ruang kota dan penilaian Adipura. Disini kami berupaya akan mengoptmalkan lahan sebelah Barat yang dimiliki Pemkab untuk mengakomodir mereka. Nah, sekarang bola itu ada di Pemkab dalam hal ini Badan Anggaran  untuk mendukung pengadaan los disana agar mereka bisa direlokasi," terangnya.
Namun, belum adanya respon positif dari Badan Anggaran itulah, membuat PKL untuk sementara diakomodir untuk menggelar dagangan di depan areal sub terminal. Dan pihaknya sendiri mengaku, akan segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait paska kedatangan mereka disana.
"Dimungkinkan kedatangan mereka disana akan mampu menunjang keberadaan kios yang ada. Ini sebenanrya sebagai embrio. Kalau masyarakat sudah banyak yang tahu bahwa ada kegiatan disana, kami siap menata mereka di sebelah Barat sub terminal untuk menempati tanah milik Pemda. Dan jujur saja, sampai saat ini belum ada permohonan resmi dari korodinator ataupun paguyuban terkait upaya mereka menggelar dagangan disana. Dan kebijakan perijinan sendiri seharusnya diberikan oleh DPU dan Satpol, sesuai dengan tupoksinya. Ini mengingat lahan yang mereka gunakan menjadi tanggug jawan instansi tersebut. Kami tetap akan melakukan koordinasi dengan instansi terkait," terangnya.
Dia tak menampik bahwa kehadiran PKL di depan sub terminal bukan merupakan solusi terbaik untuk mengurangi kesemrawutan di sentra Banjaran dan pasar Bawang.
Terpisah staf Lalu Lintas Dishubkominfo yang juga dipercaya mengurus kios di sub terminal Adiwerna, Tarnoto, mengungkapkan, awalnya PKL pedagang burung dan loak memang akan ditempatkan di lahan sebelah Barat sub terminal. "Kami sudah melakukan pendataan ulang para pedagang untuk membuat los di sana. Namun lantaran anggaran hingga kini belum ada, membuat hal itu belum bisa terealisasi," cetusnya.
Diapun mengaku sempat melakukan pendekatan dengan PKL di dua lokasi tersebut untuk bisa memaksimalkan lahan yang ada di sisi Barat. Namun tidak semua pedagang meresponnya. PKL mau pindah disana asalkan secara bersama-sama dan telah disediakan los untuk menampung mereka. Lantas apakah bila nantinya mereka sudah menggelar dagangaan di depan sub terminal bisa diarahkan untuk pindah di atas lahan yang dimiliki Pemkab ? Dengan tegas keduanya menyatakan mereka harus mau.
"Mereka tidak punya hak untuk menolak bila dilakukan penataan dikemudian hari. Ini mengingat mereka tidak punya hak untuk mempertahankan usahanya di lahan yang ada sekarang," terangnya.
Sementara, koordinator PKL, Iqbal, menyatakan bahwa apa yang dilakukannya saat ini sudah terlebih dahulu dikonsultasikan dengan instansi terkait, baik itu Dishubkominfo maupun Satpol PP. Dia mengaku, telah melakukan koordinasi dengan semua PKL yang jumlahnya mencapai 270 orang baik pedagang loak maupun pedagang burung. Dan pihaknya juga bersedia mengatur sistem parkir pengunjung, agar kepindahan tersebut tidak menimbulkan kemacetan baru di areal sub terminal. (hermas purwadi)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Minggu, 06 November 2011

Iwan Fals Album SBY 8 Keajaiban Dunia

Iwan Fals mengaku takjub dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Pasalnya di tengah kesibukan mengurusi negara masih bisa membuat album keempat.
"Luar biasa dalam kesibukannya, SBY dengan banyaknya kegiatannya sebagai kepala negara dia masih bisa rileks membuat album itu," paparnya seperti dikutip dari Detikhot.
Penyanyi yang selalu menyuarakan kritik sosial dalam lagunya ini sembari bercanda mengatakan, jika album HARMONI ini sebagai 8 Keajaiban Dunia.
"Album SBY, saya dengar ini bukan 7 keajaiban dunia, sekarang malah 8 satunya adalah album SBY," candanya seraya tertawa saat dijumpai di Grand Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (3/11).
Album yang dirilis Senin (31/10) kemarin berisikan 8 lagu yang semuanya diciptakan oleh SBY. Album ini juga menampilkan Afgan, Sandhy Sondoro dan Joy Tobing untuk mengisi beberapa lagu. (kpl/faj)
Sumber Berita : http://id.omg.yahoo.com/news/

Perayaan Idul Adha di Markas Bharagas

USAI melaksanakan sholat Idul Adha 1432 secara berjamah, keluarga besar Bharagas menyembelih sejumlah hewan kurban di Lapangan Asrama Polisi Kalibliruk Slawi, Minggu (7/11) pagi. Agenda rutin setiap tahun ini dipimpin langsung Kapolres Tegal, AKBP Nelson Pardamaian Purba SIK. Lelaki tinggi dan tampan ini hadir dengan menggenakan baju koko berwarna coklat tua dengan celana warna hitam dan sebuah peci di kepalanya. Kapolres didampingi sang istri tercintanya dan beberapa anaknya serta keluarga besarnya. Pria yang pernah memerankan sejumlah sinetron di layar kaca ini, nampak bahagia bisa merayakan hari kurban bersama keluarga Bharagas. Tak segan-segan, Kapolres sapaan akrab Nelson ini, selalu melemparkan senyum manisnya kepada para anggotanya serta warga sekitar yang kebetulan hadir di tempat tersebut.
Disela-sela obrolannya dengan para kuli tinta, Kapolres mengaku, kali ini hewan kurban yang sedianya dibagikan kepada warga sekitar asrama dan anggota yang membutuhkan, sebanyak 23 kambing dan 3 sapi besar. Sementara untuk memudahkan pola pendistribusian daging tersebut, pihaknya telah melakukan langkah pembagian kupon terhadap warga pada hari sebelumnya.  "Mudah-mudahan moment Idul Adha ini menjadi media menjalin ukhuwah dan kebersamaan bersama masyarakat sekitar," kata pria berkulit putih ini, seraya mencicipi buah anggur yang sudah disediakan diatas meja.
Selain hewan kurban itu datang dari Kapolres, juga datang dari jajaran perwira di Markas Komando Polisi Resort Tegal dan Waka Polres setempat. Sesuai rencana awal, setelah penyembelihan yang dilakukan oleh panitia, hewan kurban dipotong kecil-kecil lalu dimasukan ke dalam kantung plastik. Kemudian dibagikan merata sesuai kupon yang ada. Sementara untuk pembagian daging, dilakukan tepat pukul 10.00 WIB.
"Ini sebagai wujud nyata kepedulian keluarga besar Bharagas dalam memaknai Hari Raya Idul Adha dengan menempuh pembagian daging qurban," cetusnya.
Sejatinya, perayaan Hari Raya Idul Adha tidak semata-mata memiliki dimensi makna teologis sebagai ibadah untuk mendekatkan diri manusia kepada Sang Khalik. Melainkan, justru Idul Kurban alias Idul Adha tersebut lebih menekankan pada pemunculan kesadaran batin manusia untuk gemar berjihad sosial. Artinya, melalui ritual penyembelihan hewan kurban itu, umat manusia diajak untuk semakin peduli pada nasib fakir miskin dan pihak-pihak yang lemah.
Jika menilik alur historisitas Hari Raya Idul Adha, memang terbilang sangat fenomenal. Di masa itu, Nabi Ibrahim mendapatkan bisikan suci untuk sesegera mungkin menyembelih sang anak kesayangannya, yaitu Ismail. Sungguh sebuah perintah yang amat berat dikerjakan. Namun dengan kebesaran Allah SWT, Ismail berubah atau diganti dengan seekor hewan unta.  "Ada makna yang hakiki dari kurban, yakni ketaatan kepada Allah SWT, dengan dilandasi keiklasan, syariat Nabi Ibrahim sebagai bentuk penghambaan diri dan keluarganya terhadap Allah, yang didasari keikhlasan. Ajaran Nabi Ibrahim harus dijadikan contoh dan keteladanan bagi umat manusia," tutupnya. (yeri novel)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/