Senin, 12 Desember 2011

Sondang Dianugerahi Sarjana Kehormatan

JAKARTA- Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta memberi gelar ’’sarjana kehormatan’’ kepada salah satu mahasiswanya, Sondang Hutagalung, yang tewas setelah melakukan aksi bakar diri di depan Istana Negara, Rabu (7/12) lalu. Kendati bangga dengan sikap kritis Sondang terhadap pemerintahan SBY-Boediono, UBK menghimbau agar aksi bakar diri mahasiswa Fakultas Hukum tersebut tak dicontoh mahasiswa lain.
”Kami berharap aksi seperti itu tik terjadi lagi karena banyak aksi lain yang bisa dilakukan,” kata Pembantu Rektor III UBK, Daniel Panda di kampusnya, Minggu (11/12).
Dia menambahkan, civitas akademika UBK berjanji melanjutkan perjuangan Sondang. Menurut Daniel, gelar sarjana kehormatan diberikan kepada Sondang karena masukan dari tokoh masyarakat, organisasi, dan sejumlah pihak lain.
Sondang sempat dirawat di RSCM. Dia menghembuskan napas terakhir pada Sabtu (10/12).
Dimakamkan
Jenazahnya dimakamkan, Minggu (11/12), di TPU Pondok Kelapa setelah mendapatkan penghormatan dari civitas akademika UBK. Sebelumnya kebaktian digelar di rumah duka dipimpin Pendeta Edison Laoli. Ratusan rekan, kerabat, dan keluarga terlihat sedih dan menangis saat Pendeta Edison membacakan doa.
Dewan Penyantun UBK, Rizal Ramli, menyebut Sondang sebagai mahasiswa yang memiliki cita-cita mulia. ”Sondang berayahkan seorang sopir taksi. Dia berani mengorbankan diri untuk cita-cita perubahan, untuk Indonesia bisa lebih baik. Setiap perjuangan ada pengorbanannya. Banyak pahlawan seperti Bung Karno, seorang pahlawan yang luar biasa, mengorbankan jiwa raga. Sondang adalah patriot perubahan,” kata Rizal di auditorium UBK.
Dia menambahkan bahwa Sondang adalah mahasiswa yang pandai. ”Prestasinya bagus. IPK-nya 3,7,” ujarnya. (D3-43)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/12/12/169652/

Warga Wadasgumantung Terisolisasi

BUMIAYU- Lebih kurang 700 warga dari 200 keluarga di Dukuh Wadasgumantung Desa Kutamendala Kecamatan Tonjong, Brebes, terisolasi.

Tiap hari mereka harus menyeberangi sungai untuk beraktivitas ke luar dukuh. Kondisi serupa juga dialami para pelajar di dukuh tersebut. Agar tidak basah, mereka harus melepas sepatu dan seragam ketika hendak menyeberang sungai. Tidak ada rakit atau perahu yang mengantar mereka menuju ke seberang. Kondisi tersebut sudah berlangsung selama satu pekan, tepatnya sejak Jembatan Wadasgumantung putus, Sabtu (3/12) lalu.

Jembatan yang membentang sepanjang 80 meter di atas aliran Sungai Glagah itu menjadi urat nadi transportasi warga. ”Sejak rusak akibat diterjang banjir, jembatan belum diperbaiki. Kami ingin ada pera­hu atau sarana lain untuk memudah­kan warga beraktivitas,” kata Mar­ha­nah, sa­lah seorang warga Dukuh Wadasgumantung.

Dia setiap hari beraktivitas ke pasar yang berada di luar Wadasgumantung. ”Untuk menyeberangi sungai, saya harus dibantu oleh orang lain. Saya kan harus bawa dagangan, kalau bawa sendiri susah. Tapi yang lebih kasihan adalah para pelajar,” imbuhnya.

Menurut dia, di dukuhnya terdapat fasilitas pendidikan dasar yakni SDN Kutamendala 04. Sebagian siswa dan guru berasal dari luar dusunnya. Tidak jarang, saat arus sungai besar banyak siswa dari luar dukuh tidak datang ke sekolah.
Informasi diperoleh, jembatan gantung Wadasgumantung dibangun tahun 2004 melalui program pengembangan kecamatan (PPK). Putusnya jembatan ini merupakan kali ketiga setelah peristiwa yang sama pada 2009 dan 2010. Banyak dugaan mengapa jembatan berulang-kali putus, di antaranya lokasinya yang tepat berada di pertemuan sungai Pedes dan Glagah dan aktivitas galian C yang dilakukan sekitar 200 meter dari hilir jembatan.

”Ini memang kali ketiga jembatan rusak dan tidak bisa dilewati pejalan kaki maupun sepeda motor,” kata Kadus Gardu, Waryono. Dia menambahkan, kondisi infrastruktur di Dukuh Wadasgumantung memang masih memprihatinkan. Selain jembatan, fasilitas jalan juga rusak. ”Butuh sentuhan pembangunan, selain infrastruktur jembatan, jalan dan penerangan (listrik) juga perlu diba­ngun,” kata dia.

Sudah Diimbau

Camat Tonjong Drs Hudiyono MSi mengemukakan, aktivitas galian C berpengaruh terhadap kondisi jembatan. ”Galian C menyebabkan sungai semakin lebar dan arusnya juga semakin deras,” kata dia. Pihaknya sudah lama mengimbau kepada para penambang agar aktivitasnya tidak berdekatan dengan fondasi jembatan, paling tidak 500 meter dari hulu dan hilir jembatan. ”Tapi dengan alasan perut, penambang tetap menjalankan aktivitasnya,” ungkap dia.
Pihaknya mengaku dapat memahami kesulitan warga akibat putusnya jembatan. Berdasarkan koordinasi dengan Kantor Kesbangpolinmas, saat ini tengah dicari solusi baik lokasi maupun konstruksi yang tepat pembangunan jembatan darurat.

Untuk keperluan itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pengairan Energi Sumber Daya Mineral dan Dinas PU dan Tata Ruang untuk menyusun desain maupun RAB jembatan darurat. ”Ini diperlukan agar jembatan darurat yang dibangun tidak sia-sia,” katanya. (H51-74)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/12/12/169561/

Minggu, 11 Desember 2011

Hijrah Rasulullah ke Yatsrib

REPUBLIKA.CO.ID, Quraisy berencana akan membunuh Rasulullah pada malam hari karena khawatir beliau akan hijrah ke Madinah dan memperkuat diri di sana. Memang tak ada yang  menyangsikan bahwa Muhammad SAW akan menggunakan kesempatan itu untuk hijrah.
Namun karena beliau demikian kuat menyimpan rahasia, sehingga tiada seorang pun  yang tahu, termasuk Abu Bakar. Rasulullah memang masih tinggal di Makkah ketika mengetahui keadaan Quraisy itu dan ketika kaum Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil.
Ketika menantikan perintah Allah yang akan mewahyukan kepadanya supaya hijrah itulah beliau pergi ke rumah Abu Bakar dan memberitahukan, bahwa Allah telah  mengizinkan beliau hijrah. Beliau meminta Abu Bakar agar menemaninya dalam hijrah.
Sebelum itu, Abu Bakar memang telah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah bin Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan. Ketika meninggalkan Makkah, Rasulullah memutuskan menempuh jalan lain dari yang biasanya.
Sementara itu, pemuda-pemuda Quraisy yang akan membunuh beliau, malam itu sudah mengepung rumah Rasulullah. Pada malam akan hijrah itu pula Rasulullah membisikkan kepada Ali bin Abi Thalib agar memakai mantelnya dan berbaring di  tempat tidurnya.
Menjelang larut malam, tanpa sepengetahuan mereka, Rasulullah keluar menuju rumah Abu Bakar. Kedua orang itu kemudian keluar dan terus bertolak ke arah selatan menuju gua Tsur.
Tiada seorang yang mengetahui tempat persembunyian mereka dalam gua itu selain  Abdullah bin Abu Bakar, Aisyah dan Asma binti Abu Bakar, serta pembantu mereka  Amir bin Fuhairah.
Kedua orang itu tinggal dalam gua selama tiga hari. Sementara itu, pihak  Quraisy  berusaha sungguh-sungguh mencari mereka tanpa kenal lelah. Pemuda-pemuda Quraisy—yang mewakili setiap kelompok itu—datang. Mereka membawa pedang dan senjata sambil mondar-mandir mencari ke segenap penjuru.
Tidak jauh dari gua Tsur itu mereka bertemu dengan seorang gembala dan menanyakannya. "Mungkin saja mereka dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana," jawab si gembala.
Seseorang lalu mendekati mulut gua, namun kemudian turun lagi. "Kenapa kau tidak menjenguk  ke dalam gua?" tanya kawan-kawannya.
"Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir," jawabnya. "Aku juga melihat ada dua ekor burung di lubang gua. Jadi aku tahu tak ada orang di sana."
Di dalam gua, Rasulullah khusyuk berdoa, sementara Abu Bakar ketakutan. Ia merapatkan diri kepada kawannya itu. Rasulullah berbisik di telinganya, "Jangan sedih, Allah bersama kita!"
Tentang pengejaran Quraisy terhadap Rasulullah untuk dibunuh, dan cerita tentang gua ini turunlah firman Allah: "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (QS Al-Anfaal: 30).
"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Qur'an menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS At-Taubah: 40).
Pada hari ketiga, ketika keadaan sudah tenang, Asma—puteri Abu Bakar—datang membawakan makanan. Karena tidak ada yang dapat dipakai untuk membawa makanan dan minuman, Asma merobek ikat pinggangnya. Belahan yang satu digunakan untuk mengikat makanan dan minuman, sementara belahan lainnya diikatkan di tubuhnya. Oleh sebab itulah, ia mendapat julukan "Dzatin Nithaqain" (Pemilik Dua Sabuk).
Rasulullah dan Abu Bakar kemudian berangkat ke Yatsrib dengan menempuh jalan yang tidak biasa dilalui orang. Abdullah  bin Uraiqit—dari Bani Du'il—bertindak sebagai penunjuk jalan. Abdullah membawa mereka ke arah selatan, kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah. Ketiga orang itu pun terus melakukan perjalanan, siang dan malam, tanpa kenal lelah.
Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi dan sahabatnya sudah tersiar di Yatsrib. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari Quraisy yang  terus-menerus membuntuti. Oleh sebab itu, kaum Muslimin tetap tinggal di sana dan menantikan kedatangan Rasulullah dengan penuh kerinduan. Mereka ingin melihatnya dan mendengarkan tutur katanya.
Pada suatu hari, ketika kaum Muslimin Yatsrib tengah menanti-nantikan Rasulullah seperti biasa, tiba-tiba datang seorang Yahudi yang berteriak kepada mereka, "Hai, Bani Qailah, ini dia kawan kalian datang!"
Hari itu adalah hari Jumat, dan Rasulullah memimpin shalat Jumat. Orang-orang terkemuka di Yatsrib kemudian menawarkan diri agar beliau tinggal pada mereka. Namun Rasulullah menolak seraya meminta maaf kepada mereka. Beliau kembali naik ke atas untanya lalu berjalan-jalan di Yatsrib, di tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dengan penuh suka cita.
Seluruh penduduk Yatsrib, baik Yahudi maupun orang-orang pagan menyaksikan
adanya hidup baru yang semarak di kota mereka, menyaksikan kehadiran seorang pendatang baru—orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj.
Rasulullah SAW membiarkan untanya berjalan. Sesampainya di sebuah tempat penjemuran kurma kepunyaan dua orang anak yatim dari Bani Najjar, unta itu  berhenti. Beliau turun dari untanya dan bertanya, "Kepunyaan siapakah tempat ini?"
"Kepunyaan Sahl dan Suhail bin Amr," jawab Ma'adh bin Afra'.
Ma'adh adalah wali kedua anak yatim  itu. Ia akan membicarakan soal tersebut dengan kedua anak itu supaya mereka puas. Ia juga meminta kepada Nabi SAW supaya di tempat itu didirikan masjid. Rasulullah mengabulkan permintaan tersebut. Selain dibangun masjid, di tempat itu pula dibangun tempat tinggal Rasul.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/

100 Anak Yatim Sidoarjo Berdoa Untuk Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, SIDOARJO-Sebanyak 100 anak yatim asal Sidoarjo mengikuti  Doa Untuk Indonesia Sejahtera, di area parkir mal Sun City Sidoarjo, di Jalan Pahlawan Sidoarjo, Minggu (11/12/2011). Mereka menggoreskan kalimat doa dalam sebuah spanduk sepanjang 7 meter. Harapannya agar bangsa Indonesia bisa segera lepas dari sejumlah masalah yang masih membelenggu.


Ratusan anak yatim ini berasal dari sejumlah panti asuhan dan keluarga di sejumlah kecamatan di Sidoarjo. Sebelum menuangkan doanya dalam spanduk itu, mereka berpawai menaiki mobil hias menuju mal Sun City Sidoarjo. Pawai bertajuk Gema Muharram ini  berangkat dari kantor Lembaga Managemen Infaq (LMI) Sidoarjo, di Perum Tenggulunan Mega Asri Kecamatan Candi.

Koordinator aksi Kusyanto menyatakan,  doa para anak yatim itu, diharapkan bisa membantu para pihak yang mengupayakan kondisi Indonesia yang lebih baik. Sebab saat ini Indonesia masih kerap dilanda bencana, termasuk persoalan korupsi. "Dengan doa ini semoga koruptor yang masih kabur ya akhirnya bisa menyerahkan diri," ucap Kusyanto, yang juga Kepala Divisi Program LMI Sidoarjo.

Sejumlah kalimat doa ditulis oleh ratusan anak Yatim itu. Misalnya kalimat " Ya Allah Selamatkan Negaraku" , "Ya Allah Lindungi Bangsaku dari Bencana Yang Akan datang" dan kalimat bernada doa lainnya. "Kami berdoa agar bangsa Indonesia tidak terus menerus kena bencana," ucap salah satu anak yatim yang ikut aksi itu. (MUSTAIN).
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/

Muhammadiyah Bangsa Indonesia Alami Problem Kemandirian

Yogyakarta (ANTARA) - Bangsa Indonesia saat ini mengalami problem kemandirian yang menjadi kendala untuk mencapai kemajuan, kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir.
"Potensi Bangsa Indonesia, baik dari sumber daya manusia maupun sumber daya alam, lebih dari cukup, tetapi masalah kemandirian menjadi penghalang dalam melangkah mencapai kemajuan," katanya di Yogyakarta, Senin.
Menurut dia, semangat dan etos kemandirian yang tidak kuat dan belum menjadi budaya pokok melahirkan budaya instan dan realitas buatan yang mencetak generasi instan pula.
"Hal itu juga terlihat dari pemenuhan kebutuhan negara yang selalu mengandalkan impor," kata Haedar yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Ia mengatakan kondisi tersebut hanya bisa disikapi dengan pembangunan karakter utama untuk menciptakan kemandirian dan kemajuan bangsa.
"Berkaitan dengan hal itu, Muhammadiyah mengajak seluruh bangsa untuk membangun transformasi sosial baru dengan melakukan mobilisasi seluruh potensi bangsa yang meliputi perkuatan bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya sebagai bagian infrastruktur baru," katanya.
Menurut dia, Muhammadiyah telah menunjukkan peran dalam membangun karakter utama bangsa. Salah satunya dengan melakukan revitalisasi di bidang pendidikan.
"Revitalisasi di bidang pendidikan yang mengintegrasikan ilmu dan agama akan membentuk generasi bangsa yang memiliki identitas kuat, kepribadian hebat, dan daya intelektual yang matang," katanya.
Ia mengatakan hal itu akan melahirkan insan-insan yang berbudi pekerti baik, mandiri, berkarakter, dan cerdas, sehingga ke depan diharapkan terwujud kemandirian dan kemajuan bangsa.
Dalam konteks itu, kata dia, Muhammadiyah telah memiliki 6.623 lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD), 7.623 taman kanak-kanak (TK), 2.604 sekolah dasar (SD), 1.772 sekolah menengah pertama (SMP), 1.143 sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK), dan 82 pesantren.
"Dengan kepemilikan tersebut, secara kuantitatif kami memiliki modal untuk mengembangkan pendidikan karakter sebagai pilar bangsa, yakni dengan semakin meningkatkan lembaga pendidikan Muhammadiyah menjadi lebih baik," kata Haedar.
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/

Gelontorkan Bantuan Dana Pilkades

BELUM diterimanya dana bantuan penyelenggaraan Pilkades sejumlah desa di Kabupaten Tegal, ketua Komisi I DPRD setempat minta agar dana tersebut segera diberikan kepada yang berhak. Disamping itu, terkait dengan rasionalisasi anggaran sebesar Rp 10 juta ADD untuk sertifikasi, juga diminta agar segera ada perbaikan dan perubahan administrasi.  Hal itu dikatakan ketua Komisi I DPRD Kabupaten Tegal, Dakir SH dari FPDI Perjuangan, kemarin. Permintaan tersebut, seiring dengan semakin mepetnya waktu anggaran tahun 2011.
 Dikatakan Dakir SH, jika tidak segera diberikannya dana bantuan penyelenggaraan Pilkades desa penyelenggara, dikhawatirkan menjadi bom waktu. Sehingga kedepan bisa menuai masalah baru yang mengkhawatirkan pemkab sendiri. Untuk itu, idealnya dana bantuan untuk panitia desa dan kecamatan penyelenggara Pilkades sebesar Rp 10 juta, diminta untuk segera direalisasi.
 Disisi lain, menurut dia, terkait rasionalisasi dana sertifikasi yang inklude didalamnya bersama ADD tahun 2011, hendaknya segera dilakukan perubahan administrasi. Jika tidak kedepan bisa menjadi temuan Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan menjadi beban permasalahan daerah.  “Kami kira mepetnya waktu bisa sebagai pemicu segera dilakukannya sejumlah hal dimaksud,” ucap Dakir.
 Sementara, dirinya menyatakan jika dengan sudah menjadi penganggaran sebuah kegiatan, menurutnya ketersediaan dana sudah ada. Untuk itu, sangat diharapkan instansi terkait di Pemkab Tegal segera merealisasikan. Yang tidak kalah pentingnya adalah perubahan administrasi dan sertifikasi yang drasionalisasi.  “Ingat deadline anggaran tinggal menghitung hari,” pungkasnya. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

Dari Bahstul Masa il Ahad Pon PCNU Kabupaten Tegal

Di masyarakat, para wanita (muslim) ikut melaksanakan shalat berjamaah bersama kaum laki-laki (muslim) baik dimasjid maupun mushola, bagaimana posisi yang benar dan hukum berjamaahnya?
LAPORAN: M FATKHUROHMAN
SETIAP satu bulan sekali, tepatnya Minggu/Ahad pon, Pengurus Cabang NU Kabupaten Tegal melalui lembaga bahstul masa’il, melaksanakan bahtsul masa’il atau musyawarah tentang hukum yang terjadi di kehidupan yang ada. Minggu (11/12) bertempat digedung NU Slawi, PCNU Kabupaten Tegal bersama Majlis Wakil Cabang (MWC) se Kabupaten Tegal melaksanakan pembahasan tentang posisi yang benar dan hukum berjamaah bagi perempuan.
Pembahasan yang dipimpin koordinator bahstul masail, Husni Fakih membacakan masalah yang diajukan dari MWC Tarub. Menurutnya, telah terjadi tradisi di masyarakat para wanita muslimat ikut melaksanakan shalat berjamaah bersama muslimin, baik di masjid maupun mushola. Sementara posisi mereka tersebut dalam berjamaah berbeda-beda menurut tradisi yang berlaku, ada yang di sebelah kiri imam, ada yang disebelah kanan imam dan ada pula yang dibelakang jamaah laki-laki.
Pertanyaannya adalah, lanjut Husni Fakih, pertama, dimanakah posisi jamaah perempuan yang benar menurut tinjauan syar’i. Kedua, bagaimana hukum berjamaah bagi jamaah perempuan yang posisi jamaahnya tidak sesuai dengan ketentuan syar’i.
Dari pertanyaan tersebut, muncul pendapat dari beberapa perwakilan MWC, dengan mengambil dari beberapa kitab, seperti kitab jamal wahab, kitab ianatuthalibin dan lain sebagainya. Dimana kebanyakan dari mereka mengatakan, bahwa yang paling benar adalah jamaah perempuan baiknya berada di barisan paling belakang. Dan itu di sepakati oleh musyawirin.
Seperti yang dikatakan, Subhan Mubarok, dari MWC Warureja, bahwa jamaah perempuan dalam shalat harus yang benar adalah yang paling belakang, kalau ada wandu atau perempaun yang jadi laki-laki berarti mereka harus dibelakang wandu tersebut.  “Ini mengambil dari kitab Jamal Wahab juz 1,” katanya.
Senada juga dikatakan, dari MWC Pangkah, No’mun, dimana dalam kitab ianah tholibin juga dikatakan bahwa jamaah perempuan berada dibarisan paling belakang sesuai dengan hadits nabi SAW.
Sementara, dalam pembahasan pertanyaan yang kedua, tentang hukum berjamaah bagi perempuan yang posisinya tidak sesuai dengan syar’i, terjadi banyak pedapat. Seperti yang dikatakan, Abdul Wahid, bahwa beberapa madzhab telah terjadi perbedaan pendapat, bila menurut imam safi’i itu hukumnya makruh, namun jika menurut imam Abu hanifah itu hukmnya batal.
Namun banyak yang mengatakan bahwa itu hukumnya makruh, seperti yang dikatakan KH M Idris dari Dukuhturi, bahwa jamaah tersebut tidak mendapatkan fadilah jamaah bagi perempuan tersebut. Berbeda dengan No’mun, yang mengatakan, bahwa yang tidak mendapatkan fadilah itu semuanya, yakni imam dan jamaahnya.
Sementara menurut Ust Nawawi, ada sebagian ulama yang mengatakan, bahwa bagi jamaah yang tidak sesuai dengan syar’i, mereka tidak mendapatkan fadilah shofnya saja. Artinya, tidak secara otomatis, jika satu fadilah gugur, maka fadilah yang lain ikut gugur.  “Mereka tidak mendapatkan fadilah secara keseluruhan, hanya menghilangkan fadilah shof. Namun  tidak menampik dari pendapat yang menghukumi makruh,” ungkapnya.
Sementara, KH Ghufron mengatakan, bahwa hadist nabi kenapa perempuan harus berada dibelakang, itu didasari bahwa perempuan harus bubar duluan. Karenanya jamaah laki-laki juga pada saat jamaah tidak diperkenankan bubar mendahului perempuan, agar tidak timbul makruh.  “Baik lagi jika jamaah perempuan tersebut diberi satir (penghalang), karena perempuan juga belum tentu bubar duluan sebelaum laki-laki,” ungkapnya. (*)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/