Selasa, 10 Juli 2012

Palebon Raja Peliatan IX

Pada hari Selasa tanggal 2 November 2010 acara Palebon (ngaben,kremasi) Raja Peliatan IX, Ida Dewa Agung Peliatan (71) telah dilaksanakan dengan sangat meriah, ribuan manusia menyaksikan kemegahan Bade yang diarak menuju pemakaman yang berjarak sekitar 1,5 kilo meter dari Puri Peliatan, Ubud. Ubud menjadi lautan manusia selama acara berlangsung, kurang lebih 4 jam prosesi dari awal hingga akhir acara.

Berbagai tarian di pentaskan di dalam puri sebelum acara dimulai, termasuk tarian ini.

Palebon yang katanya memiliki Bade terbesar kedua setelah setelah Bade Palebon (ngaben) almarhum Tjokorda Sukawati (mantan Presiden NIT) di Puri Ubud pada tahun 1967 silam. Memiliki tinggi 25 meter dan berlebar 8 meter Bade ini dikerjakan kurang lebih dari 50 orang selama 1,5 bulan. Adapun mereka diarahkan oleh Jero Mangku Nyoman Artana bersama dengan Ketut Wira sebagai kepala tukang Bade.
Ini adalah salah satu budaya Bali yang luar biasa, berikut beberapa foto yang bisa saya abadikan ketika acara Bade sedang dan kemudian di arak menuju ke tempat kremasi, enjoy.
Beberapa warga Peliatan berteduh di bawah Bade untuk menunggu saat yang tepat menggotong Bade menuju kepemakaman.
Bade itu bertingkat 11 dengan tinggi 25 meter
Sementara beberapa orang terpana melihat kemegahan Bade
Seorang anak wisatawan asing sedang digendong orang tuanya agar bisa melihat pawai Bade Lembu.
Sementara itu seorang kameramen meliput dari atas dengan memakai alat berat yang melayang
Mereka adalah putri-putri dari Puri Peliatan, Ubud.
Bade Lembu melewati lautan manusia menuju Setra (pemakaman)
Dua Ogoh-ogoh berbentuk kakek dan nenek ini menjadi hiburan tersendiri.
Disusul dengan kedatangan Bade Naga Bande
Inilah Bade yang fenomenal itu, berlebar 8 meter yang digarap selama 1,5 bulan.
Sepertinya topi cantik ini sedang dicarikan sang pemiliknya.
Mari kita abadikan bersama.
Lelah?
Hey…
Sumber Berita :  http://dedotblog.wordpress.com/2011/04/25/palebon-raja-peliatan-ix/

Menag : Jadikan Pesparawi Perkokoh Toleransi Antarumat Beragama

Kendari (ANTARA) - Menteri Agama Suryadharma Ali mengajak umat Kristiani terutama para peserta Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional X di Kendari menjadikan acara ini sebagai sarana memperkokoh toleransi antarumat bergama di Indonesia.
"Peserta Pesparawi yang datang dari ujung Barat hingga ujung Timur Indonesia, semakin memperkuat kebersamaan dalam keberagaman etnis, budaya, dan agama sebagaimana semboyan Bineka Tunggal Ika yang tercengkram di bawah kaki burung garuda," katanya saat memberi sambutan pada acara pembukaan Pesparawi Nasional X di Kendari, Selasa malam.
Ia mengharapkan, melalui kegiatan keagamaan umat Kristiani yang dipusatkan di Kendari ini, akan semakin memperat hubungan tali persaudaraan di antara umat beragama, sekaligus memperkokoh toleransi antarumat beragama di seluruh Indonesia.
Menteri mengatakan, kegiatan Pesparawi nasional ini memang merupakan hajatan kerohanian tertinggi dari umat Kristiani di Indonesia.
Namun yang terlibat dalam penyelengggaraan acara nasional kerohanian ini bukan hanya umat Kristiani, melainkan semua penganut agama yang ada di Indoensia.
"Ini mencerminkan betapa keberagaman agama, budaya dan etnis ini menjadi khanah kekayaan bangsa yang tak bisa dinilai dengan apa pun," katanya.
Pada kesempatan itu, Mengeri Agama juga meminta umat Kristiani di Indonesia, untuk menjadikan nilai-nilai rohani dalam pesta paduan suara religus itu, sebagai kekuatan iman dalam memproteksi diri dari provokator yang bisa memecah belah kerukunan antarumat bergama.
"Saya percaya, kalau nilai-nilai rohani yang terkandung dalam kidung dan puji-pujian kepada Tuhan sang pencipta yang dikumandangkan dalam kegiatan religius ini diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, para provokator tidak mudah memecah belah umat," katanya.
Oleh karena itu kata dia, setiap nilai luhur yang terkandung dalam nyanyian rohani, jangan hanya indah diucapkan, tapi juga diamalkan dalam kehidupan nyata, terutama dalam menjalin hubungan antarmat beragama maupun berbangsa dan bernegara.
"Sejak Indonesia merdeka, para pendiri bangsa ini sudah meletakkan keberagaman agama, budaya dan etnis, sebagai kekuatan dalam membangun bangsa," katanya.
Acara Pesparawi Nasional yang dihadiri peserta dari 33 provinsi di seluruh Indonesia itu, dibuka Menko Kesra Agung Laksono.
Menteri Agama Suryadharma Ali, Gubernur Sultra, H Nur Alam, ikut mendampingi Menkkesra membuka acara kerohanian umat kristiani tersebut.(ar)
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/menag-jadikan-pesparwi-perkokoh-toleransi-antarumat-beragama-174216313.html

Menag : Jangan Anggap Pendidikan Agama Kelas Dua

Jakarta (ANTARA) - Menteri Agama Suryadharma Ali meminta umat Hindu agar tidak menganggap pasraman dan juga pendidikan agama sebagai pelaksana pendidikan "kelas dua" setelah bidang lainnya.
Pendidikan agama justru harus menjadi fondasi penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, pinta Suryadharma Ali ketika membuka Jambore Nasional II Pasraman 2012 di Jakarta, Selasa malam.
Meski acara itu dibuka sudah larut malam, para peserta dan anak didik dari berbagai provinsi di Indonesia tetap antusias mengikutinya. Mereka nampak gembira menyambut kedatangan Menag di sebuah hotel. Nampak hadir Irjen Kemenag H.M. Suparta, Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil dan Dirjen Bimas Hindu IB Yudha Triguna.
Ia mengakui memposisikan pendidikan agama setara dengan bidang lainnya bukanlah hal mudah. Sarat dengan tantangan teknologi. Karena itu peran pasraman diharapkan mampu menjalankan misinya, yaitu mencerdaskan generasi muda. Sebab, esensi pendidikan membangun manusia bertaqwa yang tercermin dalam kehidupan kesehariannya, bermoral baik.
Dengan moral atau karakter insan yang baik itulah, menurut Menag Suryadharma Ali, selanjutnya dapat dibangun masyarakat yang cerdas, terampil, punya nilai estetika. Dan berikutnya dapat mewujudkan masyarakat yang taat beragama, maju, mndiri, berakhlak mulia, toleran, rukun dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Tanpa bermaksud mempertentangkan pendidikan agama dinomorduakan dengan pendidikan lain, semestinya semua pihak herus berani melakukan oto kritik dengan keadaan sekitar, sehingga bisa bersikap proporsional, kata Suryadharma Ali.
Secara formal, lanjut dia, pemerintah telah mengisyaratkan bahwa nilai enam bidan studi agama mengakibatkan anak didik terancam tak naik kelas. Hal itu merupakan pelajaran agama mesti dianggap sebagai fondasi moralitas dari anak didik yang hendak dikembangkan. Anak didik ke depan diharapkan menjadi insan yang cerdas sekaligus relegius/bermoral.
Berbagi pengalaman

Di tempat terpisah, Dirjen Bimas Hindu Tri Guna mengatakan, acara ini merupakan media bagi umat siwa-siswi dari kalangan umat Hindu untuk meningkatkan persahabatan, saling tukar menukar pengalaman dan pengetahuan yang berasal dari berbagai daerah.
Pasraman berasal dari kata "asrama" (sering ditulis dan dibaca ashram) yang artinya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar atau pendidikan. Pendidikan pasraman menekankan pada disiplin diri, mengembangkan akhlak mulia dan sifat-sifat yang rajin, suka bekerja keras, pengekangan hawa nafsu dan gemar untuk menolong orang lain.
Dalam konteks ini kegiatan pasraman dimaknai sebagai ajang kompetisi untuk meningkatkan pengetahuan, persaudaraan dan toleransi.
Tujuan dari kegiatan itu sebagai sarana untuk saling tukar menukar pengalaman para pelajar, mengingat umat Hindu yang tersebar di berbagai daerah memiliki latar belakang budaya dan pengalaman berbeda pula, katanya.
Untuk itulah, kata Triguna, pihaknya ingin merekatkan para pelajar dalam satu keluarga melalui kegiatan itu. Harapannya ke depan, mereka memiliki toleransi dan memiliki pengetahuan luas. Sekaligus pula dapat meningkatkan kreativitas. Tentu, ke depannya mereka akan menjadi insan beretika, bermoral dan berbudi luhur.
Selama kegiatan itu berlangsung akan dilakukan lomba mantram tri sandhya, kramaning sembah, yoga asanas. Termasuk cipta lagu kreasi keagamaan, pantun dan outbound, katanya. (tp)
Sumber Berita : http://id.berita.yahoo.com/menag-jangan-anggap-pendidikan-agama-kelas-dua-015825500.html

Batik Tegalan Diburu Turis

SLAWI - Dewasa ini, batik Tegalan banyak diburu konsumen. Hal itu terlihat, ketika sejumlah perajin batik tegalan asal Kabupaten Tegal, mengikuti pameran Jateng Expo di Kraton Kasunanan Surakarta dari tanggal 4 - 8 Juli 2012 kemarin. Salah satu perajin batik tegalan, Siti Sunaryati, saat ditemui di Lingkungan Industri Kecil (LIK) Dampyak, menuturkan, jumlah peserta pada Jateng Expo kala itu, tidaklah sedikit. Bahkan, peserta didatangkan dari berbagai daerah. Seperti dari Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Tengah sendiri termasuk dari Kabupaten Tegal. "Batik tegalan banyak diminati konsumen. Mereka menilai, batik tegalan sangat unik dan bagus," kata Siti mengisahkan ketika mengikuti pameran Jateng Expo di Surakarta.
Corak atau motif batik tegalan cenderung kasar dan warnanya sangat terang. Warna mulai dari merah, biru, hijau dan kuning. Hal itu menurutnya, yang menjadi daya pikat konsumen terhadap batik tegalan yang dipamerkan. Selain batik tegalan, pihaknya juga mememarkan produk lain dalam kegiatan tersebut. Adalah produk olahan pangan yang berbahan tumbuhan dan daging. "Meski sudah disediakan stan untuk pameran makanan, tapi dalam kegiatan tersebut, lebih dominan stan kain atau pakaian jadi yang bernuansa batik. Setiap daerah, seolah ingin memamerkan hasil batiknya masing-masing," terangnya.
Dirinya tak menampik, peminat batik tegalan, tidak hanya dari masyarakat lokal Indonesia. Pada kegiatan itu, ada beberapa turis dari eropa, yang sengaja memburu batik tegalan karena terkesan dengan hasil karyanya. Sepertinya, turis itu terkesima dengan motif tegalan yang coraknya lebih menyala. Terhitung sampai dengan hari terakhir, (Sabtu kemarin), jumlah batik yang terjual, mencapai puluhan lembar kain. Menurutnya, sebagian kain dibeli oleh orang turis yang kebetulan berlibur di Solo. "Stok yang kami bawa untuk pameran, hampir habis terjual. Konsumen sebagian dari warga luar negeri yang sedang berlibur," ujarnya.   
Lebih lanjut dia mengatakan, ia mengatakan, dengan adanya kegiatan semacam itu, hasil karya perajin di daerah dapat terangkat. Salah satunya, perajin bisa langsung mendapat order atau pesanan dari grosir maupun masyarakat yang membutuhkan.  "Dengan begini, kita bisa mendapat pelanggan baru atau pangsa pasar baru. Kita bisa menambah pengalaman baru tentang corak batik yang berasal dari daerah lain," tukasnya. (yer)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Batik-Tegalan-Diburu-Turis.html

Siap Jadi RS Pilihan Utama Masyarakat

SLAWI - Terus berbenah diri di semua lini dan meningkatkan layanan, infrastruktur dan peralatan medis, sebuah upaya yang dilakukan RSUD dr Soeselo Slawi saat ini. Hal itu mencapai tujuan agar RSUD dr Soeselo bisa menjadi RS pilihan utama masyarakat Kabupaten Tegal dan sekitarnya. Bahkan seluruh manajeman dan layanan kesehatan jajaran RSUD isiap bersikap kritis terhadap tuntutan pasien dan masyarakat.
 Bahkan inovasi dalam peningkatan kualitas layanan serta kegiatan/program yang bermakna dalam memenuhi harapan itu terus dilakukan. Salah satu kegiatan yang diambil bagi peningkatan layanan tersebut, yaitu peresmian Gedung Rawat Jalan Haemodialisa dan CT Scan, yang diresmikan saat ini.  “Ini sebuah bukti upaya yang dilakukan RSUD dr Soeselo dalam perwujudan peningkatan layanan kesehatan masyarakat, lebih maksimal,” ucap Dirut RSUD dr Soeselo Slawi, dr H Widodo Joko Mulyono MKes MMR, dalam sambutannya saat peresmian gedung rawat jalan HD dan CT Scan, Selasa (10/7).
 Dikatakan dr Joko, dalam membantu percepatan peningkatan kualitas SDM, RSUD juga melakukan kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi. Itu demi meningkatkan ketertinggalan layanan, sehingga kedepan benar-benar RSUD dr Soeselo menjadi RS pilihan utama masyarakat Kabupaten Tegal dan sekitarnya. “Kami siap meningkatkan mutu layanan secara maksimal,” ujarnya.
 Apalagi menurut dia, saat ini oleh Kemntrian Kesehatan RI melalui Dinkes Provinsi, menujuk sebagai pilot project akselerasi penurunan angka kematian ibu dan anak, yang difasilitasi USAID difasilitasi Ekpanding Maternal Neonatal Survival (EMAS). Sudah barang tentu, RSUD dr Soeselo berupaya maksimal, agar bisa menjadi rujukan bagi RS negeri dan swasta, dalam hal Ponek, diwilayah Pantura Jateng.
 Disisi lain, Wakil Bupati Tegal HM Hery Soelistiyawan SH MHum, dalam sambutannya meminta agar RSUD dr Soeselo dalam memberikan layanan kesehatan pada masyarakat, secara bermutu dan berkeadilan. Sudah barang tentu dengan dibarengi peningkatan SDM dan peralatan medis serta manajemen, sesuai harapan masyarakat. Sehingga kedepan lebih mudah dalam meraih sebagai RS pilihan utama masyarakat.
 Sementara, untuk memberikan kepuasan kepada pasien dan pelanggan, RSUD dr Soeselo hendaknya bisa memberikan layanan maksimal. Diantaranya senyum sebagai simbol keramahtamahan, kontak mata sebagai bentuk ketulusan dan ketertarikan kepada pelanggan. Juga berinteraksi dengan keramahtamahan, pelanggan ibarat seorang tamu yang diundang ke rumah, bisa mendorong pelanggan senang saat dirawat dan mempromosikan kepada yang lain.  “Kepedulian ini agar membuat pelanggan dalam suasana hangat dan nyaman. Jika sikap diatas bisa dipertahankan, kami kira ini sikap profesional dan merupakan aset dalam mengembangkan RS sehingga bisa menjadi RS pilihan utama masyarakat,” pungkasnya. (gon)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Siap-Jadi-RS-Pilihan-Utama-Masyarakat.html

Tiga Mantan Anggota Dewan Ditahan

SLAWI – Setelah empat mantan anggota DPRD (Dewan) Kabupaten Tegal periode 2004-2009 ditahan. Kini giliran tiga mantan anggota dewan lainnya menyusul ditahan, Senin (9/7). Ketujuh mantan anggota dewan tersebut menjadi tahanan titipan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kedungpane Semarang. Ketiga mantan anggota dewan tersebut yakni Umar Hadi (dari fraksi PAN), Sorichin (dari fraksi PKB) dan Humam (dari fraksi golkar).
Sebelumnya, empat terdakwa yang ditahan pada Rabu sore (4/7), yakni Agus Fatekhi (mantan anggota DPRD fraksi PKB), M Jahri (mantan anggota DPRD fraksi PDI P), Suherman (mantan anggota DPRD fraksi PKS), H Muzaeni (anggota DPRD fraksi PPP) yang kini menjabat kembali menjadi anggota dewan Kabupaten Tegal periode 2009-2014.
Kepala Kejari Kabupaten Tegal, Firdaus SH mengatakan, penahanan itu dilakukan oleh hakim dalam persidangan kedua dengan agenda pembacaan dakwaan di Pengadilan Tipikor Semarang pada Senin (9/7). Kejaksaan Negeri (Kejari) Slawi hanya melaksanakan penetapan penahanan saat sidang kedua tersebut.  “Jadi, tiga terdakwa kasus bansos sapi sudah ditahan, seperti halnya empat mantan anggota DPRD lainnya. Mereka dititipkan di LP Kedungpane Semarang,” kata Firdaus SH,di dampingi salah satu jaksa Aries Sugiharto, Selasa (10/7).
Menurutnya, pada sidang pertama, Senin (2/7), ketiga terdakwa belum ditahan karena belum ada penasehat hukumnya, sehingga agenda sidang yang seharusnya pembacaan dakwaan belum dilaksanakan. Mereka menyerahkan penasehat hukumnya ditunjuk oleh negara. Sedangkan keempat terdakwa yang ditahan pada persidangan pertama sudah memiliki penasehat hukum yang ditunjuk sendiri.  “Selain itu, alasan beda waktu penahanan karena waktu sidang berbeda, dan majelis hakim juga berbeda,” terangnya.
Lebih lanjut dikatakan, alasan perbedaan berkas kasus bansos tersebut, yakni empat mantan anggota DPRD tersebut mendapatkan barang berupa sapi. Sedangkan tiga mantan anggota DPRD lainnya mendapatkan uang tunai. Namun mereka diduga melanggar Pasal 2 ayat 1 subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 tahun 2009, tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.
“Masa penahanan 30 hari sejak ditetapkan ditahan,” jelasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, dana bansos sapi sekitar Rp 190 juta itu digunakan untuk membeli sapi sebanyak 20 ekor. Namun sapi bantuan yang seharusnya diberikan kepada petani diduga dibagikan kepada anggota DPRD. Setiap anggota DPRD mendapatkan dua ekor sapi, sehingga ada 18 sapi yang diduga diselewengkan. Sedangkan anggota DPRD yang menerima sapi sebanyak sembilan orang. Satu orang diantaranya telah bebas dari penjara, sedangkan satu orang lagi telah meninggal dunia. (fat)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Tiga-Mantan-Anggota-Dewan-Ditahan.html

LPAKP Siap PTUN kan Mendikbud

TARUB - Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang akan menjalankan Uji Kompetensi Guru (UKG) pada akhir bulan Juli ini, membuat sebagian guru resah dan tidak sedikit yang menolaknya. Penolakan itu tidak hanya diungkapkan oleh guru saja, dari lembaga swadaya masyarakat bidang pendidikan, juga turut merasa geram dengan kebijakan tersebut. Adalah, Lembaga Pengkajian dan Advokasi Kebijakan Publik (LPAKP) Wilayah Jawa Tengah yang dipimpin Raharjo SPd.
Menurutnya, UKG yang diprioritaskan untuk guru bersertifikasi sangat bertentangan dengan peraturan yang ada. Yakni peraturan pemerintah (PP) nomor 74 tahun 2008 tentang guru, dan Permendiknas RI nomor 11 tahun 2011 tentang sertifikasi bagi guru dalam jabatan, kemudian PP nomor 53 tahun 2010 pasal 4 tentang disiplin PNS. Selain itu, kebijakan UKG juga bertentangan dengan UU nomor 2 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan UU RI nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.  "Itu sangat bertentangan sekali. Apalagi dengan UUD 45 alenia 4 yang menyebutkan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Karenanya, kami sangat mendukung dan siap apabila Mendikbud di PTUN-kan," tegas Raharjo kepada wartawan saat ditemui di kantornya, Desa Kedokan Sayang, Kecamatan Tarub, Selasa (10/7) siang.
Celakanya lagi, lanjut Raharjo, UKG tersebut direncanakan bakal sistem on line. Dan itu sangat meresahkan bagi guru yang tidak bisa mengoperasikan komputer. Dia memperkirakan, hampir 30 persen di wilayah kerjanya, guru belum bisa mengoperasikan komputer dengan baik. Karena itu, UKG dinilainya tidak mendidik meski itu hanya untuk pemetaan guru saja (Versi Mendikbud).
"Padahal untuk guru bersertifikasi, sudah pernah melakukan tes uji sebelumnya. Mestinya, sekarang tidak perlu diuji lagi. Dan sekalipun diuji lagi, harusnya diberikan pelatihan dulu. Sementara yang saat ini terjadi, guru belum pernah mendapat pelatihan UKG tersebut," tegasnya.
Seperti yang diberitakan koran ini sebelumnya, bahwa kebijakan soal menguji kemampuan guru ini memang terus berubah di internal Kemendikbud. Awalnya, UKG ini diberinama uji kompetensi ulang (UKU). Skenario awal, ujian ini digunakan untuk mengukur kemampuan guru yang sudah mendapat sertifikat pada periode 2006 sampai 2011. Total diperkirakan ada 1 juta lebih guru yang akan mengikuti ujian tersebut.
Kebijakan ujian itu cukup meresahkan para guru, karena bagi yang dinyatakan tidak lulus, maka tunjangan profesi pendidik (TPP), ditahan sementara. TPP baru akan dikucurkan lagi, setelah guru yang bersangkutan lulus pelatihan lanjutan dan mampu memperbaiki kompetensinya. Setelah menuai protes dari kalangan guru, kebijakan ujian ini lantas dirubah. Kemendikbud menyatakan jika ujian ini tidak ada pengaruhnya dengan pencairan TPP. Artinya, meskipun seorang guru tidak lulus ujian ini, TPP tetap dikucurkan. Fungsi dari ujian ini hanya digunakan sebagai  pemetaan kualitas guru bersertifikat yang ada di Indonesia.  "Alasan ini cukup janggal. Masak program sertifikasi yang sudah berjalan mulai 2006 lalu tidak menyisakan data kompetensi guru," kata Sekertaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Lisyarti.
 Perempuan yang juga menjadi guru itu menuturkan, jika memang digunakan untuk pemetaan, harusnya yang diuji itu adalah seluruh guru. Selain itu, Retno juga mengatakan, Kemendikbud telah melakukan kesalahan dalam menyusun rencana ujian ini. Sebab, ujian ini hanya akan mengukur komptensi pegetahuan dan pedagogik (kependidikan) guru saja. "Padahal kemampuan guru itu ada empat. Dua lainnya adalah kemampuan sosial dan kepribadian," katanya.
 Retno menegaskan, Kemendikbud salah besar ketika ingin membuat peta kompetensi guru, tetapi indikator penyusunannya tidak komplit. Alasan lain yang membuat guru keberatan adalah, pelaksanaan teknis UKG ini. Ujian yang akan diselenggarakan pada akhir Juli ini akan total menggunakan sistem online. Peserta ujian wajib duduk di depan komputer untuk menjawab soal ujian. Padahal menurut Retno, banyak rekannya yang ada di pedalaman sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer. "Menghidupkan saja belum bisa," katanya.
Dengan sekian banyak kelemahan itu, Retno tidak bisa mencegah rekan-rekannya untuk mem-PTUN-kan Mendikbud. "Sebelum benar-benar dijalankan, kita minta harus dievaluasi ulang," tandasnya. (yer)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/LPAKP-Siap-PTUN-kan-Mendikbud.html