Selasa, 21 Agustus 2012

Penyerangan pos Polisi Diselidiki

SOLO - Serangkaian aksi penyerangan terhadap polisi terjadi di Kota Solo. Penyerangan pertama terjadi di Pos Pengamanan (Pospam) Gemblegan, Serengan, Jumat (17/8) dini hari, beberapa jam sebelum peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-67.
Adapun aksi penyerangan kedua terjadi di pos pelayanan mudik di Gladag, Pasarkliwon, pada malam takbiran, Sabtu (19/8) malam sekira pukul 23.30.
Hingga kemarin, jajaran Polri, TNI dan Densus 88 masih melakukan penyelidikan siapa pelaku penyerangan terhadap pihak berwajib ini.
Hasil penyelidikan sementara, aksi penyerangan terhadap polisi dilakukan kelompok tertentu yang ingin membuat suasana Solo menjadi kisruh.
Mereka menyerang petugas dengan cara menembaki pos pengamanan di Gemblegan, Serengan dan melempari pospam Gladak, dengan granat.
Serangan di perempatan Gemblegan, Serengan, dilakukan dua pria tak dikenal dengan cara membabi buta menembaki Pospam menggunakan senjata api (senpi) sekitar pukul 01.15.
Serangan mematikan terhadap sejumlah petugas itu membuat empat anggota polisi yang berjaga tak berkutik. Mereka berusaha melindungi diri dengan cara tiarap.
Namun rentetan peluru yang ditembakan ke berbagai sudut melukai dua petugas, yakni Bripka Endro Margianto (47) dan Briptu Kukuh Budiantoro (26).
Endro mengalami luka di bagian pinggang kiri dan satu butir peluru bersarang di perutnya. Adapun Kukuh tertembak di ibu jari kaki sebelah kiri akibat rekoset dari peluru yang diletuskan pelaku. Mereka dilarikan ke RS Kasih Ibu, Jalan Slamet Riyadi.
Pada saat kejadian, sebenarnya ada sekitar sepuluh anggota yang berjaga. Empat di pos dan enam lainnya sedang berada di sekitar pos melakukan patroli.
Pelaku yang berjumlah dua orang berboncengan sepeda motor Yamaha Jupiter MX semula melaju dari arah barat menyusuri Jalan Veteran. Kemudian di perempatan, mereka berbelok ke kiri atau ke arah utara dan langsung meletuskan tembakan berkali-kali ke pos pengamanan secara membabi buta. Peristiwa teror itu sempat dilihat sejumlah saksi yang berada tak jauh dari tempat kejadian. Salah satunya Jimin (43), tukang becak yang biasa mangkal sekitar 20 meter dari pos. Menurut dia, dalam aksinya, pelaku yang berada di depan tidak menghentikan laju motor, adapun pelaku yang duduk di jok belakang meletuskan tembakan berkali-kali yang diarahkan ke pos. “Suara tembakan seperti petasan namun lebih nyaring. Setelah diserang, petugas langsung menyelamatkan diri ke Mapolsek terdekat (Mapolsek Serengan-red),’’ terang tukang becak asal Semin, Gunung Kidul itu.
Insiden penyerangan tersebut juga diketahui saksi lain, Fajar, yang bekerja sebagai satpam BPR Central International, samping pos pengamanan. Dia mengungkapkan, setelah beraksi, dua pelaku yang berboncengan sepeda motor langsung melaju ke arah utara menyusuri Jalan Yos Sudarso.
“Usai beraksi, gelagat mereka terlihat tenang. Tidak buru-buru. Saya melihat pelaku yang di belakang menyembunyikan pistol ke dalam jaketnya. Sejumlah anggota polisi yang diserang kemudian melaporkan kejadian ini,” papar Fajar.
Beberapa menit setelah kejadian, ratusan polisi tiba ke TKP. Mereka langsung mengamankan sejumlah saksi. Dari hasil olah TKP, petugas menemukan sembilan selongsong dan enam proyektil. Dua proyektil belum ditemukan, dan satu bersarang di pinggul Endro. Hasil identifikasi, lapisan selongsong terdapat tulisan Hugher dan PCM. Dengan ciri khusus tersebut, diyakini senjata yang digunakan pelaku jenis FN kaliber 45 dengan ukuran peluru 9 mm. Menurut Kapolresta Surakarta Kombes Pol Asjima’in, jika dilihat dari selongsong yang ditemukan di seputar lokasi penembakan, pelurunya bukan buatan Pindad. Diyakini, senpi yang dipakai pelaku dari luar negeri.
Adapun penyerangan terhadap polisi di Pos Pelayanan Mudik Gladag, terjadi pada malam takbiran, Sabtu (18/8) sekitar pukul 23.32. Aksi penyerangan itu pun dilakukan oleh dua pria tak dikenal dengan melempar sebuah granat ke arah pos. Apakah mereka merupakan pelaku penempakan di pospam Gembelegan, hingga kemarin masih diselediki.
Saat beraksi, dua pelaku yang berboncengan mengendarai Suzuki Titan memakai jaket hitam dan menggunakan helm merah dan biru. Mereka melaju dari arah utara pos Jalan Jenderal Sudirman. Sesampai di Pos Gladag lokasi kejadian, pelaku yang membonceng kemudian langsung melempar granat ke arah pos. Delapan anggota yang berada di pos sontak berhamburan menyelamatkan diri. Kala kejadian, riburan warga Solo yang tengah melintas dan merayakan malam takbiran di sekitar lokasi bundaran Gladag pun kocar-kacir setelah mendengar ledakan.
Beruntung, aksi teror dengan bentuk penyerangan terhadap polisi di tempat keramaian ini tidak sampai mengakibatkan korban jiwa. Sebab, granat yang dilempar pelaku : low eksplosive atau berdaya ledak rendah. Hanya menimbulkan ledakan besar dan merusak sejumlah fasilitas pos seperti kursi. Delapan petugas yang ada di lokasi tidak terluka, namun juga tak sempat melakukan pengejaran. Menurut sejumlah saksi di lokasi kejadian, pelaku penyerangan leluasa kabur dengan laju sepeda motor yang tidak kencang.
“Suara ledakannya sangat keras mas. Pada saat kejadian, ada sejumlah polisi yang berjaga di pos. Juga banyak warga yang sedang melintas di lokasi. Mereka langsung berhamburan,” ujar saksi mata, Tri Sukiyah, pedagang hik yang berjualan sekitar 100 meter dari lokasi.
Kedua pelaku terlihat melarikan diri ke arah timur pos Gladag menyusuri Jalan Mayor Sunaryo. Kemudian belok kiri ke Jalan Kapten Mulyadi. Aksi mereka diyakini oleh berbagai pihak sebagai tindakan yang ingin membuat suasana Lebaran di Solo menjadi kisruh.
Beberapa menit setelah insiden penyerangan polisi di Pospam Gladag ini, sekira pukul 23.45 terjadi kebakaran sebuah rumah kosong di Jalan RE Martadinata, Sudiroprajan RT 03 / RW 04, Ketandan, Jebres. Kebakaran dipicu bahan peledak sejenis bom molotov yang disinyalir dilempar oleh pelaku pelemparan granat di pospam. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Api juga tidak merembet ke bangunan lain. Kebakaran dapat diatasi dengan cepat oleh warga dan petugas PMK.
Tak lama setelah serangkaian aksi teror ini, ratusan aparat kepolisian dari Polresta Surakarta, Brimob, TNI kemudian merapat ke Pospam Gladak, dan rumah yang terbakar di Ketandan. Mereka melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Garis police line dibentang puluhan meter dari pospam. Kapolresta Surakarta Kombes Pol Asdjima’in menyatakan, dari hasil olah TKP, ditemukan beberapa serpihan granat di lokasi sekitar kejadian. Serpihan berada satu hingga dua meter dari pos. Apakah pelaku penyerangan juga ada keterkaitan dengan kebakaran rumah kosong di Ketandan, masih diselidiki.
Kemarin siang, tim Densus 88 kembali melakukan olah TKP di lokasi kejadian untuk mendapat informasi lebih dalam. Untuk mengantisipasi terjadinya aksi serupa, kini, jajaran Polda, Polresta Surakarta, TNI dan Densus 88 Mabes Polri terus bekerja sama melakukan koordinasi. Penjagaan di pos-pos pengamanan akan dipertebal dengan penambahan personil bersenjata lengkap.
Aksi para pelaku penyerangan yang terekam kamera perekam CCTV di sekitar lokasi kejadian masing-masing, kini juga tengah diperiksa lebih lanjut untuk mengenali identitas pelaku teror yang ingin membuat suasana Solo menjadi tidak aman ini.
“Kami juga memeriksa sejumlah saksi dan anggota yang ada di lokasi kejadian untuk mengusut kasus ini,” tambah Kapolresta. Sayang, berapa saksi yang dimintai keterangan, orang nomor satu di jajaran Polresta Surakarta itu enggan berkomentar lebih jauh. Begitu juga dengan Kapolda Jateng Irjen Pol Didiek Sutomo Triwidodo. Dia terkesan enggan mengungkap kemajuan ungkap kasus yang meneror dua pospam di Solo iini. “Kami masih mencarinya (pelaku). Itu saja, sudah,” ujar Kapolda singkat kala dicegat wartawan usai rapat koordinasi (rakor) dengan Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Hardiono Saroso di Mapolresta Surakarta, Minggu (19/8).
Sementara itu, Gubernur Bibit Waluyo merasa prihatin dengan dua peristiwa yang menggemparkan Kota Solo. “Kami prihatin dengan kejadian itu. Diharapkan, pelaku bisa menghentikan bentuk aksi ini,” tandasnya kepada wartawan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Minggu (19/8). Aksi itu dinilai tidak ada manfaatnya, malah justru merugikan masyarakat. (K23, G11,J17-77)
 Sumber Berita : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/08/21/196214/Penyerangan-pos-Polisi-Diselidiki
(/)

0 komentar:

Poskan Komentar