Kamis, 08 Desember 2011

Jamasan Astono Kanjeng Sunan Amangkurat

ADIWERNA - Tradisi jamasan astono dalem Kanjeng Sunan Amangkurat Agung di Desa Pesarean, Kecamatan Adiwerna kembali digelar Kamis (8/12) pagi hingga siang kemarin. Prosesi ritual mengganti kelambu makam putra Sultan Agung pembentuk dinasti Mataram Islam, yang dilakukan setiap bulan Suro tersebut mendapat perhatian ratusan warga desa setempat. Dalam ritual jamasan kali ini pihak keraton Surakarta Hadiningrat yang diwakili adik-adik Sunan Paku Buwono XIII hadir mengikuti prosesi jamasan.
Ketua penyelenggara jamasan sekaligus ketua Paguyuban Kerabat Kraton Surakarta wewengkon Tegal, doktor KRT Purwo Susongko Hadinegoro Mpd menyatakan adik-adik Sunan Paku Buwono XIII yang hadir adalah GKR Wandansari, GKR Retno Dumilah, GRR Galuh Kuncono, GKR Timur, dan GPH Mangkubumi.  "Puncak dari ritual jamasan diawali dengan pemberian abon-abon atau piranti pensucian makam. Diantaranya mengganti kelambu makam Kanjeng Sunan Amangkurat Agung. Setelah itu ritual dilanjutkan dengan pembacaan doa tahlil keraton, dan diakhiri dengan wilujengan nagari atau slametan," ujarnya.
Dia juga menyatakan, ritual jamasan astono Kanjeng Sunan Amangkurat ini selalu dilaksanakan selama bulan Suro, yang tahun ini menginjak tahun 1945 Jawi. Penyelengaraan ini diakuinya didukung oleh pemkab dan pihak kraton Surakarta Hadiningrat. Diakuinya Kanjeng Sunan Amangkurat Agung (Amangkurat I) tersebut adalah putra Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma Narendra Mataram Islam (1613-1645 Masehi) dari istri prameswari Gusti Kanjeng Ratu Kulon atau Kanjeng Ratu Batang.
Acara penyerahan abon- abon dilakukan oleh pihak Kraton Surakarta Hadiningrat kepada KRA Drs Mashuri Dahlan sebagai kerabat kraton yang tinggal di Kabupaten Tegal. Usai seserahan dilakukan seluruh keluarga besar kraton memasuki areal pemakaman untuk melakukan prosesi penjamasan makam dan menggelar doa tahlil kraton.
Terpisah kepala Dinas Pariwisata Heru Widianto yang turut menghadiri acara tersebut berharap kedepan prosesi jamasan ini bisa benar-benar dikemas sebagai aset wisata religi.  "Prosesi ini layak disaksikan oleh kalangan pendidik dan para murid untuk mengetahui kedalaman budaya leluhur yang tidak dimiliki semua bangsa. Ada pola pembelajaran yang bisa dipetik dari ajang jamasan kali ini. Anda bisa lihat sendiri begitu besarnya animo warga untuk mengetahui tahapan pelaksanaan jamasan dari tahun- ke tahun," ujarnya. (her)    
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

0 komentar:

Poskan Komentar