Senin, 30 Juli 2012

Menilik Masjid Al Badjuri Desa Kesuben Lebaksiu

Masjid Al Badjuri di Desa Kesuben Lebaksiu, merupakan masjid tempat mendeklarasikan ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Tegal. Masjid yang dibangun oleh KH Badjuri (Alm) yang merupakan santri dari KH Hasyim Asyari, sampai saat ini tetap ramai dipergunakan sebagai tempat ibadah dan pengajian. Bahkan di sekitar masjid itu juga berdiri Ponpes Al Badjuri yang kini dikelola oleh cucu pendiri NU pertama di Kabupaten Tegal tersebut. Bagimana aktifitasnya ?

LAPORAN : MOH GHONI
Dikisahkan oleh generasi yang juga keturunan KH Badjuri (Alm), usai menjadi santri pada KH Hasyim Asyari di Jombang, KH Bajuri pulang ke Desa Kesuben Lebaksiu untuk mengajarkan ilmunya. Beliau datang kembali untuk mengembangkan ilmu agama Islam di kampung halamannya. Belum lama mengajar, beliau bahkan berhasil membangun masjid dan Ponpes.
Tidak lama setelah membangun masjid dan Ponpes, diperoleh kabar jika KH Hasyim Asyari mendeklarasikan ormas Islam yang diberi nama Nahdlatul Ulama (NU). Mendengar itu, KH Badjuri mengikuti jejak gurunya dan mendeklarasikan NU di Kabupaten Tegal.
“Saat ini masjid Al Badjuri dan Ponpesnya dikelola oleh keturunan cucu KH Badjuri (Alm), yaitu putra putri KH Sanusi, yang merupakan keturunan KH Badjuri,” jelas Abdul Baar SHI, salah satu cucu KH Badjuri, kemarin.
Dikatakan Abdul Baar, Ponpes dan sejumlah lembaga pendidikan yang dikelolanya, dikenal cukup maju untuk wilayah Kecamatan Lebaksiu. Bahkan mulai dari tingkat MI/MDA sampai MTs yang dikelolanya, selalu diburu murid hingga bisa dikatakan selalu tercukupi jumlah siswa barunya dan tidak kalah dengan sekolah negeri.
Untuk masjid yang dibangun KH Badjuri, pun kini masih ramai dimanfaatkan oleh warga sebagai tempat ibadah solat dan pengajian. Bahkan di Bulan Ramadan 1433 H, gelar pengajian yang diadakan di masjid Al Badjuri tidak perah sepi. Mulai dari Kuliah Subuh, Dluha, serta sore hingga malam yang selalu dimanfaatkan untuk acara pengajian maupun tadarus Al Quran. Untuk pengisi kegiatan, selain ulama setempat juga didominasi oleh keturunan KH Badjuri yang rata-rata sudah mengenyam pendidikan di pesatren.
Keberadaan Masjid Al Badjuri seiring perkembangan, khususnya di bulan Ramadan, tidak pernah sepi dari upaya yang diridloi Allah SWT. Bahkan menurut Abdul Baar SHI, apa yang dikerjakan oleh cucu pendiri masjid itu saat ini, sebuah tindak lanjut dari apa yang diharapkan oleh pendirinya. “Kami semua keturunan KH Badjuri, terus mengemban amanat dan keinginan dari datuk kami,” ucapnya, yang juga menjabat anggota FPKB DPRD Kabupaten Tegal.
Sementara, masjid itu sejak dibangun sampai kini, sudah berulangkali mengalami renovasi dan perbaikan serta penambahan sejumlah sarana. Jika dahulu saat dibangun, kondisi masjid sebagian besar menggunakan bahan dari kayu maka saat ini kondisi masjid lebih luas dan sebagian besar sudah dibangun dari dinding tembok. Yang terpenting dari Masjid Al Badjuri adalah, terus dimanfaatkan sesuai dengan pesan dan amant pendirinya yaitu KH Badjuri (Alm).
Masjid yang menjadi lokasi awal pendeklarasian ormas NU itu, hingga kini masih berdiri megah. Diharapkan, salah satu bangunan monumental bagi kaum Nahdliyin yang merupakan kaum Islam mayoritas di Kabupaten Tegal itu, dapat terus dilestarikan keberadaannya. Sehingga, jejak sejarah NU dan perkembangannya di Kabupaten Tegal, dapat terus dinikmati para penerusnya. (*)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Menilik-Masjid-Al-Badjuri-Desa-Kesuben-Lebaksiu.html

0 komentar:

Poskan Komentar