Senin, 23 Juli 2012

Menilik Masjid Besar Al Kautsar Suradadi

MEGAH dan mewah! Itulah Masjid Besar Al Kautsar Desa Suradadi Kecamatan Suradadi, yang dibangun sejak awal abad 19. Masjid yang berdiri diatas tanah seluas 1.600 meter persegi itu, dulunya hanya terbuat dari tumpukan batu dengan atap kayu jati. Kemampuan maksimal pada zaman itu, masjid hanya bisa menampung 300 jamaah. Berjalannya waktu, masjid yang didirikan oleh seorang tokoh desa setempat, Almarhum H Muhamad, kini menjadi masjid yang dikenal banyak orang.
"Sekarang sudah bisa menampung 1.000 orang lebih," kata punggawa Masjid, Wahidin (62).
Menurut warga RT 01 RW 11 Desa Suradadi ini, selama sekitar 100 tahun, masjid tersebut sudah direhab sebanyak tiga kali. Pertama ketika tahun 1971, lalu 1983, dan yang terakhir 1993. Sejauh itu, rehab selalu menggunakan anggaran dari masyarakat. Setiap melakukan rehab, barang-barang yang merupakan peninggalan selalu terbuang. Seperti kayu jati yang digunakan untuk atap dan perabotan lainnya yang mengandung unsur sejarah. Meski begitu, tapi tidak semuanya terbuang. Ada dua benda yang sampai sekarang masih dirawat oleh pengurus masjid. Selain bedug yang berdiameter 60 centimeter, juga ada mustaka yang usianya diperkirakan mencapai ratusan tahun. Mustaka yang terbuat dari tembaga seberat 50 kilogram itu, kabarnya diberi oleh orang Cina. Pesannya dulu, mustaka harus dijaga dengan baik dan diletakan di atas atap masjid.
"Sampai sekarang, mustaka masih dipasang di atas kubah. Kami tidak berani memindahkannya karena itu merupakan pemberian dari orang berbangsa Cina," kata Wahidin yang mengaku mendapat pesan itu secara turun menurun dari orang-orang sebelumnya.
Pengurus Masjid Besar Al Kautsar, Komarudin, menjelaskan, peninggalan dari masjid itu tidak hanya dua benda tersebut. Akan tetapi, ada sebuah sumur tua yang usianya mencapai ratusan tahun dan sampai sekarang masih digunakan untuk wudlu jamaah masjid. Air sumur tidak pernah habis walaupun musim kemarau. "Airnya sangat dingin dan segar sekali," ujarnya.
Penataan dan arsitek masjid, kini sudah banyak yang berubah. Dulu ketika pertama didirikan, masjid hanya satu lantai. Tapi sekarang sudah dua lantai dengan halaman parkir yang cukup luas. Masjid juga dilengkapi dengan mimbar yang terbuat dari kayu jati. "Mustaka dan bedug itu merupakan peninggalan dari pendiri masjid ini yang masih tersisa. Untuk itulah, kedua benda tersebut akan tetap kami jaga," tukasnya. (yeri novel)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Menilik-Masjid-Besar-Al-Kautsar-Suradadi.html

0 komentar:

Poskan Komentar