Kamis, 26 Juli 2012

Puasa dan Cairan Tubuh

PUASA Ramadhan, merupakan berkah bagi umat Islam. Selama 11 bulan kita diberikan kesempatan untuk makan minum sesuka hati dalam hal jadwal makanan. Sehingga tubuh harus melakukan metabolisme dengan irama yang tidak teratur.

Selanjutnya di bulan Ramadhan, Allah mengatur pola makan hanya mulai saat berbuka puasa hingga sahur tiba. Artinya di siang hari, tidak ada masukan makanan maupun minuman sama sekali. Hal ini memberikan kesempatan kepada tubuh untuk melakukan kegiatan metabolisme di siang hari, dengan memanfaatkan cadangan energi yang ada di dalam tubuh.

Proses tersebut sangat memerlukan cairan (air, elektrolit, mineral) sebagai sarana pengaturan metabolisme (karbohidrat, lemak, protein). Oleh sebab itu, di saat sahur dan buka puasa diperlukan asupan cairan yang cukup.

Seperti kita ketahui, komponen tunggal terbesar dari tubuh kita adalah air. Air merupakan zat pelarut bagi semua zat terlarut di dalam tubuh baik dalam bentuk suspense maupun larutan. Air membentuk sekitar 60% berat badan pria dan sekitar 50% berat badan wanita.

Pada saat kita berpuasa, kadang muncul rasa haus. Mengapa demikian? Karena rasa haus merupakan salah satu alarm bahwa tubuh kita sedang mengalami dehidrasi (kekurangan cairan). Gejala awal dehidrasi antara lain ditandai dengan meningkatnya suhu tubuh (demam), bibir kering atau pecah-pecah, sakit kepala atau pandangan mata seperti berkunang-kunang, dan tenggorokan terasa sangat kering.

Kehilangan cairan tubuh 1% dari berat badan saja sudah akan menimbulkan rasa haus dan gangguan mood (kurang bersemangat).

Pada keadaan normal, tubuh akan kehilangan cairan sebesar 2,5 hingga 3 liter dalam satu hari. Jika tidak dalam keadaan berpuasa, maka cairan tubuh yang hilang biasanya akan segera tergantikan oleh asupan makanan dan minuman dalam diet sehari-hari. Namun tidaklah demikian pada saat berpuasa.

Cairan tubuh akan secara otomatis tetap keluar dari tubuh, walaupun selama 14 jam, tidak ada asupan cairan dari luar tubuh yang masuk untuk menggantikannya. Dan baru tergantikan pada saat berbuka puasa sampai  sahur. Apabila cairan tubuh yang hilang tersebut tidak tergantikan dengan baik pada saat berbuka puasa, maka tubuh dapat mengalami dehidrasi. Anak-anak dan orang manula (di atas usia 60 tahun) paling rentan terhadap dehidrasi, Oleh karena itu, puasa tidak diwajibkan bagi mereka.

Keberadaan cairan tubuh harus terus dipertahankan agar mampu mempertahankan metabolisme yang stabil. Hal ini sama halnya dengan peran oli di dalam mesin. Kelancaran semua proses metabolisme dan fungsi organ tubuh sangat bergantung pada cairan tubuh.

Apabila tubuh mengalami dehidrasi, maka akan menimbulkan kejadian sebagai berikut:

- Kekurangan cairan 1% dari total cairan tubuh: akan menimbulkan rasa haus dan gangguan mood.

- Kekurangan cairan 2-3% : dapat meningkatkan suhu tubuh, rasa haus, dan gangguan stamina.

- Kekurangan cairan 4%:  akan menurunkan kemampuan fisik hingga 25% (seperempat kemampuan fisik normal).

- Seandainya kekurangan cairan 7% atau lebih : akan dapat  mengakibatkan seseorang kehilangan kesadaran.

Peran Elektrolit

Mengapa tubuh kita memerlukan elektrolit ? Elektrolit (natrium, kalium, clorida, kalsium, merupakan beberapa mineral, terutama makro, yang diperlukan tubuh untuk mengatur fungsi syaraf dan otot disamping memelihara keseimbangan asam-basa. Secara kimiawi, elektrolit adalah senyawa yang akan menjadi ion-ion di dalam larutan dan mampu memberikan aliran listrik pada kapasitas tertentu yang diperlukan bagi metabolisme tubuh.

Keseimbangan elektrolit di dalam tubuh berfungsi mempertahankan kerja yang normal dari sel-sel dan organ tubuh kita. Elektrolit normal yang umumnya diperiksa oleh dokter dengan pemeriksaan darah meliputi sodium (natrium), potassium (Kalium), magnesium, kalsium bikarbonat dan khlorida.

Natrium merupakan zat terlarut utama yang aktif secara osmotic dalam cairan ekstrasel. Apabila kita kekurangan Natrium (yang biasanya ada di garam dapur) akan timbul gejala: kelelahan, nafsu makan turun, mual, kejang otot dan bahkan dapat berlanjut menjadi koma.

Adapun kalium adalah kation utama cairan intrasel. Padahal, 98% simpanan cairan tubuh berada di dalam sel. Kalium berperan penting menahan cairan di dalam sel dan mempertahankan volume sel. Kekurangan kalium dapat menyebabkan gangguan neuromuskuler (saraf dan otot: otot melemah, kejang pada tungkai), dan yang paling serius adalah henti jantung (mati mendadak).

Jaga Cairan Tubuh

Merperhatikan kinerja, kita harus menjaga agar cairan tubuh yang sangat penting ini mampu berada di dalam sel, di sekeliling sel dan darah. Diharapkan tidak terlalu berfluktuasi pada saat kita berpuasa. Pemberian asupan cairan elektrolit seimbang yang cukup selama kita berpuasa, akan mencegah berbagai kondisi ìhipoî (kekurangan) maupun ”hiper” (kelebihan) elektrolit tubuh.

Pada saat berpuasa, pemberian asupan air saja atau elektrolit dengan rasio yang salah tidak akan membantu pemulihan kekurangan cairan, bahkan malah sebaliknya dapat membahayakan tubuh. Asupan cairan dengan kandungan elektrolit yang seimbang dapat diperoleh misalnya dari minuman isotonik komersial yang terjamin mutunya guna menggantikan cairan tubuh yang hilang selama berpuasa. Hal ini akan membantu tubuh memulihkan kebugaran.

Saat berpuasa tubuh memerlukan aktivitas fisik yang relatif tetap, agar badan kita tetap tetap bugar/fit. Keseimbangan cairan tubuh selama berpuasa diupayakan agar sesuai dengan  jumlah yang diperlukan yaitu minimal 2,5 liter perhari (8-10 gelas air minum) . Pemenuhan kebutuhan cairan ini dapat dicukupi dengan minum secara bertahap. Sebab  Minum air sekaligus dalam jumlah banyak akan sangat memberatkan tubuh.

Akan lebih bijaksana bila kita membaginya ke dalam berbagai bentuk asupan (minuman segar: kolak, es buah, kuah dll) tetapi rutin, misal pada saat berbuka, saat makan malam, setelah tarawih, sebelum tidur, bangun tidur dan pada saat sahur. Selamat menunaikan ibadah puasa. (11)
Sumber Berita : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/07/25/193910/Puasa-dan-Cairan-Tubuh-

0 komentar:

Posting Komentar