Rabu, 25 Juli 2012

Potret Penjaga Masjid Tertua

SEGALA sesuatu yang didasari oleh keikhlasan untuk berbuat semata, kelak akan dipertemukan dijalan yang benar.
Bisa jadi petuah bijak itu yang mendasari seorang Datim (73) terus menggeluti profesinya sebagai penjaga sekaligus tenaga kebersihan masjid Jami Salamatud Daroin yang berada di samping Markas Kompi Kesehatan Batalyon 407/Padmakusuma Ujungrusi Adiwerna. Lelaki renta yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Naradha itu sudah sejak umur 5 tahun mengabdikan diri sebagai tenaga kebersihan masjid, hingga dirinya dipercaya oleh para alim ulama setempat untuk menurunkan mustaka masjid ketika masjid itu pertama kali dipugar tahun 1932 silam.
"Masjid ini dipercaya sebagai peninggalan para wali. Hal ini dapat dilihat dengan mata telanjang dengan adanya mustaka masjid buatan para wali. Ketika masjid ini petama kali dipugar, para alim ulama dan para sepuh tidak ada yang berani menurunkan mustaka itu. Dan mereka memilih saya yang masih terbilang muda saat itu dan masih bodoh soal pengetahuan agama untuk menurunkan mustaka tinggalan para wali. Mungkin para alim ulama dan sesepuh saat itu menilai saya sudah tanggap terhadap masjid meskipun masih usia anak-anak," celotehnya.
Pria yang kini telah dikarunia 9 putra dan 17 cucu itu secara total mengabdikan dirinya untuk kepentingan masjid disela-sela menjalankan aktivitas rutinnya sebagai pengayuh becak, yang sudah dua tahun belakangan ini ditinggalkannya. Ada pelajaran berharga yang bisa dipetik dari ketulusan seorang Datim dalam menjaga kebersihan tempat ibadah yang satu ini.
Konon, dia tidak akan pernah meminta dan menolak keras bila diberi honor oleh pengurus takmir masjid. "Mulai masjid dalam kondisi bodol (rusak, Red), menjalani rehab, hingga saat ini, saya tidak pernah berharap honor terhadap pekerjaan yang telah saya lakukan terhadap masjid. Prinsip saya, aja mangan duit masjid (jangan makan duit masjid, Red). Itu janji orang tua saya kepada saya saat masih kecil dulu," ujarnya.
Dia berprinsip bahwa menerima honor dari masjid berarti harus siap menerima gunjingan dan cemooh dari pengurus maupun masyarakat terhadap kinerjanya. Meminjam istilah Datim : angger males diomong, angger kentheng ya diomong... wong dibayar ka! (kalau malas jadi omongan, kalau rajin juga jadi omongan. Maklum saja, dibayar!, Red).
Sangat bijak bagi Mbah Naradha untuk tidak menerima sekedar honor sebagai penjaga dan tukang bersih-bersih  masjid untuk menghindari suara-suara miring yang kadang bisa membuat ibadahnya ternoda. Dia berkeinginan, disisa waktu yang masih dimilikinya bisa dirasa bermanfaat bagi lingkungannya.
Pagi itu Datim sedang disibukkan dengan tumpukan sampah jamaah masjid yang menggunung usai menggelar buka bersama di masjid. Dengan penuh ketelitian dia mencoba memilih dan memilah sampah yang teronggok di halaman depan masjid. "Sampah plastik dan kardus bekas snack saya pisahkan ke dalam karung. Ini banyak dicari para pemulung. Paling tidak, apa yang saya perbuat ini bisa meringankan pekerjaan mereka dalam mengais sisa botol air mineral dan kardus untuk menyambung hidupnya. Saya tidak meminta uang dari para pemulung tersebut," tuturnya.
Berusaha untuk melakukan pekerjaan terbaik bagi sesamanya tanpa meminta pengharapan, diyakininya akan membuka pintu rejeki dari sang pemilik hidup. Toh hal itu selama ini sudah dia rasakan dengan mampu menghantarkan kesembilan putranya menjadi orang yang berdikari dengan hidup rukum bersama keluarganya masing-masing. (hermas purwadi wijayanto) 
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Potret-Penjaga-Masjid-Tertua.html

0 komentar:

Poskan Komentar