Kamis, 06 September 2012

Kisah Bocah Pemulung Yang Ingin Sekolah

SEJAK duduk di bangku kelas 2 SD, Muhamad Irwan Besuni (10), tidak bisa melanjutkan sekolah lagi. Bocah malang yang akrab disapa Iwan ini, terpaksa meninggalkan bangku sekolahnya karena orang tuanya tidak memiliki biaya. Meski begitu, Iwan tetap tegar untuk menjalani hidupnya. Dia rela melepas seragam sekolahnya demi membantu orang tua. Iwan setiap hari harus melaksanakan tugasnya mencari barang bekas di sejumlah tempat seperti di rel kereta api, tepi jalan raya, dan di tempat sampah perumahan warga.

Setapak demi setapak dia lalui demi mengumpulkan barang bekas yang kemudian dimasukan ke dalam karung berukuran besar. Barang bekas yang dicarinya antara lain, botol plastik, besi tua, aluminium, kaleng, kertas bekas, dan barang bekas lainnya. Iwan berjalan kaki setiap hari tidak kurang dari 20 kilometer. Untuk melakukan itu, Iwan harus bangun pagi sebelum matahari terbit.
"Sebelum berangkat, saya pasti sarapan dulu," kata Iwan yang mengaku tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya di gudang rongsok milik warga Kelurahan Dampyak Kecamatan Kramat, atau tepatnya di sebelah Timur jembatan Sungai Ketiwon.
Iwan yang ditemui di tepi rel kereta api Texin pada hari Kamis (6/9) siang, mengaku, setiap pukul 06.30 WIB, dia harus berangkat mencari rongsok. Pada umumnya, di waktu yang sama anak seusia Iwan harus belajar menuntut ilmu di sekolah. Tapi bagi Iwan, itu bukan menjadi soal meski dirinya mengharapkan untuk bisa sekolah kembali.
"Jam 8 saya pulang lagi ke gudang. Kemudian jam 9, saya berangkat lagi mencari rongsok," kata Iwan, seraya memungut limbah plastik bekas kemasan minuman ringan.
Setelah berkeliling untuk mencari barang bekas, pada pukul 12.00 WIB bocah berkulit hitam ini pulang kembali ke gudang untuk mengumpulkan hasil rongsoknya ke orang tuanya. Iwan mengaku beristirahat sejenak untuk makan siang di gudang bersama dua saudaranya yakni kakak dan adiknya serta kedua orang tuanya. Kemudian pukul 12.30 WIB, pencarian barang bekas dilanjutkan kembali hingga pukul 14.00 WIB. Setelah itu, barulah dia berangkat mengaji pada pukul 15.00 WIB. Iwan mengaji di lingkungan rumahnya hingga pukul 17.00 WIB. Iwan hampir tak pernah bermain bersama teman-teman seusianya karena harus mencari rongsok tiga kali dalam sehari.
"Saya berangkat dan pulang dalam seharinya sampai tiga kali. Saya lakukan itu karena saya tidak kuat berat. Rongsok yang saya bawa terlalu banyak, sehingga harus bertahap untuk dibawa pulang," ucapnya.
Hari-harinya, dia habiskan hanya mencari rongsok demi membantu kedua orang tuanya. Rongsok itu, kata Iwan, nantinya dijual kepada pemilik gudang yang dia tempati. Harga rongsok beraneka ragam, tergantung jenisnya. Harga rongsok berupa plastik, dijual Rp 1.700 per kilogram (Kg) nya, kardus Rp 1.000 per Kg, kaleng Rp 2.000 per Kg, kertas Rp 400 per Kg, dan aluminium Rp 1.100 per Kg.
Sejauh ini, Iwan tidak pernah menghitung pendapatannya setiap hari dari rongsok yang telah dia kumpulkan. Dia hanya menyerahkan hasil pencarian rongsoknya ke orang tuanya.
"Uangnya untuk ibu semua, saya jarang minta uang. Paling kalau ingin jajan, saya baru minta. Itu pun tidak setiap hari," kata Iwan yang mengaku kasihan kepada orang tuanya yang tidak mampu menyekolahkannya.
Iwan tak pernah menuntut ke orang tuanya untuk bisa sekolah kembali. Dia hanya bersabar karena mungkin nasib keluarganya memang seperti itu. Iwan berharap, apabila ada dermawan yang ingin menyekolahkannya, dia tak akan menolaknya. Namun demikian, Iwan terasa malu jika harus melanjutkan sekolah kembali. "Usia saya sudah 10 tahun, masa harus kelas 2 lagi sih," kelakar Iwan sambil duduk-duduk di tepi rel KA. (yeri novel)
Sumber Berita :  http://www.radartegal.com/index.php/Kisah-Bocah-Pemulung-Yang-Ingin-Sekolah.html

0 komentar:

Poskan Komentar