Senin, 27 Agustus 2012

Rutin Memantau Gula Darah Pangkal Hemat

Kompas.com - Sama seperti meroketnya harga berbagai barang, harga obat dan biaya kesehatan juga ikut terbang ke langit. Apalagi perawatan penyakit kronis seperti diabetes yang berlangsung seumur hidup. Maka ada baiknya kita bersikap kritis dalam menjaga kesehatan. Pengendalian gula darah yang baik bukan hanya dapat mengurangi beban tersebut, malah mungkin menghindarkan komplikasi penyakit.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam reportasenya bulan September 2011 menetapkan kanker, diabetes, penyakit paru, dan masalah kardiovaskular, sebagai empat penyakit tidak menular yang menjadi ancaman kematian saat ini.

Diabetes sendiri merupakan penyakit kronis yang disebutkan oleh Resolusi PBB No.61 tahun 2006 sebagai pandemi global yang mengancam kesehatan dunia secara serius, tidak hanya karena efek komplikasinya tapi juga dampak ekonominya secara langsung pada kenaikan biaya pelayanan kesehatan.

Pada tahun 2011, Amerika Serikat menghabiskan 174 miliar dollar Amerika untuk menangani diabetes dari populasi diabetesi yang mencapai 25,8 juta jiwa. Biaya itu terdiri dari biaya perawatan langsung yang mencapai 67 persen dari total biaya.

Walau pun Indonesia belum punya data seakurat itu, ada indikasi kuat bahwa anggaran kesehatan yang dikeluarkan pemerintah kita tidak sedikit. WHO memperkirakan negara seluruh dunia mengeluarkan 2,5 - 15 persen anggaran kesehatannya untuk diabetes.

Kerugian ekonomi akibat diabetes di tingkat individu tidak kalah mencengangkan. Bila pada tahun pertama setelah didiagnosis pasien mengeluarkan biaya senilai Rp 18,3 juta setahun, pada tahun kedelapan biayanya meningkat menjadi Rp 49,1 juta.

Komponen biaya yang langsung dikeluarkan pasien diabetes untuk pengobatannya meliputi biaya dokter dan rumah sakit, biaya obat-obatan, biaya laboratorium dan pemantauan gula darah, serta biaya perawatan jangka panjang. Sementara biaya tidak langsung antara lain hilangnya produktivitas dan turunnya kualitas hidup.

Menurut Prof. Sri Hartini KS Kariadi, Sp.PD, biaya penanganan diabetes akan semakin mahal jika pasien sudah mengalami komplikasi akibat penyakitnya tidak bisa dikendalikan dengan baik. "Organ-organ tubuh yang bisa terkena komplikasi mulai dari mata, jantung, ginjal, hingga saraf," katanya dalam acara media edukasi yang diadakan oleh Roche di Jakarta beberapa waktu lalu.

Komplikasi kronis diabetes biasanya muncul setelah beberapa tahun didiagnosis diabetes, tetapi seringkali komplikasi dideteksi saat pasien pertama kali didiagnosis. Ini terjaid karena sebenarnya pasien sudah lama menderita diabetes tanpa gejala yang jelas sehingga komplikasinya tidak terpantau.

"Gula darah yang tinggi atau hiperglikemi akan cepat menimbulkan komplikasi kalau ada pendampingnya, misalnya kolesterol tinggi, usia lanjut, merokok, atau hipertensi," kata guru besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung ini.

Cek teratur

Perawatan utama diabetes sebagian besar tergantung pada diri diabetesi sendiri. Salah satu hal paling penting yang bisa dilakukan untuk mencapai kesehatan terbaik dan mencegah komplikasi adalah memonitor gula darah puasa dan gula darah dua jam setelah makan.

Banyak hal yang berpengaruh pada kadar gula darah, mulai dari kurang olahraga, pola makan, hingga emosi. Karena itu pemantauan lebih sering diperlukan agar diketahui apakah perawatan sudah mencapai sasaran. Selain itu pemantauan ini penting untuk mendeteksi kelainan.

"Kita tidak bisa hanya berpatokan pada pemeriksaan gula darah pada satu waktu tertentu, yang bagus adalah pemeriksaan sehari-hari," kata Sri Hartini.

Bila hasil pemeriksaan menunjukkan gula darah tiba-tiba melonjak atau justru terlalu rendah, Sri Hartini menyarankan untuk dievaluasi penyebabnya. Misalnya apakah lupa minum obat atau kebanyakan makan. "Dengan pemeriksaan teratur, pasien bisa mawas diri sehingga tercapai perubahan perilaku," imbuhnya.

Pemeriksaan darah secara mandiri bisa dilakukan oleh diabetesi sendiri tanpa perlu ke laboratorium. Biasanya sebelum makan atau dua jam setelah makan. Diperlukan alat khusus untuk ini yang sekarang banyak dijual bebas di apotik. Hasil pemeriksaan bisa diperoleh dalam beberapa detik.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh unit bisnis diabetes care PT.Roche Indonesia, pasien diabetes yang melakukan pememantauan gula darah mandiri secara rutin dan mencatat tren gula darahnya dalam log book catatan harian gula darah, hanya mengeluarkan biaya kurang lebih Rp.700.000 per tahun dengan asumsi melakukan tes 8 kali sebulan.

"Bandingkan dengan biaya cuci darah akibat komplikasi yang mencapai lebih dari Rp. 115 juta per tahun jika dilakukan seminggu sekali atau biaya kejadian serangan jantung pada tahun pertama sebesar Rp 59,8 juta," kata Magdalena Vandry, Business Head dari unit bisnis diabetes care PT.Roche Indonesia.

Pemeriksaan lain yang diperlukan adalah mengukur kadar HbA1C yang merupakan nilai rata-rata gula darah dalam tiga bulan terakhir. Nilai HbA1C yang dianggap baik adalah 6,5 persen - 7 persen.  Bila kadar gula darah sehari-hari lebih tinggi dari normal, maka hasil HbA1C akan tinggi.

"Nilai A1C ini sangat penting karena berkaitan dengan komplikasi. Bila terjadi penurunan nilai sampai 1 persen, maka risiko komplikasi diabetes pun berkurang," jelas Sri Hartini.
Sumber Berita : http://health.kompas.com/read/2012/08/27/12060656/Rutin.Memantau.Gula.Darah.Pangkal.Hemat

0 komentar:

Poskan Komentar