Selasa, 08 November 2011

Dari Sosialisasi Pancasila UUD 45 NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika

Simphoni Kebangsaan hampir selalu mengadakan pencerahan tentang kebangsaan dalam setiap momen tertentu. Seperti yang terjadi Senin (7/11) malam kemarin. Dimana di padepokan Simphoni Kebangsaan digelar sosialisasi Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Seperti apa ?

LAPORAN : M FATKHUROHMAN
Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia, sebenarnya menjadi perekat bangsa. Namun saat ini banyak sekali permasalahn yang muncul, karena banyak nilai-nilai Pancasila yang telah ditinggalkan. Hal itu muncul dalam sosialisasi yang disampaikan oleh Rektor UPS Tegal, Prof Dr H Tri Jaka Kartana MSi, dihadapan 100 orang peserta dari berbagai elemen lembaga partai maupun kemasyarakatan dan organisasi kepemudaan yang berasal dari tiga daerah, yakni Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes.
Selain Tri Jaka Kartana, ada juga pemateri lain yang tampil dalam sosialisasi empat pilar tersebut. Mereka yakni H Moh Marsinggih Marnadi dan Sukarjo Dulmadis.
Tri Jaka Kartana, dalam materinya yang bertema "Peningkatan Kadar Tunas Menuju Masyarakat Indonesia Sejahtera Adil dan Makmur", mengatakan, seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 45, dimana negara bertugas melindungi segenap bangsa, meningkatkan kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan hubungan internasional. Hal tersebut didasari dari nilai-nilai Pancasila. Karena Pancasila merupakan perekat bangsa.
Dia menjelaskan, permasalahan yang ada sekarang ini terutama karena komponen bangsa yang sedang berada dibawah, selalu dipinggirkan dan dikalahkan. Juga adanya krisis ketauladanan bagi masyarakat. Mestinya yang tua menjadi tauladan, tapi sekarang sulit. Hukum yang seharusnya sebagai panglima, sementara tidak berjalan maksimal. Adapula kesenjangan antara kaya dan miskin. Dana pembangunan tidak utuh menyentuh bagi kepentingan masyarakat. Berkembangnya budaya hedonis, daya saing lemah, adanya pergeseran budaya atau karakter, dan penghargaan prestasi anak bangsa yang diabaikan. Kondisi inilah yang menyebabkan bangsa ini terpuruk.
“Kalau Indonesia melaksanakan Pancasila dengan baik dan benar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Indonesia akan semakin maju dan sangat ditakuti bangsa lain,” katanya.
Dia juga banyak menyampaikan tentang ketahanan nasional, tentang bagaimana mejaganya, mewujudkannya, dan lainnya.
Ketua Panitia, Fatkhurohman Pao, mengatakan, peserta dalam sosialisasi ini berasal dari tiga daerah yakni Kabupaten Tegal, Kota Tegal, dan Kabupaten Brebes. Dijelaskan dia, adanya sosialisasi empat pilar ini sangat penting, karena menjadi kewajiban semua warga Negara Indonesia untuk mempertahankan dan menjaga nilai-nilainya.
"Indonesia didirikan dan dibangun dari sebuah dasar yakni Pancasila. Namun, sampai saat ini nilai-nilai Pancasila belum diwujudkan secara sungguh-sungguh. Membicarakan saja, telah malas. Ini menunjukkan jika Pancasila telah disingkirkan,” katanya.
“Semoga dengan sosialisasi ini, dapat dijadikan langkah untuk mengingatkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tambahnya.
Sosialisasi digelar di padepokan Simphoni Kebangsaan di jalan Ketilang Slawi Kulon Slawi, Senin (7/11) malam kemarin. Kegiatan semacam ini sudah seringkali digelar organisasi Simphoni Kebangsaan, yang digawangi H Marsinggih Marnadi tersebut. Terutama setiap kali hari-hari besar nasional, seperti kali ini yang digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November. Tema pencerahan kebangsaan pun selalu dipilih untuk diangkat dan dikupas dalam setiap momen yang digelar Simphoni Kebangsaan. Sehingga diharapkan, nilai-nilai kebangsaan dapat selalu terpupuk dalam setiap hati komponen bangsa, tanpa terkecuali. (*)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

0 komentar:

Posting Komentar