Jumat, 23 September 2011

Potret Buram Pengrajin Kerupuk Adiwerna

HAMPARAN kerupuk mie menjadi pemandangan bagi yang melintas di Desa Harjosari Lor, Kecamatan Adiwerna. Home industri perajin kerupuk hampir menjadi sandaran hidup warga disana. Bagaimana nasibnya?

LAPORAN: HERMAS PURWADI
USAHA turun temurun itu seiring perjalanan waktu masih menyisakan kepedihan bagi pelaku usaha, lantaran tak adanya uluran tangan dari pemkab untuk membantu permodalan. Permasalahan baru kini terus menjadi sandungan pengrajin makanan pendamping lauk tersebut.
Satu dari pengrajin kerupuk di Desa Harjosari Lor khususnya di RT 23/RW 06 itu adalah Dikin (35). Dia yang meneruskan usaha turunan dari orang tuanya itu kini masih mempekerjakan 40 hingga 50 orang dengan sistem borongan dan harian. Dengan pola upah tenaga harian Rp 25.000 sehari dan borongan Rp 85 per lengser dia mengaku saat ini keuntungan yang didapat masih belum nornal, kadang naik kadang juga turun drastis. "Kami pernah mengajukan bantuan permodalan dan sampai sekarang belum ada jawaban pasti. Bantuan permodalan itu sempat kami layangkan ke Dinas Koperasi, hingga ke bank milik pemerintah. Namun prososal itu hanya ditumpuk tanpa ada realisasi kapan akan dicairkan," cetusnya. Terkendalanya modal ini membuat dia juga belum berani memproduksi kerupuk mie dalam skala besar.
Maklum harga bahan dasar berupa tepung tapioka hingga kini juga belum stabil. Pria yang mengaku sudah menggeluti usaha kerupuk selama 15 tahun itu juga kecewa dengan Dinas Kesehatan lantaran hingga kini belum memberikan solusi yang tepat untuk penggunaan bahan pewarna kerupuk. "Jujur saja hingga kini kami dan bahkan sebagian besar perajin masih cenderung menggunakan bahan pewarna yang digunakan untuk pakaian. Untuk membeli bahan pewarna khusus makanan kami tidak sanggup karena harganya terlampau mahal, sehingga akan mempengaruhi harga jual kerupuk dipasaran yang juga akan tinggi," cetusnya.
Dia sebelumnya sempat menunggu respon dari Dinkes terkait penyediaan bahan pewarna makanan yang murah dan sehat untuk mendukung industrinya. Namun rupanya usulan itu ditelan angin lalu saja, dan belum ada respon positif dari Dinkes maupun instansi yang berwenang lainnya.
Meski bukan rahasia umum lagi, penggunaan bahan pewarna pakaian tidak mengurangi animo konsumen untuk tetap berburu makanan pendamping lauk tersebut. Hal ini diakuinya selama sehari dia mampu menghasilkan 1 ton kerupuk mie mentah, dan bila buruh yang datang hanya separonya saja dia masih bisa memproduksi 5 hingga 6 kuintal kerupuk mie mentah. "Ekspor terbesar hingga kini masih tertuju di wilayah Bandung dan Jakarta. Kami juga sempat memasok kerupuk mie ke negara sakura Jepang. Untuk pemesanan kesana kami memang harus menggunakan pewarna khsusus makanan, karena daya jualnya tinggi dan mutu produk menjadi taruhannya," cetusnya. (*)    
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/

0 komentar:

Posting Komentar