Rabu, 19 September 2012

24 Jam Menuju DKI 1

Sebelumnya tidak ada yang menduga dan menyangka kemenangan pasangan calon gubernur DKI Jokowi-Ahok pada putaran pertama Pilgub DKI 2012 cukup fenomenal. Pasangan ini meraih 42% suara, jauh meninggalkan 5 pasangan calon lain. Bahkan pasangan calon Incumbent Foke-Nara yang menduduki urutan ke 2 dalam perolehan suara terpaut 10%, dengan perolehan suara sebanyak 32%. Akhirnya putaran ke dua harus dijalankan karena belum ada yang mencapai kemenangan mutlak dengan perolehan suara minimal 51%.
Bagaimana dengan putaran ke dua?
Tidak lebih dari 24 jam lagi, diiringi turunya hujan perdana membasahai kota ini setelah musim kemarau yang sedikit agak panjang, warga DKI akan menentukan pilihan gubernurnya untuk memimpin DKI periode 2012-2017. Siapakah yang akan dipilih oleh warga DKI? Apakah yang lama akan mendapatkan kesempatan dua kali? Atau yang baru akan mendapatkan kesempatan perdana?
Bila kita flash back perjalanan kedua pasangan calon sejak putaran pertama hingga menjelang putaran ke dua besok, ke dua pasangan calon yang lolos ke putaran ke dua ini telah melakukan segala macam upaya untuk meraih kursi no 1 dan paling panas di Ibu kota ini. Mulai dari cara-cara yang konvensional hingga dengan cara-cara yang sangat kreatif dan inovatif. Mulai dari cara yang ideal hingga mungkin juga dengan cara yang curang bahkan melanggar hukum. Mulai dari cara-cara yang memang menarik simpati hingga dengan cara-cara yang sarat dengan intimidasi.
Lalu kira-kira siapa yang akan mencapai puncak piramid Kota ini? Atau mungkin pertanyaan yang lebih terurai adalah siapa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh DKI?. Pemimpin yang bagaimana yang sanggup membenahi kota yang semrawut ini?. Gubernur seperti apa yang mampu meredam ‘kekejaman’ Ibukota ini yang katanya lebih kejam dari ibu tiri.
Jakarta 25 tahun terakhir
Penulis bukanlah tim sukses, apalagi bagian dari salah satu calon tertentu. Penulis hanya seorang warga DKI yang sudah 25 tahun berdomisili dan berjibaku di Ibukota yang berantakan ini. Sejauh pengamatan penulis, sejak tahun 87 hingga sekarang kota ini berkembang sangat pesat tanpa kendali. Pembangunan seakan-akan saling berkejar-kejaran.
Kota ini bagai hutan beton, pori-pori tanahnya ditutup dengan pengerasan material kasar secara sporadis, hingga tidak ada lagi permukaan tanah yang dapat menyerap air, inilah penyebab utama banjir. Nyaris seluruh permukaan Kota ini tidak bisa lagi dirambati oleh akar tanaman. Sehingga air tidak lagi melintasi siklusnya.
Ruang terbuka hijau atau taman kota habis dijadikan bangunan pusat perbelanjaan. Tidak ada lagi taman-taman tempat yang nyaman untuk anak-anak bermain, tidak ada lagi udara segar yang dapat kita hirup saat bangun pagi. Pusat-pusat perbelanjaan, apartemen, gedung perkantoran, dan perumahan yg tidak memenuhi standart amdal, semuanya bertumbuh seperti jamur. Belum lagi permukiman liar yang tumbuh menjadi pemukiman kumuh.
Kota Jakarta ini tidak lagi manusiawi. Tidak ada lagi pedestrian yang nyaman untuk pejalan kaki, tidak ada kemudahan akses fasilitas umum untuk penyandang cacat. Tidak ada lagi ruang yang nyaman untuk sekedar bercengkrama di ruang terbuka. Tidak ada lagi masyarakat yg peduli terhadap lingkungan di sekitarnya.
Kesemrawutan atau kesalahan pengelolaan membuat kota ini menjadi tidak teratur. Kemacetan tak terurai akibat pesatnya perkembangan kepemilikan kendaraan, jauh lebih cepat akselerasinya dibandingkan perkembangan fisik ruas jalan. Hingga volume kendaraan tidak dapat lagi ditanggung oleh volume jalan yang memang sangat terbatas.
Nampaknya semua gubernur yang pernah memimpin Kota ini hanya berorientasi kepada pengembangan secara fisik semata. Tidak ada pemimpin yang menata kota ini secara software, hingga membuat sistem yang sesungguhnya sebagai regulasi pengendalian pembangunan kota ini. Yang dikembangkan hanya fisiknya saja yang semakin berlapis-lapis bahkan menjulang tinggi menuju kaki langit.
Perilaku masyarakatnya pun berubah semakin oportunis, hubungan tatanan sosialnya berangsur surut atau mengalami proses degradasi. Dekadensi moralpun terasa seiring dengan semakin tingginya tingkat stressing kota ini. Polusi udara yang menebal, panas yang menyengat, air bersih yang sulit didapat, pengangguran yang semakin tinggi, urabanisasi yang juga tidak terkendali, hingga membuat kota gila ini semakin men’gila’politan (pelsetan megapolitan).
Mr. J or Mr. F?
Lalu siapakah yang lebih pantas mengelola Kota ini? Apakah masih kita serahkan kepada yang pengalaman mengelola kota Jakarta ini namun misorientasi? Atau kepada yang sesunggunya juga sudah pengalaman di kota lain dan berhasil mengelola kota tersebut menjadi kota idaman para turis lokal dan mancanegara?
Apakah persoalan kota ini dapat diatasi dengan emosional dan temperamen? Atau sesungguhnya kota keras ini harus dihadapi dengan kelembutan? Ya tentunya dengan kebijakan yang tegas. Sebab kota ini nampaknya harus dipimpin oleh seorang yang cerdas dan dapat menata kota ini dengan konsep yang manusiawi dan dengan cara yang humanis.
Jika kita lihat dari parameter perilaku saja, nampaknya kedua pasangan calon ini sangat bertolak belakang. Yang satu ramah dan santun yang satu malah suka marah-marah dan tendensius. Heheheh
Jika kita lihat dari prestasi memimpin? mmmm…Memang Solo adalah kota yang tidak besar dan cenderung homogen, penduduknya pun tidak lebih dari 1 juta. Mungkin tidak sulit bagi seorang Jokowi untuk membuat kota Solo menjadi kota yang arif dan lohjinawi. Bagaimana dengan Jakarta yang heterogen dan berpenduduk 9 Jt jiwa dengan segalam macam persoalan?
Lalu bagaimana dengan prestasi Foke selama memimpin Jakarta? Gubernur yang sudah memimpin DKI selama satu periode dan sebelumnya menjadi wakil Sutioso ternyata tidak berhasil membenahi dan menata kota ini menjadi baik. Padahal menurut pengakuan beliau katanya ahli di bidang ini (baca:penataan tata kota). Lagi-lagi karena berorientasi pada pembangunan fisik. Karena setiap proyek pembangunan fisik, seorang gubernur akan mendapatkan ‘fee’ atas peresetujuanya memberikan ijin pembangunan fisik di kota ini. Wow, apakah karena uang milayaran yang di depan mata mengucur begitu saja hingga Foke sulit merelakan lepasnya Jabatan DKI-1 tersebut? Hingga harus ngotot ingin mengalahkan Jokowi di putaran ke dua besok?
Jurus pamungkas apa yang akan dilakukan oleh Foke untuk mengungguli perolehan suara Jokowi yang unggul 10% dengan perolehan suara yang dia capai? Sanggupkah Foke melawan Jokowi yang diback-up oleh relawan-relawan yang loyal mencitrakan Jokowi. Maaf mungkin bukan mencitrakan tetapi melanjutkan profile yang sesungguhnya sudah tercitrakan baik.
Percayakah anda kalau Jokowi tidak pernah korupsi? bahkan tidak menerima gajinya sebagai upah lelahnya memimpin kota Solo?. Jika itu benar, mungkin baru Jokowi satu-satunya tokoh pemimpin di negeri ini yang sama sekali tidak pernah korup. Penulis sangat yakin akan hal ini, hingga membuat penulis penasaran ingin jalan-jalan ke kota Solo sekedar menghilangkan kepenatan selama bekerja di Kota Jakarta yang memang kejam ini.
Belum pernah penulis mendapatkan broadcast bbm yang mencitrakan Foke itu baik. Sebaliknya segudang postingan, twit, status FB, hingga tulisan yang termuat di dunia maya kebanyakan mencitrakan Jokowi adalah orang baik. Hebatnya lagi rating ‘JOKOWI’ di mbah google mencapai19.700.000. Sedangkan Foke hanya mencapai 12.500.000. Ini bukti bahwa ternyata Jokowi tidak saja menjadi harapan warga Jakarta. tetapi sudah menjadi harapan masyarakat bangsa ini. Bahkan warga Solo tidak boleh lagi possesive dengan Jokowi. Karena Jokowi sudah menjadi ‘milik’ bangsa ini.
Singkatnya, masihkah kita akan memilih orang sudah GAGAL?
Tidakkah kita penasaran akan hasil sukses yang diraih oleh Jokowi di kota SOLO? 
Sumber Berita :  http://politik.kompasiana.com/2012/09/19/24-jam-menuju-dki-1/

0 komentar:

Poskan Komentar