Jumat, 17 Agustus 2012

Keroyok Gempur Jokowiahok

TRIBUNNEWS.COM - Dari judul tersebut muncul kesan bahwa judul ini bukan saja bernada bombastis, sekaligus tertangkap kesan cukup kuat menyiratkan pernyataan perang melawan Jokowi – Ahok. Dalam bahasa komunikasi politik, judul tersebut bisa dimaknai pula sebagai bentuk perlawanan terhadap ABJA (Asal Bukan Jokowi-Ahok). Setidaknya ini bentuk pertarungan politik yang diberlakukan koalisi kubu partai politik pendukung pasangan Foke-Nara untuk mengalahkan Jokowi-Ahok, di Pilkada 2012 putaran kedua nanti.
Dalam tulisan ini saya tidak ingin mengomentari panjang lebar soal penyajian di balik pemberitaan atas judul berita yang super bombastis tersebut. Termasuk bagaimana berandai-andai mengulas mekanisme mesin politik parpol kubu pendukung Foke-Nara melakukan mobilisasi mesin-mesin politiknya untuk memenangkan pertarungan di putaran kedua.
Atau sebaliknya, saya tidak ingin mengulas bagaimana seharusnya antisipasi dan strategi politik Jokowi – Ahok menghadapi gempuran pengeroyok. Karena pembaca pasti sudah punya analisis masing-masing apa yang tersurat dan tersirat di balik semua kandungan pemberitaan itu.
Begitu sekelebatan menyimak judul berita yang super bombastis ini di media, cukup dengan membaca headline saja, saya pun secara refleks langsung teringat ucapan Faisal Basri dari calon Independen yang memperoleh dukungan 4,98 persen pada putaran pertama. Dengan penuh sportivitas Faisal Basri mengomentari kekalahannya dengan mengatakan bahwa ia tidak akan melakukan transaksi politik dagang sapi alias menjual suaranya dan pendukungnya kepada salah satu kandidat pada putaran kedua.
Di sini Faisal Basri ingin memperlihatkan jiwa kesatria dan sikap legowo atas kekalahannya pada putaran pertama, dan tereleminasi dalam putaran kedua Pilkada DKI 2012. Sikap ini kemudian ia nyatakan pula dengan tidak akan melakukan transaksi politik dagang sapi dengan menjual suaranya dan pendukungnya kepada salah satu kandidat pada putaran kedua hanya semata-mata kepentingan politik sesaat atau kepentingan pragmatis.
Sebagai orang yang punya sikap legowo atas kekalahannya di putaran pertama, Faisal Basri pun tidak mau menjual suaranya atau mengintervensi ataupun memobilisasi para pendukungnya digiring seperti bebek untuk memilih salah satu kandidat di putaran kedua. Sikap Faisal Basri ini menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak mau menghianati keluhuran dan komitmen integritas politiknya digadaikan demi kepentingan politik sesaat atau kepentingan pragmatis.
Dari ilustrasi ini dikaitkan dengan judul di atas, jelas sekali bahwa bergabungnya dua parpol besar Partai Golkar dan PKS berkoalisi mendukung Foke-Nara untuk mengalahkan Jokowi-Ahok mengindikasikan lebih mengarah pada kepentingan politik sesaat atau kepentingan pragmatis, entah itu kepentingan ideologis semata, atau kuasa dan harta. Mau apa lagi, mengingat kandidat jagoannya yang dijagokan sudah tereleminasi di putaran pertama.
Itulah politik. Tak ada kawan atau lawan sejati, yang ada hanyalah mengejar kepentingan sesaat atau kepentingan pragmatis, walau itu harus dilakukan lewat cara-cara politik dagang sapi dengan menggadaikan keluhuran integritas politiknya.
Itulah yang saya tangkap dari judul artikel ini yang jadi ragam pemberitaan seputar gabungnya dua parpol besar berkoalisi mendukung pasangan Foke-Nara, mengeroyok, menggempur Jokowi-Ahok.
Tapi saya tetap yakin bahwa dalam kehidupan demokrasi yang sehat, tampuk kekuasaan itu berada di tangan rakyat. Sebagaimana pada penyelenggaraan Pilkada DKI 2012, rakyat sudah cerdas, tidak gampang lagi dibodohi, dibohongi, dimanipulasi, diprovokasi pikiran-pikirannya atau dimobilisasi digiring kayak bebek. Dalam memilih rakyat kini sudah mengenal betul siapa calon pemimpinnya yang diyakini bisa membawa perubahan dan memberi harapan baru. Rakyat bukanlah manusia robot politik yang hanya dimanfaatkan untuk keberlangsungan mesin-mesin politik penyanggah kepentingan pragmatis partai politik. Yang pasti, otoritas untuk menentukan pilihan Foke-Nara atau Jokowi-Ahok bukan berada di tangan partai politik, melainkan otoritas itu ada di tangan rakyat. Setidaknya inilah yang saya mengerti!  
Alex Palit, citizen jurnalis, pendiri Forum Apresiasi Musik Indonesia (Formasi)
 Sumber Berita : http://www.tribunnews.com/2012/08/18/keroyok-gempur-jokowiahok

0 komentar:

Poskan Komentar