Minggu, 05 Juni 2011

Letusan Freatik Dieng Masih Terjadi

BANJARNEGARA- Letusan freatik Gunung Dieng, terutama di Kawah Timbang, hingga kemarin masih terjadi.
Letusan Gunung Dieng tidak sama dengan gunung-gunung lainnya karena karakteristiknya yang unik. Letusan freatik atau hidrovulkanik adalah letusan yang terjadi oleh adanya tekanan gas.
Hal itu dijelaskan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, ketika menerima Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan di Dusun Simbar, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, kemarin.
”Erupsi (letusan) Gunung Dieng ini ditandai dengan luapan lumpur ke bibir kawah, yang diikuti adanya uap air, asap solfatara, ataupun semburan gas beracun dari Kawah Timbang,” jelas Surono.
Erupsi mengakibatkan arah luncuran gas CO2 atau karbondioksida semakin melebar ke selatan atau ke lembah Kali Sat. Pergerakan gas berbahaya ini cenderung berat dan lamban, mengikuti lembah.
Radius aman hingga kemarin belum ada perubahan, yakni masih satu kilometer dari Kawah Timbang. Surono telah merekomendasikan agar dua dusun, yakni Simbar dan Serang, dikosongkan dari penduduk.
Dia menambahkan, ancaman gas beracun ini sangat membahayakan keselamatan karena tidak berwana, tidak terlihat, dan tidak berbau.
Sementara itu, Ketua Tim Tanggap Darurat, Umar Rosadi, mengatakan, konsentrasi gas CO2, Minggu (5/6) kemarin, tercatat 1,54 persen volume. Angka ini meningkat dari hari sebelumnya yang hanya 1,18 persen volume. Dengan konsentrasi CO2 sebesar itu, penduduk di kawasan rawan bencana masih harus dievakuasi.
Meski aktivitas kegempaan saat ini menurun, Rosadi tetap meminta masyarakat, terutama di dua dusun, tetap waspada.
Penurunan aktivitas kegempaan ini bukan sertamerta menjadi indikator penurunan status. Bisa saja Gunung Dieng sedang menghimpun kekuatan untuk erupsi yang lebih besar.
Mengungsi
Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua DPR RI Taufik Kurniawan meminta masyarakat dua dusun yang ada dalam radius satu kilometer untuk sadar diri mengungsi sampai situasinya benar-benar aman.
”Dari penjelasan ahlinya, kita ini sedang menghadapi musuh yang berbahaya karena tidak terlihat dan tidak berbau. Semestinya ini menjadi kesadaran bersama sehingga petugas tidak perlu memaksa warga untuk mengungsi,” ujar dia.
Mengenai kekurangan alat pencatat gempa di dataran tinggi Dieng yang disampailam PVMBG, Taufik mengatakan, hal itu akan diusulkannya ke kementerian terkait.
Menurutnya, idealnya satu kawah harus ada satu alat seismograf. Masyarakat pun bisa lebih tenang karena sumber gempa nantinya akan terpantau jelas.
Namun kondisi saat ini, dari enam kawah yang ada di dataran tinggi Dieng, baru separuhnya saja yang memiliki seismograf. Untuk itu, Taufik berjanji memperjuangkan agar kekurangan seismograf itu segera dilengkapi.
Kemarin malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memasang lampu bertegangan tinggi di Dusun Simbar, Desa Sumberejo, yang paling dekat dengan Kawah Timbang.
Lampu itu menyorot ke arah kawah. Jumlahnya empat buah. Dua lampu sebagai penerang dan dua lainnya sebagai pendeteksi asap atau gas yang keluar dari Kawah Timbang.
Koordinator lapangan penanggulangan bencana Kawah Timbang Aris Sudaryanto mengatakan, dengan adanya lampu itu, pemantauan zona wilayah Kawah Timbang dalam radius satu kilometer pada malam hari bisa dilakukan secara maksimal.
Tidak Terganggu
Terjadinya gempa dan bencana semburan gas beracun di sekitar Pegunungan Dieng tidak berpengaruh terhadap pasokan listrik yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) yang ada pegunungan tersebut.
Energi panas bumi yang dikelola PT Geo Dipa Energi itu, pembangkitnya memang berada di kawasan Pegunungan Dieng. Namun jarak terdekat pembangkit dari lokasi bencana mencapai 14 km sehingga masuk dalam kategori wilayah aman.
Kepala Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Teguh Dwi Paryono, menyatakan, karena pembangkit berjarak sekitar 14 km dari Kawah Timbang, operasionalnya berjalan normal dan pasokan listrik tidak terganggu.
”Kecil kemungkinan bencana terjadi di sekitar titik pengeboran panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik itu,” terang Teguh.
Dijelaskan, total potensi energi di lapangan panas bumi Pegunungan Dieng diperkirakan mencapai 300 megawatt (MW). Namun hingga kini baru satu pembangkit yang telah dioperasikan oleh PT Geo Dipa Energi dengan kapasitas 60 MW. Pasokan listrik dari Dieng telah terintegrasi atau disalurkan ke sistem jaringan interkoneksi Jawa Madura Bali.
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 6 Juni 2011

0 komentar:

Poskan Komentar