Senin, 14 Mei 2012

Menteri Dewan dan Pemkab Saling Sentil

SLAWI – Kegiatan Ndopok (diskusi, red) bareng yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan Rakyat Tegal Moci Bareng (RTMB), Sabtu (12/5) di halaman Pemkab Tegal yang dihadiri menteri pertanian, DPRD serta Muspida Kabupaten Tegal menjadi ajang saling sentil satu sama lainnya dihadapan puluhan ribu rakyatnya.
Ndopok sambil moci bareng dalam perayaan hari jadi Kabupaten Tegal ke 411 di moderatori oleh Marco Marnadi, Seniman Asal Tegal yang menjadi ketua Dewan Kesenian Semarang (DKS) dibawakannya secara semrawut. Karena, setiap pejabat dan seniman yang terlibat bicara saling menyentil dan sarat dengan nuansa politis. Sementara panitia menganggap kegiatan Ndopok tersebut tidak sesuai dengan rencana panitia karena dirasakan ada sabotase.
Dalam Ndopok yang diawali dari Ir Suswono, selaku menteri pertanian mengaku bangga karena menjadi warga Tegal.  "Saya itu asli Kalisapu (salah satu desa di Tegal)," ucap Suswono dihadapan ribuan massa di halaman kantor Pemkab Tegal, kemarin malam.
Jadi dirinya juga bisa disebut Putra Kalisapu.  "Kalau disingkat apa Putra Kalisapu?," tanyanya pada masyarakat. Sontak warga menjawab PKS. Diketahui, Suswono merupakan kader Partai Keadilan Sejahtera atau biasa disingkat PKS.
Baik Ki Enthus, Rojikin atau masyarakat lain menyeletuk kalau itu sama saja kampanye. Seakan tidak mempedulikan itu, Suswono dengan bahasa Tegal melanjutkan, dirinya juga merupakan salah satu putra tokoh kiai di Kelurahan Kalisapu yakni Kiai Syafii.  "Saya juga bisa disebut Putra Kiai Syafii atau apa?," seru Suswono kembali memancing massa untuk menjawab singkatan itu.
Kendati demikian, dirinya bangga karena tetap bisa memberikan yang terbaik saat menjadi menteri selama ini. Kabupaten Tegal sebagai tanah kelahirannya tidak pernah dilupakannya. Salah satunya dengan memberikan bantuan yang lebih baik dari daerah lain. Seperti bantuan modal pertanian kepada 287 desa di Tegal. Yang masing-masing desa menerima sekitar Rp 100 juta.  "Kalau di daerah lain, tidak semua desa dengan daerah pertanian, menerima bantuan sebanyak di Tegal," pamernya di hadapan rekan berdiskusinya.
Suswono juga meminta agar pemerintah daerah atau DPRD setempat agar mengikuti jejaknya memperhatikan rakyat Tegal.  "Apa susahnya memperhatikan rakyat. DPRD atau pemerintah, jangan enak-enakan di posisinya tanpa peduli rakyat," ucapnya memanas.
Pernyataan Suswono tersebut di sentil oleh dalang Ki Enthus Sumono yang langsung mengkritiknya. Selama ini, Suswono masih belum maksimal memberikan bantuan sebagai Menteri Pertanian RI.  "Kalau beri bantuan ya jangan tanggung-tanggung. Serta tidak usah dipamerkan," kata Ki Enthus sambil mencuri pandang ke Suswono.
Sementara ketua DPRD Rojikin merasa kalau acara ini sudah tidak beraturan karena hadirnya ki enthus yang selalu nyeleneh. Padahal seharusnya dalam ndopok tersebut tidak perlu ada poyok-poyokan (saling menghujat).  “ini acara semrawut, gara-gara ki enthus yang tidak beraturan bicaranya,” katanya menyindir.
Ia mengatakan, bahwa jadi anggota DPR itu tidak enak. Kalau ada masalah selalu jadi sasaran. Pantas saja kalau Suswono lebih pilih menjadi menteri daripada menjadi anggota DPR, sambung Rojikin.  "Pak Suswono dulu kan pernah jadi DPR RI tapi selanjutnya jadi menteri."
Sementara salah satu panitia RTMB, Tony SR yang pada saat itu menjadi pembawa acara mengatakan, bahwa kegiatan RTMB yang didalamnya ada acara ndopok dengan tema Balik Desa Gotong Royong Mbangun Kabupaten Tegal tersebut sudah diluar dari kendali panitia.
Pihaknya yang sedianya menjadi moderator bersama Teguh Eros mengatakan, bahwa kehadiran Marco Marnadi sebagai moderator tersebut atas keinginan pemkab yang tidak mengetahui alur yang akan dibicarakan pada ndopok tersebut. Dimana sedianya narasumber pada ndopok tersebut, yakni Ki Slamet Gundono, Hadi Utomo dan semua pejabat yang hadir dengan isu yang sudah di sediakan oleh panitia. Namun Ki Slamet Gundono tidak naik keatas panggung.  “Kang Slamet Gundono adalah narasumber kunci yang mewakili ruh SLKT. Tapi Saya melihat kang Slamet Gundono 'terusir' dari tempat duduknya dan merasa tidak dimanusiakan oleh protokoler pemda. Disusul kemudian moderator diganti paksa oleh oknum penguasa. Karena tidak ada titik temu, maka kami (SLKT) memutuskan untuk menarik diri dari acara selanjutnya, karena aroma 'sabotase' sudah menyesakkan dada,” kata Tony.
Ia menjelaskan, selain para narsumber yang ada, rencananya dalam ndopok tersebut ada beberapa pertanyaan yang dimunculkan dari warga, namun keadaan menjadi lain. Pantas jika kemudian terlihat semrawut dan saling sentil. (fat)
Sumber Berita : http://www.radartegal.com/index.php/Menteri-Dewan-dan-Pemkab-Saling-Sentil.html

0 komentar:

Poskan Komentar