Selasa, 15 Mei 2012

Telaga Ranjeng

Kali ini masih bercerita tentang potensi-potensi yang ada di wilayah Brebes. Pada cerita terdahulu, saya telah menceritakan sedikit tentang perkebunan teh Kaligua. Area perkebunan yang juga menjadi objek wisata tersebut, memiliki beberapa wahana dan penunjang yang menambah keindahan perkebunan teh Kaligua, yaitu sebuah telaga yang bernama Telaga Ranjeng.
Telaga ini memiliki cerita mistis yang sangat dipercaya oleh masyarakat sekitar. Ada suatu hal yang langka dari telaga ini, yaitu bahwa telaga ini dihuni oleh ribuan ikan lele. Ya, telaga ini bukanlah tempat penakaran lele ataupun sebuah kolam yang sengaja dibuat untuk peternakan ikan lele yang seperti Bli Budi sedang lakukan di sana. Tapi ikan-ikan lele di telaga ini, berkembang biak begitu saja tanpa ada perawatan spesial.
Mistis yang berkembang adalah, bahwa barang siapa yang berani mengambil ikan lele tersebut untuk dibawa pulang, maka bagi yang mengambil tersebut akan mendapatkan suatu musibah.
Telaga Ranjeng, berlokasi di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan. Di Kecamatan Paguyangan, ada tiga objek wisata yang bagus, yakni agrowisata di Desa Pandansari dengan Telaga Ranjeng, pemandian air panas di Cipanas, Desa Kedungoleng, dan Waduk Penjalin di Patuguran, Desa Winduaji. Juga ada satu objek wisata baru yang belum dikenal tapi potensinya sangat bagus, yakni air terjun Wadasplasa.
Telaga Ranjeng yang dibangun tahun 1924, berada di bawah kaki Gunung Slamet dan merupakan bagian dari kawasan cagar alam milik Perhutani Pekalongan Timur. Cagar alam tersebut memiliki luas empat puluh delapan setengah hektar terdiri dari hutan damar dan pinus yang mengelilingi telaga, yang sebelumnya merupakan tempat mandi para tokoh kerajaan di Jawa.
Daya tarik dari Telaga Ranjeng adalah udara pegunungan yang sejuk, hutan lindung, cagar alam, serta terdapat beribu-ribu ikan lele yang jinak dan dianggap keramat, yang dianggap sebagai penghuni telaga.
Konon ikan lele penunggu Telaga Ranjeng yang memiliki kedalaman tiga meter, hanya bisa diajak bermain -main dan tidak diperkenan kan diambil meski hanya satu ekor.
Penunggu telaga menceritakan pernah ada seorang wisatawan yang mencoba mengambilnya namun sampai di rumah orang tersebut kemudian sakit-sakitan baru sembuh setelah mengembalikan ikan lele ke Telaga Ranjeng.
Benar atau tidaknya cerita tersebut, yang pasti bisa membuat telaga Ranjeng dan ikan-ikan lele tersebut tetap terjaga kelestariannya, tanpa mengalami gangguan keseimbangan oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Telaga Ranjeng merupakan aset wisata yang memiliki daya tarik tersendiri namun sayang pemerintah setempat terkesan kurang memperhatikan tempat tersebut.
Sumber Berita : http://mabrurisirampog.wordpress.com/2011/07/18/telaga-ranjeng/

0 komentar:

Poskan Komentar