Jumat, 03 Juni 2011

Dari Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945

Ideologi NII Sangat Berbeda Dengan Idelogi NKRIPemkab Tegal bersama organisasi Simphoni Kebangsaan, menggelar peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni 1945,  dengan tema menyinarkan kembali sang bintang penuntun menerangi rumah idaman. Lalu ?
LAPORAN : FATKHUROHMAN
MALAM itu, Selasa (1/6) rumah dinas Bupati Tegal dipadati ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Tegal. Walaupun hujan mengguyur Slawi, mereka tetap bersemangat menghadiri dan mendengarkan ceramah-ceramah Pancasila dan hiburan yang disediakan oleh panitia.
Selain masyarakat, hadir dalam kesempatan itu Muspida Kabupaten Tegal dan Sekjen PBNU DR Marsudi Syuhud sebagai penceramah yang sengaja diundang.
Pada acara tersebut, muncul pernyataan bahwa gerakan terorisme dan radikal Negara Islam Indonesia (NII) yang merebak di Indonesia, mengindikasikan lemahnya pemahaman Pancasila. Sehingga di hari kelahiran Pancasila 1 Juni, hal itu menjadi catatan khusus yang harus dibenahi.
Simphoni Kebangsaan Kabupaten Tegal selaku salah satu organisisasi pencerah Pancasila yang berdiri sejak tahun 2006, menegaskan catatan khusus tersebut saat memperingati Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni 1945. "Munculnya NII dan berbagai macam gerakan radikal belakangan ini, adalah pertanda tidak adanya pemahaman dasar negara atau kian lemahnya pemahaman akan Pancasila," tandas pendiri Simphoni Kebangsaan Kabupaten Tegal, Marsinggih Marnadi yang berapi-api saat memberikan ceramahnya.
Dia melanjutkan, ironisnya, kondisi tersebut terjadi dikalangan generasi muda yang nantinya menjadi penerus bangsa. Pancasila seolah menjadi bahan yang basi bahkan kecederungannya kian dilupakan.
Bukan tanpa sebab penyataan Marsinggih tersebut, karena realita dilapangan bahwa Pancasila sekarang tidak lagi dihapalkan. Jadi mana mungkin bisa terpahami nilainya jika tidak hapal bunyi Pancasila.
Dia menjelaskan dampaknya, oknum radikal memanfaatkan situasi dengan menanamkan ideologi sesat seperti yang terjadi belakangan. Ideologi Pancasila yang harusnya menjadi ideologi bagi setiap warga negara, justru dimasuki ideologi sesat.
"Ideologi NII itu sangat berbeda dengan idelogi NKRI," jelasnya.
Menurutnya, NII bertekad mengganti ideologi Pancasila dengan ideologinya. Jika ini dibiarkan, maka dipastikan akan muncul gerakan radikal berikutnya. Supaya NII dan gerakan serupa tidak tumbuh subur, maka masyarakat, aparat, dan jajaran pemerintah harus bersatu memberantas NII. "Termasuk juga kembali mengamalkan Pancasila," katanya.
Selain itu pula, hal yang perlu diantisipasi selanjutnya adalah gelombang yang berpotensi menghancurkan ideologi Pancasila, yakni berkembangnya investor atau penanam modal asing di Indonesia. Lantaran warga asing biasanya membawa gaya kehidupan, misi, dan tujuan tertentu selain berbisnis.
Sementara itu, Bupati Tegal Agus Riyanto, dalam sambutannya menjelaskan betapa sulitnya mendalami arti Pancasila jika kita tidak menyelaminya dan mengalami kelahirannya secara langsung. Sebab, sejarah kelahiran Pancasila menjadi salah satu momen penting hingga bisa menyatukan rakyat saat itu.
"Bagaimana cara pemahaman Pancasila dimasa sekarang ? Itu yang harus kita gali," ungkap Agus.
Namun, lanjut Agus, perlu disadari bahwa Pancasila menjadi amat penting sebagai pemersatu karena Indonesia mempunyai beragam kearifan dan juga perbedaan antar warganya di setiap pulau.
Dicontohkannya, warga Sumatera yang biasanya mirip orang Taiwan, orang Jawa yang berpostur tidak terlalu tinggi, orang Papua yang mempunyai kulit agak gelap dan lainnya. Maka keberadaan Pancasila menjadi sesuatu yang penting. Dan itu ternyata mampu disatukan dengan ikatan Pancasila.
"Terbukti dengan Pancasila, semua perbedaan menjadi satu. Berbeda memang iya, tapi bersatu lebih utama,” ujarnya.
Dia berharap, Pancasila untuk tidak dipahami hanya sebatas kemajemukan. Karena mustahil manusia tidak berbeda, tapi lebih mustahil untuk tidak ada persamaan. “Pancasila mudah-mudahan tetap nomor satu untuk menjadi pengikat kita, dan untuk modal kita bergotong royong,” pungkasnya.
Sumber Berita : Radar Tegal 3 Juni 2011

0 komentar:

Posting Komentar