Kamis, 02 Juni 2011

Peringatan Hari Pancasila di Padepokan Trijaya

SEKITAR 13 tahunan Pancasila tidur. Bahkan sejumlah dilema mewarnai perilaku berkehidupan bangsa Indonesia dalam menerapkan Pancasila yang juga dasar negaranya. Untuk tercapainya perilaku Bangsa Indonesia dalam menegakkan kembali norma berdasar Pancasila, perlu adanya revolusi kebangsaan agar masyarakat Indonesia tergugah kembeli berperilaku sesuai Pancasila.
Sementara dari sejumlah pengamatan, perilaku masyarakat sudah banyak bertentangan dengan semua sila yang ada di Pancasila,
“Itu butuh pelurusan,” tandas Pembina Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal dan Direktur Ketahanan Seni Budaya Agama dan Kemasyarakatan Direktorat Jendral Kesatuan Bangsa dan Politik Kemendagri Pusat, Budi Prasetyo SH MM, pada Peringatan Hari Pancasila yang digelar di padepokan perguruan itu di Bojong, Rabu (1/6).
Usai Peringatan Upacara Hari Pancasila, Budi Prasetyo SH MM yang disebut Romo Guru Tegal  mengatakan, saat ini perilaku bangsa Indonesia sudah banyak bertentangan dengan Pancasila. Bahkan kesan yang tertangkap Pancasila hampir terobrak-abrik dalam perilaku berkehidupan bangsa. Kondisi itu agar kembali tegaknya Pancasila dalam perilaku berkehidupan, butuh reformasi kebangsaan di masyarakat Indonesia.
“Idealnya, tidak bisa tidak, Pancasila harus diformulasikan dan ditransfer dalam berkehidupan bangsa Indonesia.”
Menurut dia, Bangsa Indonesia harus rela dan siap berbuat sesuatu untuk Negara Pancasila agar tidak luntur. Apalagi dalam berperikehidupan saat ini, terkesan Pancasila nyaris hilang di masyarakat. Justru anak bangsa berasyik masyuk dengan kehidupan berpolitik yang jauh dari harapan bangsa.
“Perjudian secara artian makro, bahkan kami tangkap sudah dilegalkan. Ini sangat ironi bagi Negara berdasar Pancasila kedepan,” jelasnya pula.
Di sisi lain, Budi Prasetyo SH MM dalam sambutan saat menjadi Irup pada Upacara Hari Pancasila di Padepokan tersebut mengatakan, Hari Pancasila Tahun 2011 saat ini sebagai momentum yang tepat guna merevitalisasi dan mengaktualisasi nilai-nilai Pancasila. Keberadaan pancasila sebagai perekat berkehidupan bangsa sudah saatnya dikukuhkan kembali. Guna bisa mencapai itu sedikitnya ada tiga tantangan yaitu mewujudkan demokrasi kerakyatan yang dirasa masih lemah yang hanya jadi wacana di tingkat elit.
Tiga tantangan itu, upaya mewujudkan keadilan dan kesejateraan sosial yang dirasa masih timpang di masyarakat Indonesia, dan bisa memecah belah secara vertikal. Perlu antisipasi munculnya sekelompok yang mengatasnamakan kepentingan agama dan berkehendak memaksakan agamanya atas nama orang lain dengan cara kekerasan.
“Tiga point penting ini yang menjadi tantangan kita bersma kedepan,” ujar Budi Prasetyo.
Sementara, sebagaimana ideologi masyarakat dunia, Pancasila merupakan kerangka berfikir yang senantiasa memerlukan penyempurnaan karena tidak ada satupun ideologi yang bersifat sempurna. Karena setiap ideology memerlukan penyempurnaan secara proses dialektika guna mengembangkan dirinya bisa diterima di segala situasi. “Dis inilah pentingnya Pancasila yang mampu menjadi ideologi bagi semua masyarakat dan agama, secara mendesak untuk segera dilaksanakan, di saat krisis yang tengah mendesak. Kepedulian inilah yang harus dibangkitkan di masyarakat,” pungkasnya.
Upacara Hari Pancasila sendiri diikuti oleh berbagai kalangan sejumlah siswa SD dan SMP di Bojong, berbagai kelompok kemasyarakatan, instansi seperti dari Perhutani juga sejumlah anggota Perguruan Trijaya Padepokan Argasonya Pusat Tegal. Juga dihadiri oleh sejumlah undangan dari berbagai daerah dan kota serta Muspika Bojong.
Sumber Berita : Radar Tegal, 2 Juni 2011

0 komentar:

Poskan Komentar