Kamis, 26 Mei 2011

Kematian Akibat Syok Jantung

SYOK jantung (cardiogenic shock) merupakan syok yang disebabkan karena berhentinya jantung, atau  terjadi saat jantung tidak dapat mempertahankan perfusi (kebutuhan oksigen) yang cukup untuk permintaan metabolisme jaringan.

Mortalitas (angka kematian) penderita sangat tinggi, mencapai 50-80%. Syok jantung merupakan penyebab utama kematian pasien dengan infark yang dirawat di rumah sakit. Penderita dengan komplikasi infark miokard akut sekitar 20% pada tahun 1960-an, namun berfluktuasi sekitar 8% selama lebih dari 20 tahun. Terapi reperfusi dini untuk infark miokard akut menurunkan kejadian syok jantung.

Penyebab

Beberapa penyebab  antara lain: gangguan kontraktilitas miokardium (otot jantung), gangguan fungsi bilik kiri jantung, infark miokard akut berikut komplikasinya, perdarahan, infeksi, myocarditis (peradangan otot jantung), cardiomyopathy (gangguan otot jantung), post-cardiac arrest (kondisi setelah henti jantung), severe valvular heart disease (penyakit katub jantung berat), toksik-metabolik (akibat overdosis obat golongan beta-blocker atau calcium channel antagonist).

Kejadian syok jantung meningkat pada penderita dengan akut miokard infark (AMI), atau sebelumnya menderita AMI, usia lanjut, jenis kelamin wanita, riwayat penyakit gula (diabetes melitus), dan mereka yang mengalami reinfarction segera setelah infark miokard.

Potret Klinis

Penderita merasa nyeri dada berkelanjutan, sesak, sulit bernapas, tampak pucat, gelisah, takut, cemas. Keadaan mental tertekan hingga depresi. Anggota gerak (tangan-kaki) teraba dingin. Jaringan tubuh kekurangan oksigen (hipoperfusi jaringan).

Produksi air seni kurang dari 30 mL/jam. Takikardi (detak jantung cepat, lebih dari 100x/menit). Nadi teraba lemah-cepat, sekitar 90ñ110 x/menit. Tachypnea (bernafas cepat). Hipotensi (tekanan darah rendah).

 Diaphoresis (berkeringat banyak atau ìmandi keringatî). Berkurangnya pengisian pembuluh kapiler. Distensi vena jugularis. Indeks jantung kurang dari 2,2 L per menit per meter persegi. Tekanan pulmonary artery wedge lebih dari 18 mmHg.  

Secara praktis,  ditandai disfungsi miokard (gangguan fungsi otot jantung), disertai: tekanan darah sistol arteri kurang dari 80 mmHg, tekanan vena sentral lebih dari 10 mmH2O, gelisah, keringat dingin, kaki-tangan dingin, denyut jantung cepat.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan, seperti: pemeriksaan darah lengkap dan panel elektrolit serum. Pemeriksaan enzim jantung, terutama untuk mengetahui AMI. Kadar kreatinin dan blood urea nitrogen (BUN), gas darah arteri, studi koagulasi.

Hasil pemeriksaan  menunjukkan hitung leukosit meningkat disertai left shift (pergeseran ke kiri). Tidak ada prior renal insufficiency, fungsi ginjal awalnya normal, namun BUN dan kreatinin meningkat secara cepat. Hepatic transaminase meningkat karena hipoperfusi hati. Perfusi jaringan buruk menyebabkan anion gap acidosis dan kadar asam laktat naik. Gas darah arteri biasanya menunjukkan hypoxemia dan metabolic acidosis, dimana dapat dikompensasi oleh respiratory alkalosis. Petanda jantung berupa: creatine phosphokinase dan MB fraction-nya, jelas meningkat, begitu juga troponin I dan T. Angiografi koroner dilakukan bila diperlukan.

Gambaran electrocardiography (EKG) penderita syok jantung umumnya infark miokard akut (IMA), yaitu: peninggian segmen ST. Radiografi (rontgen) dada awalnya normal atau menunjukkan tanda-tanda gagal jantung kongestif akut. Gambaran rontgen dada lainnya yang mungkin dijumpai: kardiomegali (pembesaran jantung) ringan, bengkak paru, selaput paru terisi cairan (efusi pleura).

Solusi

Penderita segera dibawa ke RS yang memiliki fasilitas UGD atau ICU yang baik-memadai. Dokter akan secepatnya memberi cairan adekuat secara parenteral dengan pedoman dasar Pulmonary Capillary Wedge Pressure (PCWP) atau Pulmonary Artery End Diastolic Pressure (PAEDP) atau Central Venous Pressure (CVP). Kateter Swans Ganz dipasang untuk meneliti hemodinamik. Lalu, segera dilakukan tindakan resusitasi dan suportif (intubasi, ventilasi, dan suplementasi oksigen). Pompa balon intra-aorta diperlukan untuk menstabilkan intervensi koroner.

Alternatif terapi lainnya berupa emergent therapy yang bertujuan untuk menstabilkan hemodinamik penderita dengan oksigen, pengaturan jalan nafas, dan akses intravena. Diperlukan usaha untuk memaksimalkan fungsi bilik jantung kiri.

Obat inotopik diberikan sesuai indikasi. Kombinasi dopamine dan dobutamine merupakan strategi terapi yang efektif untuk syok jantung. Penderita tekanan darah rendah (hipotensi) ringan dan kongesti pulmoner, diberi dobutamine. Penderita hipotensi berat diberi dopamine. Bila tekanan darah sangat rendah, maka boleh diberi norepinephrine.

Obat lain diberikan dokter sesuai indikasi. Bila nyeri, maka diberi morfin sulfat. Bila cemas, maka diberi golongan anti ansietas. Bila terjadi gangguan irama jantung, maka diberi digitalis. Bila frekuensi jantung kurang dari 50x/menit, maka diberi sulfas atropin. Untuk mengatasi kongesti paru dan oksigenasi jaringan, diberikan diuretik, seperti: furosemid.

Terapi reperfusi miokardium iskemik efektif untuk penderita syok jantung dan infark miokard akut.

Pilihan lainnya adalah emergent PTCA (Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty). Umumnya, terapi bertujuan memperbaiki fungsi otot jantung dan sirkulasi.

Secara umum, syok jantung memiliki prognosis (masa depan) sangat jelek. Pada IMA, prognosis sangat dipengaruhi oleh luasnya infark; dengan mortalitas (angka kematian) 60-70%.

Beberapa kondisi dapat terjadi pada penderita syok jantung, seperti: syok septik, syok hipovolemik, tamponade jantung, gagal jantung kongestif primer, adult respiratory distress syndrome (ARDS), asma, dan sumbatan di paru.
Dengan penatalaksanaan yang cepat dan komprehensif, maka kejadian komplikasi seperti: henti jantung-paru, gagal multisistem organ, stroke tentu dapat dihindari.(11)
Sumber Berita : Suara Merdeka CyberNews, 26 Mei 2011

- dr. Dito Anurogo, dokter umum RS. Keluarga Sehat, Pati.

0 komentar:

Posting Komentar