Selasa, 28 Juni 2011

Ndelosor di Lantai Borobudur sambil Berdoa

Biasanya seorang bintang film besar lekat dengan kehidupan glamour, pesta pora, dan jauh dari spiritualitas. Namun hal ini tidak berlaku bagi Richard Gere, artis kawakan Hollywood yang dikenal lewat sejumlah film laris, antara lain Pretty Woman (1990). Dia mengaku kehidupannya berubah total setelah mendalami budhisme. Berikut laporannya.
SEBAGAI aktor, Richarg Gere sempat membintangi sejumlah film panas macam American Gigolo (1980), Breathless (1983), dan Pretty Woman (1990). Namun kehidupan lelaki kelahiran Philadelphia, 31 Agustus 1949 itu berubah total setelah dia bersentuhan dengan budhisme dan Dalai Lama dari Tibet.
Hal ini bermula ketika Gere berwisata ke Nepal pada 1978. Di kota yang terletak di dataran tinggi ini, Gere bertemu dengan para biarawan dan Dalai Lama. Pengalaman ini menyeret Gere untuk lebih jauh memahami ajaran Buddha.
Sejak saat itu, Gere mulai haus akan budhisme. Dia juga mulai mengikuti berbagai kegiatan Dalai Lama. ”Saya sangat bahagia di sana (Tibet). Rakyat Tibet memberikan pencahayaan kepada saya. Kesucian mereka (Dalai Lama) membangkitkan cinta dan empati. Mereka selalu berbagi dengan sesama,” ungkap Gere.
Aktor tampan itu lalu bertekat meninggalkan kehidupan lamanya yang lekat dengan kehidupan malam dan obat-obatan terlarang. Dia bahkan sempat memutuskan mundur dari dunia selebriti dan hanya mau menjalani kehidupannya untuk membantu orang-orang yang tertindas dengan melakukan berbagi kegiatan amal.
Sekarang meski kembali ke profesi yang membesarkan namanya, namun aktor kawakan bernama lengkap Richard Tiffany Gere itu sudah menjadi sosok yang berbeda. Dia lebih religius dan berwibawa. Hal ini dia tunjukkan saat mengunjungi Candi Borobudur, Minggu (26/6) dan Senin (27/6) kemarin. Kepada para wartawan yang menunggunya, Richad Gere mengatakan bahwa dirinya ingin bermeditasi di atas candi yang dibangun wangsa Syailendra tersebut. “Are you joint with me,” canda Gere.
Gere mulai naik ke Candi Borobudur sekitar pukul 04.30. Mundur setengah jam dari rencana semula pukul 04.00. Hawa dingin menusuk tulang tidak menghalangi langkah aktor yang semasa kecil justru bercita-cita menjadi atlet Olimpiade ini.
Ia membawa serta istrinya, Carey Lowell, serta putra tunggalnya, Homer James Jigme Gere. Peraih aktor terbaik Golden Globe lewat film An Officer and a Gentleman (1982) itu mengenakan kemeja dan celana berwarna abu-abu dengan dibalut sarung batik. Mereka ”dikawal” tujuh biksu dari Vihara Buddha Metta Arama Jakarta.
Sambil menjinjing tas coklat tua ala bhiku, mantan suami Cindy Crawford itu menyusuri 10 lantai Candi Borobudur. Pada pukul 05.55, Richard Gere mulai melakukan ritual pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi stupa induk Candi Borobudur di lantai 10 sebanyak tiga kali, dan melakukan sikap anjali (tangan menyembah).
Beberapa saat kemudian, Richard Gere dan tujuh bhiksu yang mendampinginya membaca parita bersama-sama. Ratusan umat Buddha dan fans turut mengikuti ritual dari lantai 7 Candi Borobudur. Mereka tidak bisa ikut naik ke lantai 10 karena masih ditutup pascaerupsi Gunung Merapi. Lantai 8-10 hingga saat ini masih dalam masa pembersihan dan perbaikan oleh Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (BKPB).
Ritual dilanjutkan dengan meditasi selama kurang lebih 25-30 menit. Tak ada yang berbicara maupun berkomunikasi. Semua diam dalam keheningan. Hawa dingin membuat suasana makin senyap.
Gere mengakhiri ritual dengan melakukan sujud namaskara, yakni sujud dengan posisi tengkurap menghadap ke arah barat. Dia ndelosor (tengkurap) di lantai candi tanpa menggunakan alas sambil berdoa. Sujud namaskara ini biasanya dilakukan oleh biksu yang mengikuti aliran dari Tibet.
Usai prosesi, Gere sempat mengarahkan pandangan ke ufuk timur untuk melihat matahari terbit. Sayangnya, mendung membuat langit gelap sehingga sunrise tidak nampak. Gere kemudian berjalan menuruni lantai demi lantai dan menyapa, ”Good morning every body”.
Lewat manajemennya, Richard Gere meminta kegiatan dia selanjutnya untuk tidak diliput. Dia beralasan membutuhkan privasi, baik untuk beribadah maupun menikmati liburannya ke Candi Borobudur. Dengan menumpang mobil Alphad hitam bernopol B 616 IA, mereka kembali ke resort Amanjiwo di kaki pegunungan Menoreh.
Bante Badra Ruci dari Tantra Mahayana mengatakan bahwa Richard Gere sangat menghormati kesakralan dan kesucian Candi Borobudur. Ini tak terlepas dari maha guru Atisha yang 1.000 tahun lalu menimba ilmu Buddha di Candi Borobudur selama 12 tahun. Ajaran Atisha ini sangat mempengaruhi kehidupan spiritual Gere.
“Richard banyak bertanya tentang sejarah pembangunan Candi Borobudur dan arti relief-reliefnya. Ia ingin bisa beribadah dengan tenang,” kata Bante Badra Ruci.
Karena itu, Richard kemudian membatalkan sejumlah agenda yang sudah dijadwalkan seperti mengunjungi Candi Pawon dan Mendut, dengan menunggang gajah serta berkeliling desa wisata di sekitar Candi Borobudur dengan kereta kuda.
“Rencana naik gajah dibatalkan karena Richard Gere merasa kurang nyaman dengan banyaknya fans dan pers. Mereka ke Borobudur untuk berlibur dan bersantai,” kata Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Purnomo Siswo Prasetyo.
Menurut Purnomo, Richard Gere sangat terkesan dengan sejarah Candi Borobudur. Dia bahkan berjanji akan kembali berkunjung suatu saat nanti. ”Beliau akan mengatur kunjunganya lagi. Dia ingin privasi karena saat ini terlalu ramai. Dia bilang Borobudur beautiful dan spektakuler,” kata Purnomo. (MH Habib Shaleh-35)
Sumber Berita : http://suaramerdeka.com/28 Juni 2011

0 komentar:

Posting Komentar